
BAB 25
3 HARI SETELAH ITU.
POV Nafisa.
Pagi itu seperti biasa kami bergegas menuruni tangga, hendak berkumpul di meja makan.
Mas Tyo mengajak ku bercanda dan mengobrol kecil.
"Yang, jadi kamu udah tau belum mau kuliah di mana?" Ujar mas Tyo.
"Hmmm, kemarin sih sudah dapat rekomendasi dari Wina mas, dan aku cek di website nya sih emang bagus mas, jadi mungkin aku mau kesana aja, boleh to." Tutur ku pada mas Tyo sambil bergelayut manja di bahu nya.
"Boleh lah sayang, asal kamu harus tau batasan mu ya, ingat pesan mas.".
Aku menganggukkan kepala.
"Mas malu, seharus nya mas biayai kamu, menanggung jawabi kamu, eh ini malah papa yang kuliahin kamu." Ucap mas Tyo lagi.
"Ah, mas jangan bilang gitu, mas juga berjasa buat ku, mas mau mengurus perusahaan, aku sudah terimakasih banget mas." Timpal ku manja.
Setiba di meja makan, sarapan sudah di siap kan oleh BI sumi.
Sudah ada Noni yang duduk di kursi nya sambil memandang sinis ke arah ku.
Ah aku tidak perduli!
"Bi, sini, makan bareng kami." Ajak ku pada bi Sumi, aku gak mau membeda bedakan antara kami dan Bu Sumi, bi Sumi sudah sangat berjasa buat ku, dia sudah mengurus rumah ku, dan mengerjakan yang lain nya.
"Matur suwun Bu, bibi di belakang saja." Tolak wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Iya di belakang aja, ya kali pembantu di ajak makan bareng, gak level banget." Cetus Noni memutar bola mata malas, lalu menatap sinis ke bi Sumi.
Bi Sumi hanya tersenyum lalu pergi ke dapur untuk melanjutkan urusan nya.
Aku sangat jengkel dengan ucapan Noni, bisa bisa nya dia berbuat seperti itu, apa mulut nya ini memang enggak ada saringan sama sekali.
"Apa apaan kamu non, kan gak enak sama bi Sumi," aku menegur adik ipar ku itu.
"Iya, ini anak emang gak punya sopan santun mulut nya ya." Suami ku mendelik ke arah adik kandung nya itu.
"Lain kali jangan gitu non." Aku menasehati adik ipar ku ini, sebenar nya aku masih jengkel, tetapi aku gak mau mas Tyo tau perseteruan kami, bisa bisa adik nya di marahi lagi.
"Apaan sih kalian ini, lagian emang bener lah, masa pembantu di ajak makan bareng, dasar kampungan." Jawab adik ipar ku itu ketus.
'apa aku yang di maksud nya kampungan?'
"Noni!!!!, Kamu ini ya.!" Suara mas Tyo menggelegar.
__ADS_1
Aku terperanjat mendengar suara mas Tyo yang menggelegar, dan tangan nya menggebrak meja, aku tidak pernah melihat mas Tyo seperti ini.
"Ma-s, sabar." Aku bergetar, memegang tangan mas Tyo.
"Kamu ini benar benar gak tau diri ya Noni, Nafisa saja yang orang kaya enggak belagu kaya kamu, kurang ajar kamu." Bentak mas Tyo pada adik nya, aku ketakutan setengah mati melihat wajah berang mas Tyo saat ini, Yaallah semoga mas Tyo gak lebih emosi lagi.
Ku fikir Noni pun sama seperti ku akan merasa takut karna kakak nya sudah sangat sangat marah, tapi ternyata~
Gubrak!!!
Terdengar sura meja di gebrak sangat kuat.
Aku terkejut setengah mati, ternyata Noni berdiri menggebrak meja, menatap bengis ke arah ku.
'looh, kenapa ini anak.' aku jadi bingung sendiri.
"Mas ini!!, Keterlaluan ya, pelet istri mu ini memang luar biasa ya, hasutan nya memang sangat luar biasa untukmu, sampai kamu sejahat itu sama aku." Suara Noni tak kalah menggelegar.
Degh!
'kapan aku main pelet.' dada ku kembang kempis, tetapi harus ku tahan, tak mungkin semua di meja makan ini harus tersulut emosi semua, aku harus kuat.
"Kurang ajar kamu ya." Mas Tyo semakin marah dan menunjuk wajah Noni.
"Tidak tahu diri." Bentak mas Tyo lagi.
"Lanjut kan mas, lanjut kan, biar aku bilang kamu ke bapak sama ibu, oh, ternyata kami sudah termakan hasutan istri mu ini, mentang mentang aku hanya numpang di sini, jadi aku gak boleh bicara, begitu kan maksud nya." Cecar Noni dengan wajah sinis mengarah pada ku dan mas Tyo.
Aku tahu mas Tyo tipe orang yang tidak suka terlalu banyak berdebat.
Mas Tyo pun Duduk dan mengatur nafas nya yang tersengal, akibat terlalu emosi seperti nya.
"Kenapa hah!, Kenapa diam?, Sudah puas mas bentak bentak aku, atau pelet itu sudah mulai hilang, kemarin istri mu yang ngatain aku gak tau diri, hari ini kamu, besok siapa lagi, mertua mu." Noni masih meninggikan suara nya.
Ku lihat mas Tyo hendak berdiri menghampiri adik nya, ku tahan tangan mas Tyo.
"Udah mas, udah, kita ke kantor aja ayo." Bisikku pada mas Tyo.
Mas Tyo pun mengangguk, dan berdiri meraih tas kerja nya begitu juga aku.
Kami bersiap meninggalkan meja makan.
Namun~
"Awas mas, jangan tertipu wajah sok polos istri mu itu, padahal munafik." Terdengar suara Noni sinis.
Degh!
Aku menghentikan langkahku, kali ini aku tidak tahan lagi.
__ADS_1
Aku membalikkan badan ku dan ku dekati Noni.
"Apa maksud mu, bilang aku sok polos dan munafik." Aku bertanya santai.
Mas Tyo pun ikut menghentikan langkah nya, tapi tidak menghentikan aku, dia hanya melihat berdiri di belakang ku.
"Loh, masih nanya lagi, kamu itu memang munafik, sok kaya, sok polos, padahal main belakang!." Suara Noni lantang menjawab pertanyaan ku.
"Apa maksud mu!." Aku mulai terpancing emosi, dan gantian aku kini yang menatap bengis ke arah Noni.
"Memang iya, dua hari yang lalu, kamu pergi dengan laki laki lain, pas mas Tyo sudah pergi ke kantor, iya kan!." Noni tetap dengan nada tinggi nya.
"Kamu!!!." Aku membentak Noni dengan nada paling tinggi yang ku punya.
Aneh nya suami ku tidak mencegah atau melerai kami, dia hanya berdiri di belakang ku memperhatikan kami.
"Kurang ajar kamu Noni, selam ini aku bersabar dengan hinaan mu dan keluarga mu, bukan aku takut, tetapi aku menghargai suami ku, dan juga mertua ku, tetapi untuk kali ini Noni, kamu sudah di luar ranah mu, kamu sudah kelewat batas, apa bukti atas ucapan mu itu hah.!!!" Aku masih dengan nada tinggi ku, amarah sudah menguasai diriku pagi ini.
'Batasan mu sudah kau lewati, jangan sampai prinsip ku kau injak injak, adik ipar tidak tahu diri.' geram ku dalam hati, sambil menatap nyalang Noni.
Ku lihat Noni mengotak atik kan ponsel nya, aku heran bukan nya menjawab, malah main ponsel.
"Ini." Noni menunjukkan ponsel nya, terlihat oleh ku potret di dalam ponsel itu, ku amati, ku perhatikan, dan sangking penasaran nya, ku sambar ponsel itu, untuk mengzoom gambar nya, dan sedetik kemudian.
"Hahahaha.!" Aku tergelak melihat tingkah laku adik ipar ku itu.
Ku lihat dia mengerenyitkan dahi nya.
Aku menghentikan tawa ku.
Lalu aku menatap ke arah mas Tyo.
"Jangan jangan kamu sudah di kasih gambar ini oleh Noni mas.?" Tanya ku pada mas Tyo sambil memicing kan mata ku.
Mas Tyo hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Emosi ku benar benar total hari ini, darah ku rasa nya mendidih.
Ku ambil ponsel dalam tas, ku buka aplikasi ojek online itu, ku tunjukan pada mas Tyo.
"Ini, ini orang yang ada di dalam foto itu, ini histori pesanan ku kemarin mas." Aku tunjukan pada mas Tyo.
Mas Tyo pun menganggukkan kepala nya.
"Ini kamu liat, buka mata mu lebar lebar, dasar kampungan." Kata ku pada Noni, aku sudah sangat emosi rasa nya.
Noni melihat itu dan membanding banding kan foto lelaki itu, dan mata nya pun terbelalak lebar.
"Kurang ajar kamu Noni, kamu sudah melangkahi batas mu, dan kamu sudah menyalahi prinsip ku, kamu sudah berusaha merusak rumah tangga ku."
__ADS_1
"Untuk mas Tyo, sebelum nya aku minta maaf, tapi sebaik nya, adikmu pergi saja dari sini!." Ucap ku seraya menatap tajam ke arah Noni.