Putri Vampire dan Pahlawan Perisai

Putri Vampire dan Pahlawan Perisai
Menambang


__ADS_3

Keesokan harinya, Raphtalia terbangun dan siapa sangka kalau ia kencing saat tidur dan membuat kasurnya basah. Naofumi dan Felicia yang tahu Raphtalia punya masa lalu yang buruk hanya bisa menghela nafas melihatnya. Sementara itu Raphtalia menangis tersendu-sendu, ia merasa bersalah karena kencing di kasur.


"Raphtalia," panggil Felicia sembari tersenyum dan menepuk kepala dari Raphtalia, "Tak apa, kami mengerti," ucap Felicia lagi.


"Hik t-tapi..."


"Tak apa, kau masih anak-anak, jadi tidak masalah," tanggap Felicia sembari mengecup dahi Raphtalia.


"Hem, ini wajar dalam masa pertumbuhan," gumam Naofumi sembari tersenyum.


Setelahnya Felicia, Naofumi dan Raphtalia, keduanya langsung meminta maaf pada Resepsonis hotel, bahkan mereka sampai harus mencuci selimut dan kasurnya dan dijemur.


Selanjutnya mereka mulai kembali berpetualang untuk menjadi lebih kuat dan mendapat banyak.


"Hyaaa!!!! Terpotong-potonglah!" seru keras Felicia sembari mengayunkan sabitnya kearah para monster-monster kecil yang menyerang.


"Haaaaa!!!!" Raphtalia berlari kencang kearah tiga monster ballon yang di tahan oleh Naofumi dengan perisainya.


Akhirnya level mereka naik lagi.


...Naofumi level 12...


...Felicia Level 4...


...Raphtalia level 9....


'Hem.... Setelah sekian lama bertarung, kenapa level Feli jauh tertinggal dari aku dan Raphtalia?' batin Naofumi sembari melirik ke arah Felicia.


Naofumi pun mulai terlihat begitu curiga dengan level Felicia yang tidak kunjung naik Felicia hanya tersenyum ke arah Naofumi, ketika pemuda itu menatapnya, "Ada apa?" tanya Felicia sembari tersenyum dengan nada ceria.


"Ah tidak! B-bukan apa-apa," gumam pelan Naofumi sembari mengalihkan wajahnya, 'Namun, meski levelnya tertinggal, statistik kekuatannya ratusan kali lebih kuat dariku dan Raphtalia,' pikir Naofumi yang melihat status kekuatan Felicia.


"Heeeem.... Benarkah? Feli merasa kau berbohong, tapi sudahlah, ah iya aku minta maaf, nampaknya Feli sedang ada panggilan alam, daah jaga diri baik-baik ya" tanggap Felicia sembari berlari pergi menjauh dari Naofumi.


Naofumi hanya diam melihat Felicia pergi menjauh masuk hutan yang entah mau buang air kecil atau besar. Akan tetapi tak lama setelah Felicia pergi, monster kelinci berbulu putih muncul.


...Monster Info :...


...Nama : Usapiru...


...Tipe : Hewan pengerat...


...Level : 4...


"Oh akhirnya datang monster yang lumaian kuat," gumam Naofumi menatap kelinci itu.


"Ngeeek!!!!!" Secara tiba-tiba kelinci berbadan bulat itu melumpat ke arah Raphtalia.


"Raphtalia!" seru Naofumi sembari melesat melindungi budaknya dari serangan, "Sekarang Raphtalia! Serang selagi ada kesempatan!" seru Naofumi pada.


"T-tidak, j-jika aku tusuk, d-darah, aku takut darah!" tanggap Raphtalia dengan kaki yang bergetar.


Naofumi terdiam mendengarnya, ia nampak memikirkan cara agar Raphtalia mau menyerang, karena saat ini Felicia tidak berada di sekitar mereka.


"Dengar Raphtalia mulai sekarang sampai seterusnya, musuh-musuh seperti ini! Cepat atau lambat gelombang bencana akan datang dan aku harus mengatasinya, tapi karena aku tidak bisa memakai senjata lain. Maka aku terpaksa bergantung pada orang lain! Jadi jika kau tak bisa, maka aku terpaksa mencari yang lain," ucap Naofumi.


"Tuan akan melawan gelombang bencana?" tanya Raphtalia.


"Itu adalah kewajibanku sebagai pahlawan," jawab Naofumi, 'Sejujurnya aku tidak menyukainya, tapi aku terpaksa memaksanya bertarung bersamaku,' batin Naofumi.


Raphtalia pun mulai menguatkan dirinya lalu berlari ke arah Naofumi, "Hyaaaa!!!" teriaknya sembari menusukkan belatinya ke perut kelinci itu.


Jrash


Graaaa


Dan nampak kelinci itu berteriak kesakitan akibat ditusuk sama Rapthalia


"Haaah-haaah, aku memang masih takut darah, tapi aku akan berusaha, jadi jangan buang aku," ucap Raphtalia dengan tubuh penuh darah.


"Ah, mulai hari ini, kau akan bertarung dan aku akan melindungimu," jawab Naofumi


"Yaho! Maaf aku tadi tersesat saat ingin kembali tehe," ucap Felicia dengan muka tanpa dosa.


"Kau ada baik-baik saja kan?" tanya Naofumi


"Eh, memangnya ada apa?" tanya Felicia dengan muka polos.


"Ya mana tahu ada seekor monster yang mau mengrepe-***** dirimu yang mendapatkan panggilan alam" balas Naofumi santai


"Are kau khawatir padaku, padahal aku cukup kuat untuk membunuhmu," ucap santai Felicia yang merasa ekspresinya Naofumi agak lucu.


"Aku hanya tidak ingin kau terlalu percaya padaku," ucap santai Felicia, "Kalau terlalu percaya, kamu berakhir dibunuh nantinya" tambah Felicia


"Dan ... Astaga Raphtalia!!! Apa yang terjadi padamu!" seru kaget Felicia melihat Raphtalia yang berlumuran darah.

__ADS_1


"Hehe.. maaf jika aku membuat Feli-nee melihat kondisiku yang seperti ini" balas Rapthalia


"Tidak b-bukan itu, hanya saja, rasanya aku ingin menjilat semua darah yang ada ditubuhmu, aduh gimana nih" ucap Felicia dengan mata yang menyala merah.


Duag


"Ah sakit! Kejam banget ... Nao-kun main pukul, padahal Feli tidak jahat," ucap kesal Felicia.


"Diamlah. Kau membuat Raphtalia ketakutan," tanggap Naofumi rada kesal. Namun, meski demikian ia tidak membenci Felicia.


Malam hari kemudian.


Nampak Naofumi, Felicia dan Raphtalia sedang asik membakar sebagian dari daging kelinci yang mereka dapat, lalu setelahnya mereka bertiga memakan daging Usapiru.


Setelah selesai makan, seperti biasa Raphtalia akan tidur, Naofumi membuat obat-obatan dan Felicia yang merupakan half demon, berjaga malam, hal ini karena passivenya ia tidak begitu butuh tidur, karena tenaganya tidak akan terkuras sedikitpun, apalagi cahaya bulan dan angin malam juga sumber energinya.


Secara diam-diam Naofumi memeriksa status atau stastistik kekuatan Felicia dan hasil yang didapat benar-benar mengejutkan.


Felicia. Level 4


Atk : 500.000.000


Agi : 99999999999999999999999+


Def : 30.000


Mtl : ?


Crit : 9000.000.000


Melihat statistik kekuatan Felicia yang kelewat gila di level 4, membuat Naofumi tercengang serta merasa beruntung karena Felicia ada di pihaknya.


'Kekuatan Felicia benar-benar ada diluar nalar, apa karena ia half demon?' batin Naofumi bertanya-tanya, 'Namun, meski demikian, kekuatan segila ini hanya ada ketika malam hari,' batin Naofumi, karena ketika ia memeriksa kekuatan Felicia di siang hari tidak sampai segila itu.


"Nao-kun, bukankah melihat stat orang lain tanpa izin itu merupakan hal yang tidak sopan?" tanya Felicia sembari melirik rembulan malam yang menyinari tubuhnya.


"Kau bukan orang lain bagiku," jawab Naofumi.


Felicia tertunduk mendengarnya, "Kenapa kau begitu yakin dalam menyatakan kalau aku bukan orang lain?"


"Apa yang membuatmu tidak menyukainya?" tanya Naofumi.


"Bukan, aku sangat senang kau bisa percaya padaku, hanya saja, aku ingin tahu alasan kau bisa menerimaku dengan cepat?" tanggap Felicia dengan pertanyaan.


"Aku hanya memanfaatkanmu untuk bisa hidup di dunia manusia, aku juga ingin dapat makan gratis," gumam pelan Felicia pada Naofumi.


"Eh" beo Naofumi


"Ya memangnya siapa lagi yang mau menampung iblis dan memberinya makan, selain kau," tanggap Felicia.


"Maa. Aku nggak mempermasalahkan kalau kamu kedepannya akan membenciku" balas Felicia


"Ya terima kasih," gumam pelan Naofumi sembari melanjutkan kegiatannya.


Ke esokan harinya mereka kembali ke kota karena pisau Raphtalia udah rusak dan durability nya udah rendah.


"Paman tolong berikan senjata apa saja yang bisa kau berikan pada Raphtalia," pinta Naofumi ketika datang dan meletakan sekantong uang berukuran kecil.


Pedagang senjata botak itu membuka kantongnya dan melihat isinya dengan senyum menatap ke arah Raphtalia dan Felicia, lalu kembali menatap Naofumi.


"Anchan. kau ingin membeli senjata untuk siapa?" tanya pedagang senjata itu.


"Raphtalia, pisau yang kau berikan untuknya sudah mulai berkarat setelah menusuk Usapiru. Aku tidak tahu apakah belati itu kurang perawatan atau kualitasnya yang buruk " tanggap Naofumi dengan santainya.


"Hem mungkin karena pisau itu tidak punya proteksi terhadap darah, jadi perlu perawatan ketika terkena darah. Dan mengenai uang yang kalian berikan, aku bisa memberikan pedang pendek," ucap sang pedagang senjata.


Setelahnya pedagang senjata itu memberikan pedang pendeknya pada Raphtalia. Naofumi langsung menatap Felicia, "Feli, apakah ada sesuatu yang menarik perhatianmu?"


Felicia yang ditanya mengenai sesuatu yang ia inginkan, langsung memikirkan apa yang ia inginkan, "Tolong berikan saja aku belati," tanggap Feli.


"Baiklah," gumam santai sang pedagang senjata.


Setelah belati sudah di berikan, Naofumi pun menatap ke arah pedagang senjata, "Paman, kalau boleh tahu, apa kau punya rekomendasi tempat untuk kami?" tanya Naofumi.


"Hem... dilihat dari peralatan kalian, aku rasa tempat ini cukup sesuai," ucap pedagang senjata sembari menunjuk sebuah peta dengan tulisan desa Ryuto.


Mereka bertiga kemudian akhirnya pergi menumpang di kereta kuda untuk menuju desa Ryuto. Sesampainya di sana Naofumi langsung membayar pajak masuk sebesar 10 koin tembaga.


"Biaya masuk desa hampir membuat kita kehabisan uang, aku harap kita bisa menjual kulit Usapiru agar bisa dapat biaya makan, minum dan menginap," gumam Naofumi.


"Yah aku juga berharap demikian Nao-kun," ungkap santai Felicia.


"Hem, kalau bisa aku juga ingin bertemu ayahmu," ucap Naofumi lagi.


"Jika kau menemui ayahku yang merupakan Raja iblis dari suku Vampire, kau akan dianggap penghianat dan pengabdi iblis," gumam Felicia, "Aku tidak bisa membiarkanmu jatuh ke dalam jurang dan dibenci banyak orang."

__ADS_1


"Aku lebih baik dicap seperti itu. Karena mereka sudah melabeli ku sebagai pemerkosa anak kerajaan. Padahal aku tidak pernah melakukannya" ucap Naofumi


"Naofumi, hanya karena kau dapat aib, kau jangan menambah aib lain yang akan membuatmu semakin dibenci," tegur Felicia


"Mereka tidak pernah menginginkan aku ada. Jadi apa yang harus aku pertahankan? Dan pasti mereka akan mengkambing hitamkan aku atas dugaan pelecehan seksual terhadap mantan rekanku," ucap Naofumi dengan pandangan kosong


"Mereka memang membencimu, tapi aku yakin, suatu saat mata mereka akan terbuka, jadi jangan membenci orang-orang terlalu dalam," gumam pelan Felicia.


"Heh tak aku sangka aku mendengar itu dari orang yang pernah membunuh ibunya sendiri," gumam Naofumi.


Felicia yang mendengar perkataan Naofumi langsung tertunduk, "Aku tahu aku tidak pantas mengatakan hal tadi. Namun, bukan berarti aku akan diam jika temanku jatuh ke jurang gelap."


Naofumi hanya tersenyum aneh mendengarnya, "Lagi pula jika kau iblis, kenapa kau tidak senang jika aku ingin bergabung?" tanya Naofumi.


"Karena kau hanya akan dipandang sebagai pion yang bisa dibunuh kapan saja, seperti ibuku yang dibunuh karena sudah tak berguna," ucap sedi Felicia, terutama karena dia sendiri yang membunuh ibunya.


"Lalu aku harus berteman dengan siapa?" Tanya Naofumi yang merasa ada keputusasaan dihatinya


Apalagi dia tidak memercayai kerajaan yang selalu mengkambinghitamkan dirinya yang tidak tahu perihal apa-apa. Ditambah dia tidak ingat kapan dia pernah memperkosa seorang perempuan apalagi dari kerajaan


"Kau hanya perlu melihat siapa yang berjuang bersamamu, lindungi apa yang ingin ia lindungi, dan yang ingin aku lindungi adalah citra baikmu sebagai pahlawan," ungkap Felicia, "Itu saja. Hanya sesederhana itu" ucap Felicia


"Aku hanya ingin jadi pedang pelindungmu, aku ingin berguna jadi aku harap, tuan tidak membuangku," pinta Raphtlia ikut bicara.


"Rapthalia" ucap Naofumi pelan.


"Kau sudah mendengar keinginan dari bawahanmu, sekarang apa kau sudah bisa menganggap dirimu dibutuhkan, meski dunia mengatakantkau tak bergguna. Kami selalu bersamamu lebih tahu dari siapapun dan aku membutuhkan kemampuan bertahanmu," ucap Felicia sembari menatap langit.


Naofumi hanya bisa diam dan berjalan ke arah pedagang yang baru buka lapak, "Yo! Apakah paman bersedia membeli kulit monster yang kami dapat?" tanya Naofumi.


"Mana saya lihat," jawab sang pedagang.


Naofumi pun memberikan kulit Usapir yang ia punya untuk dilihat oleh si pedagang itu, dan si pedagang menatap kulit itu dengan seksama, "Hem sepertinya kau sangat pandai menguliti monster kecil, potongannya sangat rapi dan tidak ada kerusakan sedikitpun. Hem baiklah bagaimana dengan tiga koin perak?"


"Aku terima dan kalau boleh di sekitar sini apa ada tempat yang bisa dikunjungi untuk mencari material mahal?" tanya Naofumi.


"Hem aku rasa ada bijih logam yang bisa di jual di pertambangan itu. Akan tetapi ....."


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Felicia penasaran sembari menatap ke arah pertambangan, 'Ada aura yang tidak mengenakan di sana, aku tahu tempat itu akan sangat berbahaya, tapi jika tidak melewati bahaya, mereka berdua tidak akan menjadi kuat,' batin Felicia yang masih menatap ke arah pertambangan.


"Semenjak gelombang pertama, ada banyak monster berbahaya bersarang di sana. Karena hal itu tak ada yang berani ke sana sekarang," jawab sang pedagang.


"Begitu yah," gumam Naofumi dengan nada pelan.


"Benerandah, sebenarnya pada kemana sih para pahlawan itu, katanya sudah dipanggil, tapi kami sampai sekarang tidak tahu apa yang mereka lakukan?" keluh si pedagang mempertanyakan kinerja para Hero.


Naofumi kemudian menatap kearah pertambangan dan memikirkan apa yang bisa ia dapatkan dari tambang itu. Sementara itu Felicia menatap bola dengan warna oranye.


"Paman, kalau boleh tahu, berapa harga bola itu?" tanya Felicia pada sang pedagang.


"Ah ini, hem aku rasa bisa menjualnya seharga 5 koin tembaga, apakah adek kecil mau?" tanya sang pedagang.


"Ya terima kasih, saya sangat senang," ungkap Felicia. Felicia kemudian mengeluarkan uangnya dan memberikan pada sang pedagang, sesuai dengan nominalnya.


"Wah terima kasih Jouchan, ini bolanya," ucap sang pedagang memberikan bola yang terbuat dari monster balon untuk Felicia.


Felicia tersenyum dan mengambilnya lalu pergi bersama Naofumi dan Raphtalia dengan cengiran kegembiraan.


"Kau punya sisi kekanak-kanakan juga yah," gumam Naofumi.


"Memang salah kalau aku mau mainan? Dan Raphtalia, jika memungkinkan, aku ingin memainkan ini denganmu setelah ini," ucap Felicia sembari menampakan senyum bahagianya.


Kruuuuk


Naofumi dan Felicia terdiam dan menatap ke satu arah yaitu Raphtalia. Raphtalia pun tertunduk lesu, "Maaf."


"Pifff ..... Ahahahaha🤣🤣🤣" Felicia langsung tertawa di tempat.


"Ah sudahlah, ayo kita makan," gumam Naofumi sembari tersenyum.


Setelah selesai makan mereka bertiga membeli peralatan tambang seperti pickaxe dan alat penerangan yaitu obor sebelum akhirnya kepertambangan.


Setelah sampai di pertambangan Naofumi mengambil tali tua dan pickaxe rusak yang ia langsung serap ke dalam perisainya.


Rope Shield


Deff +5


Equip skill : Memunculkan tali yang bisa digunakan dalam beberapa keperluan.


Special skill : Air strike Shield.


"Ah, sebaiknya aku coba saja," gumam pelan Naofumi, "Rope Shield!" seru keras Naofumi dan setelahnya sebuah perisai yang terbuat dari gulungan tali tambang muncul di tangan Naofumi


bersambung

__ADS_1


__ADS_2