Qin Yue Mei

Qin Yue Mei
06


__ADS_3

"Kau tau hutan kematian adalah hutan terlarang yang jarang dikunjungi oleh manusia. Kalau pun ada manusia yang memasuki hutan ini, mereka hanya akan sampai pada tingkat pertama saja sudah banyak gangguan, tapi aku heran denganmu kenapa kamu bisa sampai pada tingkat ke tujuh." ucap Singa tersebut dengan heran


"Aku juga tidak tau, tadi aku hanya berjalan-jalan saja."


Setelah dirasa cukup istirahatnya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan jalannya.


"Tunggu dulu."


"Ada apa?"


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan melanjutkan perjalananku."


"Baiklah"


Akhirnya Qin Yue Mei melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalanan ia melihat sebuah Gua yang menarik perhatiannya.


"Itu seperti sebuah Gua."


Ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam Gua tersebut. Ketika sudah sampai didalam Gua, ia melihat ada sebuah pedang yang tertancap diantara bebatuan, dengan penasarannya ia pun mendekati pedang tersebut dan mencoba untuk mencabutnya.


Akhirnya pedang itu berhasil ia cabut namun tiba-tiba ada sebuah cahaya dan muncul seekor Naga.


"Hormat hamba kepada Yang Mulia." ucap Naga tersebut


"Hei kenapa kau menunduk, dan siapa yang kamu sebut Yang Mulia?"


"Anda adalah penguasa baru hutan kematian ini, jadi anda yang saya sebut sebagai Yang Mulia."


"Aku? Kenapa aku?"


"Ya anda Yang Mulia. Setelah sekian lama saya menunggu sosok penguasa yang baru akhirnya anda datang juga."


"Apa kamu yakin kalau aku sosok penguasa yang baru itu?"


"Saya yakin Yang Mulia karena anda dapat mencabut pedang kematian itu."


"Bagaimana kalau itu hanya sebuah kebetulan saja aku dapat mencabut pedang ini?"


"Tidak mungkin itu sebuah kebetulan Yang Mulia karena tidak ada yang bisa mencabut pedang tersebut selain pemiliknya."


"Oh seperti itu. Baiklah kalau begitu berarti pedang ini adalah milikku dan aku akan membawanya pulang."


"Mohon maaf Yang Mulia jika Yang Mulia ingin memiliki pedang tersebut, Yang Mulia harus melakukan sebuah kontrak terlebih dahulu." jelas Naga tersebut


"Bagaimana caranya aku membuat sebuah kontrak? Apa aku harus menyiapkan se buat kertas putih dan pena?"


"Yang Mulia hanya perlu meneteskan darah Yang Kuliah ke pesan itu."


"Baiklah."


Akhirnya Qin Yue Mei pun menggigit jari nya Hingg mengeluarkan darah lalu meneteskannya ke pedang tersebut. Setelah darahnya menetes ke pedang tersebut, ada sebuah cahaya yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Cahaya apa itu yang masuk ke dalam tubuhku?"


"Itu adalah cahaya dari pedang tersebut yang menandakan bahwa sekarang pedang itu sudah menjadi milik anda."


"Berarti pedang ini bisa aku bawa pulang dong?"


"Betul Yang Mulia."


"Aku akan pulang tapi aku tidak mungkin membawa pedang ini begitu saja."


"Yang Mulia bisa menyimpannya di cincin penyimpanan yang Yang Mulia pakai."


"Cincin penyimpanan? Ini? Emang bisa?"


"Tentu bisa Yang Mulia. Pertama Yang Mulia harus melakukan kontrak darah terlebih dahulu dengan cincin tersebut."


"Baik"

__ADS_1


"Sudah, lalu bagaimana caranya aku memasukkan pedang ini ke dalam cincin ini?"


"Yang Mulia cukup melambaikan tangan dan mengatakan masuk di dalam hati kepada benda yang Yang Mulia inginkan, dalam sekejap benda tesebut akan masuk ke dalam cincin penyimpanan itu."


"Aku akan mencobanya."


Ketika ia mencobanya ternyata benar pedang tersebut telah menghilangkan dari tempatnya.


"Lalu bagaimana cara mengeluarkannya?"


"Sama seperti saat Yang Mulia menginginkannya untuk masuk."


"Ah begitu caranya. Baiklah sekarang aku akan kembali, Yuri pasti sudah mencemaskan ku."


"Tunggu Yang Mulia."


"Ada apa?" tangan dengan tegas.


"Jadikanlah saya sebagai hewan kontrak anda Yang Mulia." pinta Naga tersebut.


"Kenapa aku harus menjadikanmu sebagai hewan kontrakku?"


"Saya adalah Beast Mitologi yang ditakdirkan menjadi hewan kontrak sang penguasa."


"Kau terlalu mengerikan jika aku bawa."


"Anda bisa menyimpannya saya di dalam kalung dimensi yang anda pakai."


"Kalung ini yang kau maksud?


"Betul Yang Mulia kalung itu adalah kalung dimensi kegunaannya ama seperti cincin penyimpanan, kalung dimensi juga dapat menyimpan makhluk hidup didalamnya yang tidak bisa disimpan pada cincin penyimpanan."


"Ah seperti itu, baiklah kau kemari dan mendekatlah."


Naga tersebut mendekat kepada Qin Yue Mei, saat Naga tersebut sudah di dekat nya, ia langsung melukai jari nya yang lain dan menempelkan darahnya pada kening Naga tersebut dan kini kontrak diantara mereka pun sudah terjalin.


"Saat ini kau sudah menjadi hewan kontrak ku, panggil aku nona saja."


"Aku tidak suka penolakan, jika kamu menolak aku akan membatalkan kontrak antara kita sekarang juga."


"Baiklah Yang M, nona."


"Nah seperti itu."


"Bagaimana jika aku memberimu sebuah nama?"


"Terserah nona saja."


"Ok aku akan memberimu nama."


"Mohon maaf Yang Mulia apa itu tadi o ok?" tanya Naga dengan bingung.


"Aihh aku lupa. Ok itu sama seperti Ya/Baiklah/Yasudah."


"Oh seperti itu."


"Ya, sekarang aku akan memberimu nama Long Wan."


"Itu nama yang bagus nona, saya menyukainya. Terimakasih nona."


"Ya sama-sama, yaudah aku akan pulang dulu."


"Biarkan saya ikut nona."


"Kamu ingin ikut? Tidak-tidak bisa bahaya jika ada orang yang liat aku jalan sama seekor naga."


"Nona tenang aja, nona bisa memasukkan saya ke dalam kalung dimensi nona, dan itu akan aman."


"Baiklah kau masuklah ke dalam kalungku."


"Maaf nona kalung itu akan berfungsi jika nona sudah melakukan kontrak dengan kalung itu." jelas Long Wan

__ADS_1


"Ah kau betul, aku hampir lupa kalau aku belum melakukan kontrak dengan kalung ini, baik aku akan melakukan kontrak terlebih dahulu."


*cresss* Qin Yue Mei pun meneteskan darahnya ke kalung itu untuk melakukan kontrak, dan kini kontrak tersebut sudah berhasil terjalin.


"Ok sekarang kamu bisa masuk ke dalam kalung ini."


"Baik nona."


*Sringgg* Long Wan pun akhirnya masuk ke dalam kalung dimensi milik Qin Yue Mei.


Setelah Long Wan masuk ke dalam kalung dimensi miliknya, Qin Yue Mei pun melangkahkan kakinya menuju luar Gua untuk kembali ke tempatnya diasingkan.


Saat ia hampir tiba di luar hutan, tiba-tiba dia melihat Singa yang tadi sempat ia temui ketika sedang beristirahat.


"Hormat hamba Yang Mulia, maafkan kelancangan saya tadi yang tidak mengetahui anda Yang Mulia." ucap Singa tersebut dengan menundukkan kepalanya.


"Ah ternyata kau, tidak apa-apa aku mengerti mungkin kau hanya waspada aja, dan ya jangan panggil aku Yang Mulia."


"Tapi Yang Mulia.."


"Aku tidak suka penolakan!" ucapanya dengan tegas dan mata melotot.


"Ba baik tuan." jawab Singa dengan gugup dan gemetar.


"Aku ini seorang wanita bukan seorang pria!" balasnya lagi dengan sedikit penekanan pada kata-katanya.


"I i iya no nona." jawab Singa


"Apa kamu Singa peunggu hutan ini?"


"Iya nona saya hewan mitologi pening hutan ini."


"Ah rupanya seperti itu. Senang bertemu denganmu, dan ya tolong kau jaga hutan ini, ok?"


"O ok?"


"Ah maaf, maksudku ok itu sama kaya ya/baiklah/siap, apa kau mengerti?"


"Saya mengerti nona."


"Yasudah kalau begitu aku pamit kembali dulu."


"Senang bertemu dengan anda, hati-hati nona."


Qin Yue Mei oun melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda karena ada seekor Singa yang menghentikannya.


Kini ia pun telah tiba di tempat pengasingannya.


"Nona anda sudah pulang?"


"Tidak Yuri aku belum pulang!" jawabnya


"Maaf nona aku salah." ucap Yuri dengan menundukkan kepalanya.


"Ya tak apa. Apa kau sudah memasak Yuri?"


"Baru saja aku menyelesaikan masakannya nona, apa nona mau makan sekarang?"


"Nanti aja Yuri aku mau mandi dulu, badanku rasanya udah lengket semua."


"Biar aku siapkan air nya nona. Nona mau pakai wewangian apa?"


"Lavender."


"Baik nona aku akan siapkan."


"Hmmm"


"Nona air nya udah siap."


"Ok."

__ADS_1


Hai gaes mohon maaf apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, dan unsur lainnya dengan novel-novel sebelah. Mohon maaf juga apabila ada salah pengetikan atau pengucapan kata-kata. Sejujurnya ini adalah novel pertama yang aku tulis, karena sebelumnya memang belum pernah mencoba menulis novel. Semoga kalian menyukai nya.


__ADS_2