Putri Vampire dan Pahlawan Perisai

Putri Vampire dan Pahlawan Perisai
Bergadang bersama


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Terlihat Naofumi menggiring Raphtalia bersamanya sedangan Felicia mengikuti dari belakang, "Tuan, cara anda membawa budak anda sangat mencolok dan mengundang perhatian masyarakat umum, ini hanya akan membuat reputasi anda semakin buruk," tegur Felicia pada Naofumi.


"Tak usah pedulikan pandangan orang lain, dan juga aku tidak suka kau memanggilku dengan kata tuan," ucap Naofumi lagi.


"Haaah, Naofumi-dono, dia memang seorang budak, tapi bukan berarti kita bisa memperlakukannya seenak hati, apalagi dia dalam keadaan sakit dan kurus, jika kau ingin ia berguna dan bertahan lama, kita harus memperlakukannya dengan baik, aku bisa menyembuhkan penyakit fisik yang dia derita dengan sihir, tapi tidak dengan mentalnya dia pasti punya trauma tertentu, menyiksanya tidak akan memberikan keuntungan melainkan kerugian, karena kita akan kehilangan dia secara percuma setelah membelinya dengan uang yang cukup banyak," tegur Felicia.


Naofumi pun berhenti berjalan dan menatap ke arah Felicia, begitu juga Raphtalia, gadis itu nampak tidak menyangka kalau gadis berambut merah muda dan bermata merah dengan telinga lancip berkulit putih dan mengenakan gaun tipis berwarna putih dibelakangnya sangat peduli padanya, gadis cantik dengan senjata sabit besar berani menegur tuannya, 'Jadi nama tuanku saat ini Naofumi?' batin Raphtalia.


"Lalu bagaimana aku harus membawanya Feli?" tanya Naofumi dengan lembut.


"Gendong dia seperti kau menggendong anak atau adik kecilmu," jawab Felicia


Naofumi yang mendengar jawaban Felicia langsung menatap Raphtalia, Raphtalia nampak bergetar ketakutan karena ia agak takut jika Naofumi akan memukul dan menyakitinya, 'Sepertinya Felicia benar, ia punya trauma tertentu, baiklah aku akan menggendongnya,' batin Naofumi yang langsung menggendong Raphtalia seperti seorang ayah menggendong anaknya.


Raphtalia atau gadis rakun yang menjadi budak Naofumi itu kaget dan mukanya memerah ia nampak menatap ke arah Naofumi yang wajahnya nampak tidak menyenangkan jika dilihat lalu menatap ke arah Felicia, 'Perempuan itu sepertinya sangat dekat dengan tuan, meski tingginya tidak jauh berbeda dariku, tapi sepertinya ia sangat dewasa dan karena dia juga perlakuan tuanku padaku jadi sedikit lebih lembut, apa hubungan mereka?' batin Raphtalia bertanyatanya.


Mereka terus berjalan sampai akhirnya berada di toko senjata, "Feli, aku harap kau juga masuk, siapa tahu ada barang yang menarik perhatianmu," ucap Naofumi sembari tersenyum lembut.


'Feli, jadi itu namanya, kalau bisa aku ingin berteman dengannya,' batin Raphtalia sembari menatap Felicia.


"Jika itu yang Naofumi-dono mau aku akan mengikuti anda," gumam pelan Felicia, nampak setelahnya mereka bertiga memasukki toko senjata dan suara bell berbunyi.


"Oh kau rupanya bocah perisai ada perlu apa?" tanya seorang pria botak kekar dari dalam tokonya Felicia nampak begitu memperhatikan senjata dan perisai yang dijual di sana ia juga melirik apakah ada armor yang cocok dengannya.


Kring


Naofumi dengan cepat meletakan 6 koin silver di meja sang pedagang sejata dan menurunkan Raphtalia dari gendongannya ia pun meletakannya diatas meja, "Berikan aku senjata yang bisa dipakai olehnya dan sekaligus pakaian yang cocok dengannya dengan anggaran 6 koin silver," ucap Naofumi dengan tegas.


Pedagang senjata itu menatap Raphtalia dan ia kaget melihat segel budak di dadanya, "Bocah, kau membeli budak?"


"Diamlah berikan saja apa yang aku pesan," ucap Naofumi.


Sipedagang senjata itupun langsung dengan cepat memberikan sebuah belati dan satu set pakaian untuk Raphtalia, "Ini bagaimana?" tanya sang pedagang senjata


"Tidak masalah. Raphtalia ambil dan pakailah segera, aku ingin kau membantuku," ucap Naofumi dengan cepat menurunkan Raphtalia dari meja dan memberikannya baju dan belati yang ia beli.


Raphtalia mengangguk dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya, sang pedagang sejata kemudian memperhatikan gadis kecil yang tingginya hanya 154 cm, berambut ping panjang tergerai dan sebagian diikat kesebelah kiri dan kanan menggunakan pita hitam, mengenakan gaun putih tipis dan membawa sabit besar di tangannya.


"Anchan siapa gadis kecil yang melirik semua daganganku itu?" tanya si pedagang senjata pada Naofumi.


"Calon istriku," jawab Naofumi sedikit bercanda


Si Pedagang Senjata Berjenggot tipis Berkepala plontos berotot itu pun lalu mulai terlihat begitu cengo,ketika mendengar "Kata Istri"Dari Naofumi yang sebenarnya hanya Sekedar Bercanda saja, "Anchan, kau tidak bercanda dengankukan, bagaimana bisa kau menjadikan gadis kecil sebagai calon istrimu di saat kau sedang terkena rumor yang tidak mengenakkan," ucap pedagang senjata dengan wajah tak percaya.


"Cih, dasar pria berortot, kau bahkan bisa memikirkan kalau itu candaan, padahal aku ingin membuatmu iri," ucap Naofumi sembari membuang muka.


"Ahahahaha, Ancan kau tidak bisa membodohiku dengan mudah, gini-gini aku sudah hidup selama 30 tahun tahu," ungkap santai pedagang senjata dengan penuh rasa bangga, "Jadi siapa dia?" tanya pedagang senjata.


Felicia tersenyum dan membawa sabit besarnya sembari berjalan mendekati Naofumi, "Sepertinya aku tidak menemukan apapun yang menarik perhatianku, Scythe pemberian ayahku jauh lebih kuat dari pada senjata yang ada di sini."


"Yah itu karena senjatamu dibuat dari teknologi bangsa iblis di dunia bawah bukan?" tanggap Naofumi.


"Tepat sekali dan sebenarnya dari pada senjata, aku lebih memilih mencari armor. Namun, karena aku tidak mau terlalu banyak menguras uangmu, jadi aku rasa aku tidak akan membeli apapun," ucap Felicia sembari tersenyum lembut.


Naofumi ikut tersenyum dan mengelus kepala Felicia, "Sepertinya aku harus bekerja lebih keras agar bisa membeli Armor untukmu," ucap Naofumi sembari tersenyum tipis.


"Terimakasih perhatiannya," gumam Felicia sembari tersenyum tipis.


Kreeek


Seketika tirai ruang ganti baju terbuka dan menampatkan Raphtalia dengan baju barunya yang sedikit lebih tertutup dan tebal dari sebelumnya.


"Kau lumayan lama yah," gumam pelan Naofumi.


"Maaf," tanggap Raphtalia sedikit ketakutan.


"Raphtalia, cabut pisaumu," pinta Felicia sembari mengeluarkan monster ballon dari lingkaran sihir yang terbentuk dari darah dan energinya Feli. Lalu Felicia mencengkram ballon oranye itu dengan tangannya.


"M-Monster!" seru kaget Raphtalia.


"Tenang saja ia tidak akan bisa lari dari tanganku, gunakan pisaumu untuk membunuhnya," tanggap Felicia.


"Tapi...."


"Lakukan Raphtalia jangan membantah," ucap Naofumi.


Seketika Raphtalia kesakitan karena melawan perintah dari Naofumi, "Gyaaaa!"


"Lihat jika kau menolak kau hanya akan menerima rasa sakit, jadi lebih baik kau lakukan apa yang kuperintahkan!" tegas Naofumi.


Karena tidak mau kesakitan, Raphtalia mulai bangkit dengan mencabut belati di pinggangnya dan berlari ke arah Felicia sembari menyerang dengan pisaunya dengan sangat kuat.


Namun, bukannya pecah, ballon itu berhasil memantulkan serangan dari Raphtalia, "Raphtalia, jangan lakukan dengan terpaksa, walau bagaimana pun ini adalah tugas anda untuk bisa bertarung bersamaku untuk membantu Naofumi-dono," ucap Felicia.


Raphtalia hanya diam dan berdiri menggenggam pisau dengan tangan kurusnya, "Maaf aku akan coba sekali lagi," gumam pelan Raphtalia.


"Jangan hanya pakai tanganmu, gunakan punggungmu untuk meningkatkan daya dorong dan tusukan pisaumu," ucap Naofumi memberi saran.


"Aku mengerti!" seru Raphtalia yang langsung berlari dan melakukan serangan sesuai perintah Naofumi dan hasilnya cukup mengejutkan, dimana saat itu secara tiba-tiba monster ballon itu pecah.


Ctass!


Karena ballon itu meledak energi kejut yang muncul berhasil membuat Raphtalia terlempar ke belakang dan terduduk dibelakang.


Naofumi nampak memperhatikan Raphtalia, 'Sepertinya ini bukan hanya terjadi pada Felicia, rupanya budakku juga bisa mengasilkan exp untukku,' batin Naofumi.


"Anchan, kau terlihat bingung ada apa?" tanya pedagang senjata.


"Bukan apa-apa," gumam pelan Naofumi, setelahnya ia berjalan mendekati Raphtalia, "Kerja bagus Raphtalia, mulai saat ini kau dan Felicia akan membantuku untuk berburu monster, dan sebagai gantinya aku akan melindungimu."


"Eh?" kaget Raphtalia.


"Apa yang kau tunggu? Ayo pergi!" seru Naofumi sembari berjalan ke pintu keluar.


"B-Baik!" seru Raphtalia yang kembali menyarungkan pisaunya dan berlari menyusul Naofumi.


Felicia hanya diam melihatnya, ia kemudian berjalan mengikuti Raphtalia dan Naofumi dari belakang, Raphtalia kemudian menatap kearah Felicia, "Ano ..."


"Ada apa?" tanya Felicia.


"B-bukan apa-apa!" seru Raphtalia yang langsung mengalihkan wajahnya menatap punggung Naofumi.

__ADS_1


"Raphtalia jika memang ada yang ingin kau tanyakan, kenapa tidak tanyakan saja?" ucap Felicia.


"Aku bingung mau bertanya apa," gumam pelan Raphtalia.


"Jadi begitu, ya sudahlah. Oh iya karena ini hari pertama kau bekerja, maka aku katakan saat ini juga, aku ingin Raphtalia-san memanggilku Feli-neechan," ungkap Felicia.


"Feli Neechan," gumam pelan Raphtalia.


Felicia tersenyum kecil dan berkata, "Bagus, aku senang kau mau memanggilku Neechan," tanggap Felicia dengan nada lembut dan nampak Felicia juga mengelus kepala Raphtalia hingga membuat wajah Raphtalia memerah dan bibirnya juga menampakan senyuman.


Naofumi menatap kebelakang dan melihat interaksi Raphtalia dengan Felicia membuatnya tersenyum, 'Melihat mereka begitu seolah melihat dua hubungan saudari yang sudah lama terpisah,' batin Naofumi.


Tak lama kemudian Naofumi menghentikan langkah kakinya hingga membuat Raphtalia menabrak punggung Naofumi.


"Ugh," ringis Raphtalia.


"Ada apa Naofumi-dono?" tanya Felicia yang melihat Naofumi berhenti berjalan.


Naofumi tidak menjawab melainkan hanya diam menatap ke arah samping, Felicia dan Raphtalia juga menatap ke arah yang sama, mereka bertiga rupanya melihat, dua budak Demihuman yang sedang mengangkat barang untuk tuannya dan terlihat budak lelaki terjatuh dan dicambuki habis-habisan.


Raphtalia nampak ketakutan dan menggenggam lengan Felicia. Felicia yang tangannya di genggam oleh Raphtalia nampak tersenyum tipis.


"Jangan khawatir, kami tidak akan melakukan itu padamu," gumam pelan Felicia.


"Em baiklah," gumam pelan Raphtalia sembari menunduk.


Kruuuuk


"Kau lapar?" tanya Naofumi.


"Tidak," tanggap Raphtalia.


"Tak usah bohong, ikuti aku, kita akan makan bersama," ucap Naofumi ketika mendengar tanggapan Raphtalia.


"Eh?" nampak Raphtalia masih kaget akan kenyataan kalau Naofumi atau tuanya itu mengajaknya untuk makan di tempat makan.


Felicia sedikit menahan tawa dan menarik tangan Raphtalia untuk dibawa bersamanya. Raphtalia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya Feli.


...Sesampainya di rumah makan....


Naofumi nampak masuk ke dalam restoran, sementara Felicia dan Raphtalia melihat papan kayu yang bertulisan Demihuman dilarang masuk, 'Sepertinya Demihuman benar-benar di diskriminasi,' batin Felicia.


"Oy apa yang kalian lakukan cepat masuk!" seru Naofumi.


"Tapi!" Raphtalia nampak ragu untuk masuk.


"Sudah, ayo masuk," gumam pelan Felicia yang langsung menarik pelan lengan Raphtalia.


"Apa itu demihuman?"


"Kenapa mereka malah datang kemari?"


Felicia hanya diam saja mendengar perkataan orang-orang di sekitarnya, begitu juga dengan Naofumi dan Raphtalia.


Mereka bertiga duduk atas kursi dalam meja yang sama, "Boleh kami memesan?" tanya Naofumi pada pelayan restoran.


"Yah tentu saja," ucap pelayan dengan ragu-ragu ia berjalan mendekati meja makan yang ditempati Felicia, Raphtalia dan Naofumi.


"Tolong satu porsi makanan murah dan dua porsi makanan anak-anak untuk mereka," ujar Naofumi memesan sambil menunjuk Feli dan Raphtalia.


"Bisa-bisanya kau memesan makanan anak-anak untuk anak usia 19 tahun sepertiku," gumam pelan Felicia.


"Apa salahnya? Lagi pula kau memang terlihat seperti anak-anak," tanggap Naofumi.


"Meski begitu, bisa-bisanya kau memperkenalkanku sebagai calon istrimu pada pedagang senjata itu dan di sini kau memperlakukanku seperti anak kecil," keluh Felicia.


"Feli aku kaget kau mendengar percakapanku, tapi ... waktu itu aku hanya bercanda pada pedagang senjata itu," ungkap pelan Naofumi.


"Meski daun telingaku tidak selebar daun telingamu dan berbentuk runcing di ujung lalu berukuran kecil, bukan berarti aku pendengar yang buruk," tanggap kesal Felicia.


'Apa aku terlalu menyingungnya, sepertinya dia sedikit punya sisi kekanak-kanakan juga yah,' batin Naofumi.


'Mereka berdua akrab sekali, apa aku juga bisa sedekat itu dengan tuan,' pikir Raphtalia yang memperhatikan interaksi Naofumi dengan Felicia.


"Sudahlah jangan marah, apa kau tersinggung karena menganggap aku telah menyidir telinga kecilmu?" tanya Naofumi.


"Memangnya siapa yang tidak marah, kalau bentuk telinga rasnya dihina," gumam pelan Felicia.


"Aku minta maaf untuk itu," gumam pelan Naofumi sembari menahan tawa.


"Ano," gumam pelan Raphtalia mencoba untuk bicara.


"Ada apa Raphtalia?" tanya Naofumi pada gadis rakun itu.


"Kenapa?" tanya Raphtalia pada Naofumi dengan nada rendah dan kepala menunduk.


"Apa kau ingin makan yang lain?" tanya heran Naofumi.


"Tidak, tapi kenapa kau memberiku makan?" tanya Raphtalia pada Naofumi.


"Jika kau lapar kau tidak bisa bertarung dengan baik," balas Naofumi.


"Tapi, tuanku yang sebelumnya..."


Naofumi dan Felicia nampak menatap Raphtalia dengan tatapan yang sulit untuk di pahami, "Dengar Raphtalia, kau adalah pedangku yang akan membantuku untuk memburu monster, tak ada gunanya sebuah pedang jika dia tumpul," tanggap Naofumi sembari menatap kearah lain.


Lalu tak lama kemudian, hidangan yang mereka pesan akhirnya tiba, Raphtalia nampak memandangi makanannya.


"Kenapa? Makanlah," gumam Naofumi.


"Boleh?"


"Apa aku harus memakai perintah agar kau mau makan?" tanya Naofumi.


Raphtalia pun memakan hidangannya memakai tangan, sedangkan Felicia memakai sendok dan garpu.


Nampak wajah Raphtalia yang tadinya murung bahagia nampaknya ia begitu senang ketika diperbolehkan makan ia bahkan makan dengan lahap dengan wajah yang sangat belepotan.


Felicia tersenyum dan langsung mengeluarkan sapu tangan dari dalam lingkaran sihir dan, "Raphtalia," panggil Felicia.


"Ada apa, onee-chan?" Tanya Rapthalia


"Makannya yang pelan-pelan. Kita tidak terburu-buru kok. Juga wajahmu belepotan tahu" ucap Felicia yang membersihkan wajah Rapthalia yang belepotan sama saos dan nasi, menggunakan sapu tangan.

__ADS_1


"Hehehehe" ucap Rapthalia yang ketawa cengengesan.


"Kau seperti ibunya saja," ucap Naofumi sembari tersenyum.


"Kalau aku ibunya, maka kau adalah ayahnya," balas Felicia dengan wajah santai.


"Berarti aku boleh panggil kalian berdua Okaa-chan dan Otou-chan?" Tanya Rapthalia polos


Dooong.


Seketika muka Naofumi dan Felicia memerah.


"Raphtalia, jangan pakai panggilan itu, itu terlalu memalukan," gumam Felicia, sembari memakan makanannya secara perlahan.


"Kenapa?" tanya Raphtalia bingung akan tingkah Naofumi dan Felicia, "Padahal kawanku pernah mengatakan bahwa jika seorang laki-laki dan perempuan yang tengah bertengkar itu tandanya mereka saling menyukai. Apakah aku salah?" Tanya Rapthalia polos


Alhasil baik Naofumi dan Felicia merona habis mendengar apa yang dikatakan oleh Rapthalia sendiri


'Siapapun mereka yang mengatakan hal yang demikian kuharap mereka ngejomblo seumur hidup' pikir Naofumi dan Felicia kompak.


Setelah selesai makan, mereka bertiga nampak berjalan dengan suasana canggung.


"Raphtalia, karena kau masih pemula, aku sarankan kau hanya menyerang monster yang ditahan Naofumi, sedangkan aku akan mengurangi musuh yang akan mengepung atau menyerang kalian," ucap Felicia memberitahukan strateginya.


"Hmm... Setidaknya dia bisa mempelajari cara bertahan hidup" ucap Naofumi


Raphtalia hanya mengangguk saja mendengarnya dan menyiapkan senjatanya, 'Meski aku masih kecil, aku akan melakukan yang terbaik untuk Naofumi-sama dan Felicia-neesama' pikir Rapthalia


Akhirnya puluhan atau ratusan monster bermunculan menyerang ke arah mereka, Felicia yang melihat hal itu langsung bergerak cepat kesana dan kemari menyerang monster balon dengan sangat cepat menggunakan sabitnya yang tajam hingga menghancurkan banyak musuh dan membuat Naofumi dan Raphtalia mendapatkan banyak exp.


Akan tetapi masih ada banyak dari mereka yang lolos atau sengaja dibiarkan oleh Felicia mengarah pada Raphtalia ataupun Naofumi. Melihat hal demikian Naofumi pun menyiapkan perisainya.


Deng!


"Sekarang Raphtalia!" seru Naofumi saat berhasil menahan serangan musuh yang hampir melukai Raphtalia dari belakang.


Melihat itu Raphtalia langsung memakai pisaunya menebas kumpulan monster jamur dan ballon yang menghantam perisai Naofumi dan membunuh mereka.


Tap


Berikutnya Naofumi menangkap dan mencengkram erat balon merah yang defends dan atacknya sedikit lebih tinggi dari monster Balon Oranye.


"Raphtalia!"


"Siap!" seru Raphtalia yang langsung paham kalau ia harus membunuh musuhnya, dengan cepat Raphtalia.


Duarr


Balon itu meledak dan mereka panen Exp dengan jumlah yang lumayan, "Kerja bagus Raphtalia, dengan begini kita bisa mendapatkan banyak uang," gumam pelan Naofumi.


"Keja bagus Raphtalia, kau memang sangat cocok di dekat Naofumi," puji Felicia.


"Tapi buruan Feli-nee lebih banyak," tanggap Raphtalia merendah.


"Itu bisa terjadi berkat dirimu, saat kau tidak ada, aku tidak bisa mengamuk menyerang musuh, karena harus di dekat Naofumi, belum lagi tipe senjataku bukan senjata yang bisa dipakai dalam pertarungan team atau melindungi teman yang sedang di serang, karena sulit dikendalikan," ungkap Felicia.


Raphtalia hanya bisa tersenyum karena ini pertama kalinya ia diperlakukan secara baik dan dipuji oleh majikannya.


"Yosh sebaiknya kita menjelajah lebih jauh lagi untuk mendapat buruan yang lebih bagus," gumam Naofumi setelah mengumpulkan beberapa bekas monster.


Setelahnya Feli, Raphtalia dan Naofumi, melanjutkan perjalanan menuju kedalam hutan dan di sana Felicia, Naofumi dan Raphtalia berhadapan dengan berbagai macam monster.


Naofumi akhirnya juga membuka banyak perisai dari hasil menyerap sisa-sisa monster, itu terus berlanjut sampai mereka berhadapan dengan monster telur dan hal itu membuat Felicia dan Raphtalia terkena lendir yang berasal dari dalam cangkang monster telur yang membuat keduanya basah dan bau telur busuk. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk, mencari sungai terdekat untuk membersihkan diri dan pakaian.


Sesampainya di sungai. Naofumi mulai memancing di sungai, sementara Felicia dan Raphtalia membersihkan diri mereka dari cairan putih telur yang lengket dan agak bau itu di sungai.


Setelah selesai mereka akhirnya keluar dari air. Namun, karena tidak punya baju ganti, akhirnya Felicia dan Raphtalia hanya memakai baju yang mereka pakai tak peduli kalau rasanya nanti akan menjadi agak dingin, tapi karena baju dari Felicia berwarna putih sekaligus tipis membuat pakaiannya menjadi agak transfaran ketika basah, hal itu membuat Felicia menutupi bagian dadanya karena tidak memakai burst holder.


Naofumi yang melihat Felicia memeluk diri sendiri seperti orang yang meringkuk kedinginan, membuat hati kecilnya tergerak untuk membantu Felicia dengan melemparkan mantel hijaunya pada Felicia, "Pakai itu, setidaknya kau tidak akan terlalu kedinginan."


"Feli berterima kasih atas kebaikan anda," ucap Felicia yang mengambil mantel hijaunya Naofumi dan menggunakannya untuk menutup dirinya yang basah dan seperti telanjang, karena gaunnya yang jadi transfaran saat basah.


"Sama-sama," gumam pelan Naofumi sembari tersenyum ke arah Felicia dan melanjutkan kegiatannya dalam memancing di sungai itu.


Setelah cukup banyak mendapatkan ikan, Naofumi langsung menyalakan api untuk membakar ikan yang ia dapat dan sekaligus menghangatkan diri, "Feli, Raphtalia, mendekatlah ke api, hangatkan diri kalian, jangan sampai sakit," ucap Naofumi yang saat ini sedang mengganti bentuk perisainya menjadi seperti jamur.


Felicia dan Raphtalia hanya mengangguk dan berjalan mendekati api unggun yang dinyalaln Naofumi untuk memasak ikan, sementara itu setelah membakar ikan Naofumi langsung meracik tanaman obat yang ia kumpulkan dengan olek batu.


Felicia yang melihat Naofumi meracik tanaman obat, langsung bertanya, "Naofumi, kau sedang apa?" tanya Felicia.


"Aku hanya sedang mencoba peruntungan menggunakan skill baru, siapa tahu bisa menghasilkan banyak uang. Oh iya kalian berdua boleh makan lebih dulu," tanggap Naofumi.


Felicia dan Raphtalia akhirnya memutuskan untuk memakan beberapa tusuk ikan bakar, hingga akhirnya Raphtalia tiba-tiba batuk beberapa kali.


"Uhu-uhug!"


"Raphtalia apa kau baik-baik saja?" tanya Felicia sembari menatap Raphtalia, Felicia Khawatir kalau Raphtalia sakit karena memakai pakaian basah dalam waktu lama.


Naofumi nampak menatap Raphtalia dan memberikan gulungan daun yang di dalamnya, "Minumlah, ini obat yang aku ciptakan baik untukmu yang sedang mengalami penyakit ringan," gumam pelan Naofumi.


Raphtalia yang mendengar itu langsung mengambil dan meminumnya. Namun baru saja obatnya masuk kemulut, Raphtalia langsung memuntahkan obatnya, "Bwaaak."


"Oi! Raphtalia apa yang kau lakukan?!" teriak Naofumi melihat obatnya dimuntahkan.


"Rasanya pahit banget," ucap Raphtalia menangis.


"Obat yang manjur emang rasanya pahit cepat minum!" titah Naofumi.


"Hueek, selain pahit rasanya juga menyakitkan!" tolak Raphtalia yang terus memuntahkan obatnya.


"Itu karena kau menolak perintahku, cepat telan!"


Setelah berbagai usaha yang dilakukan Raphtalia akhirnya meminum obatnya dan duduk memakan ikan bakar sembari mengeluh karena rasa obatnya yang enggak enak.


Felicia hanya diam melihat mereka dengan seksama sembari tersenyum tipis, hingga hari mulai gelap dan Raphtalia tertidur.


"Dari yang aku lihat kau benar-benar berbakat menjadi seorang ayah," ungkap Felicia tersenyum lembut.


"Menurutku kau juga bisa menjadi ibu yang baik bukan?" tanggap Naofumi.


Felicia hanya diam, ia tahu Naofumi hanya bercanda, atau mungkin itulah yang Felicia pikirkan. Setelah diam dalam waktu yang cukup lama, Felicia menambahkan kayu pada api unggun untuk menjaga kehangatan, "Nao-kun, kau sebaiknya tidur lebih awal, aku akan menjaga kalian malam ini, lagi pula sebagai half demon aku mampu berjaga malam hari tanpa tidur."


"Feli aku tahu saranmu baik, tapi aku masih punya banyak hal yang harus aku kerjakan," gumamnya sembari meracik obat herbal.

__ADS_1


"Jadi begitu, ya sudahlah kita bergadang bersama lagi," gumam pelan Felicia.


Bersambung


__ADS_2