
ayah naya terpental tubuhnya membentur batang pohon besar dan mengeluarkan darah dari dalam mulut sedangkan ibu naya terguling dan kepalanya membentur batu besar darah mengucur deras dari kepala ibu naya tak sadarkan diri.
" i.. ibu " suara lemah ayah naya memanggil sang istri, ayah naya mencoba memanggil lagi namun keadaannya cukup parah dan tak sanggup untuk bersuara kembali, air matanya keluar mengingat anak semata wayangnya naya, apakah ini akhir dari hidup dan kebersamaan keluarga kecilnya?
bagaimana dengan nasib naya jika ditinggalkan mereka?? apakah naya kuat dan sanggup??
" naya maafkan ayah nak " lirihnya sebelum semua kesadarannya hilang..
¤¤
jam sudah menunjukan jam dua dini hari naya dan maira tertidur diruang tengan
tok.. tok..
suara pintu diketuk dari luar
tok.. tok..
pintu kembali diketuk
" hmm siapa siih ganggu aja " gumam maira yang terganggu dengan ketukan itu
tangan maira meraba-raba membangunkan naya
" nay, naya bangun itu emak, bapak loe datang " ucap maira tanpa membuka matanya
" nay, bangun bukain pintunya "
" hmm ia tunggu " ucap naya bangun sambil mengucek matanya tak lama maira pun ikut vangun berniat akan pindah kekamar naya.
dibukanya pintu oleh naya dengan mata yang belum jelas melihat
" selamat pagi, apa benar ini rumah pak nanda?? " tanya salah satu polisi naya mengucek mata memperjelas penglihatan merasa bukan suara ayahnya.
setelah jelas dengan apa yang dilihatnya naya begitu gugup
" i ia saya anaknya, ada apa ya pak " tanya naya
" begini, kami menemukan saudara nanda berserta istrinya mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit dengan keadaan parah " jelasnya
deg....
hati naya hancur mendengar perkataan polisi
" tidak mungkin pak, itu pasti bukan orang tua saya bapak pasti bohong ia kan pak bapak pasti bohong " dengan suara bergetar menahan tangis naya tak terima
" maafkan kami tapi semua bukti menyatakan jika itu adalah orang tua anda "
" tidaaaak, bapak pasti salah itu bukan ayah ibu saya pak " teriak naya masih tetap tak percaya namun tangisnyanya pecah
maira yang mendengar teriakan naya langsung berlari mendekati naya, terlihat naya hampir terjatuh dan reflek maira memegang bahu naya dan membantu naya berdiri.
" kenapa ada polisi " batin maira
naya menangis histeris memanggil ayah dan ibunya
" pak, ada apa ini kenapa temam saya bisa seperti ini " tanya maira pada polisi
__ADS_1
" maaf kami hanya menginformasikan bahwa pak nanda beserta istrinya mengalami kecelakan tabrak lari, sekarang keduanya dirumah sakit dalam keadan keritis " jelasnya
" a apa tidak mungkin " gumam maira langsung memeluk naya
" hiks hiks hiks " suara tangis naya
" sabar nay, mereka pasti sembuh " hibur maira
" maaf kami harus kembali, permisi " pamit polisi
" ia terimakasih pak " ucap maira oara polisi meninggalkan kediaman naya
maira mencoba menghibur naya
" nay tenang, orang tua loe pasti baik-baik aja "
" aku harus pergi sekarang " naya melepaskan pelukan maira bergegas masuk untuk mengambil tasnya.
maira ikut mengantarkan naya kerumah sakit dengan motornya
disepanjang perjalanan naya terus menangis sesegukan
apakah dia akan ditinggalkan oleh keduanya??
lalu dia akan hidup dengn siapa??
rasanya naya tidak sanggup hidup saat mendengar kedua orang tuanya mengalami kecelakaan masuk kedalam rumah sakit dengan keadan keritis.
" may cepet, ngebut may "titah naya tidak sabar
" nay, ini udah ngebut gue, loe sabar ya bentar lagi nyampe ko " ucap maira ikut panik
ketika motor sudah berhenti naya langsung turun tanpa menunggu maira terlebih dahulu naya melewati suster yang berjaga dimeja resepsionis kala ini, naya terus masuk menyusuri lorong
maira memarkirkan motornya terlebih dahulu barulah dia masuk kedalam menyusul naya, maira menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu karena dia tidak tau dimana orang tua naya dirawat
" permisi sus, diruangan mana pak nanda dan ibu shavitri dirawat? " tanya maira
" diruangan anggur no 16, lewat sana mbak " tunjuk sang suster
" terimakasih sus " maira langsung menyususri lorong yang ditunjukan suster penjaga saat melewati lorong kedua maira bertemu dengan naya, maira pun langsung memanggil naya
" nay, sebelah sini " yang tau jika naya mencari ruangan orang tuanya, naya mengikuti maira dari belakang sesudah melewati lorong ketiga merekapun tiba didepan ruangan anggur no 16
namun saat itu seorang polisi sedang bicara dengan dokter karena kasus ini kasus tabrak lari dokter memberikan keterangan bahwa pasien terluka parah dan serius kemungkinan tidak bisa diselamatkan
" nah itu dok anak dari pasien " ucap polisi sang dokterpun mengangguk dan beralih melihat naya
" apa benar mana anda naya ank dati pak nanda dan ibu shavitri?? " tanya nya
" i ia dok saya naya, saya anaknya " naya dengan bergetar
"mari ikut saya, ibu dan ayah anda ingin bertemu "
naya mengikuti langkah sang dokter perasaan takut semakin menjadi dihati naya
" silahkan, saya tinggal dulu " dokterpergi meninggalkan naya diruangan itu
__ADS_1
deg..
naya tidak bisa bergerak melihat kedua orang tuanya terbaring diatas brangkar rumah sakit dengan alat medis menempel pada tubuh mereka, air mata naya keluar semakin deras
" i ibu a ayah hiks hiks " ucap naya pelan karena mulutnya ditutup oleh tangannya sendiri tak kuasa naya melihat ketidak berdayaan orang tuanya
ayah dan ibu naya didirawat disatu ruangan perlahan naya melangkah mendekati ranjang keduanya dengan berat
naya harap ini hanya mimpi buruk dan akan segera berakhir.
namun sayangnya takdir berkata lain, dihari kebahagiannya bukan senyum dan tawa menghiasi bibir mungilnya tapi air mata kesedihan dan keterpurukan yang menghiasi wajahnya
" ibu, ayah " panggil naya ketika sudah betada di tengah-tengah
" na naya " ayah naya terbangun mendengar panggilan dari sang putri
" ayah, hiks hiks hiks kalian tega kenapa kalian jadi seperti ini, ayo pulang kita rayakan ulang tahun naya dirumah naya gak mau kalian berada disini seperti ini naya gak mau " suara bergetar naya
" sayang, maafkan kami na " ucap ibu nayajuga terbangun
" gak aku gak mau maafin kalian aku gak mau " bentak naya
" sayang, waktu kami tidak banyak, kami sangat menyayangimu dan mencintaimu " suara lemah ibu naya, naya menghambur memeluk ibunya tak mau dia ditinggalkan secepat ini
" ibu jangan berkata seperti itu, nay gak mau kalian pergi, nay mau ikut kalian saja nay "
" sayang, jangan seperti anak kecil, kamu gadis kuat gadis mandiri "
" naya sayang maafkan kami nak " sabung ayah naya
" gak pokonya naya gak mau maafin kalian naya gak mau " teriak naya
" kalian harus sembuh dan pulang bersama naya sekarang jika tidak nay gak mau makan dan bicara sama kalian nay gak mau bu yah jangan tinggalin nay " teriak naya histeris
" na naya sayang berjanjilah nak, jaga dirimu ba baik naya anak ibu dan ayah adalah gadis kuat gadis yang kami bangga banggakan" suara lemah ibu naya
" tidak bu nay gak mau berjanji nay hanya tetap mau bersama kalian dan kalian berdua jangan coba-coba pergi dari aku " ancam naya disela tangisnya
" sayang, kami sudah tidak kuat lagi " sambung ayahnya
naya meraih tangan ayahnya dan meletakkannya dipipi naya
" tidak, tidak kalian jangan pergi aku mohon jangan tinggalkan naya ayah ibu " pinta naya pilu
maira masuk kedalam memastikan keadaan naya sejujurnya maira tidak tega jika harus melihat naya dalam keadaan terpuruk seperti ini.
" may katakan pada mereka aku gak mau mereka seperti itu katakan pada mereka may katakan " pinta naya pada maira, maira yang berusaha tegar kini sudah berlinang air mata maira memeluk erat naya maira bisa apa??
" nay, tenanglah, dengarkan apa yang akan ibu dan ayahmu katakan" maira berusaha membujuk naya
" a aku gak sanggup hiks hiks hiks "
" na naya ada yang harus ibu katakan padamu sayang sebelum ibu tiada "
" tidak mau " cepat naya menolak
" nay loe gak boleh kaya gitu. " tegur maira
__ADS_1
namun naya tidak perduli