
Bab 7
"Sial sekali aku!" batin Camelia sambil berjalan menuju kamar Ghaisan, ia sengaja membawa Ghaisan agar tetap sesuai dengan alur aslinya.
"Ghaisan, apa kau di dalam?" tanya Camelia setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali.
Dari dalam kamar tidak ada jawaban, saat ia memutar gagang pintu ternyata pintu tidak terkunci.
"Aku masuk yah." Camelia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Kamar Ghaisan masih rapi dan belum digunakan, barang-barangnya juga dibiarkan begitu saja diatas meja.
"Apa ini?" batin Camelia tertarik pada sebuah benda panjang yang terbungkus oleh kain, saat membukanya Camelia dalam sekejab terpukau melihat dibalik kain itu ada pedang sabuk yang indah.
"Ini luar biasa. Pedang ku yang dia buat dikehidupan sebelumnya bahkan tidak seindah ini," ucap Camelia, ia berpikir pedang itu akan menjadi miliknya.
Tiba-tiba Ghaisan masuk, ia terkejut karena pedangnya telah berada di tangan Camelia.
"Jangan sentuh itu," teriak Ghaisan seraya merampas pedang tersebut dari tangan Camelia.
"Apa itu tadi?" tanya Camelia dengan ekspresi datar. Sikap Ghaisan padanya sudah berubah terlalu jauh, dan ia tidak suka itu.
"Kenapa bertanya saat yang bersalah di sini adalah anda. Ini kamar saya, anda masuk tanpa izin sampai menyentuh barang saya. Apa saya tidak pantas marah?"
"Aku datang hanya untuk melihat pedang ku, kau jangan salah paham. Karena pintunya tidak terkunci jadi aku masuk."
"Apa pun alasan anda tidak akan membenarkan tindakan anda yang salah. Pedang anda sudah saya berikan kepada salah satu pelayan anda. Jika tidak ada hal lain maka tolong tinggalkan kamar saya."
"Ghaisan! aku adalah sponsor mu, sikap mu yang seperti ini akan mem …."
"Saya tidak minta disponsori oleh anda," tegas Ghaisan.
Camelia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung beranjak pergi dengan perasaan kesal. Sesampainya di kamar amarah Camelia menjadi semakin besar, saat melihat pedang yang Ghaisan berikan padanya ternyata sama seperti dengan pedang pada kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
"Pedang sialan!" Camelia mematahkan pedang itu lalu melemparnya keluar jendela.
"Dora, keluar kau!" teriak Camelia tidak berselang lama Dora pun muncul di hadapannya, "Lakukan sesuatu pada Ghaisan, ada yang berusaha merebut dia dari ku."
"Belum ada tanda-tanda pergerakan dari mimpi takdir, aku tidak bisa menemukan pemain mereka diantara semua tokoh yang ada. Bagaimana jika kita lupakan saja tentang Ghaisan? tujuan utama misi kita bukan dia, tanpa dia pun nilai protagonis anda tidak akan berkurang. Anda tidak mau gagal lagi bukan?"
"Aku tahu itu. Tapi Ghaisan … harus tetap mendukung aku, hari ini aku bertemu Dallin dan belum ada yang berubah dari anak bodoh itu."
"Da-Dallin? tapi bagaimana bisa? ini belum saatnya dia bertemu dengan anda. Apa anda merasa ada yang tidak biasa terjadi?"
Camelia mulai mengingat kejadian aneh apa yang terjadi padanya, "Ah! tadi ada wanita busuk yang menabrak ku, dia menumpahkan sup panas dikaki ku. Dia benar-benar menjengkelkan, saat itulah Dallin muncul untuk menolongnya dari hukuman pelayan-pelayan ku."
"Siapa wanita itu?"
"Aku tidak kenal dia, dia hanyalah karakter buangan yang entah datang dari … eh! wajahnya itu tidak asing, di mana aku pernah melihatnya."
"Apa dia orangnya?" Dora menunjukkan gambar Sera.
"Ya, dia orangnya. Dari mana kau dapat gambar jelek ini?"
"Ya ampun, dia figuran spesial maksud mu? menyebalkan sekali. Baiklah, aku akan bersikap baik padanya." Walau pun tidak mau Camelia tetap harus mengiyakan saran Dora.
"Ada yang tidak beres dari wanita itu, aku harus mengawasi dia," batin Dora.
*****
"Hah!" begitu Azka terbangun ia telah berada dalam tubuh proragonis pria dalam novel yang sama dengan Sera.
Azka masuk tanpa sistem dan ingatan apa pun tentang Sera telah hilang dari kepalanya, bagi Azka dirinya tidak lebih dri tokoh dalam novel tersebut. Ini semua telah Stefon atur sebelumnya karena ia sudah menduga jika Azka akan masuk ke dalam mimpi takdir, ia hanya ingin melihat bagaimana sang tuan bisa mengenali wanita yang dia cintai. Saat ini Stefon sedang mengawasi keduanya dari sebuah monitar di ruang bawah tanah Perusahaan Azka.
"Salam Ketua Sekte," sapa seorang pelayan, " Saya membawakan air hangat untuk anda."
"Letakan saja di sana. Jangan lupa siapkan pakaian terbaik untukku, aku harus menyambut kembalinya Camelia," perintah Azka, pelayan itu menjawab dan langsung menyiapkan apa yang diperintahkan padanya.
__ADS_1
Dalam Novel ini Ketua Sekte Pedang selaku Protagonis pria adalah wali sekaligus guru Camelia, ia menyayangi Camelia lebih dari siapa pun. Dari bagian ini saja sudah jelas jika posisi Camelia sangat kuat, untuk merebut posisinya tidak akan mudah bagi siapa pun dan mungkin ini berlaku pada Sera.
Setelah kapal terbang mendarat para calon murid keluar menggunakan jalan yang berbeda dengan para murid sekte, para calon murid langsung dituntun menuju hutan gelap tempat para iblis tinggal.
"Tuafan, skill berpedang sudah aku pelajari. Apa hanya itu saja?" tanya Sera pada Taufan yang kesal.
"Taufan, persiapan sudah lengkap kan? kita tidak bisa kekurangan apa pun," lamjut Sera.
"Kau dengar aku tidak?" tanya Sera lagi.
"Aku kesal. Kenapa sistem malah menjadi pembantu mu?" protes Taufan.
"Iblis di dalam hutan ini mungkin akan senang makan daging tupai berkualitas tinggi," jawab Sera membuat Taufan terpaksa harus tutup mulut dan patuh.
Begitu gerbang masuk hutan terbuka semua murid berlari masuk ke dalam untuk berburu kecuali Sera, ia berjalan santai sambil menaburkan bubuk berwarna cokelat. Bubuk itu adalah bubuk yang bisa menyamarkan bau pemburu iblis, menjadi bau manusia biasa dengan cara ini maka tidak perlu susah payah mencari iblis rendah yang sedang bersembunyi.
"Lelahnya!" Sera duduk diatas batu sambil memijat betisnya.
"Hei buruk rupa! apa kau datang kesini hanya untuk berjalan-jalan?" tanya salah satu murid mengejek Sera.
"Tentu saja tidak." Sera menjawab dengan santai.
"Iblis di hutan ini sulit dicari karena hidung mereka tajam walau tidak punya akal mereka tetap tidak akan keluar, jika tidak memburu maka mustahil untuk mendapatkan mereka. Kau lebih baik pulang saja dari pada membuat sekte kita malu," ejeknya lagi.
Tidak lama terdengar bunyi suara tapak kaki berlari mendekati mereka, semakin lama bunyinya semakin banyak.
"Su-suara apa itu?" beberapa murid mulai merasa cemas.
"Waktunya berburu," teriak Sera. Seiringan dengan itu puluhan iblis tingkat rendah muncul, para calon murid tidak punya waktu untuk berpikir lagi mereka langsung menghunuskan pedang demi melindungi diri.
******
Bersambung.
__ADS_1
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘