
Saat aku melihat semua anak-anak itu, mereka sempat menangis ketakutan karena keadaan yang terjadi, aku mewajarkan kenapa anak-anak itu menangis ketakutan karena memang situasi saat ini tidak bisa di pahami oleh anak-anak. Walaupun saat ini tubuhku masih anak-anak tetapi pemikiranku sudah setara dengan orang dewasa.
“Sudah-sudah jangan menangis, semuanya sudah aman.” Ucapku sambil menuntun anak-anak itu keluar.
Saat semuanya keluar ada satu anak yang menghampiri anak laki-laki yang tadi di hajar oleh para pedagang budak itu, dia memegangi tubuhnya dan berusaha membangunkan anak itu.
Aku menghampiri anak itu dan berusaha menenangkannya. “Dia baik-baik saja, dia hanya pingsan.”
Anak itu melihatku sambil terus menangis. “Bagaimana dia bisa seperti ini?”
“Apa namamu Ariel?” Tanyaku sambil memegang pundaknya.
Anak itu menganggukkan kepalanya. “Iya namaku Ariel Arion Belmont.”
Aku tersenyum. “Anak ini tadi berusaha melawan orang dewasa untuk menyelamatkanmu, sepertinya kau memiliki teman yang sangat baik.”
Ariel memegang tangan anak itu, air matanya menetes di pipinya berharap anak itu bisa bangun. “Kenapa kamu melakukan itu Avalon? Harusnya kamu tidak perlu melakukan hal itu.” Ariel merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
Namun, saat kesedihan memuncak, tangan Avalon menggenggam tangan Ariel. Matanya terbuka, dan dia menatap Ariel. "Nona Ariel, syukurlah Anda selamat. Kita harus pulang. Ayah Anda pasti cemas dengan kondisi Anda saat ini."
"Syukurlah, syukurlah kamu selamat," ucap Ariel sambil menangis.
Avalon melihat kearah ku, dia berusaha waspada dengan kehadiranku. “Mundur lah nona!” Ucap Avalon berusaha melindungi Ariel dan berdiri di hadapanku. “Dia orang yang berbahaya.”
Aku berusaha meluruskan salah paham yang terjadi. “Sepertinya kau salah paham.” Aku berusaha tidak memperbesar masalah.
Avalon menatapku dengan tajam. “Tadi aku melihatmu mengalahkan para orang dewasa itu, dan juga kamu menggunakan Aether. Sebenarnya siapa kamu dan apa tujuanmu?”
Tiba-tiba Ariel berusaha menahan Avalon. “Tunggu Avalon, dia bukan orang jahat, dia menyelamatkan kita dari orang dewasa itu.” Anak-anak yang lainpun setuju dengan ucapan Ariel.
Avalon yang lebih mementingkan Ariel di banding dengan apapun langsung meminta maaf atas perbuatan yang dia lakukan kepadaku. “Maafkan saya, saya barusan terbawa emosi. Dan terima kasih karena telah menyelamatkan nona Ariel.” Avalon menundukkan kepalanya.
Sebenarnya apa yang telah di lalui anak itu, anak yang berusia sebaya denganku tetapi dia bisa bersikap tenang dan membaca situasi, dan juga kenapa dia memanggil Ariel dengan kata nona. Aku yang semakin bingung dengan keadaan yang terjadi berusaha tidak memikirkan hal yang rumit.
Setelah semuanya aman aku ingin secepatnya meninggalkan hutan ini dan kembali kepada keluargaku, karena keluargaku masih belum mengetahui keadaanku saat ini. Aku berusaha mencari barang-barang yang berguna yang bisa aku pakai dari bekas para pedagang budak itu, namun tak banyak yang berguna aku hanya mendapatkan sebuah pakaian, mantel, tas, dan juga beberapa persediaan makanan.
Ariel bersama anak-anak lain mendekatiku. “Anu… aku belum tahu namamu?” Tanya Aurelia
Aku memperkenalkan diriku dan juga Aurelia. “Namaku Arthur Venturis kalian bisa memanggilku Arthur. Dan Binatang yang ada di kepalaku Bernama Aurelia.”
“Kamu memelihara kadal?” Tanya anak Elf yang berdiri di samping Ariel.
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, tidak. Ini bukan kadal tetapi anak naga.”
“Wah… Bagaimana kamu menemukan anak naga itu?”
“Ceritanya Panjang dan nggak akan mudah dimengerti oleh anak kecil.” Ucapku sambil tertawa kecil.
“Bukannya kamu juga anak kecil?” Tanya anak itu marah.
Kamipun saling berkenalan satu sama lain dan aku mulai mengetahui nama-nama mereka, yaitu Ariel dan Avalon yang sepertinya mereka sudah saling kenal dari kecil, kemudian Siesta yang merupakan anak Elf yang tadi bertanya tentang Aurelia, dan yang terakhir adalah seorang dwaf yang bernama Kallen dia tampak tak banyak bicara.
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak bisa terus berada disini, aku harus kembali kepada keluargaku.” Aku berjalan meninggalkan mereka. “Senang bertemu dengan kalian sampai jumpa.”
Saat aku ingin berjalan meninggalkan mereka tiba-tiba Siesta menahan tanganku. Aku yang merasa tertahan langsung membalikan badanku dang menghadap kepada Siesta.
“Tunggu! Aku nggak tahu jalan pulang.” Ucap Siesta sambil bersedih. “Dan juga kami takut kalau ada orang dewasa yang jahat.”
Aku merasa tak tega meninggalkan mereka sendirian, ada rasa tanggung jawab yang mendorongku untuk melindungi mereka. Aku menghela nafas, "Baiklah, aku akan mengantar kalian pulang. Tapi setelah itu, aku harus kembali mencari ibuku."
Mereka senang dengan keputusanku dan kami berjalan bersama-sama untuk meninggalkan hutan ini. Sebelum pergi aku menyuruh mereka untuk membawa beberapa barang yang bisa di gunakan di kereta itu, setelah selesai kami pun berangkat.
Kami berjalan melintasi hutan dan lembah, sambil saling berbicara dan tertawa. Aku merasa hangat di dalam hati, karena setelah sekian lama aku merasakan apa itu memiliki teman dan juga karena memang di kehidupanku sebelumnya tak ada satu orang pun yang bisa aku panggil dengan kata teman. Aurelia, yang berada di kepalaku, turut menikmati momen ini dengan senang.
Tiba-tiba, sebuah kabut misterius menyelimuti sekitar kami. Suara gemuruh pun menggema di langit. Tanpa aba-aba, anak-anak itu menoleh ke arahku dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi?" tanya Ariel khawatir.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Ini terasa aneh." Aku berusaha waspada.
Aurelia berbicara dalam benakku, "Arthur, ada energi aneh di sekitar kita. Aku merasakan ada kekuatan Aether yang mengintai."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku dalam hati.
"Tetap tenang, kita harus berusaha melihat situasinya terlebih dahulu" balas Aurelia.
Kami melanjutkan perjalanan dengan waspada. Ketika langit semakin mendung, aku mengeluarkan pedang Excalibur yang telah berubah menyesuaikan tubuhku. Dalam pandangan anak-anak itu, pedang itu tampak lebih menakutkan dan kokoh.
Tiba-tiba, serangkaian hewan buas muncul dari balik kabut. Mereka menyerang dengan cepat dan ganas. Anak-anak itu takut, namun dengan berani, mereka membalas serangan hewan-hewan itu dengan apa yang mereka miliki.
Hewan-hewan buas itu semakin ganas dan jumlahnya tampak tak terhitung. Tubuhku terasa berat karena mencoba menghadapi serangan dari berbagai arah. Ariel, Avalon, Siesta, dan Kallen berusaha membantu, tapi mereka juga tak bisa melakukan apapun.
Aku merasa tekanan semakin besar, hewan-hewan itu semakin mendekati mereka. Aku harus bertindak cepat. "Avalon, bawa mereka menjauh! Aku akan mencoba menghadapinya!"
Avalon mengangguk dengan cemas dan menuntun anak-anak itu menjauh dari pertarungan. Aku berdiri dengan mantap, menyiapkan diri untuk menghadapi hewan-hewan buas yang mendekat.
Serangan pertama datang dengan cepat, aku berhasil menghindari dengan susah payah. Namun, hewan-hewan itu semakin banyak dan makin agresif. Aku berusaha menggunakan elemen api untuk melawan, tapi kendali atas kekuatan itu masih belum sempurna.
Tubuhku tergores oleh cakar dan gigitan mereka. Aku merasa nyeri, tapi tak boleh menyerah. Aku harus melindungi anak-anak ini, aku tak bisa biarkan mereka terluka.
Dengan nafas tersengal, aku berusaha menenangkan diri dan fokus. "Aurelia, bantu aku! Tunjukkan padaku cara mengendalikan Aether dengan lebih baik."
Aurelia mengeluarkan kekuatannya dan memberi petunjuk padaku. Aku mencoba berpikir lebih tenang dan memusatkan energi Aether dengan lebih tepat. Lambat laun, serangan-seranganku mulai menjadi lebih efektif dan terarah.
Meskipun aku masih jauh dari ahli, aku merasa sedikit lega melihat bahwa serangan hewan-hewan buas itu mulai teratasi. Namun, mereka masih belum menyerah. Aku harus terus melawan dan melindungi anak-anak ini sampai mereka aman.
Aku terus melawan hewan-hewan buas itu. Perlahan, satu per satu berhasil kuatasi. Namun, energi Aether yang kurasakan semakin menipis, tubuhku lelah dan goresan-goresan di tubuh semakin terasa.
"Aurelia, aku tak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Aku merasa kelelahan," ucapku dalam hati, sambil mencoba tetap tegar di hadapan anak-anak itu.
Aurelia memberikan dukungan, "Arthur. Pertahankan sedikit lagi. Aku yakin kau bisa melakukannya."
Saat itulah, hewan-hewan buas yang tersisa semakin bergerombol mendekatiku. Aku mencoba berpikir cepat untuk mencari solusi. Melawan mereka semua dengan kekuatanku yang tersisa, tak mungkin berhasil. Aku harus mencari cara lain.
__ADS_1
"Kalian harus melarikan diri, cepat! Tinggalkan aku di sini," Pintaku kepada Ariel, Avalon, Siesta, dan Kallen yang tampak cemas.
Tapi mereka tak mau meninggalkanku begitu saja. Ariel dengan tegas menolak, "Tidak! Kita takkan meninggalkanmu, Arthur. Kita berjuang bersama."
Sesaat kemudian, aku menyadari sebuah ide. "Aurelia, apakah kau bisa menggabungkan kekuatan Aethermu dengan kekuatanku? Kita perlu melepaskan serangan besar untuk menghadapi mereka."
Aurelia mengangguk dan melakukan sinkronisasi dengan energi Aetherku. Kekuatan kami berdua tergabung, Aku merasakan energi Aether yang sangat kuat, aku menatap hewan-hewan itu dengan fokus bersiap menyerang mereka dan menyalurkan Aether kepada pedangku, energi api mulai berkumpul pada ujung pedang, membentuk lingkaran berkilauan yang dipenuhi dengan nyala merah menyala. Cahaya yang memancar dari pedang itu menghilangkan kabut yang menyelimuti kami.
Dalam sekejap, aku bergerak maju dengan cepat, pedangku menorehkan garis merah membara di udara. Begitu pedang itu menyentuh hewan-hewan itu, terjadi ledakan luar biasa, menyemburkan lidah-lidah api yang membara.
“Fire Slash.” Aku mengeluarkan teknik tebasan yang diajarkan paman namun aku menggabungkannya dengan elemen api yang sudah diperkuat oleh Aurelia.
Serangan itu berhasil mengusir mereka sejenak, memberi kami waktu untuk melarikan diri. Namun, serangan ini juga memakan banyak energi.
"Tidak banyak waktu lagi, cepatlah," kata Aurelia khawatir.
Aku mengangguk dan bersama anak-anak itu, kami berlari secepat mungkin menuju tempat yang lebih aman. Tubuhku semakin lemah dan aku hampir tak bisa berjalan. Namun, aku harus terus bertahan.
Beruntung, kami berhasil mencapai sebuah sungai kecil yang memisahkan hutan dari daerah yang lebih aman. Aku menghentikan langkah dan bersandar di pohon. Nafasku tersengal dan kaki hampir tak mampu berdiri.
"Terima kasih, Arthur," ucap Ariel, sambil menahan napas. "Kau menyelamatkan kami."
Aku tersenyum lemah, lalu mengalihkan pandangan. Saat aku tak sadarkan diri, aku teringat kejadian traumatis di kehidupanku dulu, saat selalu ditindas oleh brandalan-brandalan di sekolah.
“Oi bajingan, cepat belikan roti, kalau tidak kau akan ku pukulan.” Ucap bayangan brandalan itu yang muncul di mimpiku.
“Jangan menatapku, pembunuh.” Ucap bayangan lainnya, memperlihatkan tinjunya.
Saat aku hampir dipukul, aku tersadar dari tidurku, rasa sesak memenuhi pernafasanku. Aku mengatur nafasku, menyadari bahwa aku sudah lama tidak bermimpi buruk setelah datang ke dunia ini. Aku kembali melihat sekitar, dan terkejut dengan sosok yang ada di sampingku, ternyata Siesta tertidur di sana
Avalon yang melihatku sudah terbangun langsung menghampiriku. “Kau baik-baik saja Arthur? Tanya Avalon.
“Ya aku baik-baik saja.” Aku tersenyum. “sudah berapa lama aku tertidur? Dan dimana kita saat ini?” Ucapku berusaha memahami situasi saat ini.
“Kau sudah tertidur selama 6 jam, dan kita masih ada di dekat sungai tempat kita berhasil melarikan diri.” Ucap Avalon memberikan informasi tentang apa yang terjadi.
Siesta terbangun dari tidurnya, dia yang melihat aku terbangun langsung terkejut. “Arthur sejak kapan kau bangun?” Tanya Siesta dengan nada khawatir.
Aku tersenyum. “Baru saja aku bangun.”
Ariel tiba-tiba datang menghampiriku. “Kau tahu Arthur, sejak kau dari awal pingsan Siesta menangis karena merasa bersalah telah memintamu untuk mengantar kita pulang.”
Wajah Siesta memerah dan berusaha menutup mulut Ariel. “Ah… Sudah aku bilang jangan memberitahunya.”
Aku tertawa kecil kemudian tersenyum kepada Siesta. “Terima kasih ya, karena telah mengkhawatirkanku.”
“Lebih baik kau istirahat terlebih dahulu dan pulihkan energimu kami akan menunggumu diluar.” Ucap Avalon sambil berjalan bersama Ariel dan Siesta meninggalkanku.
Semua orang pun keluar dari tenda, aku melihat Aurelia yang masih tertidur membiarkan untuk beristirahat, namun dalam pertarungan tadi, aku menyadari betapa banyak hal yang harus kumiliki dan ku sempurnakan. Aku belum benar-benar mengenal diriku dan potensi kekuatanku. Aku masih lemah, aku harus terus berusaha dan belajar agar bisa menjadi lebih kuat.
...****************...
__ADS_1