Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs

Rebirth In Aetheria : The Rise Of The Underdogs
Berlatih pedang dan mengendalikan Aether


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak aku berada di dalam gua ini. Waktu-waktu ini, aku memanfaatkannya untuk berlatih pedang dengan tekun. Namun, paman yang selalu berada di sekitar hanya memperhatikanku dengan seksama. Dia tampak kalem, namun setiap gerakan yang kuambil, ia dengan cepat memberikan koreksi.


“Arthur, gerakanmu terlalu panjang dan membuang banyak energi yang tak perlu.” ujar paman sambil menatapku dengan penuh perhatian. “Ingat, dalam pertempuran, setiap gerakan harus efisien dan tepat.”


Dengan perlahan, paman mendekatiku dan dengan sabar mengajarkan teknik berpedang yang berbeda dari apa yang pernah diajarkan ayahku. Ia menyampaikan setiap detail gerakan, memperjelas setiap langkah, hingga aku bisa merasakan getaran energi dalam pedangku.


“Sekarang, fokuslah pada aliran Aether dalam tubuhmu.” ucapnya dengan lembut. “Biarkan Aether mengalir dalam pedangmu, dan tubuhmu akan menjadi perpanjangan dari energi itu sendiri.”


Aku mencoba memahami setiap kata paman dengan baik. Aku memusatkan pikiranku pada Aether di dalam diriku, merasakan aliran energi itu mengalir dengan lembut dan berirama. Saat aku mengayunkan pedangku, Aether seolah menari-nari di sekelilingnya, memberi kekuatan tambahan pada serangan.


“Bagus, Arthur! Kamu mulai memahaminya.” puji paman sambil tersenyum bangga.


Namun, perjalanan berlatihku belum berakhir. Paman terus membimbingku, mengajarkan trik-trik berpedang yang tak pernah ku impikan. sebelumnya. Ia menggali potensi dan bakatku, membantu aku mengasah kemampuan yang belum sempurna.


Aku memulai dengan bermeditasi untuk mengumpulkan Aether yang ada di sekitarku, agar aku bisa kembali berlatih. Paman itu sangat baik sekali, dia menjagaku seperti dia adalah ayahku, dan juga dia mengajarkanku seperti seorang guru yang kompeten. Ia selalu menegur dan memarahiku jika aku berbuat kesalahan.


Namun kadang aku mengingat kejadian yang tidak menyenangkan,rasa benciku terhadap para bandit yang menyerang keluarga dan juga teman-temanku. Aku harus membunuh mereka dengan lebih brutal, seandainya ada salah satu dari mereka yang masih hidup. Aku harus membunuh semuanya sekalipun aku harus pergi ke neraka.


Rasa marah dan juga rasa dendamku terhadap para bandit itu membuatku tidak bisa berpikir secara rasional. Tiba-tiba paman langsung menegurku. “Arthur. Memang tidak masalah jika kau sampai berpikir seperti itu. Namun mengisi hatimu dengan kebencian dan dendam itu hanya akan membahayakan dirimu sendiri. Sebagai gantinya, kau harus melangkah maju dan menjalani hidup dengan keberanian.”


Aku yang mendengar kata-kata dari paman langsung tersadar, jika aku jatuh kedalam kebencian dan balas dendam, aku sama saja dengan orang-orang yang merundung ku di kehidupan masa laluku.


“Terima kasih paman, karena telah menegurku.” Aku tersenyum dan tertawa kecil.


“Oh iya, Arthur, aku sedikit penasaran.” ucap paman itu dengan wajah penuh keingintahuan. “Setahuku, manusia biasanya baru bisa mengendalikan Aether saat berusia remaja, tapi bagaimana bisa kau menciptakan Aether core dan memanipulasi Aether lebih hebat dari pada orang dewasa?”


Aku tersenyum bangga atas kemampuanku yang luar biasa. “Kalau kata orang tua saya, saya ini anak yang genius.” kataku dengan sedikit menyombongkan diri.


“Kalau begitu, kau pasti bisa melakukan ini dengan cepat.” ujar paman itu dengan antusias.


“Mempelajari apa?” tanyaku bingung.


Paman itu kemudian mengambil sebuah tongkat dan berjalan di hadapanku. “Bermeditasi sambil menyerap Aether sambil bergerak, atau singkatnya kau bisa melakukan rotasi Aether. Kalau kau sudah menguasainya, kau juga bisa melakukannya sambil bertarung.” jelaskan paman sambil mencontohkan gerakannya dengan tongkat yang dia pegang.


Aku terkejut dengan apa yang kulihat. “Bagaimana paman bisa melakukannya?” tanyaku takjub.

__ADS_1


“Manusia memiliki pola pemahaman pendek tentang Aether. Coba kosongkan dulu pikiranmu dan mulailah dari gerakan kecil, lalu terus berlatih secara perlahan.” jelas paman dengan sabar.


Aku mendengarkan dengan tekun dan mencoba melakukan apa yang dia ucapkan. Namun, ternyata lebih sulit daripada yang saya pikirkan. Meskipun beberapa kali aku mencoba, hanya ada sedikit kemajuan dari latihanku. Aku tetap tidak putus asa dan terus mencoba mengikuti petunjuk paman.


“Kau tahu, Arthur, kelebihan terbaik dari teknik ini adalah memungkinkanmu untuk bertarung lebih baik, sambil tetap menyerap Aether dengan stabil.” tambah paman dengan senyum hangat.


Beberapa minggu berlalu, aku tak kenal lelah dalam belajar melakukan rotasi Aether. Hasilnya, akhirnya aku berhasil menguasai teknik ini dengan baik.


“Mustahil, aku berhasil menguasainya.” ucapku dengan gembira, merasakan aliran Aether yang mengalir begitu indah dalam tubuhku.


“Baguslah, Arthur. Kau sudah berhasil menguasainya.” puji paman sambil mendekatiku. “Sekarang, kita akan belajar mengenai element dasar.”


Saat paman memperkenalkan konsep mengenai elemen dasar, aku duduk di depannya dengan penuh konsentrasi, siap menyerap setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dengan mata yang berbinar, aku menantikan jawaban dari pertanyaan besar dalam diriku, apakah aku memiliki elemen dasar?


Paman dengan serius menjelaskan, “Element dasar adalah fondasi dari semua kekuatan sihir. Ada empat elemen dasar: api, air, tanah, dan udara. Setiap elemen memiliki karakteristik dan kekuatan yang berbeda-beda. Dan kau juga pasti sudah tahu kalau manusia bisa menguasai semua elemen dasar itu, jika dia memiliki afinitas dari salah satu elemen.”


Aku mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku merasa bahwa pengetahuan ini bisa menjadi kunci untuk mengembangkan kemampuan sihirku lebih lanjut.


“Untuk memanipulasi elemen, kamu harus terhubung dengan aliran Aether yang ada di dalam dirimu, semua orang terlahir dengan elemen bawaan yang ia miliki.”


“Bagaimana caranya paman, agar aku tahu elemen apa yang ada di dalam diriku?” tanyaku penuh antusiasme.


Aku berusaha berkonsentrasi memfokuskan pikiranku dalam aliran Aether di dalam diriku. Namun, beberapa saat berlalu dan aku tak kunjung merasakan apapun tentang elemen dalam diriku.


“Paman, kenapa aku tidak merasakan elemen apapun?” Tanyaku bingung.


“Sebentar Arthur biar paman periksa tubuhmu.” Paman memegang tubuhku, dan saat itu tubuhku seakan diselimuti oleh sebuah energi Aether yang tajam. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk-nusuk tubuhku, dan aku tak bisa menahan rasa sakitnya. Akhirnya, aku kehilangan kesadaran.


Saat kesadaranku sudah kembali, ku lihat seluruh tubuhku penuh dengan energi Aether yang menyinari tubuhku. Paman yang berada di sampingku sepertinya sedang melakukan sesuatu terhadap tubuhku.


“Paman apa yang terjadi dengan tubuhku?” Tanyaku kepada paman.


Paman hanya tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa Arthur aku hanya memindahkan energi kehidupanku dan juga kontak dengan Aurelius kepadamu.”


Aku semakin bingung dengan ucapan paman, aku bertanya lagi, “Apa maksud ucapan paman, aku sama sekali tidak mengerti?”

__ADS_1


“Saat aku memeriksa tubuh dan juga Aether coremu, aku menemukan bahwa kamu sama sekali tidak memiliki kualifikasi untuk memanipulasi elemen atau bisa dikatakan kamu sama sekali tidak memiliki elemen dasar.” jelas paman dengan hati-hati. “Namun, kamu tidak perlu khawatir. Dengan energi kehidupanku yang berada di dalam dirimu, sekarang kamu dapat memanipulasi semua elemen dasar, dan jika kamu fokus dengan latihanmu, kamu dapat meningkatkan elemenmu menjadi Divine Seen.”


“Tapi kenapa paman melakukan itu semua padaku?” tanyaku ingin tahu.


Paman menghela nafas, “Aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi. Mereka yang sedang mengajariku sebentar lagi akan sampai di gua ini.”


Kesadaranku semakin memburam, semuanya terasa begitu cepat dan tak terduga. “Maksud paman apa? Siapa yang mengejar paman?”


“Arthur dengan energi kehidupanku yang berada di dalam dirimu, sekarang cepat kamu mencabut pedang yang menancap di dalam tubuh Aurelius.” Ucap paman itu menyuruhku mencabut pedang.


“Tapi paman kenapa?” Tanya ku bingung.


“Cepat ambil saja.” Aku menuruti perkataan paman.


Tiba-tiba sebuah cahaya seperti yang pernah terjadi padaku saat aku terjatuh muncul di dalam gua ini. Aku sama sekali tidak mengerti kondisi apa yang terjadi saat ini, namun aku berusaha mencabut pedang yang menancap di tubuh Aurelius. Saat aku mencabut pedang itu perasaan aneh merasuki tubuhku, namu aku berusaha tidak memikirkannya, dengan sekuat tenaga akhirnya aku berhasil mencabut pedang itu, namun tiba-tiba tubuh Aurelius tiba-tiba menghilang.


“Arthur cepat kesini!” Ucap paman dengan berteriak.


Aku berlari mendekati paman, namun tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan cahaya yang dipenuhi oleh Aether. Orang yang tadinya tampak berusia lanjut, sekarang berubah menjadi sosok muda yang mempesona, dengan sayap dan kedua tanduk di kepalanya. Cahaya yang begitu terang memancar dari tubuhnya, seakan-akan menunjukkan kekuatan luar biasa yang dimilikinya.


“Arthur sepertinya, waktu kita hanya bisa sampai disini, jagalah pedang itu dan juga rawatlah anak dari Aurelius. Karena aku yang memberikan energi kehidupanku padamu, mereka yang mengincarku berhasil menemukanku. Jadi sekarang aku akan mengirim mu ke dekat wilayah orang tuamu dengan sihir teleport. Maka bersiaplah.” Ucap paman itu yang sudah berubah bentuk menjadi sosok yang lebih muda.


Ketika aku masih mencerna perubahan paman, tiba-tiba ada orang lain yang muncul dari cahaya teleport yang tadi berada di depan kami berdua. Wujudnya hampir serupa dengan paman yang sudah berubah, dengan postur tubuh yang kuat dan juga memiliki sayap serta tanduk di kepalanya. Namun, aura yang dia pancarkan berbeda, seolah-olah hawa membunuh yang dia pancarkan sangat mengintimidasi yang membuat aku sulit untuk bernafas.


Orang itu melangkah maju dengan percaya diri, menatap paman dengan tajam. “Sepertinya kau sudah tidak bisa melarikan diri lagi, Helios. Lebih baik kau menyerahkan itu dan kau bisa mati lebih tenang.”


“Paman, lebih baik kita pergi bersama-sama.” Ucapku yang memegang erat pedang yang tadi telah ku cabut dari tubuh Aurelius. Berada di antara dua sosok yang begitu kuat membuat hatiku berdebar kencang, namun aku berusaha untuk tetap tenang.


Paman mengeluarkan sihir teleport di sekitarku, lalu dengan lembut dia mendorongku untuk memasuki cahaya teleport tersebut. “Arthur, suatu saat nanti jika ada kesempatan, kita akan bertemu lagi, dan aku akan menjelaskan semuanya. Maka sebelum kita bertemu lagi, kau harus menjadi kuat dan bisa menikmati kehidupanmu.”


Aku masih tidak mengerti dengan perkataan paman. “Paman, tunggu! Aku masih banyak yang ingin ku sampaikan!”


Namun, pandangan kami terhalang oleh cahaya teleport yang semakin menyilaukan. Aku merasa tubuhku terangkat dari tanah, ditarik ke dalam aliran Aether yang begitu kuat. Pandanganku mulai kabur, dan aku tidak bisa lagi melihat wajah paman yang sedang berbicara padaku.


“Sampai jumpa, Arthur.” suara paman itu bergema dalam benakku.

__ADS_1


Aku merasa seperti sedang terseret dalam terowongan waktu, cahaya teleport membawaku ke tempat yang tidak pernah ku jumpai sebelumnya. Perasaan campur aduk memenuhi hatiku. Aku merasa sedih karena harus meninggalkan paman yang sudah menyelamatkanku.


...****************...


__ADS_2