Racun Rumah Tangga

Racun Rumah Tangga
Bab 23


__ADS_3

Bab 23


POV ibu rona (ibu mertua Nafisa)


'Enak aja si Nafisa itu, udah mulai berani dia menghasut anak ku ya, jangan jangan setelah ini, dia bakal hasut Tyo untuk menjauhi aku lagi, secara aku kan sering ngehina dia waktu pertama dia nikah.' jengkel sekali aku, kala teringat cerita Noni tadi siang.


'kok bisa-bisa nya anak itu seperti itu, muka nya aja sok polos ternyata tukang hasut, ternyata tukang selingkuh, enak saja dia, main di jemput lelaki aja sembarangan, saat anak ku gak di rumah, wah, gak bisa di biarin, kayak gimana cara nya ya.' aku memikir kan cara, bagai mana memberi si Nafisa itu pelajaran, agar supaya tidak semakin menjadi jadi sifat sombong dan menghasut anakku si Tyo.


"Apa aku telfon ya si Tyo, terus aku ceritain semua nya, biarin deh kalau akhir nya mereka ribut, perempuan itu memang harus di kasih pelajaran."


"Eeeh, tapi gimana kalau setelah ini dia malah nyuruh Tyo untuk berhenti ngasih aku duit, kan aku jadi gak ada pemasukan banyak lagi, menantu ku dua itu paling besar cuma lima ratus ribu, kalau Tyo kan bisa lebih." Aku masih bingung harus bagaimana.


Aku menepuk nepuk dagu ku dengan telunjuk, berfikir bagai mana cara nya, supaya si menantu sok kaya itu, dapat pelajaran tapi gak berimbas pada ku.


'kkhhh, pusing jadi nya, tapi aku gak bisa diam aja, aku gak rela, masa menantu lulusan SMA itu, menghianati anak ku.' aku terlalu pusing bertengkar dengan fikiran ku sendiri.


"Masa bodo lah, pokok nya aku harus kasih tau Tyo, jangan sampai dia termakan hasutan istri nya itu." Aku meraih ponsel ku, mumpung tidak ada suami ku, karna suami ku itu sangat membela menantu nya itu.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut


Suara dering, pertanda bahwa ponsel Tyo aktif, tak selang berapa lama, anak ku langsung menjawab panggilan ku, ya iya lah, Tyo itu anak baik, jangan sampai perempuan sok kaya itu mempengaruhi anakku.


"Assalamualaikum." Suara anakku Tyo , memberikan salam.


Hah, aku jengah sekali, kenapa bisa anakku termakan hasutan istri nya.

__ADS_1


"Wa'alaikumasallam." Timpal ku dengan nada ketus, terbawa suasana hati yang jengkel setengah mampus.


"Ibu apa kabar, kok telfon malam-malam." Tanya Tyo pada ku.


Apa apaan kok tanya begitu, bukan nya harus nya dia yang telfon aku tanya kabar ku, ingin ku marahi anakku ini.


"Memang gak boleh ibu telfon kamu, sudah enak ya, sudah lupa sama ibu, atau istri mu melarang kamu menghubungi keluarga." Timpal ku seraya mencibir kan bibir ku, hmm memang hebat juga pelet perempuan itu sampai lupa Tyo dengan ku, ibu nya.


"Astaghfirullah, ibuk kok bisa bisa nya ngomong gitu sih, Tyo kan cuma nanya siapa tau ada yang salah, kok malah bawa bawa Nafisa." Timpal anak ku dari seberang sana, ah tentu saja dia membela istri nya, pelet istri nya memang bagus.


"Kabar ini sedang enggak baik kalau kamu mau tau." Timpal ku ketus, aku masih jengkel dengan sikap anakku.


"Apa!?."


"Ibu kenapa, ibu sakit, udah berobat belum Bu." Ku dengar suara Tyo sedikit panik.


"Hati ibuk yang sakit." Aku masih ketus karna jengkel.


"Kamu lagi apa Tyo, lagi di mana." Aku pasti kan dulu dia di dekat Nafisa apa engga. Aku malas berseteru, aku cuma mau cerita ku di dengar, nanti Nafisa juga akan ku telfon, biar aku semprot juga dia.


"Tyo lagi di kantor Bu, Tyo lembur." Ucap anakku.


"Astaga Tyo, jadi bener ya, kamu menjadi budak istri mu, udah malem gini kamu masih di kantor, astaga Tyo kok begini amat Tyo." Ucap ku dengan nada kesal, emosi sekali aku mendengar nya, apa Tyo tidak bisa mengendalikan istri nya, malah dia yang di kendalikan istri nya.


"Ibu apa-apaan sih, kenapa sih Bu, kok bisa bilang begitu, ini memang tugas ku Bu, enggak ada yang memperbudak ku, apalagi istri ku sendiri, ibu ini kenapa sih." Aku dengar suara Tyo, seperti orang yang terheran heran.


"Lah itu apa, masa jam segini kamu masih kerja Tyo, yaampun nak, kamu kan menantu pemilik itu usaha, apa gak bisa kamu istirahat besok di lanjut lagi, kenapa malah kerja bagai kuda begitu, bukan nya hidup enak, malah setengah mati." Emosi ku menggebu-gebu, aku sangat heran dengan anakku Tyo.


"Ibu kenapa sih Bu, kok malah ngomong gitu, ibu ini ada apa sebenar nya, mana bapak Bu." Suara Tyo dengan santai nya.

__ADS_1


'aaah, jangan jangan, Tyo hanya menutupi kelelahan nya aja, supaya aku gak khawatir, kurang ajar sekali ayu ini.' monolog ku.


"Udah lah Tyo, jangan menutupi apa apa dari ibu, atau kamu udah termakan hasutan istri mu itu, kenapa kamu cari bapak, biar apa, biar kalian bisa belain istri kamu, iya?." Cetus ku jengkel.


"Jangan hanya karna harta kamu sampai begitu sama ibu nak, sampai kamu jahat pada adik mu, sampai enggak perduli pada ibu." Sambung ku jengkel.


"Yaallah, ibuk, ibuk ni kenapa to Yo." Ujar anak ku, loh kok dari nada bicara nya seperti nya dia jengkel to Yo, kan harus nya aku yang jengkel, waduh rusak ini anak.


"Udah lah Tyo, masa jam segini kamu masih kerja Tyo, kan apa lagi kalau bukan di perbudak kalau begitu nama nya, kenapa sih Tyo kok kamu nurut banget sama istri mu, kamu harus tegas sama istri Yo, jangan mau di hasut istri." Aku menceramahi anakku, Yallah semoga terbuka mata hati anak ku ini, hilang kan pengaruh pelet perempuan itu dari diri nya.


"Yaampun Bu, ini bukan di perbudak Bu, ini kan emang tugas Tyo, ini memang sudah tanggung jawab Tyo Bu, kenapa ibu bisa bilang gitu, ada ada aja ibu ini." Terdengar oleh ku Tyo masih saja membantah ucapan ku, wah luar biasa perempuan itu.


"Tyo kamu ini, sarjana tapi kok bisa di bohongi istri mu yang sok polos itu." Aku membentak Tyo rasa nya mulai jengah aku dengan Pembelaan-pembelaan Tyo, terhadap istri nya.


"Maksud ibu apa, kenapa ibu bicara begitu soal Nafisa." Tyo seperti nya tak kalah kesal dengan ku. Oh Tuhan kenapa anak ku ini.


"Pak, bapak kenapa marah marah, kepala bapak pusing, saya pijat ya." Ku dengar suara perempuan di seberang sana.


'hah siapa itu, kok bisa Tyo bersama perempuan.'


"Siapa itu Tyo, kok kamu bisa sama perempuan?." Tanya ku pada Tyo, nanti dulu aku lanjut kan ucapan ku, aku masih penasaran, sedang dengan siapa anakku ini.


"Apa maksud ibu menyebut Nafisa seperti itu bu, apa maksud ibu?." Ish, Tyo kok malah bahas yang lain, padahal aku penasaran. Tyo anakku memang tampan, banyak yang mau sama dia, kenapa jadi memilih Nafisa, memang sih dia kaya, tapi kalau sudah hasut menghasut begini kan, kasian anakku Tyo.


'Tapi sebenar nya aku juga gak mau kehilangan mantu kaya seperti itu.'


"Halah sudah lah Tyo, kamu sudah benar benar termakan hasutan istri mu itu." Aku kesal sekali dengan anakku ini.


"Maksud ibu apa sih, ayo lah Bu, jangan begitu, jangan terus terusan menghina Nafisa, toh selama ini semua hinaan kalian enggak ada bukti nya, aku malu pada istriku bu." Aduuuh anakku ini memang sudah rusak otak nya.

__ADS_1


"Udah lah Tyo, akan ibu suruh nanti Novi mengirim sesuatu, supaya kamu tau, seperti apa istri mu." Aku menekan tombol merah, mengakhirin panggilan.


'enggak ada guna nya ngomong sama orang yang kena pelet!!!.'


__ADS_2