Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs

Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs
Melawan Shadowblade


__ADS_3

Ketika aku ingin meninggalkan perbatasan Hutan Eraliant, tiba-tiba langit menjadi gelap dan kabut misterius menyelimuti sekitarku. Suara gemuruh menggema di langit, seperti menandakan kedatangan sesuatu yang luar biasa. Aku merasa aura kekuatan yang tak terukur mendekatiku.


Dari balik kabut, muncullah sosok seorang pria yang mengenakan mantel hitam dengan tatapan mata yang tajam. Tubuhnya terlihat begitu kokoh dan penuh dengan aura kekuatan. Aku merasakan getaran energi yang kuat dari dalam dirinya. Aku segera mengeluarkan pedangku untuk berjaga-jaga.


“Arthur, berhati-hatilah, tingkat Aethernya sangat tidak normal,” ucap Aurelia yang waspada. Aku menganggukkan kepalaku, namun hatiku berdegup kencang.


Orang itu langsung menyerang ku dengan kecepatan yang luar biasa. Aku berusaha menangkis serangannya, namun gerakannya begitu lincah sehingga aku kesulitan mengikutinya. Aku berusaha memekatkan Aether di sekitar tubuhku untuk melindungi diri, namun serangan-serangannya tetap berhasil menembus pertahananku. Tubuhku mulai terasa lelah dan luka-luka mulai muncul di kulitku.


“Arthur, lebih baik kita lari!” ucap Aurelia khawatir dengan kondisiku. Aku tahu dia benar, aku tidak akan bisa mengalahkan lawan yang begitu kuat ini.


Namun, aku tidak ingin berlari begitu saja. Aku menggenggam erat pedangku dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Aku merenungkan setiap gerakan dan serangan yang diberikan lawanku, mencari celah untuk menyerang balik.


Tiba-tiba, ide datang menghampiri pikiranku. Aku melontarkan pertanyaan tajam kepada orang itu, mencoba mengalihkan perhatiannya. "Siapa kau? Mengapa kau menyerang ku?"


Namun, orang itu hanya tersenyum sinis, "Kau bisa memanggilku Shadowblade, dan kau adalah ancaman bagi keberadaannya. Aku datang untuk menghilangkan mu."


“Ancaman bagi keberadaannya? Siapa yang kau maksud?” Ucapku semakin penasaran.


Namun tampaknya dia tidak menjawab pertanyaanku. Tetapi aku semakin yakin bahwa orang ini bukanlah musuh biasa. Tiba-tiba, dia kembali menyerang ku dengan kecepatan kilat. Aku menggunakan kecepatan yang tersisa untuk menghindar, namun serangannya tetap berhasil mengenai lengan kiriku. Rasa sakit menusuk tubuhku, tapi aku memusatkan pikiranku.


Aku berusaha memanfaatkan elemen api yang sudah ku kuasai sepenuhnya. Aku menyatukan energi Aether dan api di ujung pedangku. Dalam sekejap, aku menyerang balik dengan serangan gabungan, menyilaukan lawanku dengan cahaya membara.


Namun, orang itu dengan mudahnya menghindari serangan ku dan menyerang ku kembali. Aku merasakan pukulan keras menghantam dadaku dan aku terlempar beberapa meter ke belakang. Tubuhku terasa berat, tapi aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku berusaha untuk bangkit kembali, meskipun tubuhku terasa lemah. Aura Aether yang berputar di sekitarku kian melemah.

__ADS_1


Sementara angin malam semakin bertiup kencang. Aku menghela nafas dalam-dalam dan berusaha untuk fokus. Aku merenungkan semua pelajaran dari pelatihan yang telah ku terima dari paman Helios, mencari cara untuk menghadapi musuh yang begitu kuat ini.


Aurelia yang berada di atas kepalaku bersiap melakukan sinkronisasi dan membuat energi Aetherku sedikit pulih. "Arthur, aku akan melakukan sinkronisasi Aether pada Aether core mu."


Tiba-tiba, aku mendapatkan ide brilian. Aku mengingat kembali momen ketika aku gagal menyalurkan elemen pada pedangku. Kemungkinan besar, musuhku ini memiliki kemampuan untuk memblokir atau menghambat aliran Aetherku.


Aku mengumpulkan energi Aether dengan hati-hati, menyimpannya dalam diriku tanpa menyalurkannya ke pedang. Aku berusaha untuk menyembunyikan kekuatanku, membuatnya tak terdeteksi oleh musuhku.


Ketika dia kembali menyerang, aku berusaha untuk menghindari serangan-nya dan menyelipkan diri di balik pohon. Musuhku tampak bingung, mencari-cari di mana aku berada. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang dari belakang.


Dengan penuh persiapan aku meluncurkan serangan cepat, kali ini tanpa menyalurkan energi Aether ke pedangku. Tiba-tiba, pedangku terangkat dengan sendirinya dan mendapat kekuatan tambahan. Serangan ku kali ini berhasil mengenainya, dan aku bisa melihat ekspresi kaget di wajahnya.


Namun, dia tak tinggal diam. Dengan kekuatan yang luar biasa, dia melepaskan serangan balik yang begitu kuat hingga hampir tak bisa ku hindari. Tubuhku terpental kembali beberapa meter, tapi aku tidak menyerah.


Aku mencoba lagi dan lagi, mengamati setiap gerakannya dengan cermat dan mencari celah untuk menyerangnya. Aku berusaha untuk memanfaatkan kekuatanku secara bijaksana, menyembunyikannya ketika perlu, dan melepaskannya pada saat yang tepat.


Akhirnya, kesempatan emas datang. Musuhku mengeluarkan serangan besar dengan kekuatan maksimum. Aku berusaha untuk menghindari serangannya dengan kecepatan yang tinggi dan dengan tepat waktu, aku melepaskan kekuatan Aetherku secara penuh.


Pedangku terangkat ke atas, dipenuhi oleh energi Aether dan elemen api yang menyala-nyala. Serangan ku membentuk gelombang energi yang meluncur dengan cepat ke arahnya.


Tak ada waktu untuk menghindar. Serangan ku menghantamnya dengan kekuatan yang dahsyat, dan dia terlempar jauh ke belakang.


Aku merasa terengah-engah, tubuhku terasa lelah dan penuh luka. Namun aku bangkit kembali dengan tatapan yang lebih serius di mataku. "Kau hebat, aku tak menyangka aku, seorang anak yang baru sekitar 5 tahun bisa mengeluarkan serangan sehebat itu. Namun sungguh disayangkan anak yang memiliki bakat sepertiku harus mati saat ini juga."

__ADS_1


Kemudian dengan cepat, dia mengeluarkan sebuah bola api raksasa. Aku tahu aku tak memiliki kekuatan lagi, tubuhku sudah terlalu lelah, dan aku tak akan bisa menghindar. Sebelum bola api itu mengenai tubuhku, akhirnya aku tak sadarkan diri. Oh, apakah ini namanya mati lagi? Padahal aku sudah membulatkan tekadku untuk menjadi kuat, namun ternyata aku harus mati di tempat seperti ini, rasanya sungguh sangat kesal. Apakah Ariel, Avalon, dan Kallen sudah sampai di kota Eterealis? Apa Siesta sudah sampai di keluarganya? Dan oh ya, apakah adikku sudah lahir? Aku hanya bisa berharap bahwa orang tua dan juga adikku berada dalam keadaan baik-baik saja.


Aku mulai menyerah untuk tetap hidup, namun tiba-tiba cahaya putih menerangi mataku. Rasanya seperti ada keajaiban yang datang menyelamatkanku. Tubuhku terangkat oleh kekuatan magis yang hangat, seolah-olah ada seseorang atau sesuatu yang sedang menolongku. Saat cahaya putih itu memancar, aku merasakan kehadiran energi Aether yang kuat di sekitarku, memberikan kekuatan baru yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.


Cahaya putih itu membentuk sebuah perisai yang melindungi ku dari bola api raksasa yang dilepaskan oleh musuhku. Bola api itu bertabrakan dengan perisai tersebut, menciptakan dentuman yang dahsyat dan ledakan api. Namun perisai Aether itu bertahan teguh, menahan serangan musuhku dengan kokoh.


Dengan kekuatan Aether yang meresap dalam tubuhku, luka-lukaku sembuh dengan cepat, dan tubuhku dipenuhi oleh tenaga segar yang membara. Rasanya seperti ada keajaiban yang terjadi, memberi aku kekuatan untuk melanjutkan pertempuran.


Namun aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya dan aku mulai kehilangan kesadaran, seolah-olah ada kekuatan yang menggerakkan setiap gerakanku. Tangan dan kaki bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menghindari serangan musuh dengan gesit dan mengelak dari setiap bahaya yang mengancam. Entah dari mana kekuatan ini berasal, namun aku tahu bahwa aku sedang dibantu oleh kekuatan Aether yang luar biasa.


Dengan kemampuan yang tak terduga ini, aku berhasil menghadapi musuhku dengan keahlian yang luar biasa. Serangan-serangan ku begitu mematikan dan tepat sasaran. Bola-bola api, angin, tanah dan juga air meluncur dari tangan dan tubuhku dengan presisi yang memukau. Musuhku terpaksa harus menghadapi serangan-serangan mematikan ini dengan kesulitan.


Pertarungan berlangsung sangat intens. Tubuhku bergerak seolah telah terbiasa dengan pertempuran ini. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin musuh sulit menghadapi serangan ku.


Dengan tubuh yang telah pulih sepenuhnya dan kekuatan Aether yang membara, aku meraih pedang ku. Pedang itu terasa mengalirkan energi magis yang kuat ke dalam tubuhku, mempersatukan kekuatan elemen dalam diriku.


Aku melakukan konsentrasi dan  mengarahkan pedang ku ke arah musuh, aku mengumpulkan energi dari keempat elemen api, air, tanah, dan udara. Energi-energi itu bersatu menjadi satu, menciptakan aura berwarna-warni di sekeliling pedang ku. Api membara membentuk lapisan merah menyala, air membentuk lapisan biru yang berkilau, tanah membentuk lapisan cokelat yang kokoh, dan angin membentuk lapisan putih yang membelai dengan lembut.


Dengan penuh kekuatan, aku melancarkan serangan itu ke arah musuh. “Elementalys Slash” melepaskan gelombang energi yang menerjang musuh seperti badai dahsyat. Setiap elemen menyatu menjadi satu kekuatan yang dahsyat dan tak terhentikan.


Musuh itu berusaha menghindar, tapi tak ada tempat untuk bersembunyi dari kekuatan serangan ini. Serangan ku menerjang musuh dengan hebat, menghancurkan segala hal di sekitarnya dan membawa bencana yang dahsyat.


Ketika serangan itu akhirnya berakhir, musuh yang kuat tadi terlihat terluka parah dan tak berdaya. Energi dari serangan itu menyebar di sekelilingnya, menghancurkan segala sesuatu yang berada di jalannya. Tubuhnya gemetar, mencoba mempertahankan diri, namun kekuatannya sudah tak mampu menahan serangan ku.

__ADS_1


Setelah pertempuran itu, tubuhku melemah dan aku jatuh ke tanah. Serangan itu telah menggunakan semua kekuatanku. akhirnya tubuhku tak mampu menahan kelelahan dan aku pingsan.


...****************...


__ADS_2