
Bab 5
"Be-benarkah? kalau begitu aku akan kembali lagi besok," balas Camelia, Ghaisan hanya membungkuk tanpa menjawab apa pun.
Wajah ramah Camelia berubah menjadi datar saat keluar dari kediaman Ghaisan, ia mulai mencium bau tidak menyenangkan disekitarnya.
"Dora, apa mimpi takdir sudah mulai bergerak lagi?" tanya Camelia kepada sistemnya.
Dora pun muncul dan menjawab, "Tenang saja pemain, sudah setahun pemain kami lebih unggul dari mereka jadi mana bisa mereka0 dibandingkan dengan kita. Majikan sudah meupdate semua sistem organisasi hitam untuk kemenangan semua pemain, jadi percayalah pada kami."
Jawaban Dora terdengar sangat menyakinkan. Namun walau pun demikian, Dora juga merasa ada yang tidak benar telah terjadi dan merenggut rasa aman darinya.
Mereka tidak tahu saat mereka bicara mereka melintasi Sera, Sera juga mengambil gambar wajah datar Camelia dengan bantuan Taufan.
*****
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, kini hari yang Sera tunggu telah tiba. Taufan membuat wajahnya kembali jelek agar semua hal berjalan sesuai dalam alur asli, walau Sera telah memiliki rencana sendiri untuk bergerak Taufan tetap tidak mau mengambil risiko bahkan sampai menggunakan haknya untuk menukar rencana Sera dengan satu permintaan.
"Mari masuk nyonya, putri ku pasti tidak akan mengecewakan mu," ucap Ibu sera kepada nyonya rumah bunga. Keduanya datang ke kamar Sera.
Ceklek!
Begitu pintu kamar terbuka terlihatlah Sera dengan wajahnya yang buruk sedang duduk menikmati teh pagi, nyonya rumah bunga sampai ternganga melihat wajah Sera.
"Apa ini, Sonia? kau bilang wajah putri mu sudah cantik bahkan lebih cantik dari ratu rumah kami, apa kau sedang bercanda dengan ku?" teriak nyonya rumah bunga.
"Tidak." Ibunya Sera menggeleng dengan cepat, ia sendiri terkejut melihat wajah Sera.
"Tunggu sebentar." Ibunya Sera menghampiri sang putri lalu meraba-raba wajahnya, ia berpikir mungkin saja Sera memakai sesuatu yang menutupi wajah cantiknya.
"Apa yang ibu lakukan? kenapa dengan wajah ku?" tanya Sera bersandiwara.
"Ku-kulit mu asli? lalu bagaimana kemarin wajah mu bisa berubah? kemarin wajah mu cantik kan? lalu apa yang terjadi?" Sang ibu melempar banyak pertanyaan pada Sera.
"Apa yang aku katakan benar kan? hampir saja kau mengubah alurnya," telepati dari Taufan.
__ADS_1
"Kau pikir aku bodoh? aku sudah punya rencana ku sendiri," jawab Sera.
"Keterlaluan Sonia … Jangan temui aku lagi!" nyonya rumah bunga pergi dengan perasaan kecewa.
"Jangan pergi 5.000 keping emas ku," teriak ibunya Sera. Ia syok berat karena tidak jadi mendapatkan uangnya.
"Ini karena kau." Ibunya menatap Sera dengan tatapan tajam, "Tidak mungkin aku berhalusinasi kemarin, karena aku tahu kau sudah jadi cantik. Jika kau tidak bisa menghasilkan uang untukku maka aku akan membuat mu pergi dari sini."
"Tidak, bu. Aku tidak mau." Sera berlutut dan mulai meneteskan airmata, "Aku tidak mau pergi ke mana pun, ku mohon."
"Hmph!" Ibunya Sera pergi tanpa mengatakan apa pun lagi meninggalkan Sera yang tersenyum bahagia di belakangnya.
"Aku harus mengemas pakaian ku." Sera bersenandung sambil memilah pakaian yang masih cukup layak dan yang sudah benar-benar rusak.
Keesokan harinya Sang ibu memberikan Sera undangan dari Sekte Pedang yang ia dapat dari seorang pria yang kebetulan datang ke desa mereka untuk mencari generasi baru yang berbakat dalam menggunakan pedang, karena akan mendapatkan uang sebanyak 1000 keping emas sang ibu mendaftarkan Sera demi uang yang diberikan pria itu sebagai biaya perjalanan ke pusat kota.
Semua calon murid dari berbagai desa di kumpulkan di pusat kota untuk berangkat bersama ke Sekte Pedang. Sera berpamitan pada sang ibu sebelum pergi, perjalanan jauh yang memakan waktu 3 hari itu menjadi singkat untuk Sera atas bantuan Taufan.
Beberapa hari kemudian rombongan jemputan dari Sekte pedang datang mengendarai kapal terbang, seketika kota langsung heboh karena perwakilan yang diutus Ketua Sekte ke kota mereka adalah protagonis wanita. Camelia adalah protagonis wanita sekaligus wanita tecantik dalam sekte, banyak rakyat biasa sampai bangsawan mengidolakan dia jadi seisi kota merasa sangat beruntung karena dia datang sebagai utusan.
"Kau juga, ayo!" Camelia mengulurkan tangannya pada Sera.
"Terima kasih." Sera menunjukan wajah yang memerah seolah dia tersipu malu karena keramahan Camelia.
"Bodoh sekali, dia tersipu malu hanya karena sebuah uluran tangan," batin Camelia.
Setelah semua calon murid naik, kapal pun terbang meninggalkan pusat kota menuju Sekte Pedang yang berada jauh diatas puncak tertinggi.
"Bagaimana, pemain? ini pertama kalinya kau naik kapal yang bisa terbang 'kan? apa kau suka?" tanya Taufan pada Sera yang menikmati pemandangan diatas ketinggian dari jendela kamarnya.
"Lupakan tentang itu, sepertinya aku harus menciptakan sedikit kehebohan nanti. Nona Camelia yang murah hati pasti tidak akan menyalahkan aku, bukan begitu?" Sera balik bertanya sambil tersenyum licik.
"Apalagi rencana pemain kali ini?" batin Tuafan merasakan firasat buruk.
Dan benar saja Sera akan menjalankan rencana buruk, dia datang ke kantin kapal tempat berkumpulnya banyak orang.
__ADS_1
"Pemain kau mau apa di sini?" tanya Taufan, ia tetap setia mengawal Sera untuk mencegah Sera bertindak ceroboh.
"Makanlah," jawab Sera singkat. Memang benar Sera mengambil nampan lalu mengantri bersama orang lain untuk mengambil makanan.
Makanan dalam kapal sangat mewah, Sera diberikan sup panas serta beberapa lauk lengkap dengan nasi.
"Laparnya, perutku sampai berbunyi," ucap Camelia memasuki kantin bersama murid dalam Sekte yang ikut dengannya, Mata semua orang langsung tertuju pada mereka sampai tidak bisa memalingkan pandangan lagi.
"Satu, dua, dan …." Sera menghitung dan langsung berbalik.
Bug!
Prang!
"Akh!" Camelia menjerit kesakitan saat Sera tidak sengaja menabraknya dengan nampan. Sera secara sengaja menjatuhkan nampannya, membuat kaki Camelia terkena sup yang masih panas.
"Maafkan aku, aku sungguh ti …. kya!" Sera terjatuh ke lantai karena dorongan keras dari rekan Camelia.
"Di mana kau letakan mata mu? berani sekali kau menyakiti dewi sampai seperti ini, sampah buruk rupa seperti mu seharusnya tidak menghalangi jalan," cemooh rekannya itu pada Sera.
"Aku benar-benar tidak tahu ada orang di belakang ku, sungguh maafkan aku," pinta Sera menangis.
Plak!
Rekan Camelia malah menampar Sera beberapa kali, bahkan sampai menjambak rambut Sera tidak peduli bagaimana Camelia berusaha melerai mereka.
"Begitu terus, jangan berhenti. Wanita busuk ini membuat kaki ku melepuh, dia harus disiksa lebih menyakitkan lagi. Tampar dia dengan keras baru aku akan senang," batin Camelia dalam hati.
"Cukup!" Seorang pria menghunuskan pedang kayunya kearah rekan Camelia, "Kalian sudah keterlaluan."
"Cih! akhirnya kau membuka suara juga, aku sudah menunggu cukup lama loh," batin Sera tersenyum dalam hati.
*****
Bersambung.
__ADS_1
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘