
Empat tahun berlalu setelah aku berinkarnasi di dalam tubuh kecilku ini, sekarang aku sudah mulai terbiasa dan juga aku sudah mulai ahli dalam mengayunkan pedang setelah ayahku melatihku dalam Teknik berpedang.
Dan juga sudah satu tahun aku bermeditasi rasanya seperti Aether core ku akan segera bangkit, malam ini di tempat biasa aku bermeditasi yaitu kamar ku, aku mulai melakukan meditasi mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan Aether yang belum terkumpul di inti core ku.
Aku berusaha keras untuk mengendalikan Aether di dalam diriku dan membentuk Aether core yang stabil. Semakin lama aku melakukannya, semakin nyaman aku dengan energi yang ada di sekitarku.
Ketika aku terus berlatih dan fokus pada meditasi ku, aku merasa energi Aether di dalam diriku semakin kuat. Aku memusatkan pikiranku pada kepingan-kepingan Aether yang tersebar di tubuhku, dan secara perlahan mereka mulai menyatu menjadi satu inti yang stabil.
Namun, aku tidak menyadari seberapa besar energi yang sedang aku kumpulkan. Kekuatan yang tumbuh di dalam diriku melebihi kapasitas yang dapat aku kendalikan. Dan tiba-tiba, dalam momen meditasi puncak ku, sebuah ledakan terjadi.
Seketika itu, udara di sekitarku robek dan guncangan hebat mengguncang seluruh kamar. Cahaya terang memenuhi ruangan, memancarkan kekuatan Aether yang meluap-luap. Suara dentuman menggelegar bergema, membuatku terdiam sejenak.
Ibu dan ayahku, yang terkejut dengan ledakan itu, langsung berlari menuju kamarku. Mereka masuk ke dalam kamar yang penuh debu, dan melihat pemandangan yang luar biasa. Aku berdiri di tengah kamar, dikelilingi oleh energi Aether yang terang membara.
“Sayang aku tidak menyangka, anak kita yang baru berusia 4 tahun dia sudah membangkitkan Aether .” tanya ibuku dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Aku juga sayang, sepertinya kita harus memberikan Arthur seorang guru untuk membimbingnya belajar dalam menguasai Aethernya.”
Ayahku mengangguk mantap. “Arthur, sepertinya kamu harus memiliki guru yang bagus untuk membantumu mendapat pelatihan Aether yang baik. Beberapa bulan lagi kita akan pindah menuju kerajaan Eterealis untuk mencarikan mu guru.”
Setelah beberapa minggu setelah aku membangkitkan Aether core ku, aku mulai berlatih untuk mengendalikan Aether yang dapat aku gunakan, dan setelah berlatih mengendalikan Aether aku langsung berlatih pedang bersama ayahku. Saat ini kami akan melakukan sparing.
Aku berdiri tegak di atas arena latihan, memegang pedang kayuku dengan mantap. Ayahku berada di sisi berlawanan dengan senyum bangga di wajahnya.
"Siapkah, Arthur?" tanyanya dengan penuh semangat.
"Aku siap, ayah!" jawabku dengan semangat yang sama.
Kami saling berhadapan, dan ayahku melambaikan tangannya memberi isyarat untuk memulai. Kami mulai bergerak, berputar dan mengayunkan pedang dengan penuh keahlian. Aku merasa energi Aether di dalam diriku mengalir dengan lebih kuat daripada sebelumnya, memberi aku ketangkasan dan ketepatan dalam setiap gerakan.
Ayahku adalah seorang petualang yang tangguh, dan dia sudah mengajari aku banyak teknik pedang. Sparing kali ini adalah kesempatan bagiku untuk menguji kemampuan dan kemajuanku setelah membangkitkan Aether core.
Kami saling beradu serangan dengan cepat dan lincah. Aku mengandalkan Aether untuk memperkuat gerakanku, sedangkan ayahku menggunakan pengalamannya sebagai petualang untuk merespons dengan cepat dan cerdik.
Selama latihan, aku mencoba merasakan setiap aliran Aether di tubuhku dan mengarahkannya ke pedangku. Energinya memberiku ketepatan dan kekuatan yang luar biasa. Dalam beberapa kesempatan, Aether bahkan membantuku menebak gerakan ayahku sebelum dia melakukannya.
Waktu berlalu begitu cepat saat kami terus berlatih. Ayahku memberikan banyak petunjuk dan koreksi pada teknikku, dan aku dengan antusias menerimanya.
"Bagus, Arthur! Teruslah fokus pada aliran Aethermu dan menggabungkannya dengan gerakan pedangmu," kata ayahku, memberiku dorongan.
Perlahan, aku merasa semakin menguasai Aether dan pedangku dengan lebih baik. Kemampuanku meningkat dari satu putaran ke putaran berikutnya. Aku sangat berterima kasih kepada ayahku yang telah memberiku kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Setelah latihan selesai, kami berdua mengambil napas dalam-dalam, tersenyum satu sama lain.
"Kamu benar-benar luar biasa, Arthur. Besok kita akan pergi ke kota Eterealis, maka siapkan dirimu." ucap ayahku dengan bangga.
"Terima kasih, ayah." Jawabku.
Saat sebelum berangkat menuju kota Eterealis anggota party ayahku datang untuk mengantar kami menuju kota Eterealis. Mereka adalah Phoenix Vanguard. Anggota yang pertama adalah Yara Stromdancer Seorang Half-elf yang merupakan teman lama ayahku Yara adalah Mystic Mage yang memiliki afinitas dengan angin dan air. Dia adalah ahli dalam sihir elemen. Yara selalu siap membantu dengan pengetahuannya yang luas tentang dunia Aetheria dan rahasia alam yang dia memiliki.
Yang kedua adalah Dorn Ironhammer adalah seorang yang kuat dan penuh semangat, Dorn adalah teman setia ayahku. Sebagai seorang Mystic Warrior, Dorn menguasai sihir elemen api dan tanah dengan baik. Dia adalah tangan kanan ayahku dalam pertarungan dan menjadi kekuatan andal dalam menghadapi musuh-musuh berat.
__ADS_1
Yang ketiga adalah Lyra Wildheart Seorang beastkin yang ramah dan pemberani. Lyra adalah seorang Mystic Mage dengan afinitas api dan air. Dia memiliki kemampuan langka untuk mengendalikan petir dan kabut, membuatnya menjadi anggota party yang unik dan kuat dalam pertempuran.
Yang keempat adalah Dave Frostbourne seorang manusia sama seperti ayahku dia adalah orang yang sering bercanda dan senjata andalan dia adalah tombak. Dave merupakan Mystic Warrior dengan afinitas api.
Yang terakhir adalah Cassandra Nightshade seorang manusia yang merupakan anggota party termuda. Cassie merupakan seorang Mytic Warrior yang menggunakan dua pedang sebagai senjatanya. Dan Element afinitasnya adalah angin.
Saat sebelum kami berangkat ibu dan ayahku memberikan sebuah informasi yang sangat penting kepadaku.
“Arthur mulai hari ini kamu akan menjadi seorang kakak, dan kamu nanti harus melindungi adikmu. Jadi kamu harus menjadi orang yang kuat” Ucap Ayahku memberitahuku.
Aku yang mendengar perkataan ayahku langsung terdiam, dan juga sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang kakak, dimana di kehidupan masa lalu ku, aku tidak pernah merasakan menjadi kakak. Dan juga aku senang karena aku memiliki keluarga yang menghawatirkan ku.
kami berangkat dari rumah menuju kota Eterealis. Perjalanan kami akan memakan waktu beberapa hari, dan selama perjalanan itu, aku merasa senang karena ternyata party Phoenix Vangurd merupakan orang-orang yang ramah.
Anggota party ayahku, Phoenix Vanguard, berjalan bersama kami. Mereka adalah teman-teman setia ayahku, dan aku merasa aman dan nyaman di antara mereka. Yara, Dorn, Lyra, dan Cassie memberikan dukungan dan semangat padaku saat kami berjalan menuju kota Eterealis.
Selama perjalanan, Yara dan Lyra mengajarkan aku beberapa trik tentang penggunaan sihir angin dan air. Mereka melihat potensi dalam afinitas elemenku dan memberiku beberapa petunjuk yang sangat membantu. Aku merasa terhormat dan beruntung bisa belajar dari para ahli sihir seperti mereka.
Keesokan harinya, saat malam telah tiba, kami berkumpul di tempat kami beristirahat. Dave, dengan penuh semangat, mengajakku untuk sparing. “Lucas apa aku boleh melawan anak mu yang jenius ini?” Tanya Dave kepada ayahku.
“Ya silahkan, tapi jangan terlalu kasar, aku baru mengajarkan beberapa teknik dasar berpedang saja.”
Apa mereka gila? Membiarkan anak berusia 4 tahun untuk bertarung melawan veteran petualang. Aku pun menarik nafas dalam-dalam.
Kami berdua berdiri di tengah lapangan terbuka yang menjadi tempat kami berkemah. Ayahku dan anggota party lainnya membentuk lingkaran di sekitar kami, menjadi penonton dalam latihan kami.
"Siapkah, Arthur?" tanya Dave sambil mengayunkan tombak kayunya dengan percaya diri.
Kami bersiap untuk memulai. Aku memusatkan pikiranku pada aliran Aether di dalam diriku, merasakan kekuatannya mengalir dengan deras. Energinya memberiku kecepatan dan ketepatan dalam setiap gerakan.
Dave melepaskan serangan pertamanya dengan cepat, mengayunkan tombaknya ke arahku. Aku menghindar dengan lincah dan menghadapi serangannya dengan pedangku. Percikan Aether melesat dari pedang ku saat saling bertabrakan, menciptakan sinar cahaya yang memukau.
Sparing kami berlangsung intens dan menegangkan. Dave memiliki kemampuan fisik yang luar biasa dan teknik bertarung yang tangguh. Namun, aku memanfaatkan kecepatan dan ketepatan Aether untuk menjalankan gerakan-gerakan yang efisien dan memprediksi serangannya dengan lebih baik.
Kami bertarung dengan semangat dan rasa persaingan yang sehat. Saat Dave mengayunkan tombaknya, aku dengan cepat mengalihkan serangannya dengan memanfaatkan kecepatan Aether untuk menghindar, lalu mengambil kesempatan untuk melakukan serangan balasan.
Konsentrasi penuh terhadap Aetherku membantu memberiku keunggulan dalam menyerang dan bertahan. Aku berlari menuju Dave dengan intimidasi yang kuat, memekatkan Aether di sekitar pedangku. Dave yang kehilangan fokus langsung menyerang secara sembarang, dan aku melihat celah untuk melakukan serangan.
Tanpa ragu, aku melompat maju dengan gerakan lincah, berusaha menebas tubuh Dave. Dave yang merasa bahaya langsung merespons dengan menyerangku menggunakan tongkatnya. Aku menghindar dengan segera, namun serangannya masih berhasil mengenai tubuhku, dan aku terlempar keluar dari lingkaran yang telah dibentuk ayahku.
Ibu yang melihatku terkena terpental karena serangan Dave langsung berlari mendekatiku. “Apa kamu tidak apa-apa Arthur?”
Aku hanya tertawa kecil dengan luka ringan yang ada di beberapa tanganku. “Hahaha, aku tidak apa-apa ibu, aku hanya kurang waspada barusan.”
Kemudian ibuku menyembuhkan semua luka-luka yang aku terima saat sparing barusan.
Yara langsung mendekati Dave dan langsung menjambak rambutnya. “Tadi Lucas bilang jangan terlalu kasar dengan Arthur, tapi kau malah melukainya.”
Dave berusaha memberikan alasan. “Lucas tadi kau bilang dia baru menguasai teknik dasar berpedang, tapi kenapa dia sangat ahli dalam menyalurkan Aether dalam bertarung?” Tanya Dave kepada Lucas.
Lucas hanya memberikan sedikit penjelasan. “Mungkin karena dia sudah berlatih Aether saat dia telah membangkitkan inti corenya.”
__ADS_1
“Ternyata kau sudah membesarkan seorang Monster.”
Cassie yang penasaran dengan gerakan terakhirku langsung bertanya kepadaku. “Tadi, kenapa kau bisa melakukan gerakan seperti ingin menerkam terus meloncat ke atas dan berusaha menebasnya?”
Aku menjelaskan apa yang terjadi. “Aku hanya meniru gerakan ayahku saat Latihan di rumah, mungkin karena tubuhku yang kecil aku memanfaatkan pemekatan Aether untuk membantuku menghindar dari serangan Dave dan kemudian membantu meloncat lebih tinggi.”
Keesokan harinya, setelah malam yang panjang, kami memutuskan untuk berangkat menuju kota Eterealis. Perjalanan kami berjalan lancar di awal. Kami melewati hutan-hutan yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dengan tenang. Namun, ketenangan kami segera terganggu ketika kami mendekati sebuah lembah yang curam.
Tiba-tiba, kami dihadang oleh sekelompok bandit yang muncul dari balik semak-semak. Mereka berjumlah lebih banyak daripada kami, dan dengan pedang dan busur yang mereka pegang, mereka dengan jelas berniat untuk merampok dan menyakiti kami.
Dave menyiapkan tombaknya, dan Yara siap dengan mantra sihirnya. Dorn dengan gigih menggenggam gada besarnya, dan Lyra menggeretakkan giginya dengan kuat. Cassie berada di sampingku dia sangat berhati-hati takut aku dan ibuku kenapa-napa.
"Jangan sakiti Wanita dan anak-anak, karena barang yang cacat dapat mengurangi harga jual." teriak seorang pemimpin bandit sambil mengayunkan pedangnya dengan ancaman.
Aku yang mendengar perkataan bandit ini sedikit tersulut emosi, di dunia manapun akan selalu ada orang rendahan yang menganggap manusia itu barang.
“Arthur jaga ibumu, biar aku yang mengurus bandit-bandit yang akan menyerang kita.” Cassie memintaku untuk tidak ikut bertarung.
“Tapi aku juga bisa bertarung.” Ucapku sambil memegang pedang kayuku.
Tiba-tiba seorang Mystic Mage musuh melakukan serangan. “Dengan kekuatan api yang membara, bentuklah menjadi panah, bakar lah. Flaming Arrows.”
Panah berapi mulai menyerang kami tetapi Yena tidak tinggal diam dia langsung melakukan sihir pertahanan. “Dengan kekuatan angin yang kencang berputar, bentuklah barrier ku hancurkan semua yang mendekat. Tornado shield.”
Yena membuat sebuah barrier dari angin untuk menahan panah api, Dorn yang memiliki kesempatan untuk menyerang lawan langsung mengangkat tanah di sekitarnya dan membuat dinding tanah. Ayahku dan Dave langsung menyerang bandit-bandit yang berada di sekitar ketua bandit itu.
Namu nada beberapa bandit yang memang tidak bisa Ayahku lawan karena mereka mengincar ku dan ibuku. Namun Cassie dengan cepat menebas beberapa bandit yang akan menyerang ku dengan dua pedangnya.
Saat kami mulai mendominasi keadaan ternyata Mystic Mage musuh tidak hanya satu melainkan tiga. Salah satu Mystic Mage musuh melakukan serangan. “Dalam ledakan air yang melanda, ku pancarkan energi serangan ini hantamlah musuh dengan kekuatan ledakan air yang mematikan. Aqua nova.”
Sebuah ledakan air mengarah ke arahku, Lyra yang melihat serangan itu langsung berusaha melindungi ku “Dengan air yang berada di depanku tunduklah, patuhi perintahku. Control Area.” Lyra mengeluarkan sihir air tingkat tinggi yang memungkinkannya untuk mengontrol semua air yang ada di sekitarnya.
Pertarungan pun tak terhindarkan. Yara dengan cepat merapal mantra, mengirimkan serangan angin dan air ke arah para bandit. Beberapa bandit berhasil dihempaskan oleh angin kencang, sementara yang lain terkena percikan air yang menusuk seperti jarum.
Sementara itu, Dorn maju dengan gigih, memukul tanah dengan gada besarnya. Sebuah guncangan keras menyebar di sekitar area pertempuran, mengirimkan beberapa bandit terbang ke udara dan membuat mereka kehilangan keseimbangan.
Lyra berlari menuju bandit dengan lincah, menggerakkan kedua tangan nya dan melepaskan gelombang api dan air yang mengguncang. Bandit-bandit yang terkena serangan itu berteriak kesakitan, merasa kewalahan oleh kekuatan gabungan elemen Lyra.
Saat semua orang sedang sibuk melawan ketua bandit itu, tiba-tiba serangan bola api mengarah ke ibuku. Aku yang melihat ibuku dalam bahaya berusaha berpikir untuk menyelamatkannya. Aku bisa melindungi diriku dengan menyelimuti diriku dengan Aether tetapi ibuku yang sedang hamil ia tidak bisa melakukannya. Aku pun memekatkan Aether kedalam kakiku dan berlari menuju ibuku kemudian mendorongnya dari bola api tersebut.
“Ibu awas.”
Aku yang terkena serangan itu terpental menuju jurang yang sangat dalam. Ah baru saja aku merasa bersyukur karena telah dilahirkan kembali, tetapi aku harus kembali mati.
“Arthur!” Teriak ibuku meneriaki ku yang terjatuh kedalam jurang.
Semua anggota party Phoenix Vanguard mengalahkan semua bandit tersebut. Ayahku sangat menyesal karena tidak bisa melindungi ibuku dan diriku, sedangkan ibuku yang panik dia pingsan karena melihatku terjatuh.
Saat aku mulai kehilangan kesadaran tiba-tiba sebuah cahaya muncul menerangi tubuhku dan melenyapkan ku saat itu juga.
...****************...
__ADS_1