
Saat aku membuka mata, seluruh tubuhku terasa seperti hancur berkeping-keping. Rasa sakit yang amat sangat menghantam ku, dan aku tak sanggup untuk berdiri. Aku hanya bisa berbaring dengan lemas, nafasku terengah-engah, dan pandanganku sedikit kabur. Meskipun begitu, aku meraih tasku yang terjatuh di samping ku dengan susah payah, mencari makanan atau minuman yang bisa mengembalikan sedikit energiku.
Beberapa jam berlalu, rasa sakit ku mulai mereda sedikit demi sedikit, dan aku mulai bisa mengendalikan tubuhku dengan lebih baik. Aku berusaha untuk bangkit dan berjalan meskipun dengan langkah yang gemetar. Saat aku melihat-lihat sekitar, aku terkejut karena hutan tempatku berada tampak berbeda dengan hutan saat aku diserang para bandit. Dan cahaya yang bersinar terang sebelumnya, masih menyisakan tanda tanya besar di benakku.
Semua pertanyaan perlahan menumpuk di kepalaku. "Ahh… Sepertinya aku harus mencari cara agar bisa keluar dari hutan ini."
Tiba-tiba, suara muncul di sekitarku. "Sepertinya kau sudah sadar, Arthur?"
Aku menoleh, mencari sumber suara itu, mengeluarkan pedang kayuku. "Siapa kau? Kenapa kau tahu namaku?"
"Apakah itu sikap orang yang baru saja diselamatkan dari kematian?" tanya suara itu dengan nada sedikit merendahkan.
Aku merasa malu atas sikapku yang curiga, lalu meletakkan kembali pedang kayuku. "Oh, ternyata kau yang menyelamatkanku, terima kasih. Tapi ini dimana?"
“Mungkin akan lebih baik jika kamu datang langsung kepadaku, aku akan memberikan lokasiku padamu.” Ucap suara itu dan tiba-tiba lingkaran sihir terbentuk di depanku dan mengeluarkan seekor burung. “Kamu cukup ikuti burung itu dan lebih baik kamu sampai sebelum malam, karena aku tidak bisa menjamin keselamatanmu.”
“Baiklah.” Meskipun agak ragu, aku memutuskan untuk mengikuti petunjuk suara itu. Mungkin dia bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menerpa pikiranku.
Perjalanan menuju suara misterius itu sangat melelahkan. Aku harus berjalan jauh melewati hutan. Luka-luka dari serangan bandit masih terasa menyakitkan. Meskipun aku berusaha mengendalikan Aether di tubuhku untuk menyembuhkan diri, namun energiku terbatas dan proses penyembuhan itu memerlukan waktu.
Diperjalanan yang panjang itu membuatku semakin lelah, dan aku merasa tubuhku sudah tak sanggup untuk terus berjalan. Aku menemukan sebuah sungai yang airnya tampak segar dan jernih. Tanpa ragu, aku membungkuk dan menyiramkan air di wajah dan tubuhku. Rasa sejuk air sungai membuat sedikit kesegaran kembali mengalir dalam diriku, meskipun luka dari serangan bandit masih terasa menyakitkan.
“Sepertinya kamu masih bersemangat?” Tanya suara misterius itu kembali muncul.
"Kamu lagi? Apa kau tak punya nama?" tanyaku dengan sedikit kesal.
“Kamu bisa memanggilku dengan nama Helios. Apa kamu kelelahan?”
Aku menghela nafas. "Mungkin karena aku belum pernah berjalan sejauh ini, aku merasa sangat kelelahan dan juga karena luka yang aku terima saat diserang para bandit tadi."
“Baiklah coba kamu, mengambil sebuah buah yang berada di atas pohon yang ada di depanmu.”
“Untuk apa aku, aku tidak lapar.” Aku berusaha menolak ucapan dari suara itu.
__ADS_1
“Aku telah menyalurkan Aether ku kedalam buah itu, dan juga aku memberikan sebagian energi kehidupanku juga.” Ucap suara itu dan tiba-tiba menghilang.
“Energi kehidupan? Apa maksudnya, aku sama sekali tidak mengerti.” Ucapku menimpali perkataan dari suara itu, namun dia tak menjawab pertanyaanku sama sekali.
Aku pun langsung menuruti perkataan dari suara tersebut, aku memekatkan Aether kedalam kakiku, mencoba fokus dan berlari menuju pohon tersebut, namun karena ada sebuah batu yang menghalangi lajuku aku langsung terjatuh dan terguling-guling hingga menabrak pohon itu.
“Aduh... Kenapa nasibku sial sekali.” Ucapku berusaha berdiri dan aku memutuskan untuk menaiki pohon itu.
Aku memanjat pohon tersebut dengan susah payah. Saat aku berhasil sampai di atas, aku segera memetik buah yang diarahkan oleh suara misterius itu dan memakannya. Saat buah itu masuk ke mulutku, aku merasakan sensasi aneh, seperti ada energi hangat yang mengalir ke seluruh tubuhku.
Tubuhku mulai berubah, dan seluruh tubuhku mengeluarkan aura berwarna ungu yang begitu kuat. Aku merasa luka-lukaku sembuh dengan cepat, dan aku merasa lebih segar dan kuat daripada sebelumnya. Namun, inti core ku tiba-tiba terasa panas, dan aku merasa sesak di dadaku. Nafasku terengah-engah, dan aku hampir kehilangan kesadaran.
"Apa yang terjadi padaku?" pekikku dengan susah payah.
"Tidak usah takut, ini adalah proses yang alami. Tubuhmu merespons Aether dan energi kehidupan yang kamu terima, dan itu adalah tanda bahwa kekuatanmu semakin berkembang," jawab suara misterius itu.
Ketika aku berusaha bertahan, tiba-tiba ledakan besar terjadi dari dalam tubuhku. Rasa sakit yang sebelumnya kurasakan tadi menghilang, dan entah bagaimana, aku merasakan Aether mengalir dengan begitu deras di seluruh tubuhku. Sepertinya Aether ku semakin meluap dan aku merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Waktu sepertinya akan berganti malam ketika aku cepat-cepat mengikuti burung yang diberikan oleh orang misterius tadi. Berkat Aether ku yang telah pulih, tubuhku terasa lebih kuat, dan aku bisa bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Meski aku berusaha mengikuti burung itu, tetapi jaraknya begitu jauh, dan aku terus berusaha berlari untuk tidak kehilangan jejaknya.
"Tak perlu takut, masuk saja kedalam," ujar suara misterius itu datang dari dalam gua.
Aku berjalan masuk dengan hati-hati, ketegangan semakin memuncak saat gelapnya gua semakin mencekam. Aku mencoba melangkahkan kakiku lagi, tetapi kali ini aku terjatuh dengan keras. "Brugh," rintih ku, merasa nyeri karena benturan itu.
“Sepertinya kamu sudah sampai?” Ucap suara itu.
Aku menatap ke depan, tetapi rasa takut menyelimuti diriku, pandanganku terfokus ke seorang pria yang sedang duduk di sebuah Binatang. “A… apa itu?”
“Tak perlu takut, dia tak akan menggigit mu.” Pria itu turun dari Binatang yang dia duduki, dan ternyata Binatang itu adalah naga, tetapi naga itu tertusuk sebuah pedang.
Dan pria itu ternyata seorang paruh baya yang sudah berusia 70 tahunan dengan rambut yang Panjang dan juga dengan penampilan yang tak pernah dia rapihkan. Dan entah sepertinya dia tak terlihat jahat.
“Aku bisa mengantarkan mu pulang, tetapi akan memakan sedikit waktu untuk aku bisa mengirim mu kembali menuju orang tuamu.” Orang tua itu membantuku berdiri dan mengajakku untuk pergi ketempat yang lebih nyaman. “Oh ya, kau bisa memakan buah-buahan yang ada di sekitar sini jika kamu lapar.”
__ADS_1
Aku berjalan mengikuti orang tua itu, dan juga aku tak lupa untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolongku. Saat aku mengambil buah yang ada di dalam gua itu, aku melihat pantulan wajahku dari buah tersebut, merasakan kehilangan karena aku sudah terpisah dengan orang tuaku, dan bahkan aku mengingat kembali saat aku dan keluargaku makan buah yang sama seperti ini Bersama-sama. Ahh aku tidak boleh memikirkan yang aneh-aneh, aku harus percaya bahwa orang tuaku pasti selamat dari para bandit itu.
“Paman!” Ucapku yang sedang memakan buah itu Bersama orang tua itu.
“Iya kenapa?”
“Apa saya boleh mengajukan beberapa pertanyaan?” Tanyaku.
“Ya boleh saja, tapi aku tidak bisa menjamin bisa menjawab semua pertanyaannya.”
Kegelisahan yang aku rasakan saat melihat naga itu membuatku sedikit waspada kepada paman ini. “Sebenarnya ini dimana? Kenapa paman hanya sendirian disini? Dari mana paman berasal? Bagaimana ada naga disini? Dan juga apa alasan paman menyelamatkanku.”
Paman itu menjelaskan semua kegelisahanku. “Untuk pertanyaan pertama jawabannya sangat mudah, tempat sempit ini berlokasi di antara perbatasan hutan Eraliant dan hutan Gloomwood. Yaitu hutan para Elf dan juga hutan tempat para makhluk buas berada. Tidak akan ada orang yang akan tahu tempat ini, karena aku telah membuat sihir perlindungan di daerah sini. Dan juga Arthur kau adalah orang pertama yang masuk ke daerah sini.”
Aku tertawa kecil. “Ternyata aku satu-satunya orang yang datang dengan selamat ke daerah berbahaya ini.”
“Untuk pertanyaan kedua, aku berada di sini sendirian karena sedang bersembunyi karena banyak musuh yang mengincar diriku. Dan naga yang tadi kamu lihat itu adalah naga Element yang melindungi ku dari orang-orang yang mengejar ku.”
“Naga Element? Bukankah itu hanya legenda saja, bagaimana mahkluk legenda seperti itu ada disini?” Ucapku terkaget.
Paman itu Nampak biasa saja. “Naga itu Bernama Aurelius, dia adalah partnerku, dan juga aku menyegel kekuatannya dengan pedang yang tertancap di tubuhnya.”
Aku Nampak semakin bingung dengan apa yang di ucapkan paman itu. Namun paman itu tak memberikan jawaban dengan jelas.
“Kalau alasanku menyelamatkanmu, karena aku sangat tertarik denganmu.” Ucap paman itu tersenyum. “Sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur sekarang.”
“Baiklah, selamat malam paman.”
Saat aku melihat paman itu yang sendirian, aku bisa merasakan betapa kesepiannya paman ini, di masa tuanya itu.
“Oh ya, aku hampir lupa. Meskipun aku tidak bisa melihat kemana arah mereka pergi, tapi keluargamu dan teman-temanmu itu semuanya selamat.”
“Mereka selamat.” Perasaanku campur aduk, tapi aku sangat bersyukur karena semuanya selamat, tak terasa air mata terjatuh di mataku. “Terima kasih, paman.”
__ADS_1
...****************...