
Racun Rumah Tangga Bab 28
"Tolong maaf kan noni beri dia satu kesempatan lagi." Ucap tyo mentap wajah sang istri dengan penuh permohonan.
'Maaf kan mas, yang, mas hanya tidak mau rumah tangga kita, hancur berantakan hanya karna masa lalu mas, hanya karna kebodohan mas, mas tidak mau.' batin tyo berkecamuk, masih dengan memandang wajah istri nya lekat lekat.
Nafisa yang mendengar penuturan suami nya itu, sama sekali tidak menunjuk kan reaksi, marah terkejut atau apa pun itu, Nafisa, sudah menduga nya, meski ia anak tunggal, tetapi Nafisa, tetap lah Nafisa yang baik, yang selalu memikir kan nasib dan keadaan orang lain.
"Hmmmm." Nafisa bergumam panjang lalu melepas kan belaian tangan nya dari wajah sang suami.
"Mas mohon, yang, kasian noni, dia sangat berharap bisa kuliah di sini." Tyo menggenggam lembut jemari istri nya.
"Aku juga sebenar nya engga tega mas, aku juga engga mau berbuat se kejam itu, tetapi apakah mas mau memenuhi permohonan ku mas, tolong ajari noni mas, tolong kasih tau dia mana yang baik dan mana yang benar, dan tolong apa pun yang mereka kata kan tentangku, tolong mas tanyakan langsung dengan aku mas, supaya tidak ada kesalah pahaman dalam rumah tangga kita." Ucap Nafisa panjang lebar, yang memang sebenar nya Nafisa, masih berfikir salah atau tidak, lanjutkan atau tidak perbuatan nya pada sang adik ipar.
"Mas janji yang, mas akan tegur dia kali ini, sehingga dia tidak akan begini lagi, mas akan suruh dia minta maaf sama kamu nanti, mas janji." Timpal tyo dengan sungguh sungguh masih menggenggam erat jemari sang istri.
Tyo tau, tak sulit bagi nya untuk memohon pada sang istri, karna tyo juga tau, bahwa sekeras apa pun Nafisa, kelembutan lebih mendominasi istri nya itu. Tetapi kadang tyo merasa malu, dan juga merasa berdosa, akan perbuatan keluarga nya, dan juga kebohongan nya soal masa lalu.
"Dan mas juga harus janji, jangan mudah terhasut ucapan orang lain, apa lagi kalau itu menyangkut rumah tangga kita, lebih baik mas tanya ke aku langsug." Nafisa, memberi syarat pada suami nya.
"Iya yang, mas janji, mas tidak akan terpengaruh ucapan siapa pun soal rumah tangga kita, kamu lihat sendiri kan, meski pun mereka sudah bilang ke mas, tetapi mas gak langsung marah ke kamu, karna mas tidak mau menyakiti mu yang, mas sudah dewasa dan mas harus bersikap dewasa sesuai dengan usia mas." Ucap tyo pada sang istri sambil mencium pipi istri nya, dan itu sukses membuat pipi Nafisa, merah bersemu.
"Hmmmmm tapiii," Nafisa, mulai menjahili suami nya, menepuk nepuk dagu nya dengan telunjuk.
"Tapi apa sayang." Tanya tyo dengan wajah terheran heran.
"Tapi waktu itu, mas pulang, dan tanya tanya aku, seperti seorang polisi, itu arti nya mas meragukan aku kan, hayooo ngaku." Nafisa pura pura ngambek pada sang suami dan mengerucutkan bibir nya.
Tyo terperangah dengan ucapan istri nya.
"Astaga, enggak gitu sayang, mas kan hanya mengkonfirmasi, jangan sampai mas salah sangka sama kamu." Timpal tyo dengan wajah panik, ia takut sang istri akan merajuk lagi.
"Hmmm, iya iya mas, aku percaya kok sama kamu." Ucap Nafisa lembut.
__ADS_1
"Huh, mas takut akan ada perang dunia ketiga lagi." Seloroh tyo, menghembus kan nafas lega.
"Iiiih, emang seseram itu, kalau aku marah." Nafisa mendelikkan mata bulat nya.
"Hehehe, enggak sayang, kamu engga pernah terlihat seram, kamu selalu cantik walau pun lagi marah." Ucap tyo membelai lembut rambut istri nya. Dan sukses membuat, Nafisa, tersipu malu.
"Gombal banget sih mas." Ucap Nafisa, memalingkan wajah nya yang merah bersemu.
"Jadi noni tetap tinggal di sini kan, yang, sama kita?." Tyo memastikan keputusan sang istriz karna itu penting bagi nya.
"Iya mas, asal mas penuhi janji mas," ucap Nafisa, mantap.
"Mas janji sayang, setelah ini noni akan berubah menjadi lebih baik." Tyo berjanji pad sang istri. Dan di balas anggukan kepala oleh Nafisa.
Dalam hati tyo sangat bersyukur, hikmah luka nya di masa lalu, membawa hati nya memilih ayu.
"Oh ya mas, sudah jam setengah dua belas, aku kan dan janji sama wina mas." Nafisa membuyar kan lamunan tyo yang sedang meladeni batin nya yang berkecamuk.
"Hmmm, memang nya mau jalan sekarang yang?." Tyo merasa masih tidak rela untuk berpisah dari istri nya walau hanya sebentar.
"Iiih malah tertawa," Nafisa, mengerucutkan bibir nya.
"Gemes banget liat bibir nya manyun manyun gitu, mas jadi pengeen.."
"Pengen apa mas, ih mas mesum." Ucap Nafisa, seraya berdiri dari pangkuan sang suami ia takut bibir nya akan di terkam oleh tyo seperti tadi.
"Hahahaha." Tawa tyo berderai melihat tingkah laku istri nya.
"Ya udah yang, kalau mau jalan sekarang enggak apa, jangan lupa sholat loh ya, dan ingat jangan lupa makan siang." Ucap tyo pada sang istri.
"Beneran mas, mas izinin kan aku pergi sekarang?." Tanya Nafisa, girang pada sang suami.
"Iya yang," tyo menganggukkan kepala seraya tersenyum manis pada sang istri.
__ADS_1
"Makasih mas, mas juga jangan lupa sholat ya, dan makan siang juga, aku pergi dulu ya mas." Nafisa meraih tas nya, lalu meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan itu.
Tuk tuk
Suara sepatu Nafisa, menuju pintu, dan ketika hendak memegang gagang pintu tiba tiba.
"Naf." Tyo memanggil sang istri. Dan Nafisa, sontak menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang.
"Kenapa mas?." Tanya Nafisa, pada sang suami.
"Hanya sama wina kan yang?." Tyo memastikan pada sang istri. Dan Nafisa, pun mengangguk kan kepala nya.
"Iya mas, hanya sama wina kok, lagian sama siapa lagi mas." Ucap Nafisa, sambil berdecak kesal, bisa bisa nya suami nya bertanya seperti itu.
"Yaaa siapa tau ada windi winda windu dan lain lain." Ucap tyo berkelakar. Dan itu malah membuat Nafisa melongo.
"Winda, windi, windu, itu siapa mas?." Tanya Nafisa polos.
"Hahahahha." Tawa tyo lagi lagi berderai melihat wajah polos istri nya.
"Itu saudara kembar nya wina yang." Ucap tyo pada sang istri.
Dan Nafisa, yang baru menyadari bahwa suami nya sedang mengerjai nya pun bersecak kesal.
"Iiih, mas bisa bisa nya ya begitu, aku balas kamu nanti ya." Ucap nya, jengkel. Dan di sambut tawa oleh suami nya.
"Udah deh aku pergi dulu, assalammulaikum." Nafisa membuka pintu lalu hilang di balik pintu.
Tyo memandangi kepergian sang istri.
"Semoga secepat nya ada malaikat kecil di antara kita yang." Gumam tyo lirih, tampa menyadari ada yang mendengar gumaman nya.
Dan tiba tiba ponsel tyo berdering, tyo melirik ponselnnya di atas meja.
__ADS_1
"Noni."