
Bab 21
'apa?, Ada lipstik?, Kurang ajar kamu dea.' geram Tyo dalam hati nya.
"Na, Naf, ii-tu salah paham, Naf," ucap Tyo terbata bata.
"Itu enggak sengaja itu enggak seperti yang kamu kira," jelas Tyo pada istri nya, Tyo berdiri dari kursi nya mencoba meraih kedua tangan Nafisa.
Tetapi Nafisa yang sedang menangis tersedu- sedu memilih mundur, mundur dan terus mundur.
"Udah mas, tidak usah banyak alasan lagi, dari awal aku sudah bilang mas, fikir kan semua nya dengan baik, janji mu terlalu manis mas, hubungan dengan masa lalu mu itu, apa karna dia sempurna, dia model, jadi kamu tidak bisa melupakan dia." Ucap Nafisa sambil memandang nanar suami nya.
Tyo dengan segenap keberanian nya, segera merengkuh tubuh istri nya dan memeluk nya.
"Naf, tolong lah, percaya lah sama mas, mas gak ada hubungan apa apa lagi sama dia," Tyo tetap memeluk istri nya, mengusap rambut istri nya.
'ini bukan hanya soal ada hubungan atau tidak mas, tapi ini soal kebohongan demi kebohongan yang kamu buat mas.'
Nafisa masih nangis tersedu-sedu.
"Naf, lihat mas, kamu tau kan, mana mungkin mas berbuat begitu, apalagi menghianati pernikahan, kamu tau itu kan, Naf, " Tyo menenang kan istri nya.
Nafisa hanya diam, Isak nya sudah mulai sedikit mereda.
'aku hanya takut mas, aku hanya takut kamu belum bisa melupakan masa lalu mu, aku hanya takut rumah tangga kita ternodai, aku hanya kecewa, aku kecewa kenapa banyak hal yang kamu sembunyikan dari ku, betapa aku menganggap, bahwa tiga tahun terakhir adalah proses pendewasaan diri, dan aku fikir kita akan sama sama tidak memiliki orang lain yang akan kita kenang, seperti kamu dengan Dea,' batin Nafisa berkecamuk dengan isak kecil nya.
"Naf, kamu dengar mas kan, sayang," Tyo mengusap air mata di pipi istri nya, mencium ujung kepala istri nya.
Nafisa mengangguk kecil, perlahan mengangkat kepala nya.
__ADS_1
'aku harus tau apa yang sebenar nya terjadi, kenapa sampai noda lipstik itu ada di kemeja mas tyo' pada dasar nya Nafisa adalah wanita yang lemah lembut dan pengertian, didikan orang tua nya tidak gagal, tetapi tak bisa di pungkiri bahwa Nafisa adalah anak tunggal yang keras kepala, dia tidak mau memendam prasangka, dia tidak mau terjebak dalam larut nya pertanyaan, dia selalu ingin memperjelas semua nya saat itu juga.
"Jaa-jadi, kenapa ada lipstik di kemeja mas?, Itu lipstik Dea kan?, Gak mungkin itu lipstik Desky atau Riska?," Cecar Nafisa pada suami nya. Emosi nya sudah sedikit mereda, pelukan hangat sang suami memang bisa meredakan amarah nya.
Huuft!!!
Tyo menarik nafas dalam dalam.
"Iya, Naf, mungkin, itu memang lipstik Dea," suara Tyo lirih, masih memeluk erat istri nya.
"Mungkin?, Kok bisa mungkin?." Nafisa mendongak kan kepala nya.
"Yaa,m, jadi tadi aku ke atas dan.." Tyo menceritakan kejadian itu pada istri nya.
"Kalau kamu merasa kurang yakin, yaa kamu boleh tanya desky dan Riska," ujar Tyo meyakinkan istri nya.
Nafisa masih menatap kedua manik mata suami nya, mencoba mencari kebenaran di hazel hitam terang itu.
"Alhamdulillah, mas tau, Nafisa istri yang baik, maaf kan mas ya yang, besok besok mas akan antisipasi supaya hal itu enggak terjadi lagi." Ucap Tyo seraya mengecup ujung kepala istri nya.
"Mas hanya mau totalitas, mas gak mau mengecewakan mama papa, dan termasuk kamu, mas gak mau men sia kan apa yang sudah papa percayakan sama mas," sambung Tyo lagi.
"Kamu mau tanya apa yang?." Tyo teringat ucapan Nafisa tadi.
"Kenapa mas bohong sama aku soal hubungan mas sama Dea?," Nafisabertanya pada suami nya.
"Kenapa harus bahas itu lagi, Naf, kenapa harus membahas hal yang sudah berlalu, itu enggak baik." Ucap Tyo pada istri nya, berharap Nafisa tidak akan melanjutkan pembahasan ini.
'kenapa harus bertanya soal ini terus menerus, aku capek, kenapa hal ini terus saja harus aku jelas kan, aku tau kamu kecewa, tapi apa gak bisa, kita lupakan saja ini semua.' batin Tyo berkecamuk.
__ADS_1
"Aku cuma mau tau aja mas, kenapa kamu tega sekali menghianati aku, kenapa harus membuat kisah dengan orang lain mas, dan lebih parah nya lagi, mas kenal kan dia kepada keluarga besar mas, dan mas tau?, Dia lebih di hargai dan di harap kan dalam keluarga mu mas." Nafisa mencecar suami nya dengan segala kemelut yang selama ini ia simpan dalam benak nya.
"Mas rasa ini gak perlu di bahas, Naf." Tyo masih berusaha mengalihkan pembicaraan susah payah Tyo menghindari pertanyaan istri nya.
"Jangan jangan, bukan hanya Dea mas." Celetuk Nafisa dengan nada sinis.
"Aku terlalu naif selama ini, terlalu menutup mata." Sambung nya lagi.
Dengan senyuman tajam.
"Mas mohon, Naf, semua hanya masa lalu." Tyo memohon pada istri nya berkali kali.
Nafisa hanya terdiam, tidak bisa bicara apa pun lagi, di lain sisi, dia ingin memperjelas ingin memuas kan hati nya, ingin mendapat jawaban dari fakta fakta yang baru ia tau, tapi di sisi yang lain juga ayu lelah melihat wajah memohon suami nya.
'belum juga setahun rumah tangga ku, mana mungkin mau ku hancur kan hanya karna orang di masa lalu, mungkin aku harus menutup mata sekali lagi.' monolog Nafisa pada diri nya.
Sambil memejam kan mata, ia mengirup nafas dalam lalu menghembuskan kasar.
"Tapi berjanji lah mas, jangan lagi mengingat kenangan mu dengan masa lalu mu, baik yang menyenangkan atau yang menyakit kan, jangan membawa kenangan kenangan itu ke masa depan kita." Ujar Nafisa pada sang suami, pada akhir nya ayu harus mengalah juga.
"Mas janji yang, mas janji tidak akan pernah, tadi itu hanya hal yang tidak di sengaja, kalau tau akhir nya begini, lebih baik mas gak usah ke atas." Ucap Tyo pada istri nya, dengan penuh ke sungguhan.
"Dan.. apa gak bisa model nya di ganti saja, Naf?." Sambung Tyo.
"Kenapa?, Mas risih?." Tanya Nafisa penuh selidik pada suami nya.
"Mas sebenar nya, sudah melupakan dan mas merasa dia tidak ada walau di depan mata, tapi mas gak mau kalau kehadiran dia, malah jadi buat masalah buat kita, Naf." Jawab Tyo terus terang, hati kecil nya mengakui bahwa kadang dia risih, mengingat dulu mereka pernah dekat, sangat dekat.
"Hmmm, gak usah lah mas, asal mas memegang teguh janji mas itu, aku gak masalah, lagian pula gak mungkin dong, masa kita pecat dia hanya karna dia mantan mu, enggak sportif." Ujar Nafisa pada suami nya.
__ADS_1
'mungkin kali ini aku harus Mengalah kali ini.' batin Nafisa.