Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs

Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs
Meninggalkan Hutan


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum kami berangkat meninggalkan hutan, aku bangun lebih awal untuk berlatih. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikanku, aku keluar dari tenda dan mencari tempat yang tenang.


Aku memegang pedangku dengan erat, mengingat sensasi pertarungan kemarin. Aura Aether yang mengalir dalam tubuhku terasa berbeda kali ini. Aku mencoba mengumpulkan kekuatan dan memusatkan pikiran untuk merasakan energi Aether yang ada di sekitarku.


Aku menatap sebuah batu besar dengan fokus, bersiap menyerang batu itu sambil menyalurkan Aether ke pedangku. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa menyalurkan elemen apapun pada pedangku. Hanya energi Aether yang berkumpul pada ujung pedang.


Dalam sekejap, aku bergerak maju dengan cepat, pedangku menorehkan garis-garis putih di udara. Namun, begitu pedang itu menyentuh batu, energi Aetherku tiba-tiba menghilang, dan batu itu tak tergores apapun.


Aku bingung dan kecewa dengan kegagalan itu. Aurelia yang memperhatikanku dari tadi berbicara, "Sepertinya kau belum benar-benar menguasai pengendalian elemen, Arthur. Perlu waktu dan latihan yang lebih banyak."


Aku menghela nafas frustasi. “Tapi, mengapa aku tak bisa mengeluarkan serangan seperti kemarin?”


Aurelia meyakinkanku, "Kau masih bisa berlatih dan meningkatkan kemampuanmu, yang harus kau lakukan adalah terus maju."


Aku merenung sejenak, kemudian tersenyum pada Aurelia. “Terima kasih, Aurelia.”


Waktu terus berlalu, dan aku semakin larut dalam latihan. Ketika matahari mulai menyinari hutan, tiba-tiba Avalon datang menghampiriku yang sedang berlatih.


Avalon berjalan menghampiriku. “Arthur, ada hal yang ingin aku katakan.”


“Ah, kau sudah bangun? Tentu saja katakana apa yang ingin kau katakana.” Ucapku sambil tersenyum.


“Apa aku bisa menjadi sekuat dirimu?” Tanya Avalon dengan nada yang serius.


“Tentu saja, semua orang bisa menjadi kuat. Tetapi yang membedakan orang kuat dan orang yang lebih kuat adalah alasannya untuk menjadi kuat. Dan alasanku untuk menjadi kuat adalah agar aku tidak kehilangan apa yang berharga dalam hidupku” Ucapku sambil bersiap kembali menyerang batu yang tadi.


Tetapi serangan ku berbeda dari tadi, aku berusaha memperkuat pedangku dengan Aether dan juga elemen api yang merupakan elemen yang saat ini bisa aku kendalikan sepenuhnya. Dalam sekejap, aku bergerak maju dengan cepat, pedangku menorehkan garis-garis merah membara di udara. Namun, begitu pedang itu menyentuh batu, batu itu terbelah dua dan kemudian hancur..”


Aku berjalan menuju Avalon. “Yang harus kau lakukan adalah mencari alasan kenapa kau ingin menjadi kuat.”


Avalon mulai merenung dan kemudian dia menyadari alasan dia ingin menjadi kuat adalah untuk melindungi Ariel, wanita yang menjadi orang berharga di dalam hidupnya. Air matanya menetes pelan, mengungkapkan ketulusan perasaannya.


"Aku ingin melindungi Nona Ariel dari bahaya yang terjadi seperti kemarin," gumamnya dengan suara gemetar. "Dia adalah orang yang berharga dalam hidupku."


Aku menganggukkan kepala, merasakan getaran emosi dalam dirinya. "Itulah alasan yang kuat, Avalon. Jadilah orang kuat yang Ariel banggakan."


Aku berjalan meninggalkan Avalon dan pergi terlebih dahulu menuju tempat anak-anak yang lain sedang menunggu. Sesampainya disana Siesta langsung menyambut ku dengan lembut. Aku tersenyum ramah dengannya setelah selesai istirahat kami mulai melanjutkan perjalanan untuk keluar dari hutan ini.

__ADS_1


Hutan tempat kami berada ini adalah Hutan Gloomwood sebuah hutan yang dipenuhi dengan makhluk buas dan misteri. Pepohonan tinggi dan rimbun menghiasi setiap sudut hutan ini, menciptakan suasana yang magis.


Di tengah-tengah hutan tepatnya tempat kami beristirahat saat ini terdapat Sungai Zephyr, sungai yang membelah hutan menjadi dua bagian. Sungai ini memiliki air yang jernih dan berkilauan, memberi kehidupan bagi berbagai makhluk hidup di dalamnya. Kami berjalan menyusuri tepian Sungai Zephyr, merasakan embusan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Dari kejauhan, terdengar suara riak air yang membuat suasana semakin tenang. Sinar matahari yang tembus di antara daun-daun pohon, menimbulkan bayangan-bayangan indah di permukaan air sungai.


Aku berjalan di belakang Ariel yang tampak bahagia, terlihat berbicara akrab dengan Avalon yang berjalan di sisinya. Siesta melompat-lompat dengan ceria di sekitar mereka, sementara Kallen yang cenderung pendiam, tetap mengikuti mereka.


Kami saling bertukar cerita dan tawa di sepanjang perjalanan, di tengah perjalanan, Ariel tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah sungai. "Lihat, ada bunga air yang langka di sana!"


Kami mendekat dan melihat sekelompok bunga air putih yang indah mengapung di permukaan sungai. Bunga-bunga itu terlihat begitu rapuh, namun tetap anggun di tengah riak air. Aku merasa terpesona oleh keindahannya.


"Nona Ariel, bunga air ini hanya tumbuh di tempat-tempat yang sangat murni dan alami," ucap Avalon dengan penuh rasa kagum. "Sungai ini benar-benar istimewa."


Nona Ariel mengangguk setuju. "Iya, dan bagi setiap orang yang melihatnya, katanya bunga ini membawa harapan dan berkah."


Kami semua berhenti sejenak, merenung dan menghargai keindahan bunga air tersebut. Sungguh momen yang indah dan tak terlupakan.


Perjalanan kami melintasi Sungai Zephyr berlanjut, dan kami pun semakin dekat dengan keluar dari Hutan Gloomwood. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan beberapa makhluk hutan, tetapi tak ada yang berani menyerang kami. Mereka tampak lari saat melihat kami berjalan mendekati mereka.


Ketika matahari semakin merendang di ufuk barat, kami akhirnya keluar dari Hutan Gloomwood. Di hadapan kami terbentang pemandangan padang luas yang membelah dua kerajaan yang memiliki ras yang berbeda yaitu kota Eterealis dan hutan Eraliant. Nampaknya kami akan berpisah disini, Ariel, Avalon dan Kallen akan pergi menuju kota Eterealis, sebenarnya aku ingin pergi bersama mereka menuju kota tersebut karena orang tuaku pasti berada disana. Namun sebelum aku bertemu orang tuaku aku harus mengantarkan Siesta pulang terlebih dahulu.


Ariel tersenyum dan juga dia bersedih karena harus berpisah dengan kami berdua. “Terima kasih Arthur, karena telah menyelamatkan dan membantu kami keluar dari hutan ini. Dan semoga kita bisa bertemu kembali.”


Aku tersenyum. “Iya aku juga senang mengenal kalian.”


Avalon menghampiri ku. “Arthur saat kita bertemu lagi aku akan menjadi kuat dan akan mengalahkan mu.” Ucapnya dengan percaya diri.


“Tentu saja aku akan menunggumu, itu juga kalau kau bisa mengalahkanku.” Aku meledek Avalon sebelum pergi. Kallen tak mengucapkan apa-apa tetapi dia hanya tersenyum dan mungkin arti senyumannya adalah ucapan terima kasih.


Di sisi lain, perjalanan bersama Siesta menuju Hutan Eraliant tidak pernah membosankan. Dia selalu dengan senang hati menganggap dirinya sebagai hiburan di sepanjang jalan. Setiap kali kami berhenti, dia akan bermain-main dengan bayangan dan mencoba membuatku tertawa dengan tingkahnya yang lucu.


"Siesta, cukuplah," ucapku dengan lembut ketika dia mencoba menggoda burung hutan.


Tetapi Siesta, dengan cerianya, membalas, "Tidak, tidak, Arthur! Ini menyenangkan! Lihat, burung itu merasa jengkel!"


Siesta selalu menjadi teman yang usil dan manja. Dia suka bermain-main dengan bayangan, mengejar kupu-kupu, dan seringkali mencuri perhatianku dengan aksi lucunya. Meskipun terkadang perilakunya bisa membuatku kesal, namun aku tak bisa menyangkal bahwa kehadirannya membuat perjalanan ini lebih berwarna.


Saat kami beristirahat di dekat sungai kami, dia dengan riang mencipratkan air ke arahku, membuat pakaianku basah kuyup. “Siesta! Berhenti itu!” celetukku, berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Dia tertawa gembira, “Maaf, Arthur! Tapi airnya begitu menggoda!”


Ketika kami berjalan melalui hutan yang rimbun, Siesta seringkali bersembunyi di balik pohon dan tiba-tiba muncul di depanku dengan wajah polos, mencoba menakuti ku. Meskipun saya sudah tahu triknya, saya tetap berpura-pura terkejut untuk menyenangkan hatinya.


“Hiiih! Siapa yang ada di balik sana?” pekikku berlagak ketakutan.


“Hahaha, aku berhasil membuat Arthur terkejut” kata Siesta sambil tertawa kencang.


Saat malam tiba, Siesta selalu merayu untuk tidur bersama denganku dalam tenda. Dia akan membujukku dengan wajah polosnya dan suara manjanya yang menggemaskan. Meskipun kadang-kadang aku merasa agak terganggu dengan sikap manjanya, namun tidak ada yang bisa menolak kehadiran Siesta yang menggemaskan.


“Arthur, kau tahu legenda tentang Elvoria, dewi hutan yang menari di antara bunga-bunga terang?” tanyanya sambil berbaring di dalam tenda.


“Tentu saja, Siesta. Tapi legenda itu hanya sebuah dongeng,” jawabku yang sedang duduk mencoba menjaga Siesta.


Tetapi dia tak kalah semangat, “Tapi bagaimana jika dia benar-benar ada? Aku ingin menari dengannya di antara bunga-bunga terang!”


Ketika kami berdua berada di tengah hutan yang sunyi, aku merasa seperti memiliki adik kecil yang selalu menghiburku. Dia menambahkan warna dalam hidupku yang kadang-kadang terasa monoton.


“Aku percaya padamu, Arthur! Kau pasti bisa mengendalikan elemen dengan sempurna!” ucapnya meyakinkanku saat aku berlatih dengan pedang Excalibur.


“Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang berlatih mengendalikan kekuatanku.” Tanyaku kepada Siesta.


Siesta menutup matanya. “Aku selalu melihatmu bangun lebih pagi, dan juga aku kadang tak sengaja melihatmu sedang berlatih bersama Aurelia.” Kemudian tertidur.


Dua hari berlalu, dan akhirnya kami mencapai Hutan Eraliant. Cahaya matahari yang temaram menyinari pepohonan yang rimbun di sekitar kami. “Sepertinya kita sudah sampai.” Ucapku yang berdiri di samping Siesta.


Siesta melompat ke tanah dan berlari ke arah gerbang hutan Eraliant. “Arthur, ayo kita masuk.” Ucapnya semangat.


Saat Siesta menoleh ke arahku, aku langsung menghilangkan hawa keberadaan ku dan bersembunyi di balik pepohonan. Siesta tampak mencari-cari, tapi para prajurit penjaga hutan dengan sopan memberi hormat kepadanya dan menyebutnya sebagai tuan putri, lalu mengantarnya ke dalam hutan dengan penuh kehormatan.


"Apa kau tak ingin mengucapkan kata perpisahan untuk Siesta?" tanya Aurelia yang berada di atas kepalaku.


"Aku tak ingin terlibat lebih dalam dengan apapun saat ini," ucapku sambil memandangi kepergian Siesta. "Apa yang harus aku lakukan adalah menemui keluargaku."


Setelah meninggalkan Hutan Eraliant, perjalanan ku terus berlanjut menuju kota Eterealis. Jalan yang ku hadapi penuh dengan kenangan. Aku teringat bagaimana awalnya aku datang ke dunia ini, tentang bagaimana aku yang dulunya hanyalah pecundang yang mengutuk kehidupanku sendiri, dan sekarang aku terlahir kembali.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2