
Bab 24.
Sementara Tyo yang sedang beradu argumen dengan sang ibu pun, merasa heran dengan ucapan ibu nya.
'apa maksud ibu ngomong kaya gitu sih, ada ada aja, huuft mana lagi pusing.' batin Tyo.
Tung.
Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel tyo, tertera nama Novi di aplikasi chating warna hijau tersebut.
"Apaan ini." Gumam Tyo, pasal nya terlihat novi mengirim sebuah gambar.
Tyo mengklik angka panah, yang berarti download.
"Haaah?"
"Ini Nafisa?, Di jemput siapa ya?, Kok kayak senyum senyum gitu, kaya ny akrab banget?"
"Kenapa Nafisa, gak izin aku ya kalau mau pergi?, Tapi ini yang ambil gambar siapa ya." Pertanyaan demi pertanyaan Tyo gumam kan, seraya memijat pelipis nya.
"Aduuh, udah jam 10, enggak kelar kelar ini dokumen." Tyo meletak kan ponsel nya di meja dan meraih map map nya, mata nya membaca setiap laporan itu, tetapi fikiran nya menerawang jauh.
'Apa ini yang di maksud ibu, bilang Nafisa sok polos, lagian itu yang jemput ayu siapa ya, kayak akrab banget.'
'Terus kenapa bisa ibu bilang Nafisa tukang hasut, maksud nya apa ya.'
'siapa yang ngambil gambar ini ya.'
Semua pertanyaan berulang ulang berputar di kepala Tyo, dia semakin pening saja dengan permasalahan ini.
'kenapa sih, ada ada aja yang bikin pusing.' lirih Tyo dalam hati nya.
'aneh aneh saja, mana mungkin Nafisa begitu, tapi kenapa Nafisa gak bilang aku ya?.' Tyo kebingungan sendiri dengan fikiran nya, sampai sampai dia mengacak acak rambut nya.
"Pak, bapak kok kayak nya capek banget." Tiba tiba saja Desky sudah ada di depan Tyo.
"Eeh, kamu Des, kamu kenapa gak pulang aja, ini juga kerjaan saya sebentar lagi." Ujar Tyo sedikit berjinggit kaget dengan kehadiran sang sekretaris.
"Aah, engga pak, saya gak enak ninggalin bapak sendirian, saya udah di tugasin sama pak Rizal untuk bantuin bapak." Timpal Desky.
"Saya liat bapak kok kacau banget kenapa pak, atau engga kerjaan nya lanjut besok aja pak." Sambung Desky lagi.
Tyo berfikir sejenak.
"Ya udah lah Des, pulang aja." Tyo menutup map nya.
"Eeh kamu pulang naik apa Des." Tanya Tyo pada sang sekretaris.
"Naik taxsi online pak." Timpal Desky.
"Emang gak takut malem malem gini?."
"Atau saya anter aja." Tanya tyoagi.
"Eenggak usah pak, terimakasih, saya udah biasa." Ucap Desky.
__ADS_1
'paksa dong pak." Batin desky.
"Oo ya udah kalau gitu hati hati Des." Tyo menutup pembicaraan itu, menuju lift untuk ke lobi, karna mobil nya dia parkir kan di sana.
Desky dengan wajah sedikit cemberut mengekor langkah Tyo.
'paksa kek.' kesal Desky dalam hati nya.
Tyo meninggalkan kantor dengan Ru**con putih yang di berikan mertua nya.
"Kenapa ya Nafisa kok gak pamit sama aku?" Gumam Tyo, masih bertanya tanya.
"Terus tadi siapa yang ambil foto itu?."
"Atau jangan jangan Noni."
"Bener-bener ini anak mau bikin rumah tangga ku, bermasalah melulu ini anak." Geram Tyo sambil memukul stir mobil itu.
Mobil melaju kencang dan tak lama memasuki kawasan perumahan elit itu.
Tyo masuk ke rumah menapaki tangga menuju kamar nya.
"Assalamualaikum, Naf." Tyo membuka pintu kamar.
Terlihat oleh Tyo, Nafisa sedang duduk di depan meja kerja nya yang sengaja di letak kan sejajar dengan meja rias nya.
"Wa'alaikumasallam, mas, sudah pulang?, Pasti capek banget ya." Nafisa menoleh ke arah pintu, lalu memeluk erat suami nya.
"Rasa nya setiap hari aku rindu kamu mas." Ujar Nafisa pada Tyo masih enggan melepas pelukan nya.
"Loh, kenapa yang, ada yang salah?." Tanya Tyo pada sang istri.
"Bauk parfum lain, kok aku baru sadar ya." Ucap Nafisa dengan wajah masam.
"Astaga." Tyo segera melepas kan kemeja putih nya. Dan meletak kan di Tong sampah.
"Eeh kok taro di tong sampah mas." Nafisa terheran dengan tindakan suami nya.
"Pertama dan terakhir perempuan itu bisa dekat mas, mas gak mau rumah tangga kita hancur karna dia." Ucap Tyo sambil memeluk istri nya.
Nafisa tersenyum, merasakan perlakuan suami nya, hati nya kembali menghangat merasakan pelukan dari sang suami.
"Mas mandi dulu biar aku siapin makan malam nya." Ujar Nafisa pada sang suami.
"Mas gak laper yang, mas mandi dulu." Tyo melepas pelukan mengambil handuk dan menuju kamar mandi nya.
Sepuluh menit kemudian Tyo keluar dari kamar nya, hanya memakai boxer sambil mengibas kan Air di rambut nya.
"Ganteng sekali ya suami ku ini." Nafisa menggoda suami nya, dengan senyuman manja.
Tyo tersenyum sumringah dengan ucapan istri nya.
"Mmm, bisa aja yang, Naf, sini deh." Tyo merentang kan tangan, memanggil sang istri untuk datang ke pelukan nya.
Nafisa menghampiri suami nya, laku memeluk nya, ia menciumi dada bidang suami nya yang sengaja Tampa memakai baju atau pun kaos, meraba roti sobek sang suami.
__ADS_1
Hingga Tyo pun menggeliat.
'pokok nya aku harus tanya baik baik sama Nafisa, kenapa dia pergi Tampa izin ku, dan siapa juga lelaki yang ada di foto itu.' batin Tyo sambil memandangi wajah istri nya, Tyo tersenyum melihat wajah manja itu, imut sekali mata bulat, dan pipi yang bulat bibir sensual, dan tinggi yang ideal, itu lah gambaran istri Tyo, body bak gitar spanyol, tutur lembut khas wanita penuh kasih sayang (kalau tidak sedang marah tentu nya!) Wkwkwkwk.
"Yang liat mas." Tyo menginterupsi gerakan tangan istri nya.
Nafisa seketika mendongakkan kepala nya, dan menatap wajah Tyo, terheran heran.
'apa yang salah sampai mas Tyo menghentikan tanganku.' tanya Nafisa dalam hati nya.
"Naf, tadi pergi kemana, kok gak izin mas." Tyo bertanya Tampa membuat ayu menunggu lama.
"Astaghfirullah mas, maaf mas, aku lupa, mungkin karna tadi kita lagi debat, jadi aku gak ingat mau cerita sama mas." Ucap Nafisa.
"Tapi tadi aku sebelum jalan telfon telfon mas terus loh, mas liat kan." Sambung Nafisa.
"Ya, mas liat kok, lalu?." Tyo menganggukkan kepalanya.
"Naah, jadi, karna mas gak jawab panggilan nya, aku langsung jalan aja mas." Jelas Nafisa.
"Hmmm, jalan nya kemana, sama siapa, ngapain." Tyo bertanya dengan tenang pada sang istri sambil mengusap-usap lembut rambut istri nya.
"Tadi aku ketemu Wina mas, di caffe baru dekat Malioboro, dan aku mau cari kampus mas, sama Wina, Wina kan lebih tau Jogja." Tutur Nafisa, sambil menatap mata suami nya, menanda kan apa yang ia katakan adalah kejujuran.
"Jalan nya sama siapa.?" Tanya Tyo lagi.
Nafisa mengerenyitkan dahi nya.
"Mas kayak polisi." Ucap Nafisa heran.
"Mas kan polisi nya, Nafisa Pricilia nanggom," ujar Tyo sambil mengerlingkan mata nya.
"Iiiih genit." Nafisa memukul dada bidang suami nya.
"Di jawab sayang, Nafisa pergi nya sama siapa." Tanya Tyo lagi.
"Aku naik taxi online maaaaaaaaas." Tutur Nafisa.
"Terus ketemu nya cuma sama Wina?." Sekali lagi Tyo bertanya.
'aduuuh' Nafisa seketika mengalihkan pandangan nya dari sang suami.
'aku takut mas Tyo mikir macem macem lagi, lebih baik gak usah cerita ah.' Nafisa takut membuat masalah baru.
Sementara Tyo juga berkecamuk dengan batin nya.
'hmmm apa benar ya itu hanya taxi online, tapi kenapa Nafisa tampak akrab sekali.' batin Tyo.
"Hmm ya udah yang, kita tidur ya." Ucap Nafisa pada sang suami.
"Eeh, sebelum tidur, ibadah sebentar dong," Tyo menyentil hidung mancung istri nya.
"Iiish mas gak pernah lupa kalau soal itu." Nafisa mecubit pinggang suami nya.
Dan akhir nya selam dua jam malam itu mereka habis kan hanya untuk nganu.
__ADS_1