
Tyo menegak kan badan nya, lalu menggeser tangan desky, agar berhenti memijat nya.
"Apa maksud mu des." Tanya tyo pada sang sekertaris. Tyo merasa sang sekertaris tau banyak tentang kegelisahan nya.
'apa mesti begini.' batin tyo.
"Ah, hmmm, tidak pak, tidak apa apa, saya hanya mau membantu bapak mengurangi stres saja." Jawab desky gugup, ia tidak mau tyo tau, bahwa ia menaruh hati pada atasan nya itu.
"Hmmmm, termikasih des, tapi aku rasa tidak perlu bagi mu untuk memasuki urusan pribadi ku." Ucap tyo santai tapi nada bicara nya di tekan kan. Dan itu cukup bagi tyo, untuk menjelaskan bahwa dia tidak ingin ada orang lain mencampuri rumah tangga nya.
Desky pun tertegun mendengar hal itu.
"Maaf kan saya pak, saya tidak bermaksud demi kian." Ucap desky sembari membungkuk kan badan, kini posisi nya tak lagi di belakang tyo, melain kan di samping meja kerja tyo.
Tyo mengangguk kan kepala.
"Ya udah, terimakasih des, silahkan kamu ke ruangan kamu, lanjut kan kerjaan kamu, saya juga mau kerja." Ucap tyo kepada sang sekertaris.
"Baik pak saya permisi." Ucap desky, membalik kan badan menuju ruangan nya yang mana hanya terpisah oleh pintu dan sekat kaca.
'Dasar sok jual mahal!.' Gerutu desky dalam hati.
***
Sementara di suatu taman, wina dan Nafisa berjanji untuk bertemu, membahas segala sesuatu menyangkut tempat kuliah Nafisa.
Nafisa celingak celinguk memandangi setiap sudut taman dan mengitari nya.
"Wina di mana sih, orang janjian mau ketemuan kok kaya semut ngumpet, susah amat di liat nya." Gerutu Nafisa, mata nya masih memandang kesana kemari.
Tiba tiba saja manik mata Nafisa mendapat kan orang yang ia cari.
__ADS_1
"Hey cil, sini sini duduk di sini enak tau, adem, serasa lagi piknik." Teriak wina mambai kan tangan ke arah nya.
Nafisa pun sangat lega.
"Akhir nya ketemu juga." Gumam Nafisa lega.
Ia melangkah kecil hendak menghampiri mereka. Tapi tiba tiba Nafisa melihat ada dua punggung pria yang membelakangi nya, setelah Nafisa perhatikan lagi.
Degh.!
Jantung Nafisa berdetak kencang.
"Kak fandi?, Kok kak fandi ada di sini juga?, Apa wina undang dia lagi, aduuuh gimana kalau mas tyo tau." Gumam Nafisa, pada diri nya sendiri.
"Hey cil, kok malah ngelamun sih, sini." Fandi ikut melambaikan tangan nya.
Mau tidak mau Nafisa mengangguk kan kepala, dan berjalan menuju ke arah mereka dengan langkah kecil.
Di tengah lamunan nya, Nafisa tetap melangkah menuju tempat wina fandi dan riyan duduk. Di atas alas kain kotak kotak berwarna pink fanta kesukaan Nafisa, Nafisa dapat melihat ada keranjang buah dan makanan ringan di depan mereka, ayu duduk di samping wina, di mana posisi nya saat ini ada di antara wina dan fandi.
"Kenapa ngelamun sih cil, nih capuccino ice kesukaan kamu, biasa lah, si fandi kan inget inget aja, apa pun yang kamu suka, kamu beruntung cil, bisa punya fandi, walau pun kamu tolak mentah mentah, tapi dia gak buang semua ingatan nya tentang kamu." Celoteh wina panjang lebar. Nafisa hanya menunduk malu, ia merasa saat ini wina sedang menghakimi nya, atas penolakan nya pada fandi, bertahun tahun yang lalu.
"Ah kamu bisa aja win." Tukas fandi salah tingkah, meski harus di akui nya bahwa cinta nya untuk Nafisa sampai saat ini tidak luntur sedikit pun, fandi sempat berfikir bahwa perasaan nya dulu hanya cinta monyet saja, hanya sekdar cinta anak remaja, tapi siapa sangka sampai saat ini cinta itu pun masih ada.
"Lagian kamu pernah dengar kan win, bahwa cinta tak harus memiliki." Sambung fandi lagi, dengan senyuman khas nya, mata nya langsung menyipit ketika dia tersenyum, pria putih tinggi, dengan wajah ala ala opa korea, padahal mah, indonesia tulen.
"Hmm bener sih fan, ngenes juga ya, sama kamu, emang kamu gak mau cari yang lain fan, selain pricil." Timpal wina, dengan jahil nya sikut nya menyenggol Nafisa.
"Iish, kalian apa apaan sih, kok malah ngebahas yang kaya gitu, aku udah punya suami loh." Ucap Nafisa sarkas, jengkel sekali ayu dengan perbuatan wina.
"Enggak sih kalau sekarang, tapi belum tau kalau nanti ya, tapi minimal mirip mirip lah sama pricil, biar hati ku gak patah patah amat." Ucap fandi tampa dosa.
__ADS_1
"Apaan sih fan, enggak boleh begitu loh, perasaan mu ke aku dulu, itu hanya cinta monyet, itu saat remaja, kenapa masih di ingat ingat sampai sekarang." Tukas Nafisa yang merasa malu sekaligus sedikit tersanjung dengan ucapan fandi tadi.
"Aaah, susah di jelaskan cil, biar kata kamu itu hanya cinta monyet, tetapi bagi ku, itu bukan cil, oya kamu harus selalu ingat tentang ucapan ku waktu itu kan" ucap fandi penuh penekanan, dia memandang wajah Nafisa dengan tatapan sendu.
Nafisa hanya menunduk kan kepala, bagai mana mungkin fandi masih mengingat, atau fandi akan benar melakukan, semesti nya kan tidak perlu, karna saat itu mungkin saja mereka sama sama tidak mengerti ucapan satu sama lain, perasaan satu sama lain, bukan kah dulu itu hanya cinta monyet, begitu fikir Nafisa selama ini.
"Heey btw, ayo di makan di minum dulu dong guys." Seru riyan yang sedari tadi hanya menjadi penonton setiap percakapan mereka.
"Eeeh iya nih, sampai lupa aku." Fandi menimpali seruan riyan.
"Ini cil, aku sengaja beliin untuk kamu loh." Ucap fandi seraya memberikan cappucino ice kesukaan Nafisa. Nafisa pun meraih nya meski canggung.
"Engg nyangka, bahwa favorit kamu enggak pernah berubah, mulai dari makanan, minuman, cara bicara, cara senyum, warna kesukaan, dan hobi mu dengan mobil, dan satu lagi, bakat mu yang hebat, ternyata kamu gunakan dengan baik." Fandi memuji Nafisa, secara gamblang menyampaikan kekaguman nya terhadap Nafisa.
"Ehem, iya iya iya, aku tau fan aku tau, kekaguman, sayang dan cinta mu itu terhadap pricil engga pernah pudar sampai sekarang dan mungkin enggak akan pernah pudar karna rasa cinta mu ke pricil memang lah sangat~"
"Wina!, Apaan sih kamu, selalu aja begitu ngeselin." Ucap Nafisa dengan wajah cemberut. dan wina pun terkekeh, mendengar Nafisa secepat kilat memangkas kata-kata nya.
"Iya aku tau, aku cuma mau ingetin sama opa fandi, kalau kamu itu sudah ber suami, tapi btw, kapan itu kalian ngelepasin cup itu, romantis banget kalau posisi nya gitu, kaya lagi serah serahan, upsss." Ucap wina, tawa berderai dari mulut nya.
Nafisa dan fandi sontak menoleh, ia juga ya, sedari tadi tangan kanan mereka memegang cup yang sama, fandi dan Nafisa berpandangan sambil tersenyum kikuk.
"Jadi siapa di antara kita yang mau lepas ini cup, kalau lepas semua bisa tumpah itu ice." Seloroh fandi, dan tangan nya melepas kan cup itu.
Sementara tampa di sadari oleh Nafisa, atau pun mereka semua, di balik pohon tidak jauh dari mereka berkumpul, ada sesosok memegang kamera ponsel mengambil gambar di posisi apic fandi dan Nafisa tadi.
Cekrek!
Suara kamera ponsel itu membidik. Dan terbit lah seringai licik di sudut bibir indah tapi beracun itu.
"Akan aku tunjukin foto ini ke prasetyo. " Gumam nya sembari menyeringai.
__ADS_1