Putri Vampire dan Pahlawan Perisai

Putri Vampire dan Pahlawan Perisai
Masa lalu Felicia


__ADS_3

Setelah cukup lama berpetualang dan memburu monster, di desa Ryuto, Naofumi pun memutuskan untuk kembali ke kota Melromarck untuk memperbaharui peralatan mereka, terutama untuk Felicia yang kehilangan senjatanya.


"Naofumi, aku rasa kau tak perlu memikirkan senjataku, karena jika kita membeli lebih dari dua barang di toko senjata, keuangan kita akan kembali menipis," tegur Felicia.


"Tapi aku tidak bisa terus membiarkanmu menggunakan darah untuk bertarung, jika kau sakit karena kekurangan darah yang kena masalah aku juga," ucap Naofumi.


"Soal itu aku bisa memakan darahmu ataupun darah monster untuk memulihkan diri," ucap Felicia lagi.


"Memangnya kita setiap hari berhadapan dengan monster berdarah, kau harus ingat beberapa monster yang kita hadapi tidak memiliki darah," ucap Naofumi


"Haaaah, tapi di tempat paman botak tidak ada satu senjatapun yang pernah aku gunakan, dia tidak menjual senjata yang mirip dengan miliku, aku tidak begitu pandai beradaptasi dengan peralatan baru," ungkap Felicia


"Em bagaimana jika kita membelikan tombak untuk kak Feli, memang dari segi penggunaan Scythe dan Spear itu berbeda, akan tetapi jangkauan serangannya tetap sama, jadi kak Feli bisa mempelajari senjata itu dengan bertarung di jarak aman," ungkap Raphtalia memberikan pendapatnya. Felicia sedikit terdiam dan memikirkan saran dari Raphtalia.


"Bagaimana, apakah kau sudah setuju untuk membeli senjata baru?" tanya Naofumi.


"Em, selama harganya tidak lebih dari 20 koin Tembaga, aku tidak akan protes," ungkap Felicia


Mereka akhirnya pergi dan dalam perjalanan kembali menuju ibu kota Melromarck, nampak ketiganya saling membantu dalam beberapa hal.


 Di mana Naofumi bertugas sebagai perisai, orang yang akan bergerak menahan semua serangan musuh, Raphtalia penyerang jarak dekat dengan pedangnya dan Felicia yang menyerang dengan jarak jauh menggunakan darahnya yang bisa ditembakkan ke arah musuh dengan kecepatan tiga kali kecepatan suara dan kepadatan yang bisa diatur olehnya sendiri.


Selama perjalanan kembali ke ibu kota Melromarck, ketiganya saling berkolaborasi dan menggunakan kemampuan mereka masing-masing untuk melindungi satu sama lain. Naofumi bertindak sebagai perisai, menggunakan perisainya untuk menahan serangan musuh dan melindungi Raphtalia dan Felicia di belakangnya. Dia tangguh dan berani, siap untuk melindungi teman-temannya dengan segala yang dia miliki.


Raphtalia berada di garis depan sebagai penyerang jarak dekat. Dia memanfaatkan keahliannya dalam menggunakan pedang untuk melumpuhkan musuh-musuh mereka dengan cepat dan efektif. Kecepatan dan ketangkasannya dalam bertempur membuatnya menjadi kekuatan yang mematikan dalam tim mereka.


Sementara itu, Felicia menggunakan kemampuan vampirnya untuk menyerang musuh dari jarak jauh. Dia mampu menembakkan darahnya dengan kecepatan yang luar biasa dan kepadatan yang dapat diatur, memberikan serangan yang mematikan kepada musuh-musuh mereka. Kemampuan ini membuatnya menjadi penyerang jarak jauh yang tangguh dan menambahkan dimensi serangan jarak jauh yang kuat dalam tim mereka.


Dengan saling membantu dan memanfaatkan kemampuan unik mereka, Naofumi, Raphtalia, dan Felicia menjadi tim yang tangguh dan efektif dalam menghadapi berbagai ancaman yang mungkin mereka temui dalam perjalanan mereka kembali ke ibu kota. Mereka memiliki dinamika kerja yang baik dan saling melengkapi satu sama lain, menciptakan sinergi yang kuat dan memastikan keselamatan dan kesuksesan mereka sebagai tim.


"Felicia kau tak apa-apa?" tanya Naofumi pada rekan pertamanya itu, gadis kecil berambut pink panjang dengan mata merah dan bertaring, ia adalah half Vampire Felicia.


 Felicia hanya diam dan duduk dan berkata, "Aku hanya sedikit kekurangan darah, jika aku beristirahat tiga sampai dua menit darahku akan beregenerasi kembali," ungkap pelan Felicia


Naofumi mengangguk memahami kondisi Felicia. Dia tahu bahwa sebagai seorang manusia setengah vampir, Felicia memiliki kebutuhan khusus terkait darah. Dia melihat bahwa Felicia sedang dalam proses pemulihan dan membutuhkan waktu untuk membiarkan darahnya kembali terisi penuh.

__ADS_1


"Dalam hal itu, kita akan beristirahat sejenak di tempat yang aman," kata Naofumi dengan penuh perhatian. "Kita akan mencari tempat yang tenang dan terlindung agar kau bisa pulih sepenuhnya."


Raphtalia juga ikut berbicara, "Kami harus memastikan bahwa Felicia pulih sepenuhnya sebelum kita melanjutkan perjalanan. Kesehatanmu adalah prioritas kami."


Felicia tersenyum lemah, merasakan dukungan dan perhatian dari kedua temannya. Dia tahu bahwa dia berada dalam tim yang peduli dan siap membantunya dalam setiap keadaan. Mereka adalah teman-teman yang saling mendukung dan menjaga satu sama lain.


Setelah menemukan tempat yang aman, mereka beristirahat sejenak, memberikan waktu yang cukup bagi Felicia untuk pulih sepenuhnya. Naofumi dan Raphtalia menjaga keamanan sekitar dan memastikan tidak ada ancaman yang mendekati mereka selama istirahat.


Selama waktu istirahat tersebut, mereka juga menggunakan kesempatan untuk mengobrol dan saling berbagi pengalaman mereka selama perjalanan. Mereka tumbuh lebih dekat sebagai tim dan membina hubungan yang kuat di antara mereka.


Setelah beberapa saat, Felicia merasa energinya pulih kembali. Dia bangkit dari tempat duduknya dengan senyum cerah di wajahnya. "Aku sudah siap melanjutkan perjalanan," ucapnya dengan semangat.


Naofumi dan Raphtalia menyambutnya dengan senyum dan kegembiraan. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat yang baru, tahu bahwa mereka adalah tim yang tangguh dan saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi setiap tantangan yang ada di depan mereka.


Beberapa hari kemudian.


Kini mereka sudah cukup dekat dengan kota Melromack, saat ini tubuh Raphtalia sudah tumbuh lebih tinggi dan dewasa ketimbang Felicia, padahal umur mereka berbeda jauh dimana Felicia secara umur jauh lebih tua dan dewasa, tapi Raphtalia secara fisik terlihat lebih dewasa, dimana


Felicia terlihat masih seperti anak-anak, sedangkan Raphtalia terlihat seperti gadis remaja dengan bagian dada yang sudah menonjol, Felicia nampak kaget dengan pertumbuhan cepat Raphtalia, ia juga nampak iri karena ia sudah dekat 20 tahun tapi tubuhnya masih seperti anak-anak sementara Raphtalia mungkin baru menyentuh 9-10 tahun, tapi tubuhnya sudah tumbuh seperti gadis dewasa usia 20 tahunan.


"Ah tidak, aku hanya memikirkan bagaimana bisa kau tumbuh lebih cepat dariku? Apakah karena porsi makanmu yang tidak masuk akal saat masih kecil itu penyebabnya?" tanya Felicia.


"Ahahaha, apa yang kak Feli bicarakan, ini semua karena genku sebagai Demihuman, para Demihuman itu bisa tumbuh cepat berdasarkan level kekuatan mereka, dengan kata lain tubuh kami menyesuaikan diri dengan level yang kami miliki dan saat ini levelku sudah di level 18 jadi aku sudah tumbuh selayaknya gadis 18 tahun pada umumnya," jawab Raphtalia polos.


'Pada umumnya?' batin Felicia yang kaget, karena saat ini ia berusia 19 tahun yang artinya dia tidak normal karena dia tumbuh lebih lambat, "Lalu apakah jika levelmu naik terlalu cepat kau akan menjadi cepat tua?" tanya Felicia lagi.


"Hem ... soal itu tidak juga, ada batas penuaan pada setiap Demihuman, ketika ia sudah sampai pada batas itu, tak peduli berapapun usianya ia tidak akan menjadi lebih tua lagi, hanya saja meskipun begitu kami tidak sepenuhnya abadi, karena meskipun dari luar kami masih terlihat kuat di usia-usia tua tapi di dalam kami sudah cukup rentan dengan penyakit, hal ini mungkin untuk keseimbangan, karena jika kami bisa hidup dalam waktu yang lebih lama dari makhluk hidup pada umumnya, akan ada banyak orang yang iri," ungkap Raphtalia


"Ah begitu," gumam pelan Felicia.


"Bagaimana dengan kakak sendiri? Aku tidak pernah mendengar pertumbuhan para vampire sebelumnya," ungkap Raphtalia


"Hem, sebagai makhluk Undeath, kami memiliki waktu pertumbuhan yang sangat lambat dan hidup dalam waktu yang sangat lama, bahkan ada yang sampai seribu tahun belum menjadi kakek tua. Aku cukup iri pada kakakku Kurenai, karena meskipun ia juga manusia setengah vampire sepertiku, tapi gen manusianya lebih dominan yang membuatnya bisa tumbuh lebih cepat, sementara aku, karena gen vampireku yang lebih dominan, pertumbuhanku benar-benar lambat, hanya saja dari kemampuan sihir dan kutukan aku jauh lebih kuat," ungkap Felicia


"Kau punya kakak?" tanya Naofumi yang baru datang.

__ADS_1


 "Yah, dia sangat cantik, namanya Kurenai, apa kau tertarik padanya?" tanya Felicia.


 "Aku tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa aku tertarik padanya," tanggap Naofumi.


 "Lalu kenapa kau bertanya?" balas Felicia.


"Bukan apa-apa, aku hanya penasaran kenapa kau meninggalkan keluargamu," balas Naofumi.


"Bukankah kau sudah mendengar masa laluku?" tanya Felicia.


"Tapi belum sepenuhnya jelas, tapi aku tidak akan memaksamu, toh itu adalah hal yang sangat pribadi," ungkap Naofumi.


 "Ayahku, adalah Edwin Black, Raja para Undeath Vampire, ia mengklaim dirinya sebagai Raja iblis keabadian, lalu ia ingin membuat pasukan yang kuat dan menangkap seorang wanita dari kalangan manusia dan itu adalah ibuku, setelah menghamilinya lahirlah Kurenai dan karena belum puas ia pun mulai melakukan experiment pada perempuan itu dan lahirlah aku, ia membuat gen vampire di tubuhku jadi lebih dominan dengan begitu aku lahir dengan kekuatan yang lebih besar dan aku juga bisa mengendalikan sedikit taima Partikel seperti kakakku dan manusia lainnya," ucap Felicia saat itu.


 "Lalu karena ia merasa kalau ibumu sudah tidak berguna, ia memerintahmu untuk membunuh ibumu benarkan?" tanya Naofumi.


 Felicia mengangguk, "Yah, saat itu aku tidak mengerti apa itu empati, simpati, dan kemanusiaan, yang aku tahu adalah aku harus membuat ayahku bangga," ungkap Felicia menceritakan masa lalunya.


"Apa yang terjadi setelahnya?" tanya Raphtalia penasaran.


"Aku melakukannya dan menebas ibuku dengan Scythe milikku dan membuatku bermandian darah, dan hal itu diketahui oleh Kurenai, ia pun pergi melarikan diri dan merencanakan balas dendam. Bertahun-tahun setelahnya aku mengerjakan banyak tugas untuk membunuh manusia dan musuh dari ayahku, sampai akhirnya aku dan Kurenai bertarung satu sama lain, pas saat itu aku melihat berbagai macam emosi yang tergambar di wajahnya, aku tidak mengerti, ia tidak mengakuiku sebagai adiknya karena aku membunuh ibu yang ia sayangi, aku tidak mengerti apa itu sayang karena aku dekat dengan ayahku yang aku tahu harus di turuti," ungkap Felicia.


"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Naofumi.


"Di sini yang menarik, sejujurnya aku bisa saja menang saat itu, tapi sesuatu di dalam diriku berkata aku akan kehilangan segalanya jika aku membunuhnya, jadi dialah yang mengalahkanku," jawab Felicia.


"Jadi kau membiarkan dia membunuhmu?" tanya Naofumi.


"Eh? Tapi Kak Feli masih hidup kok!" seru tak percaya Raphtalia.


"Yah aku memang membiarkan Kurenai untuk menebasku dengan pedangnya dan saat itu aku terluka parah di perut," jawab Felicia.


"Lalu bagaimana kak Feli masih bisa hidup?" tanya Raphtalia.


"Kakakku tiba-tiba menyelamatkanku dan ia berkata kalau dendam dan kemarahannya bukan padaku, tapi pada ayah kami, oleh karena itu ia membiarkanku hidup," ucap pelan Felicia, "Sejak saat itu aku mencari tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Kurenai dan mencari tahu kenapa ia melakukannya, setelahnya aku sudah lupa, karena terlalu banyak hal yang sudah aku lewati," ungkap Felicia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2