
Bab 22
***
Sementara itu, seringai licik di balik pintu ruangan tyo. tercipta di sudut bibir Deanda putri.
"Aku tau Prasetyo, aku tau bahwa masih ada aku di hati mu, aku tau kamu risih dengan ku, karna ketika kamu melihat ku kamu teringat akan masa lalu kita." Senyuman penuh ambisi.
"Ingat Pras, ingat, aku akan selalu membayangi mu, tidak adil bagi ku, kenapa sedikit kesalahan ku membuat mu harus memilih perempuan kampung itu." Gumam Dea.
Terdengar suara sepatu melangkah.
Tuuk
Tuuk
Tuuk
"Miss Dea, ngapain berdiri di sini?." Tanya deski pada Dea, dengan tatapan penuh selidik.
"Ee-eh, hmm, gak apa mba Desky, hanya sebener nya tadi mau ketemu sama pak Tyo dan Bu Nafisa." Jawab Dea kikuk.
' apa dia melihat kalau aku dari tadi berdiri di sini, aduuuh.' Dea membatin.
"Lalu, kenapa gak masuk?." Tanya sekertaris Tyo lagi.
"Mmmm, anu , mungkin nanti saja, hari sudah sore, sebentar lagi malam, aku harus pergi dulu, masih ada urusan." Alibi Dea.
'sekertaris resek, hmm awas kamu ya, bacot!.' geram Dea dalam batin nya.
"Oooo oke." Desky memandangi Dea dari atas sampai bawah lalu tersenyum.
'Dasar perempuan genit' batin Desky dongkol.
"Ehmm, kalau begitu aku pergi dulu ya, bay." Dea melangkah menuju lift menekan tombol satu.
Desky hanya menatap kepergian sang model lewat ujung mata nya, Tampa menoleh sedikit pun.
"Kamu fikir aku gak tau isi otak mu, dasar ganjen." Gumam Desky di depan pintu.
*
"Siapa yang ganjen Des?." Tiba tiba Nafisa muncul dari balik pintu.
"Eeeh, Bu, anu Bu, tadi kru kita ganjen, minta nomor ponsel." Jawab Desky sedikit tergagap.
"Oooh, kamu dari tadi di sini?." Kembali Nafisa bertanya pada sang sekretaris.
"Oooo. Baru kok Bu, ada apa ya?." Desky balik bertanya.
"Yaa gak apa apa, mmmm ya sudah kalau gitu, saya mau pulang udah magrib juga nih, bos mu lembur ya katanya."
"Iya Bu, ada beberapa laporan yang harus di urus Bu." Timpal Desky.
"Hmmm, ya udah deh, aku mau Menemani tapi lagi gak enak badan, kamu bisa kan tolong pak Tyo, kalau ada sesuatu yang ia butuhkan."
__ADS_1
"Iya Bu bisa." Ucap Desky seraya menunduk.
"OOO ya udah saya pergi dulu."
Tuk
Tuk
Tuk
Suara sepatu Dea menjauhi ruangan Tyo menuju lift untuk turun ke bawah.
Di dalam lift Nafisa bersandar pada kotak besi itu.
"Yaallah, lelah sekali hati ku ini." Gumam nya lirih seraya memejamkan mata nya.
"Mengapa yaa Rab, mengapa baru sekarang aku tau, mengapa baru sekarang aku melihat, kenapa bukan dari dulu saja, kalau tau begitu aku tak akaan~~"
"Astaghfirullah"
"Tiada niat hamba untuk menyesali semua ini Yaallah."
'Mungkin kah ini hanya ujian semata?, Mungkin sebenar nya ini bukan salah mas Tyo?, Mungkin kah ini hanya keegoisan ku saja?, Mungkin kah aku terlalu kekanakan?.' semua pertanyaan ini berkecamuk di dalam benak Nafisa.
Beberapa menit kemudian Nafisa sampai di lantai satu.
Memesan Taksi online menuju rumah nya.
***
"Malam pak." Desky menyapa bos nya.
"Bapak sudah sholat Maghrib"
"Malam Des, sudah kok, ini aku sudah mulai memeriksa laporan laporan"
"Jadi bagai mana kelanjutan pemotretan tadi, apa semua berjalan lancar setelah aku tinggalkan." Ujar Tyo pada sang sekretaris, Tampa sadar Tyo memijit pelipis nya kepala nya terasa pusing, setelah perdebatan sengit tadi.
"Oooh iya pak, berjalan lancar kok." Timpal Desky di barengi dengan senyuman khas nya, senyuman yang penuh arti.
"Bapak seperti nya lelah sekali pak." Ujar sang sekretaris mendekati Tyo.
"Haaa!" Tyo tersentak, tiba tiba Desky sudah di samping kursi nya, kedua tangan Desky memegang bahu nya perlahan bergerak memberi pijitan pijitan kecil di pundak nya.
"Aaah , maaf pak, saya hanya ingin membantu bapak, agar lebih rileks," ujar desky dengan senyuman penuh arti di bibir mungil nya itu.
"Eee, ehem, ya terimakasih Des." Ucap Tyo perlahan, tak enak hati, tapi juga tak bisa menolak.
"Sama-sama pak, emmm bapak mau ngopi?, Saya pesan kan ya." Desky menawarkan pada bos nya.
Dan di jawab anggukan oleh Tyo, rasa lelah nya, benar benar membuat nya tidak menolak dengan tawaran Desky, sebab benar saja, pijatan perlahan dari Desky, dan segelas kopi, itu benar benar membantu Tyo untuk sedikit meregangkan otot nya, dan otak nya yang sedari tadi bersitegang dengan sang istri.
'Nafisa, mas harap, ini hanya ujian dalam rumah tangga kita, dan mas harap kita bisa melalui nya, mas sayang kamu, Naf.' batin tyo.
"Pak ini kopi nya." Desky meletakkan kopi di meja kerja Tyo.
__ADS_1
Tyo yang sedari tadi melamun jadi sedikit terkejut.
"Hah! Apa?," Ujar Tyo.
"Kopi nya pak, bapak kok melamun sih kenapa." Timpal desky melihat bos nya dengan heran.
"Nggak apa Des, terimakasih kopi nya des." Tyo meraih kopi di atas meja.
"Eeeh awas pak panas." Ucap Desky spontan.
"Iya Des terimakasih." Timpal Tyo sambil tersenyum. Sehingga nampak lesung pipi sebelah kanan nya. Wajah khas pria Jawa yang manis nan rupawan.
'Yaamsyong, manis sekali, mana ada lesung pipi lagi, haduh hidung mancung rahang tegas.' batin desky. Tak kuasa melihat pemandangan indah di depan nya.
'fiiks sih ini, pantes aja Miss Dea sampe ke ganjen an, gak kenal tempat begitu, haduuuh.' sampai Tampa sadar Desky menatap terus menerus ke arah bos nya itu.
Dan memancing perhatian Tyo.
'kenapa ini anak kok bengong bengong gini, kemasukan jin kali ya.' monolog Tyo pada diri nya.
"Des, Desky, kamu kenapa ngeliatin saya kayak gitu hah, ada yang salah?." Akhir nya Tyo menegur sekertaris nya itu.
Tetapi Desky tak bergeming masih duduk di kursi seberang meja Tyo sambil menopang dagu, masih senyum senyum ora jelas.
"Des, hey!." Tyo melambai lambai kan tangan nya ke wajah Desky.
"Eeehmm, pak Tyo." Desky tergagap, tersadar dari lamunan nya.
'aduuuh kacau, kok ngelamun di depan bos.' wajah Desky seketika panik dan malu.
"Kamu kenapa, terimakasih kopi nya, kamu ke ruangan kamu aja, atau pulang gak apa kalau gak ada kerjaan." Ucap Tyo heran pada sang sekretaris.
Desky pun terkejut dengan ucapan bos nya.
"Nggg ngga pak, maaf tadi lagi memikir kan sesuatu, saya ke ruangan saya aja pak, ada yang saya urus, lagian kasian bapak kalau mesti sendirian." Desky berdiri dan melangkah menuju pintu ruangan nya.
Ruangan nya dan ruangan Tyo satu, tetapi di pisah kan oleh pintu.
Tyo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Desky.
"Enggak jelas ini anak, tapi pijitan enak juga,"
waktu menunjukkan pukul 21:20, tetapi pekerjaan Tyo masih panjang, karna kebanyakan memijit pelipis di banding membaca laporan, kepala Tyo pusing rasa nya.
Tiba tiba terdengar suara dering ponsel.
'pasti Nafisa' monolog Tyo.
Tyo meraih ponsel nya dan melihat ke layar ponsel, tersentak.
'Ibuk love' terlihat menghiasi layar panggilan itu.
"Ibu kenapa nelfon malam-malam gini ya" gumam Tyo.
"Halo assalamualaikum" Tyo menjawab panggilan dari ibu nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumasallam" terdengar suara ibu Tyo dari seberang telfon degan nada ketus.