
Lima menit saat terjaga di malam hari nampak Naofumi sedang mengantuk, dan Felicia masih santai seolah-olah ia memang terlahir sebagai makhluk malam.
Namun, baru saja Naofumi mencoba untuk tidur Raphtalia tiba-tiba duduk dan berteriak kencang menangis dan hal itu membuat kaget Naofumi, tapi Felicia yang merupakan makhluk yang memiliki kecepatan luar biasa melesat dam memeluk Raphtalia menenangkannya dari kepanikan.
"Huaaaaaa!! Ayah! Ibu!" teriak Raphtalia dalam pelukan Felicia, Naofumi diam melihat gadis setengah vampire itu memeluk erat Raphtalia seorang bocah perempuan demihuman dengan ras Rakun itu.
"Tenangkan dirimu Raphtalia, Feli di sini, jangan menangis tenang ya, cup-cup-cup," gumam Felicia sembari mengelus lembut rambut dan kepala demihuman Rakun itu. Lalu tanpa siapapun sadari Felicia menenangkan Raphtalia dengan mengubah mimpi gadis itu menjadi sesuatu yang lain, selain itu Felicia juga diam-diam mengintip ke dalam ingatannya Raphtalia untuk mengetahui penyebab kepanikan dan trauma apa yang dimiliki gadis budak itu.
Tak lama Raphtalia kembali tenang dengan mata yang terus mengeluarkan cairan bening, tak lama setelahnya Felicia akhirnya ikut meneteskan air mata setelah melihat semua kenangan buruk Raphtalia.
"Feli, kau menangis?" tanya Naofumi pada Felicia.
"Tidak, mataku hanya kemasukan debu," gumam Felicia sembari tersenyum ke arah Naofumi.
"Kau sangat tidak pandai berbohong, aku tahu kau sangat sensitif dengan perubahan emosi Raphtalia serta kondisi Demihuman lainnya. Hal itu karena Half Demon sepertimu tentu lebih memahami penderitaan mereka yang dianggap berbeda dan aku juga tahu kau sangat marah ketika melihat demihuman diperjual belikan sebagai budak," ucap Naofumi sembari menepuk kepala Felicia.
"Nao-kun, apakah menurutmu kita bisa merawat Raphtalia dengan baik?" tanya Felicia dengan nada rendah.
Naofumi langsung memeluk Felicia dan membiarkan baju kaos orange miliknya basah karena air mata, "Tentu saja kita bisa, walau bagaimanapun, aku melihatmu seperti sosok ibu baginya."
"Candaanmu tidak lucu," gumam Felicia sembari memukul kecil dada dari Naofumi.
"🤣 Ahahahaha tapi aku tidak keberatan jika aku menjadi seorang "Ayah" " Jawab Naofumi sambil tertawa
"Sejak kapan kita seakrab ini?" gumam pelan Felicia yang heran karena tak bisa marah pada Naofumi.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Naofumi
"Bukan apa-apa?" ucap Felicia sembari mendorong pelan Naofumi untuk membuat jarak.
"Sebaiknya kau tidur saja," ucap Felicia mengucek matanya dan berdiri sedikit menjauh dari Naofumi.
Naofumi hanya tersenyum dan menuruti Felicia yang bisa sedikit ia percaya. Yah Naofumi bisa percaya pada Felicia, karena memang tidak ada satupun tanda-tandanya dalam berkhianat.
Keesokan harinya.
Naofumi, Felicia dan Raphtalia pun berjalan kembali ke kota Mellromarck, dalam perjalan kembali pun mereka tidak menyianyiakan waktu dengan memburu monster-monster kecil yang menyerang mereka dan Raphtalia yang sudah mulai ahli menggunakan senjata, sehingga ia bisa menyerang tanpa harus menunggu serangan musuh di tahan oleh Naofumi.
Naofumi melihat itu hanya tersenyum, karena pengorbanan uang yang ia gunakan untuk membeli Raphtalia tidak hilang sia-sia. Naofumi yang melihat ada musuh yang mengincar Raphtalia dari belakang, langsung dengan cepat melindungi budak kecilnya.
Suara benturan perisai kecil Naofumi dengan balon merah tedengar cukup keras.
Deeeng
"Raphtalia!"
"Baik Tuan!" seru Raphtalia yang dengan cepat menebas ballon merah itu. Namun rupanya Ballon merah terlalu cepat untuk Raphtalia hingga serangannya meleset, "Eh?"
"Gawat, Raphtalia mundur kebelakangku!" seru Naofumi ketika melihat Ballon merah akan menyerang Raphtalia.
Duarrr
Tiba-tiba saja balon merah itu meledak dan itu karena serangan langsung dari Felicia dengan sabit tajamnya dengan sangat cepat, "Sepertinya aku tidak bisa menyaring musuh dengan baik, maaf," ucap Felicia sembari membungkuk ke arah pahlawan Perisai dan Raphtalia.
"Kenapa kau minta maaf, lagi pula hanya satu musuh kuat yang lepas dari perhatianmu, belum lagi kau juga sudah menyelesaikannya, sehingga tak ada yang terluka," tanggap Naofumi.
"Jika Nao-kun bilang begitu maka tak apa, dan Raphtalia, apakah kau baik-baik saja?" tanya Felicia sembari menatap Raphtalia.
"Em berkat pertolongan Tuan dan kak Feli," tanggap Raphtalia.
Felicia hanya tersenyum kecil dan akhirnya melanjutkan perjalanan mereka dengan tenang. Ketika mereka sampai di kota Mellromarck Naofumi dengan tenang menggendong Raphtalia sekali lagi.
"T-tuan a-aku masih kuat berjalan jadi anda tak perlu menggendongku!" seru kaget Raphtalia.
"Bukan Tuan, aku mau kau memanggilku ayah," ucap Naofumi dengan senyum tipis, yah meski Naofumi tidak percaya pada banyak hal. Namun, meski demikian ia bisa percaya pada siapapun yang dipercaya oleh Felicia atau lebih tepatnya ia berusaha mempercayai orang lain kembali dengan melihat reaksi Felicia yang ketika dekat dengan seseorang.
"Eh?" ucap Raphtalia dan Felicia yang kaget dengan apa yang mereka dengar.
"Apakah aku terdengar aneh ketika meminta itu?" tanya Naofumi.
"Tidak, bagiku tidak masalah jika kau mau main keluarga-keluargaan dengan budakmu, tapi bukankah orang-orang akan beranggapan kalau kau adalah manusia dengan fetis aneh. Dimana kau akan dianggap suka pada anak kecil dan melakukan permainan ayah anak," ucap Felicia.
__ADS_1
"Memangnya aku memikirkannya, aku sudah tidak peduli bagaimana mereka memandang dan menilaiku, selama kalian berdua di sisiku aku tidak masalah," ungkap Naofumi.
"Kau sudah tak tertolong, sudahlah, jika kau ayahnya, maka siapa yang akan jadi ibunya?" tanya Felicia.
"Tentu saja kau, memang siapa lagi," tanggap Naofumi.
"Hah, kita bahkan belum menikah, bagaimana bisa aku jadi ibunya," ucap Felicia, "Aku juga masih belum cukup umur untuk menikah " tambah Felicia sembari malah buang muka sambil tersipu malu dan hendak bicara. Namun ia tahan
"Umurmu sudah 19 tahun, asal ada izin orang tua pasti bisa," tanggap Naofumi.
"Aku tidak punya orang tua di dunia ini"Jawab Felicia.
"Baik-baik, kalau begitu kita tunggu setahun lagi agar kau memasuki usia menikah," tanggap santai Naofumi.
Felicia tampak diam dengan pipi memerah, sementara itu Raphtalia hanya tersenyum melihat hal itu. Setelah hari mulai gelap Felicia dan Naofumi serta Raphtalia sedang berada di toko herbal.
"Nao-kun, seperti biasa aku akan menunggu di luar saja," gumam pelan Felicia
"Aku juga," tanggap Raphtalia masuk bersama Naofumi ke dalam toko, jika Felicia memilih tidak masuk.
Naofumi hanya mengangguk dan masuk sendiri ke dalam toko tanaman Herbal dan obat.
"Feli-neechan, apa yang membuat kamu bersihkeras menahan diri untuk menikah dengan tuan, padahal kalian sangat cocok dan serasi, aku juga tidak keberatan memanggil kak Feli dengan sebutan ibu ataupun Mama," gumam pelan Raphtalia.
Felicia terdiam mendengarnya, ia kemudian menatap gadis budak itu dan menjawab, "Aku hanya tidak ingin orang-orang memandang rendah Nao-kun, karena menikahi gadis kecil."
"Heem🤔 Benarkah?" tanya Raphtalia sembari memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Felicia pada gadis rakun itu.,
"Soalnya pasti ada seseorang yang suka sama perempuan meski dia bertubuh Loli atau memiliki ukuran tubuh yang pendek, Feli-nee" balas Rapthalia
"Masalahnya situasi Nao-kun sedang belum menguntungkan, jika kami membentuk keluarga di saat ini takutnya, Nao-kun akan dibawa dan digantung oleh Raja," ucap Felicia.
"Iya juga sih. Apalagi ada rumor yang tidak sedap untuk Goshujin-sama sendiri saat ini" ucap Rapthalia
"Kau sudah mengetahuinya rupanya," ucap lembut Felicia.
"Tenanglah, jika aku tidak bisa, maka kau bisa menjadi istrinya, karena saat levelmu tinggi tubuhmu akan jadi lebih montok dariku," ucap Su yang mengetahui rahasia rasnya Demihuman dari ingatan Raphtalia sendiri.
'Meski aku berharap bisa menjadi milf' pikir Felicia sendiri
"Menurutku, Tuan lebih menyukai anda, tak peduli bagaimanapun wujud kak Feli, Tuan pasti akan menyukai Kak Feli," ucap Raphtalia sembari tersenyum.
"Tapi rasanya akan aneh, jika anak lebih besar dari ibunya," ucap Felicia sembari mengalihkan wajah.
"Aku tidak peduli sama sekali" balas Rapthalia
"Aku half demon loh, meski terlihat seperti manusia, aku punya telinga dan darah iblis," ucap Felicia lagi.
"Tapi kakak kelihatan baik" ucap Rapthalia
"Kau hanya tidak tahu seperti apa aku sebelumnya," gumam Felicia yang mengingat kenangan lamanya dimana ia membunuh ibunya sendiri atas perintah ayahnya.
"Kakak nggak usah khawatir. Karena jika aku memiliki kekuatan yang cukup, aku akan melindungi kakak sama tuan" ucap Rapthalia yang memperlihatkan muka senyumnya
Alhasil Felicia tidak tega melihatnya apalagi lihat wajah tersenyum Rapthalia yang hangat itu
"Ya sudah, tunggu ulang tahun kakak," gumam Felicia.
"Oh iya Kak Feli, kenapa dari sekian banyak senjata, kenapa anda memilih sabit?" tanya Raphtalia.
"Karena senjata ini cukup sulit untuk ditangkis, yah meski aku akan kesulitan jika bertarung di tempat yang sempit sih," tanggap Felicia.
"Begitu ya. Tapi alangkah baiknya kakak pakai pisau atau belati jika kakak dihadapkan situasi yang seperti itu" balas Rapthalia
"Ya nanti kalau kita sudah punya banyak uang," balas Felicia sembari menatap dua anak kecil yang sedang main bola
"Oke kak" balas Rapthalia.
"Raphtalia," panggil Felicia.
__ADS_1
"Ya?" sahut Raphtalia.
"Apa kau tidak masalah dengan kehidupan yang seperti ini. luntang-lantung tidak jelas, tidur dihutan karena tak punya rumah, serta menghadapi bahaya dihutan bertemu monster, sementara anak-anak lain di usiamu asik bermain-main?" tanya Felicia pada Raphtalia sembari melihat dua anak lelaki yang bermain bola.
"Jika dilihat-lihat hal itu memang menyenangkan, tapi .... ini jauh lebih baik dari pada di dalam kandang," ucap sedih Raphtalia.
Mendengar hal tersebut membuat Felicia malah memeluk erat Rapthalia Agar tidak merasakan sebuah kesedihan lagi, "Kak Feli?"
"Raphtalia .... maaf, kalau saja aku datang lebih cepat mungkin keluargamu bisa selamat, maaf," gumam pelan Felicia sembari memeluk Raphtalia.
"Bagaimana bisa kau tahu mengenai keluargaku?" tanya Raphtalia.
"Aku ...." Felicia diam dan tidak mau memberitahu alasan atau apa yang membuatnya tahu mengenai ayah dan ibu Raphtalia. Karena jujur dia takut apakah Rapthalia akan membencinya atau masih tetap berakrab dengan dirinya
"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Naofumi yang keluar dari toko obat, "Apa aku mengganggu?" tanya Naofumi karena melihat adegan adik kakak didepannya
"Tidak, kau datang di saat yang tepat Nao-kun," jawab Felicia.
"Ayo hari sudah gelap, saatnya mencari tempat istirahat," tanggap Felica sembari melangkahkan kakinya menjauh dari Raphtalia.
"Feli, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Naofumi.
"Ya seperti apakah ayah akan membunuhku, karena telah menghianatinya, atau apakah kakakku akan menerima kehadiranku, saat ia tahu akulah yang membunuh ibu kami sendiri," jawab Felicia.
Raphtalia kaget karena mendengar kalau Felicia yang ia anggap orang baik membunuh sudah pernah membunuh orang, dan itu adalah ibunya sendiri. Naofumi juga Terkejut bukan main Ketika Mendengar hal tersebut
"Aku adalah iblis hal itu sudah wajar," tanggap Felicia yang melihat wajah kaget Naofumi.
"Bisakah kau menjelaskannya?" tanya Naofumi dengan tatapan bingung, "Bukankah juga mempunyai hati sebagai manusia?"
"Baiklah aku akan menjelaskannya. Ayahku Edwin Black, ia menganggap manusia tak lebih dari hewan ternak dan serangga, lalu ia menculik Shinganji Kaede, untuk berexperimen menciptakan iblis kuat. Ia menghamilinya dan melahirkan anak pertama yang diberinama Kurenai, ia tumbuh besar selayaknya manusia dan dekat dengan ibuku, ia membenci ayah dan melawannya. Karena dianggap gagal, ayah membuangnya. Lalu aku yang lahir sebagai anak kedua dilatih dan dekat dengan ayah hingga aku lebih menyukai sisi iblisku. Sampai akhirnya ayah merasa ibuku sudah tidak berguna, ia pun memintaku membunuhnya. Aku melakukannya dengan senang hati dan membiarkan darahnya mengotori tubuhku, aku sangat bahagia saat itu," ucap Felicia mengakhiri ceritanya
"Dan itulah aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Aku bukan orang yang baik, jika ayah menemukanku, ia pasti memintaku kembali dan jika aku menolak ia akan membunuhku, atau dia akan membunuh kalian. Maaf baru memberitahumu akan kenyataan pahit ini, tapi aku tak pernah berani menentang ayahku," gumam pelan Felicia
"Apa Kak Feli akan kembali kesana?" tanya Rapthalia sedih
"Jika dia menjemputku aku tidak akan bisa menolak," jawab Felicia.
"Begitu ya" ucap Rapthalia sedih termasuk Naofumi karena dia jujur tidak mau kehilangan teman partynya itu
"Jika saat itu tiba, aku harap kalian baik-baik saja," ucap Felicia
"Apa yang kau katakan. Kita akan selalu bersama tak peduli apapun yang terjadi," ucap Naofumi sembari menepuk kepala Felicia.
Felicia menundukan wajahnya, dan diam ia tidak mau membahasnya lebih banyak, karena memang Felicia tidak terbiasa bicara banyak di depan Naofumi.
Malam harinya.
Mereka bertiga nampak menginap di sebuah hotel atau penginapan murah. Karena Naofumi itu miskin, ia hanya memesan satu kamar untuk di tempati bertiga.
"Feli, karena kita tidak sedang di hutan, sebaiknya kau temani Raphtalia tidur terlebih dahulu, malam ini aku ingin membuat obat-obatan herbal, dari sisa tanaman obat yang aku ambil," ucap Naofumi.
"Em. Ayo Raphtalia, kita tidur Nao-kun sedang sibuk jadi ia memilih untuk tidur belakangan," gumam Felicia.
Raphtalia hanya mengangguk dan berbaring di kasur, lalu Felicia berbaring di sampingnya dan ia juga memeluk Raphtalia, "Selamat tidur," gumam pelan Felicia yang langsung menggunakan sihirnya untuk membuat Raphtalia tidur.
3 menit kemudian.
"Feli, aku tahu kau tidak tidur sama sekali, jadi tidurlah," tegas Naofumi yang ingin Felicia tidur.
Felicia yang mendengar itu langsung bertanya, "Apa kau takut padaku?"
"Entahlah, masa lalumu terlalu mengejutkan untuk di dengar," tanggap Naofumi.
"Baiklah aku rubah pertanyaanku. Apakah aku orang yang sudah membunuh manusia yang melahirkanku pantas untuk hidup?" tanya Felicia.
"Kau .... selama kau mencoba memperbaiki diri, tak peduli bagaimanapun masa lalumu, kau tak akan aku biarkan mati," jawab Naofumi.
"Benarkah? Padahal sebenarnya kau hanya ingin kekuatanku saja, sama seperti yang lain," gumam Felicia sembari memejamkan mata, 'Ingatan asliku semakin memudar dan diganti dengan ingatan baru dari tubuh ini, semakin lama aku hidup, semakin banyak kenangan yang aku lupakan. Sekarang bukan hanya wajah dan namaku, aku juga lupa seperti apa ayah dan ibuku sebelum menjadi Felicia. Aku takut,' batin Felicia.
...Bersambung...
__ADS_1