Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs

Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs
Menyelamatkan seseorang


__ADS_3

Ketika cahaya teleport mereda, aku sadar bahwa aku sudah berada di tempat yang berbeda. Aku berada di tepi hutan yang berada di dekat hutan Eralianth. Tak terasa sudah 6 bulan aku menghabiskan waktu bersama paman Helios,semuanya tampak cepat berlalu, kepalaku di penuhi kenangan bersama paman Helios. Selama waktu yang nggak terlalu singkat dan nggak terlalu lama itu, paman memperlakukanku seperti guru dan juga anaknya. Dan mengajariku hal-hal yang kurang dalam diriku selama aku datang ke dunia ini.


Rasa frustasi menghantui hatiku, tiba-tiba pedang yang tergeletak di sampingku mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Saat aku mulai memperhatikan pedang itu, muncul sesosok hewan yang sangat mirip dengan anak reptile tercipta dari pedang itu.


“Ada apa ini, apa yang keluar dari pedang yang di berikan paman?” Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


“Kenapa seekor kadal keluar dari pedang itu?” Ucapku sambil terkejut.


Kadal itu tiba-tiba bicara. “Diam lah bocah jangan besik.”


Aku semakin terkejut. “Ada kadal yang bisa bicara.”


Binatang itu marah. “Aku bukan kadal, tapi naga!”


Aku berusaha menenangkan pikiranku, pandanganku masih tertuju pada naga yang terbentuk dari cahaya pedang itu.


“Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan terkait kejadian ini.” Ucapku sambil menarik nafas. “Sebenarnya siapa paman Helios? Kenapa orang yang memiliki perawakan yang sama seperti paman Helios, mengejar paman? Lalu kenapa paman menyuruhku menjaga pedang ini? Dan kenapa kau bisa keluar dari pedang ini?” Tanya ku berusaha mencari tahu kebenaran sebenarnya.


Naga ini mulai melompat ke kepalaku, kemudian duduk di atas rambutku. “Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu itu, karena aku baru saja di bangkitkan dari energi Aether milik Aurelius yang tersegel di pedang itu, atau lebih tepatnya aku saat ini adalah anak dari Aurelius. Dan pedang itu adalah salah satu dari 7 senjata legendaris yaitu ego weapon Excalibur.”


“Anak Aurelius? Senjata legendaris?” Aku berusaha mencerna semua kejadian yang tak terduga ini.


Aku kemudian mengambil pedang  itu, tetapi sebuah cahaya kemudian bersinar lagi dari pedang tersebut, Inti Aetherku tiba-tiba beresonansi dengan pedang tersebut, dan tiba-tiba pedang yang cocok untuk ukuran orang dewasa berubah menyesuaikan tubuhku.


“Pedangnya menyusut? Sekarang ukurannya susuai dengan postur tubuhku.” Gumamku sambil memandangi pedang yang saat ini aku pegang.


Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seseorang, Aku langsung menyimpan pedang itu kemudian berjalan menuju sumber suara itu berada. Sambil menuju sumber suara aku


“Kau mau kemana bocah?” Ucap naga itu yang masih berada di kepalaku.


“Aku mendengar suara teriakan seseorang. Dan juga jangan panggil aku bocah, namaku Arthur kamu bisa menyebutku Arthur.” Ucapku yang kesal karena selalu di panggil bocah oleh anak naga itu. “Dan juga aku belum tahu namamu?”


“Aku tak punya nama karena aku baru saja tercipta saat aku keluar dari pedang itu.”


Aku tersenyum sambil terus berlari menuju sumber suara itu. “Baiklah biar aku yang memberikan nama untukmu. Karena kau anak dari Aurelius dan tubuhmu berwarna hitam pekat aku akan memanggilmu Aurelia.”


Naga itu terlihat senang saat aku memberikan nama Aurelia padanya. “Baiklah, sepertinya tidak buruk.

__ADS_1


Saat aku sampai di sumber suara kulihat ada sekelompok orang yang sedang berkumpul, tetapi ada kejanggalan, mereka seperti membawa anak-anak, saat aku melihat lebih fokus ternyata itu adalah kawanan para pedagang budak yang sedang menculik anak-anak sepantaran denganku. Aku terkejut menemukan bahwa mereka membawa anak-anak, bahkan beberapa di antaranya adalah ras Elf dan Dwarf.


Apa aku harus menyelamatkan mereka? Tapi aku belum pernah melakukan pertarungan yang harus mengorbankan nyawa, dan juga tidak ada alasan bagiku untuk mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan mereka. Tetapi sebelum aku sempat menentukan apa yang harus kulakukan, tiba-tiba para pedagang itu mulai menyiksa anak-anak itu dengan kejam. Tangis mereka memecah hening di hutan, dan itu membuat jantungku semakin berdegup kencang. Aku merasa harus berbuat sesuatu untuk membantu mereka.


“Jangan menangis sudah cepat masuk!” Ucap salah satu pedagang budak itu sambil melemparkan anak-anak itu kedalam kereta kuda.


“Sepertinya ini anak yang cukup baik, jika kita menjualnya ke pelelangan para budak, sepertinya anak Elf ini akan mendapat nilai yang tinggi.” Ucap teman dari pedagang budak itu sambil menjambak rambut anak kecil dari ras Elf itu.


“Kalian berdua coba urus anak laki-laki ini, dia dari tadi sangat berisik.” Ucap pedagang budak yang baru saja datang melemparkan seorang anak manusia kedepan dua bandit yang tadi.


“Lepaskan nona Ariel bandit brengsek!”


“Oi bocah.” Ucap pedagang budak yang tadi menjambak anak dari ras Elf. “Kau harus di beri pelajaran karena berbicara tidak sopan pada orang tua.” Kemudian menendang anak itu.


“Cepat lepaskan nona Ariel.” Ucap anak itu sambil menahan rasa sakit dari siksaan pedagang budak itu.


Tangisan anak itu mengingatkanku pada diriku di kehidupan yang dulu. Aku teringat bagaimana aku sendiri sering dirundung dan merasa tak berdaya. Jika aku membiarkan mereka seperti itu, aku sama saja dengan orang-orang yang hanya melihatku dalam penderitaan tanpa menolongku.


Namun Aurelia mengingatkanku untuk aku tidak ikut campur dengan para pedagang budak itu karena bisa membahayakan keselamatanmu. “Arthur, sepertinya kita harus pergi, sebelum para pedagang budak itu menyadari keberadaan kita.”


Aurelia mengikuti perkataanku, aku berencana untuk menghabisi para pedagang budak itu saat mereka sedang lengah dan juga terpisah dari kawanannya, karena berhadapan langsung dengan mereka bertiga sama saja dengan bunuh diri. Aku terus memata-matai mereka sambil menunggu dan mengumpulkan kekuatan agar aku bisa melakukan serangan saat mereka lengah. Setelah beberapa saat aku melihat pedagang budak yang tadi membawa anak laki-laki itu sedang berjaga sendirian dan juga jauh dari teman-temannya.


Aku membulatkan hatiku, jika aku tidak bertarung dengan niat membunuh maka aku akan kalah, walaupun ini berarti setelah ini aku akan menjadi pembunuh sebenarnya, seperti ucapan orang-orang di kehidupanku dulu saat tragedi kematian Elisia.


Aku memekatkan Aether di telapak kakiku, dan aku  langsung menerjang maju tanpa suara , namun saat ingin menikam pedagang budak itu aku kehilangan tekadku untuk membunuh pedagang itu, karena tetep saja aku tak ingin membunuh seseorang.


Pedagang budak yang melihat aku ingin menyerangnya langsung mencekik leherku. “Sepertinya ada tikus yang mau main-main denganku.”


Aku mengerang kesakitan nafasku semakin sesak, namun tiba-tiba Aurelia yang berada diatas kepalaku mengeluarkan serangan api yang membakar kepala pedagang budak itu hingga mati.


“Arthur! Jangan ragu.” Aurelia meyakinkanku. “Jika kau tidak membunuh maka kau yang akan terbunuh, dan jika kau ragu, kau takan bisa mewujudkan apa pun.”


Aku mulai menarik nafasku mencoba fokus dengan keadaan dan memantapkan hatiku. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menyelamatkan anak-anak itu. Sambil terus bersembunyi dengan menghilangkan hawa keberadaan ku. Aku mulai menghabisi pedagang budak kedua dengan pedang yang sudah aku aliri dengan Aether. Namun nampaknya tebasanku terlalu dangkal, aku langsung menusuk jantungnya dan pedagang budak itu mati.


Saat aku baru saja selesai menghabisi pedagang budak itu ternyata salah satu temannya menyadari keberadaan ku dan langsung memukulku.


“Arthur di belakangmu.” Aurelia memberitahuku tentang pergerakannya, dan aku berhasil menghindari serangannya tepat waktu.

__ADS_1


Aku langsung melompat keatas dan langsung menebasnya, namun pedagang budak itu menahan tebasanku dengan senjatanya. Aku mundur kebelakang mencoba mencari celah untuk melakukan serangan berikutnya.


"Kau cukup pandai menggunakan pedang untuk seekor tikus sepertimu," ejek pedagang budak itu, mencoba memprovokasi diriku.


Aku merespons dengan tenang, mencoba memancing amarahnya. "Paman sepertinya, paman lemah ya, sampai tidak bisa membunuh tikus yang ada di hadapan paman. Atau jangan-jangan paman adalah yang terlemah di kelompok paman."


Provokasi ku berhasil membuat dia terpancing, dan dia segera menyerang ku, serangannya memenuhi kebencian dan langsung menerjang ku. “Beraninya kau!” Ucapnya sambil berteriak.


Tapi aku berusaha menghindarinya dengan kecepatan yang dipertajam oleh Aether. Serangannya membabi-buta, aku berusaha menghindar semua serangannya dengan mempercepat gerakan tubuhku dengan Aether. Saat dia mencoba menusukku, aku melihat celah di bi kakinya. Aku langsung menunduk dan langsung menebas kaki yang merupakan tumpuannya. “Ah… Maafkan aku paman sepertinya aku terlalu berlebihan menebas kaki paman.” Ucapku sambil berbalik di hadapannya. “Seharusnya aku langsung membunuhmu saja, serangga sepertimu tidak layak untuk hidup.” Ucapku sambil memandang dingin Pedagang budak itu.


Pedagang budak memegang kakinya yang aku tebas. “Ah… kakiku.” Pedagang budak itu menangis ketakutan. “Si- siapa kau sebenarnya.”


Aku menatap dingin sambil bersiap menebas jantungnya. “Orang yang akan mati, tidak perlu tahu apapun lagi.” Aku menebas pedagang budak itu.


Aku menatap langit dan entahlah aku sama sekali tidak memiliki rasa sesal setelah aku menghabisi mereka semua, dan mungkin ini adalah hal yang takan pernah mungkin dariku dari masa lalu melakukan ini.


“Apa kau tidak apa-apa Arthur?” Tanya Aurelia yang melihatku terdiam di depan mayan perampok itu.


Aku menghela nafas. “Aku tidak apa-apa, hanya saja aku terlalu banyak membuang energi.”


“Lebih baik kau mengubur semua jasad pedagang budak itu dengan sihir elemen tanah, sebelum kau membebaskan anak-anak.”


Aku merenung. “Tapi aku tidak bisa menggunakan elemen, aku tak memiliki afinitas dari setiap elemen.”


Aurelia memukul kepalaku. “Kau ini bicara apa? Jelas-jelas dirimu memiliki afinitas dari semua elemen.”


Aku terkejut dengan ucapan Aurelia kemudian aku berusaha berkosentrasi pada inti Aetherku, merasakan aliran dari Aether tapi tak seperti sebelumnya, kini aku merasakan empat perubahan dari Aetherku mulai dari air, angin, udara, dan juga api. Aku terkejut, tapi bagaimana mungkin aku bisa mengendalikan semua elemen dasar. Namun aku teringat dengan kata-kata paman yang mengatakan dengan energi kehidupannya yang ada di tubuhku, aku bisa memanipulasi semua elemen.


Aku mulai mencoba untuk mengendalikan elemen tanah, merasakan Aether yang ada di sekelilingku dan memanipulasinya menjadi sebuah lubang raksasa. Aku yang terkejut dengan apa yang aku lihat, merasa kegirangan dengan kekuatanku, namun Aurelia menegurku.


“Cepat Arthur buang semua mayat-mayat itu kedalam lubang dan tutup kembali tanahnya dengan sihirmu itu.”


Aku menganggukkan kepalaku dan langsung membuang semua mayat-mayat itu kedalam lubang yang aku buat, kemudian aku langsung menutupnya lagi. Setelah semuanya selesai aku langsung berjalan mendekati kereta untuk menyelamatkan anak-anak itu.


"Ayo, ikut aku," ucapku dengan ramah sambil tersenyum kepada anak-anak itu. "Situasinya sudah aman, kalian bisa pulang ke rumah sekarang."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2