
"Heh, lepasin enggak!" sahut seseorang. "Lo siapa?" tanya preman itu. "Gue pacarnya dia," balas seseorang itu.
Ternyata orang itu adalah Fido. "Kalau mau lawan, jangan berani sama cewek, lawan gue yang sepadan sama lo," tantang Fido.
"Berani banget nih anak," kesal kedua preman itu. "Fid, enggak usah," bisik Kezia.
Kemudian kedua preman itu langsung berantem dengan Fido dengan kekuatan tangan.
Tapi di tengah mereka sedang berantem, tiba-tiba ada salah satu preman yang memukul bagian muka Fido sampai lebam.
Setelah kedua preman itu memukul Fido, mereka langsung pergi dari tempat itu. "Fido!" teriak Kezia.
Secara spontan, Kezia langsung menghampiri Fido yang sedang kesakitan di depan halaman rumah Kezia. "Lo enggak kenapa-napa kan?" tanya Fido.
"Gue enggak kenapa-napa kok, lo sendiri bagaimana?" tanya balik Kezia. "Gue enggak kenapa-napa kok," balas Fido.
"Tapi mulut lo lebam, gue obatin ya," ajak Kezia. "Enggak perlu Kez, gue enggak kenapa-napa kok," jawab Fido. "Sudah ah, lo enggak usah menghindar dari gue," balas Kezia.
"Yaudah deh, aa Fido enggak bisa," kata Fido merayu Kezia. Begitu Kezia mengajak Fido ke dalam rumahnya, bibi Kezia pun langsung spontan memegang sapu.
"Siapa kamu, pencuri ya?" tanya Bibi sambil memegang sapu. "Bi, tenang dulu, ini teman aku," balas Kezia. "Bibi kira dia preman, atuh," ucap Bibi.
"Malah dia yang tolongin aku dari preman, sampai lebam," kata Kezia menjelaskan. "Lebam teh naon?" tanya Bibi bingung.
"Bengkak, bi," balas Kezia. "Owh yaudah, Bibi ambil perlengkapan buat obati temen kamu ya, non," ijin Bibi. "Iya bi," ucap Kezia.
"Itu tadi pembantu lo?" tanya Fido. "Ehm, iya," balas Kezia. "Memang nyokap sama bokap lo kemana?" tanya lagi Fido.
"Gue enggak tau, sekarang mereka dimana, dari kecil gue sudah tinggal sama bibi," balas Kezia. "Owh, tetap strong ya," kata Fido menyemangati Kezia.
Tidak di sengaja, Fido memegang tangan Kezia. Keliatan dari jauh, Bibi melihat nya. "Eheem eheem," sahut Bibi. Keduanya pun saling melepas tangan itu.
"Pacaran nih?" tanya Bibi. "Apa sih bi, enggak kok," balas Kezia. "Owh yaudah, ini obat nya," kata Bibi sambil menyerahkan obat itu.
"Terimakasih ya my beb, sudah anterin gue sampai di rumah," kata Anne. "Sama-sama," balas Putra.
"Masuk sebentar ayok, ketemu sama daddy gue," ajak Anne. "Enggak perlu ne, ini juga udah malam," balas Putra menolak Anne.
"Owh yaudah, sampai ketemu besok ya," ucap Anne. "Iyaa," jawab Putra.
__ADS_1
Setelah Putra kembali pulang, Anne pun masuk ke dalam rumahnya dan bertemu dengan Daddy nya.
"Mana uang yang kamu janjikan ke daddy?" tanya daddy Anne. "Ini Anne juga lagi berusaha minta ke pacar Anne," balas Anne.
"Pacar kamu orang kaya?" tanya daddy Anne. "Kaya bangeet, tajir melintir, papa nya donatur terbesar di Kampus, dad," balas Anne.
"Kamu harus terus dekati dia, keruk uangnya, supaya kantor Daddy bisa kembali lagi," kata Daddy Anne. "Iya, Daddy, Anne akan melakukan cara apapun," ucap Anne.
"Dad, sebentar lagi kan ulang tahun Anne, adakan acara dong dad," pinta Anne. "Semua akan daddy lakukan, kamu kan anak kesayangan daddy," balas Daddy Anne.
"Iya dad, btw aku masuk ke kamar dulu ya," ucap Anne. "Awas kamu Doni, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan," kata Daddy Anne dalam hati.
"Masih sakit enggak?" tanya Kezia. "Udah enggak kok, terima kasih ya yayang Kezia sudah obatin aa Fido" balas Fido. "Iya, sama-sama," ucap Kezia.
"Aa Fido langsung pulang ya, enggak enak sudah malam," kata Fido kepada Kezia. "Oke, lo hati-hati ya," balas Kezia. "Iya," ucap Fido.
Tiba-tiba di depan rumah Kezia, Fido pun membentuk tangan sarangheo dan mengecup ke arah Kezia. Respons Kezia hanya tersipu malu melihat itu.
"Putra!" panggil Papa. "Kenapa, pa?" tanya Putra. "Kamu masih berhubungan sama Anne?" tanya balik Papa. "Iya, kenapa Pa?" tanya Putra.
"Cepat kamu putuskan dia," suruh Papa. "Putra cinta sama dia, pa, sampai kapanpun Putra enggak akan pernah melepas dia," balas Putra enggan.
"Asal kamu tau, papa dia menipu papa sampai bermilyar-milyar, untung nya papa enggak bangkrut," kata Papa menjelaskan.
"Papa juga lebih sayang sama Roni, daripada aku, anak papa sendiri, dia hanya anak asuh papa," balas Putra.
"Cukuup Putra!" teriak lagi Papa. Ditengah Papa sedang memarahi Putra, tiba-tiba jantung Papa mulai kumat.
"Paa, papaa, Putra tolongin papa kamu," kata Mama. "Enggak akan pernah," balas Putra.
"Kenapa kamu berubah, nak, kamu bukan Putra yang dulu mama kenal, Putra yang penurut, Putra yang baik," kata Mama dalam hati
"Toloong, Toloong!" teriak Mama Putra. "Pak, kok ada suara minta tolong ya, kita samperin ke dalam ayo," ajak seorang bapak. "Iya ayo," balas bapak yang lain.
Kedua bapak itu langsung masuk ke dalam Rumah itu. "Kenapa bu?" tanya seorang bapak. "Tolong suami saya, pak," balas Mama Putra. "Iya bu," kata seorang bapak.
Kemudian kedua bapak itu membawa papa Putra ke Rumah Sakit.
...Keesokan Harinya... ...
__ADS_1
"Lo jadi mau kerjain Putri?" tanya Fido. "Liat aja nanti," balas Putra.
"Cipluk, lo jadi dinner sama Kezia?" tanya Dito. "Enggak," balas Fido. "Kenapa?" tanya Dito. "Gue habis kena tonjok preman, kemarin," balas Fido.
"Sabar aja, biasanya kalau orang mau pdkt, ada banyak badai goncangan," kata Dito. "Iye iye," balas Fido. "Cabut," sahut Putra.
"Tumben bertiga, biasanya kan pisah-pisah," kata Mahasiswa dalam hati. Tapi Putra merasa ada yang aneh dengan sikap semua mahasiswa itu.
Kemudian Putra langsung memberanikan dirinya untuk menantang mahasiswa itu.
"Lo kalau iri sama kita bertiga, bilang, jangan lo pendem sendiri, kalau lo sampai macam-macam sama gue, lo akan tau akibatnya," kata Putra menantang mahasiswa.
"Gue minta maaf, Put," kata seorang mahasiswa itu sambil ketakutan.
"Itu kan my beb," kata Anne dalam hati. Kemudian Anne langsung pergi menghampiri Putra cs.
"Hey beb," sapa Anne. "Hai," balas Putra. "Yah dia lagi, kiamat dah," keluh Fido. "Hai Fid," sapa Cindy. "Hm," balas Fido.
"Lo jadi kan, permalukan Putri di semua mahasiswa?" tanya Anne kepada Putra. "Jadi dong," balas Putra. "Rasain lo, cewek cupu," ucap Anne girang dalam hati.
"Haii," sapa Putri. "Hai juga," balas Nadine dan Kezia. "Gue boleh tanya enggak?" tanya Putri. "Tanya aja," balas Nadine.
"Audisi menyanyi itu kapan ya?" tanya lagi Putri. "Kalau itu gue kurang tau, lo tanya aja langsung sama Pak Ken," balas Nadine. Lain hal nya dengan Kezia, dia hanya terdiam sambil melamun.
"Kez, keziaa!" panggil Putri. "Ey," balas Kezia. "Lo kenapa, diam mulu dari tadi?" tanya Nadine. "Ehm, gue enggak apa-apa kok," balas Kezia.
"Apa jangan-jangan lo mikirin aa Fido ya?" tanya Putri. "Enggaak! Sapa juga yang mikirin dia," bantah Kezia. "Buru masuk ke kelas ayo," ajak Nadine. "Ayo," balas Putri.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Mama Putra. "Kondisi suami ibu sangat lemah, karena jantung nya kembali kumat," balas Dokter. "Putra harus tau semua ini," ucap Mama dalam hati.
Kemudian Mama nya langsung menelepon Putra. "Angkat, Putra," kata Mama panik. "Siapa beb, telepon kamu?" tanya Anne. "Nyokap gue," balas Putra.
"Kenapa, Ma?" tanya Putra. "Kondisi papa kamu parah, kamu harus cepat ke sini," balas Mama. "Aku enggak peduli, itu penyakit papa bukan aku yang tanggung," kata Putra menolak.
"Mama mohon, kamu ke sini," pinta Mama. "Aku sibuk, aku mau kuliah," jawab Putra. Kemudian Putra langsung menutup telepon nya.
"Kenapa kamu berubah, Putra?" heran Mama. "Nyokap lo kenapa?" tanya Anne. "Enggak kok," balas Putra.
Secara tidak disengaja, ketika Putra cs, Anne cs hendak masuk ke kelas, ternyata mereka berhadapan dengan Putri cs.
__ADS_1
Mau tau kisah selanjutnya?
Stay tune again!