Putri Vampire dan Pahlawan Perisai

Putri Vampire dan Pahlawan Perisai
Jam Pasir


__ADS_3

Malam hari di restoran Ibu kota kerajaan.


Nampak Naofumi, Raphtalia dan Felicia berjalan bersama, dan terlihat Felicia dan Naofumi saling menggenggam tangan masing-masing, lalu Raphtalia menggenggam tangan Felicia di sebelah kiri, singkatnya Felicia sekarang berada ditengah-tengah antara Naofumi dan Raphtalia.


 "Jika kita keluarga aku terlihat seperti anak kalian berdua, meskipun sebenarnya aku lebih tua dari Raphtalia," ucap pelan Felicia.


 "Kau memikirkan itu?" tanya Naofumi heran.


 "Feli neesama, sebaiknya Feli neesama tak usah memikirkan apa yang orang lain pikirkan, karena meskipun Feli neesama lebih pendek dariku aku tak pernah menganggapmu sebagai orang yang lebih muda," ucap Raphtalia.


 "Itu benar, meskipun secara fisik kau anak-anak tapi usia dan mentalmu sudah Remaja dan mungkin kau sudah lupa, tapi aku tetap menganggapmu sebagai calon istriku," tanggap Naofumi sambil menepuk kepala Felicia.


 "Untuk seorang mahasiswa berusia 20 tahun, kau bisa merayu orang sebegitunya yah," gumam pelan Felicia sambil menepis pelan tangan Naofumi yang menempel di kepalanya.


 "Mahasiswa?" gumam tanya Raphtalia.


 "Ah itu, itu adalah gelarku di duniaku sebelumnya, aku seorang pelajar yang menempuh kuliah jurusan ekonomi dan bisnis," ungkap Naofumi


 "Ah begitu, apa tuan Naofumi, ingin kembali ke dunia anda?" tanya Raphtalia khawatir kalau dunianya sudah damai. Naofumi akan pergi ke dunia asalnya dan meninggalkannya.


 "Yah begitulah, tapi kalau bisa aku ingin membawa kalian ke duniaku," ungkap Naofumi.


Sesampainya di meja yang kosong.


 Nampak Raphtalia dan Felicia duduk berdampingan sedangkan Naofumi mengambil kursi yang menghadap ke arah mereka berdua. Tak lama setelahnya sebuah suara terdengar dan suara itu terdengar seperti suara perut keroncongan yang entah berasal dari siapa.


 "Yang tadi itu bukan aku," ucap Raphtalia yang nampaknya tidak ingin dituduh.


 "Itu aku," ucap Naofumi yang memang tadi itu memanglah bunyi perutnya, lagi pula yang mengusulkan untuk ke restoran terlebih dahulu sebelumnya adalah dia.


 "Dari pada mendebatkan hal tak penting bukankah seharusnya kita memesan makanan terlebih dahulu?" tanggap Felicia sambil melambaikan tangan pada pelayan.Pelayan pun datang menghampiri mereka, Naofumi pun langsung memesan makanan untuk dirinya dua rekannya yaitu Felicia dan Raphtalia.


 "Aku akan mengambil makanan paling murah dan untuk mereka berdua, berikan saja makanan anak-anak," ucap Naofumi seketika itu.


 "Tuan Naofumi!" seru Raphtalia mulai protes sambil berdiri, "Aku bukan anak-anak lagi!" protesnya sambil menggerakkan ekornya ke sana-kemari.


 "Raphtalia, mau bagaimanapun kau berkata, itu tidak mengubah kenyataan kau masih anak-anak secara umur," ucap Felicia sambil menyentuh tangan Raphtalia dan memaksanya duduk kembali dengan menariknya turun ke meja


"Tapi.."


 "Kau lihat aku, kita tidak usah banyak protes akan hal ini, lagi pula keuangan kita belum benar-benar stabil, makan apa yang ada," tegur Felicia dengan lembut, meskipun alasan sebenarnya ia tidak ingin Raphtalia mengganti menu makanannya adalah agar ia masih yakin kalau Raphtalia itu cuman tumbuh besar di fisik bukan mental.


 "Padahal aku juga ingin makan makanan yang dimakan tuan Naofumi, lagi pula harganya juga yang paling murah," tanggap Raphtalia.


 "Ya sudah, kalau begitu aku juga akan pesan itu saja, jika kita bertiga memesan yang paling murah maka artinya akan menjadi lebih hemat bukan," ucap Felicia.


 Naofumi yang mendengar hal itu hanya menatap Felicia, "Tapi fisikmu masih anak-anak, harusnya kau makan pesananku saja agar lebih cepat besar," tanggap Naofumi.


 "Guh, jadi kau menganggapku anak-anak karena tubuhku kecil?!" seru kesal Felicia.


 "Ti-tidak a-aku hanya ingin kau jadi lebih cepat tinggi saja," balas Naofumi.


 "Diam satu bulan lagi usiaku 20 tahun tahu!" seru kesal Felicia


Ke esokan harinya.


Nampak Naofumi, Raphtalia dan juga Felicia mendatangi toko pedagang senjata, dan terlihat Naofumi sedang mengenakan armor baru miliknya, yang terdiri dari rompi kulit dan plat baja di bagian depan, lalu ada bulu putih halus di kerah jubahnya yang berwarna hijau.


 "Bukankah aku malah terlihat seperti orang jahat?" tanya Naofumi yang tidak pede dengan penampilannya.


 "Keren, saking cocoknya itu terlihat keren!" puji Raphtalia.


 "Kuperkenalkan, Zirah Barbarian, itu cukup keren. Lo, dan dilihat dengan kombinasi wajahmu yang selalu tidak percayaan pada orang lain, kau terlihat seperti bandit," ucap si pedagang Senjata sedikit menggoda pelanggannya itu.


 "Kuh, aku ini seorang Pahlawan," ucap kesal Naofumi karena Zirah pesanannya malah membuatnya mirip bandit.

__ADS_1


 "Yah meskipun begitu, kau tetap terlihat tampan dan keren di mataku," tanggap Felicia sambil mengalihkan wajahnya dari Naofumi.


 "Haaah, karena sudah dibuatkan aku tidak punya pilihan selain menggunakannya," gumam pelan Naofumi.


Tak lama setelahnya suara tapak kaki kuda terdengar dan itu menarik perhatian Naofumi, Raphtalia dan Felicia.


 "Ada apa, kenapa semua orang terlihat khawatir?" tanya Raphtalia melihat para penduduk kota yang menatap khawatir pada para ksatria kerajaan yang berjalan menggunakan kuda dengan perlengkapan perang yang banyak, seolah negara atau kerajaan mereka akan menghadapi ancaman sebentar lagi.


 "Mungkin karena gelombang bencana sudah dekat," gumam pelan Naofumi menanggapi apa yang para ksatria kerajaan lakukan dari persiapan dan perlengkapan yang mereka bawa.


 Si pedagang Senjata, Raphtalia dan Felicia menatap ke arah Naofumi yang tadi baru saja bicara, "Setidaknya, kalau saja kita tahu kapan dan di mana gelombang itu muncul. Kita bisa merencanakan sesuatu," gumam pelan Naofumi.


 "Apa ... Bagaimana kalian bisa belum tahu Anchan? Bukankah seharusnya semua pahlawan diberi tahu akan hal ini?" tanggap si pedagang senjata yang heran akan ketidaktahuan Naofumi


 "Hal apa?" tanya Felicia penasaran.


 "Di dalam Gereja Alun-alun kota ini, ada sebuah jam pasir besar. Saat pasir di dalamnya habis, Pahlawan dan rekan bertarungnya akan secara otomatis dipindahkan ketempat gelombang berada," jelas si pedagang Senjata.


Mendengar hal itu Naofumi pun bergegas ke gereja yang ada di alun-alun kota, tapi Felicia nampak tidak mengikutinya, "Feli-chan ada apa?" tanya Naofumi.


 "Aku tidak bisa pergi ke Gereja, daerah dengan energi suci akan menyakiti tubuhku, kau harus ingat aku adalah manusia setengah Vampire, jika aku ke sana aku hanya akan merepotkan kalian, jadi aku akan menunggu di penginapan," ungkap Felicia.


Sesampainya di bangunan mewah yang merupakan sebuah Gereja dengan ornamen tiga senjata suci di atasnya.


Nampak Naofumi dan Raphtalia dikawal oleh seorang Biarawati menuju ke suatu tempat di dalam Gereja, hingga akhirnya ia berhenti dan terlihatlah sebuah jam pasir raksasa dengan ornamen naga emas menghiasinya.


 "Berjalanlah lewat sini," ucap sang Biarawati membimbing Naofumi.


Naofumi mengangguk dan berjalan maju, lalu tangga menuju jam pasir pun mulai terangkat satu persatu, Naofumi pun menapakkan kakinya ke anak tangga yang ada.


 'Ini ... Jadi inilah yang Raja itu katakan mengenai Jam Pasir Naga,' batin Naofumi. Lalu tak lama setelahnya perisainya pun bereaksi pada Jam pasir besar berornamen naga emas itu, nampak perisai Naofumi mengeluarkan cahaya hijau dan mengarah pada Jam pasir dan seketika pada penglihatan Naofumi muncul visual jam digital dengan hitungan mundur 20 jam 12 menit lagi yang artinya besok pagi adalah waktu gelombang bencana akan tiba.


"Ini, apakah ini adalah batas waktu sampai gelombang itu muncul?" gumam pelan Naofumi, saking pelannya tak ada satupun di belakangnya yang mendengar hal itu termasuk Raphtalia.Namun, tak lama saat ia asik melamun, sebuah suara membuyarkan pikirannya dan membuatnya kembali sadar.


 "Yang berdiri di situ Naofumi bukan?" ucap sebuah suara misterius dengan nada datar dan juga agak meremehkan.Naofumi yang mendengar itu menatap ke belakang bersama Raphtalia dan melihat sekumpulan orang, di sana. Lalu terlihat seorang pemuda atau pria 20 tahunan berambut pirang gaya ponytail, bermata kuning cerah, dengan armor ringan berwarna merah dan dibalut pelindung bahu berwarna putih, ia membawa tombak dengan kristal merah di mata tombaknya, lalu di belakang orang itu ada sekumpulan gadis cantik merupakan rekannya, ia adalah pahlawan tombak Kitamura Motoyasu.


 "Tuan Naofumi, siapa mereka?" tanya Raphtalia penasaran.Namun, tatapan Naofumi sangat dingin, terpampang jelas kalau suasana hatinya tiba-tiba buruk, tanda ia tidak menyukai kehadiran Motoyasu. Naofumi juga langsung berjalan pergi menghiraukan kata-kata Motoyasu.


 Akan tetapi salah satu rekan atau anggota party Motoyasu langsung berbicara, "Tunggu tuan Motoyasu sedang berbicara denganmu!" seru gadis berambut merah dengan mata berwarna hijau, gadis yang pernah menjebak Naofumi hingga membuatnya kehilangan reputasi dan martabat sebagai pahlawan di mata semua penduduk Melromarck.


Naofumi nampak menghentikan langkahnya mendengar perkataan wanita itu, ia berhenti dan menatap ke arah depan dan melihat ada dua orang lagi, yang merupakan pahlawan lain sama seperti Motoyasu, tapi mereka terlihat lebih muda, terlihat seperti anak SMA yang masih labil.


 Yaitu seorang pemuda berambut hitam dengan mata biru mengenakan armor hitam aksen putih dengan pelindung bahu baja hitam berduri, ia memegang senjata pedang, tanda ia adalah pahlawan pedang, ia adalah Amaki Ren, lalu satu lagi pemuda berambut pirang pucat acak-acakan dengan mata berwarna hijau, membawa busur di tangannya serta ia memakai besi pelindung bahu berwarna putih di bahu kanannya, ia adalah Kawasumi Itsuki pahlawan panah.


 "Cih," gumam kesal Naofumi yang benar-benar tidak menyukai bertemu tiga pahlawan lainnya.


 Namun sebelum bisa berkata apa-apa untuk menyatakan kekesalannya, ia mendengar suara Motoyasu sedang merayu Raphtalia di belakangnya.


 "Perkenalkan," ucap sang pahlawan tombak sambil menyentuh tangan Raphtalia.


 Naofumi yang nampak kesal sedang menatap ke arah belakang dan melihat interaksi mereka. Namun tampaknya Motoyasu tidak menghiraukan tatapan Naofumi atau mungkin ia tidak menyadarinya dan malah melanjutkan perkenalannya.


 "Aku adalah pahlawan perisai Kitamura Motoyasu," ucapnya memperkenalkan diri."Tu-tuan pahlawan?" gumam gugup dan bingung Raphtalia dengan tingkah Motoyasu.


 "Manisnya." gumam pelan Motoyasu.


 "Eh?" Raphtalia kembali bingung mau berkata apa.


 "Tuan Motoyasu, sebaiknya anda tak usah bersikap seperti itu di hadapan Demihuman," ucap perempuan berambut merah dengan mata hijau yang nampaknya tidak suka kalau Motoyasu dekat dengan seorang Demihuman.


 "Gadis sepertimu tidak cocok memegang pedang. Aku akan melindungimu," ucap Motoyasu dengan latar berkilauan, seolah ia adalah seorang pahlawan flamboyan yang diberkahi dewa.


 Tak tahan melihatnya Naofumi yang mulai kesal mulai berjalan menghampiri Raphtalia. Raphtalia yang melihat Naofumi menghampirinya langsung menarik tangannya dari genggaman Motoyasu, "Maaf, tapi aku sudah memutuskan untuk bertarung bersama Naofumi!" seru Raphtalia.


 "Naofumi katamu?! Jangan-jangan, jika kau bersamanya kau akan-" belum sempat Motoyasu menyelesai perkataannya Naofumi muncul di hadapannya dengan tatapan mengancam, "Apa bukankah itu benar?" tanggap Motoyasu dengan ekspresi meledek.

__ADS_1


 Lalu terlihat pula perempuan berambut merah tadi tersenyum senang melihat Naofumi marah dan tak bisa apa-apa. Naofumi terlihat marah, tapi ia menahan diri, karena ia bukan tipe penyerang, sehingga ia tidak bisa memukul wajah Motoyasu, belum lagi di situ ada banyak orang sehingga ia tidak bisa melakukannya.


 Naofumi kemudian memilih menggenggam tangan Raphtalia dan menyeretnya pergi dari sana, "Ayo!" seru Naofumi dengan perasaan kesal.


 "Ah." ringis Raphtalia yang tangannya ditarik dengan kuat ia pun berjalan mengikuti Naofumi dari belakang, ia tahu perasaan Naofumi sedang sangat kesal, akan tetapi ia tidak tahu alasannya.


 "Kamu sudah tahu rumor tentang Naofumi kan?" seru Motoyasu pada Raphtalia.


 Hal itu kembali membuat Naofumi terdiam, sejenak, Raphtalia menatap ke arah Naofumi sambil memikirkan soal rumor apa yang dimaksud. Naofumi yang menahan marah hanya kembali berjalan melewati Itsuki dan Ren.


 "Kita akan bertemu di gelombang yang akan datang," ucap Itsuki saat Naofumi melewatinya.


 "Jangan sampai menghambat kami," tambah Ren lagi dan kata-kata itu benar-benar membuat kesal Naofumi.


Di penginapan pada malam hari.


Nampak kini Naofumi membuka kamar dengan wajah sebal dan melihat itu Felicia yang tidak tahu mengenai kejadian di Gereja langsung menatap ke arah Raphtalia meminta penjelasan, tapi Raphtalia hanya menggelengkan kepala tanda tidak mengerti.


Melihat reaksi Raphtalia, Felicia pun hanya menghela nafas dan menatap Naofumi yang mengambil peralatan untuk membuat obat-obatan herbal dan nampak ia menghaluskan beberapa tanaman herbal menggunakan alat itu, tapi secara kasar tanda emosi negatifnya belum hilang.


"Raphtalia, tidurlah aku akan menenangkan Naofumi," ucap Felicia sambil menatap Naofumi dan menggunakan sihirnya pada Raphtalia dan membuat Raphtalia tertidur, setelah Raphtalia tertidur, Felicia langsung mengangkat tubuh besar Raphtalia ke atas kasur dan pergi ke dapur penginapan untuk mengambil sesuatu, setelahnya ia kembali ke kamarnya dan masih melihat Naofumi meracik obat dengan perasaan kesal.


"Jika kau meracik obat dengan emosi seperti itu kualitasnya akan berkurang dan tidak akan laku jika dijual," ucap Felicia sambil duduk di samping Naofumi dan menyerahkan secangkir teh hijau dari daun tanaman herbal.


"Apa ini?" tanya Naofumi.


"Aku menyebutnya teh herbal," tanggap Felicia sambil tersenyum.


"Kau sebaiknya tidur," tanggap Naofumi yang melanjutkan kegiatannya.


"Itu harusnya kata-kataku, aku ini makhluk malam, jadi tidak tidur itu bukan masalah, tapi kau manusia, jika kau bergadang itu tidak baik, dan juga kualitas obatmu jadi jelek jika kau terus seperti ini," ucap Felicia lagi, "Jadi minumlah, ini akan menenangkan hatimu," tambah Felicia lagi sambil tersenyum.


Melihat senyuman Felicia Naofumi pun diam, ia akhirnya mengambil teh yang diseduh oleh Felicia dan meminumnya, "Ugh ini pahit."


"Ya seperti hatimu," balas Felicia.


"Hatiku tidak pahit," bantah Naofumi.


"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi sewaktu aku tidak ada? Kenapa kau begitu kesal?" tanya Felicia mencoba menggunakan pendekatan yang baik untuk menghibur hati Naofumi yang masih mengingat kejadian sewaktu di dalam Gereja.


"Aku ... aku bertemu orang-orang menyebalkan, orang-orang yang memfitnah dan menuduhku sesukanya, kalau saja daya serangku besar, aku sudah menampar wajahnya ketika ia terus merendahkanku. Selain itu Motoyasu sialan itu, padahal ia sudah punya banyak perempuan di kelompoknya, tapi masih mengincar Raphtalia!" seru marah Naofumi memberi tahu semua unek-uneknya.


"Naofumi ... maaf membuatmu mengingat hal yang menyedihkan, aku hanya tidak ingin kau terus membawa emosi itu, itu akan membuatmu tidak fokus, jangan biarkan penilaian orang lain mengganggumu, aku selalu ada untukmu," ucap Felicia sambil mencium dahi Naofumi.


"Terima kasih," gumam pelan Naofumi


"Ya sama-sama, dan kau tenang saja, Raphtalia tidak mendengar apapun, aku sudah membuatnya tidur, jadi bisakah kau ceritakan masa lalumu padaku?" tanya Felicia, "Dan sekaligus alasan kau marah pada Motoyasu?"


Mendengar pertanyaan Felicia, Naofumi pun mulai menceritakan awal ia dipanggil sebagai pahlawan perisai. Ketika itu karena ia lemah tidak ada satupun yang mau satu team dengannya, tapi secara tiba-tiba seorang gadis berambut merah dari kelompok Motoyasu mengajukan diri untuk menemaninya.


Perempuan itu bernama Myne Sofia. Setelahnya awalnya berjalan begitu baik, Myne memperkenalkan banyak hal pada Naofumi, akan tetapi setelahnya keesokan harinya. Naofumi kehilangan armor dan semua uangnya, lalu dipanggil ke istana dan dituduh hampir melecehkan Myne, dan yang parahnya armor miliknya ada di tubuh Motoyasu.


Mendengar cerita Naofumi Felicia langsung meninju dinding hingga hancur dan berkata, "Wanita ****** sialan!" seru Felicia menahan marah karena Naofumi jadi kehilangan semuanya gara-gara wanita dari kelompok Motoyasu


"F-Feli-chan?" gumam pelan Naofumi melihat dinding yang berlubang karena tinju kecil Felicia.


"Apa?" tanya Felicia.


"Ya bukan apa-apa, hanya saja ... bagaimana kita mengganti rugi dinding penginapan yang kau hancurkan?" tanya Naofumi.


Seketika wajah Felicia memerah, "M-maaf, l-lagi pula, k-kau bilang aku calon istrimu kan, j-jadi wajar aku marah akan hal ini, dan juga Motoyasu itu, dia juga sepertinya bukan pria yang baik, jikapun aku harus merelakan Raphtalia menikah dengan seseorang, orang itu haruslah gentelmen," ucap Felicia.


"Hahaha, kau bersikap seperti ibunya saja, padahal kau masih seperti anak kecil," tanggap Naofumi meledek penampilan Felicia yang pendek.


"Ugh, setidaknya secara umur aku sudah cukup untuk menikah," balas Felicia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2