
Saya adalah seorang siswa kelas 2 di sekolah menengah di kota tempat tinggal saya. Saya adalah pria yang baik, tetapi nasib baik tak selalu ada di kehidupan saya. Selama saya sekolah saya kerap menjadi korban perundungan anak-anak nakal yang ada di sekolah saya. Saya sangat menyesal karena telah dilahirkan ke dunia ini dimana saya hanya hidup dengan nenek saya saja, karena orang tua saya telah meninggal dalam kecelakaan 12 tahun yang lalu.
Alasan kenapa saya masih menjalani kehidupan yang sangat saya benci adalah karena nenek saya saja, di hadapan nenek, saya selalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan agar nenek tidak khawatir dan lebih mengkhawatirkan kondisinya yang memang sudah sakit-sakitan.
Selama di sekolah saya tidak berani untuk melawan para perundung dan setiap sebelum masuk kelas mereka selalu menghajar saya, bahkan saat saya tidak bisa memberikan uang kepada mereka, mereka bisa menelanjangi saya di depan kelas dan memfotonya.
Orang-orang perlahan tidak mau terlibat dengan saya kerena mereka takut jika membantu saya mereka bisa menjadi korban perundungan juga. Sudah satu tahun saya hidup sebagai makhluk menyedihkan seperti ini. Kerap saya ingin melawan mereka tetapi rasa takut terlebih dahulu menghantui diriku.
Alasan kenapa saya tidak melaporkan mereka kepada guru, karena dulu saat saya melaporkan mereka, guru tak melakukan apa-apa, karena keluarga mereka merupakan donatur terbesar di sekolah ini.
Hari ini saya yang sedang berjalan menuju sekolah sambil menunduk karena takut dengan anak-anak yang akan merundung saya. Tetapi nasib sial selalu bertemu dengan saya, di pintu kelas yang terbuka lebar berada 4 orang laki-laki yang sedang berbicara disana. Dan ya mereka adalah anak-anak yang selalu merundung saya. Tanpa ragu mereka langsung memanggil saya dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan untuk seorang pelajar.
“Oi brengsek! Kenapa kau datang lebih lama dari kami?” Ucap salah satu anak yang sedang mengobrol itu dan berjalan mendekatiku.
“Maaf barusan-” Tanpa mendengarkan perkataanku terlebih dahulu orang itu langsung memukul perutku dengan sangat keras.
“Ini hukuman karena kau datang terlambat.” Ucapnya sambil berbisik di dekat telingaku.
“Cepat pergi kekantin sekarang belikan kita 4 roti, sebagai penalty karena kau terlambat datang.” Ucap mereka sambil tertawa.
“Maaf saya tidak membawa uang sedikitpun saat ini.” Ucapku sambil berusaha berdiri kembali walaupun rasa sakit menyebar di area perutku.
“Apa kau bilang? Kamu meminta kami untuk memberikan uang padamu?” Ucap orang yang memukul perutku. “Sepertinya kau harus diberi pelajaran tambahan.”
Ia kemudian langsung mengangkat kerah bajuku dan menampar pipiku dengan tangannya. Aku yang tak bisa melawan hanya pasrah dengan apa yang dia lakukan kepadaku.
“Hei, hei. Harusnya kita sedikit lebih keras lagi.” Ucap salah satu dari mereka dan berjalan menghampiriku.
Kemudian dia membawaku ke toilet dan memukuliku sekaligus hingga wajah dan tubuhku babak belur. Setelah mereka selesai memukuliku mereka akhirnya berjalan dan meninggalkanku di toilet.
“Oi brengsek, kalau kau tidak mau mampus lagi, setelah istirahat bawakan kita roti.” Ucap mereka sambil meninggalkan toilet.
Aku mulai bangkit dan membersihkan mukaku yang berlimpah darah dengan air, walaupun guru-guru selalu bertanya kenapa tubuhku setiap hari penuh luka, aku selalu membuat alasan seperti jatuh dari tangga. Agar guru-guru tidak curiga dengan apa yang mereka lakukan kepadaku.
Saat jam istirahat saya langsung bergegas menuju kantin walaupun aku tak memiliki uang sepeserpun. Sesampai di kantin aku langsung membeli roti yang mereka suruh.
“Permisi bu, saya mau beli roti ini 4, tapi saya tidak bawa uangnya, saya janji besok akan saya bayar bu.” Ucapku memohon kepada penjaga kantin.
“Kamu lagi, kamu lagi. Yang kemarin juga belum dibayar kan? Kenapa sekarang mau ngambil lagi?” Ucap penjaga kantin itu kepadaku.
Semua orang yang ada di kantin langsung memperhatikanku. Aku sudah biasa menjadi pusat perhatian dalam hal yang sangat menyedihkan ini, aku sudah tak peduli lagi, pandangan mereka terhadapku bagiku mereka semua sama busuknya dengan orang-orang yang merundungku. Mereka hanya tertawa dan membiarkanku saja.
“Secepatnya bu saya akan mengganti hutang-hutang saya.” Ucapku berusaha memohon kepada penjaga kantin itu.
“Dari kemarin kamu bilang seperti ini terus, tapi mana kenyataannya?” Penjaga kantin terlihat sedikit marah.
Saat aku sedang memohon kepada penjaga kantin itu, tiba-tiba seorang Wanita yang menghampiriku.
“Ini uangnya bu, untuk roti yang mau dia beli.” Wanita itu meletakan uangnya untuk membayar roti yang ingin aku beli.
“Elisia.” Ucapku sambil memandang Wanita itu.
__ADS_1
Elisia adalah seorang siswi yang kebetulan satu kelas denganku, aku tak terlalu mengenalnya karena tak ada waktu untuk bersosialisasi dengan orang lain, karena waktuku habis dengan aku yang selalu dirundung.
“Baik ini roti yang kamu mau.” Penjaga kantin pun memberikan roti yang aku minta.
“Terima-” Saat aku ingin bilang terima kasih Elisia memotong ucapanku.
“Jangan bilang terima kasih, aku hanya tidak suka ada seseorang yang di pandang rendah.”
Aku pun langsung berjalan meninggalkan Elisia dan membawa roti yang tadi dia belikan untuk aku kasih kepada anak-anak yang menyuruhku tadi.
Saat aku sampai di kelas aku langsung memberikan roti yang tadi mereka suruh kepadaku. Tapi nampaknya mereka tidak senang dengan aku yang kembali membawa roti yang mereka minta.
“Ini roti yang tadi kalian minta.” Ucapku sambil memberikan roti itu.
“Oi brengsek bukannya tadi pagi kau bilang tidak punya uang sepeserpun? Dan sekarang kau kembali dengan membelikan kita roti.” Ucap salah satu dari mereka dan langsung menendang perutku hingga aku terjatuh.
“Kau habis menjual barang berharga dari nenekmu yang sudah penyakitan itu, atau kau habis mencuri roti-roti ini.” Ucapnya dengan wajah yang sangat menyeramkan sambil berbisik di dekat telingaku.
“Tadi Elisia membayarkan roti-rotinya untukku.”Ucapku sambil berbicara dengan gugup.
Orang itu langsung berjalan menuju tempat duduk Elisia “Wah, wah, wah… Ternyata ada yang sedang main jadi pahlawan nih.” Orang itu langsung menjambak rambut Elisia. “Oi ****** sialan, dulu aku pernah bilang jangan pernah ada yang membantu brengsek itu, dan jika ada yang membantu orang itu harus menggantikan tugas si brengsek untuk menjadi babu kita.”
Elisia hanya menahan sakit dari jambakan orang itu dengan air mata yang tergenang. Aku yang melihat Elisia yang sedang dirundung merasa tidak enak karena dia tadi telah menolongku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oi brengsek! Sekarang kau bebas.” Ucap orang itu sambil melihat ke arahku. “Dan yang akan menggantikan tugasmu adalah ****** ini.” Sambil melepaskan jambakannya.
Selama kurang lebih 1 minggu aku tidak pernah dirundung lagi oleh mereka, dan yang sekarang mereka rundung adalah Elisia. Mereka tidak memandang gender dalam merundung, bagi mereka jika itu menyenangkan mereka akan terus melakukannya. Setiap hari aku selalu melihat Elisia penuh dengan luka dengan baju yang selalu kotor. Hingga pada suatu hari Elisia tidak masuk sekolah lagi dan orang yang merundungku dulu menyuruhku untuk mencari Elisia.
Aku yang sudah mencari Elisia kemana-mana memutuskan untuk istirahat di rooftop sekolah, saat aku membuka pintu rooftop aku melihat seorang wanita dengan pakaian seragam sekolah yang sama denganku. Saat aku melihat lebih teliti lagi ternyata Wanita itu Elisia. Dan saat aku membuka pintu dan berjalan mendekatinya dia langsung melihatku dengan mata yang sudah sangat pucat.
“Ternyata kau?” Ucap Elisia sambil kembali memandangi langit malam.
“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil berterik saat melihat Elisia yang sedang berdiri di tepi Gedung sekolah.
“Kau hebat juga ya, bisa bertahan selama satu tahun dirundung bajingan-bajingan itu.” Ucap Elisia dengan suara serak. “Maaf aku tak sekuat dirimu.”
Elisia tiba-tiba meloncat dari tepi Gedung itu aku yang melihatnya berlari dan mencoba menghentikannya. “Elisia?” Teriakku.
Aku terlambat menghentikan Elisia yang meloncat dari Gedung, saat aku melihat kebawah tubuh Elisia sudah penuh dengan darah dan juga dia sudah tidak bernafas lagi. Aku menyesali perbuatanku saat itu, andai aku tidak menerima bantuan Elisia, andai saat itu aku sadar kalu Elisia akan melakukan bunuh diri. Secara tidak langsung akulah yang telah membunuh Elisia.
Saat esoknya polisi sudah berkumpul di sekolahku, karena ada kasus bunuh diri seorang siswi di sekolah sana. Aku yang merupakan satu-satunya saksi saat kematian Elisia langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Saat saya di kantor polisi saya menjelaskan kalau Elisia melompat setelah saya membuka pintu rooftop tetapi saya tidak menjelaskan bahwa sebenarnya Elisia melakukan bunuh diri karena di rundung oleh orang yang merundung saya. Karena tidak ada bukti kalau mereka merundung Elisia. Setelah selesai dari kantor polisi saya kembali kesekolah saat saya memasuki kelas saya melihat bangku saya di coret dengan kata pembunuh.
Semua siswa di sekolah menganggap bahwa satu-satunya saksi saat itu adalah pelaku yang membunuh Elisia. Dan saat aku membuka lokerku, ku lihat isi lokerku penuh dengan lumpur dan juga ada foto Elisia yang di coret di dalam loker itu. Aku sebenarnya sudah biasa dengan pandangan seperti ini tetapi, aku juga sangat marah dengan mereka yang menyebabkan kematian pada Elisia.
Saat pulang sekolah aku melihat keramaian di rumahku, dan saat aku masuk ternyata nenek ku sudah meninggal karena serangan jantung. Hatiku yang saat itu sedang berantakan langsung hancur karena kematian satu-satunya keluarga yang aku punya, aku terdiam membeku pandanganku kosong tanpa memancarkan keinginan untuk hidup lagi. Saat pemakaman nenek, aku sama sekali tidak keluar kamar karena satu-satunya alasanku untuk hidup telah tiada.
Tetapi aku tidak bisa untuk bolos sekolah, saat aku sampai di sekolah aku sudah di hadang oleh orang-orang yang merundungku, mereka langsung mendekatiku.
“Oi pembunuh, kudengar kau juga membunuh nenek mu, karena tak sanggup mengurusnya lagi?” Ucap mereka sambil tertawa.
__ADS_1
“Sepertinya sekolah kita sudah memiliki seorang pembunuh ya. Hahaha” Ucap salah satu temannya.
Aku yang sangat kesal dan marah pun langsung memukul wajah salah satu dari mereka. “Jaga kata-katamu brengsek.”
“Cih, sepertinya kau memang bener-bener membunuh mereka ya.” Ucap orang yang baru saja aku pukul tetapi dia membalas ku dengan menendang perutku hingga akku terpental.
“Harusnya kau bisa menjaga sikapmu setelah kita selama satu tahun memberi pelajaran padamu.” Mereka memukulku tanpa ampun dan juga menendang ku secara bersamaan.
Siswa-siswa lain berusaha untuk tidak ikut campur tentang apa yang terjadi, mereka pura-pura tidak melihat apa yang mereka lakukan kepadaku. Tetapi bel masuk berbunyi yang membuat mereka menyudahi perundungannya dan kembali ketempat duduknya.
Saat guru masuk, aku langsung kembali ketempat dudukku guru pun nampaknya tidak peduli dengan kondisiku. Saat aku duduk orang yang tadi memukuliku menempelkan sesuatu di belakang bajuku dan yang dia tempelkan adalah sebuah kertas yang bertuliskan “PEMBUNUH” Saat aku melihat kebelakang ia menatapku dengan tajam.
“Apa lihat-lihat? Mau kupukul lagi, hah? Kalau kau nggak lihat kedepan, kupukul ya!”
Aku pun menuruti perkataannya tetapi rasa kesal dan rasa marah terus menyelimuti ku. Dia yang melihatku sangat kesal berusaha memancingku untuk membuat keributan.
“Kenapa? Kamu marah? Kalau iya, coba pukul aku aja.”
Aku tak menjawab karena aku juga takut dengannya walaupun aku sering dipukuli tetapi saat menatap matanya, rasa takut menyelimuti amarah dan kekesalanku.
“Kamu nggak menjawab? Pukul aku.” Aku tak membalas perkataannya. “Dasar bocah sialan. Sepulang sekolah nanti, temui aku.”
Aku yang sudah tau maksud dari perkataannya bahwa sepulang sekolah aku akan di pukul habis-habisan olehnya. Karena memang tak ada lagi cara dan mungkin ini adalah cara terakhir yang bisa aku lakukan, aku langsung berdiri dari dudukku yang saat itu guru yang ada di kelas sedang menjelaskan pembelajarannya.
“Kiri Ardian, ada apa?” Ucap guru itu sambil menatap ke arahku.
“Bu… Saya… Ditindas.” Ucapku sambil menunduk. “Setiap hari dan sudah 1 tahun. saya di keroyok terus-terusan.”
“Apa?” Ucap guru itu sedikit terkejut.
“Uang saya sudah di rampas selama satu tahun ini bu, tubuh saya penuh dengan memar.” Aku melepaskan bajuku dan menunjukan memar yang mereka lakukan kepadaku. “Selain itu pelaku pembunuh Elisia adalah orang yang menindas saya.”
“Oh ya, siapa pelakunya?” Tanya guru itu kepadaku.
“Pelakunya adalah” Aku menunjuk tempat duduk belakangku. “mereka berempat, bu. Mereka pelaku dari semua yang menimpa saya dan juga kematian Elisia”
“Oh, ya?” Guru itu nampaknya tidak terkejut. “Terus… Memangnya… Kenapa kalau begitu?”
Aku sangat terkejut dengan jawaban dari guru itu, wajahnya menunjukan ketidak pedulian nya akan diriku dan jug apa yang menimpa Elisia atau karena keluarga mereka adalah donatur terbesar di sekolah ini.
“Duduklah. Kiri Ardian, kalau sekali lagi kau mengganggu kelas ibu…” Aku memotong percakapannya.
“Sudah kuduga…” Guru itu terkejut dengan jawabanku. “Ibu akan begitu.” Aku langsung berlari meninggalkan kelas dan juga meninggalkan sekolah.
Saat itu aku tak memikirkan apa-apa, yang ingin aku lakukan adalah berlari dan terus berlari saat aku melewati jalan dari sebelah kanan aku mendengar suara klakson truk saat aku melihat ternyata sebuah truk melaju kencang ke arahku dan aku tak sempat menghindari truk itu.
“Ah sial harusnya aku bisa menikmati kehidupanku ini bukan malah menjadi pecundang yang selalu ditindas dan hidup dalam sendirian. Andai aku dapat terlahir kembali mungkin aku akan berusaha memperbaiki hidupku agar tidak menjadi orang tidak berguna seperti ini.” Gumamku sebelum truk itu menyentuh tubuhku.
Saat tertabrak truk yang lebih berat beberapa kali lipat dari tubuh saya terlempar ke tengah jalan “Hurgh!” Udara terpaksa keluar dari paru-paruku. Pandangan saya mulai kabu, saya tidak dapat bicara tapi saya belum mati. Dan jika saya mati saya ingin meminta maaf kepada Elisia karena tidak dapat menolongnya. Pandangan saya mulai menghitam saya mulai tidak bisa mendengar suara orang-orang yang menolong saya, nafas saya sangat berat. Dan kemudian saya mati.
...****************...
__ADS_1