Record A Life Novel

Record A Life Novel
Bab 9 - 'Hubungan'


__ADS_3

Aku menatap Jason dengan beribu kegugupan di mataku. Jason berjalan keluar kamar dengan masih menggendongku layaknya tuan putri. Untungnya lorong asrama masih sepi dan kemungkinan besar para penghuni asrama ini semua masih di alam mimpi.


Dalam perjalanan singkat dari kamarku ke Jason, Aku memperhatikan penampilanku yang masih memakai gaun tidur oversize bewarna merah muda. Dan Jason sudah memakai pakaian rapih.


'Apakah jam yang terbilang pagi ini dia harus rapi? Rajin sekali. Lihatlah aku yang masih memakai gaun tidur. Dan seharusnya aku masih berada dalam mimpi!' Kesalku.


Jason membuka pintu kamarnya. Dan visual kamarnya, sungguh berbeda dengan prospektifku. Dalam sudut pandangku kukira dia sama seperti laki lain. Mempunyai kamar yang berantakan dan begitulah. Intinya seperti kapal pecah. Tapi dia berbeda.


Kamarnya sangat rapi dibanding kamarku. Apa pada di dunia nyata ada orang seperti Jason. Memiliki kamar rapi, Lembut pada orang yang disukai, Kaya, Tampan, dan Berprestasi. Mungkin ada, tapi aku belum pernah bertemu secara langsung. Sungguh impian sekali.


'Kamarnya memliki pengaturan kamar yang berbeda dari kamarku. Dan atmosfer serta setiap sisi kamarnya pribadi Jason banget. Tajam, inti, dan tegas.' Pikirku.


Jason menutup kembali pintunya. Lalu mataku sibuk menelisik kamar minimalisnya ini. Meja belajar yang berwarna hitam serta kasur yang juga bernuansa hitam. Cukup mudah untuk tau selera para lelaki yang biasanya sering suka ke arah warna gelap.


Namun, ada sisi istimewa dari kamar ini. Isi pemari pajangannya tidak seperti kebanyakan laki-laki yang suka koleksi mainan dia seperti mengkoleksi banyak buku lyang entah judulnya apa. Dan ada juga yang unik dan membuatku beralih ialah sebuah gantungan beruang bewarna merah muda yang ada di kamarnya.


'Kira-kira itu dari siapa ya? Aku penasaran,  Apakah selama ini Jason dan Birdella sudah pacaran? Ataukah dia sudah jadian dengan Birdella?!' Batinku. Aku menatap Jason dengan mata yang menyiratkan sebuah tanda tanya.


Jason yang mungkin sudah merasakan sebuah tatapan dariku. Memberhentikan langkahnya untuk lanjut jalan. Balasan tatapan tertuju pada netraku. Aku terkejut saat wajahnya terlalu dekat hingga membuatku dengan refleks menahan oksigen yang akan kuhirup.


Jantungku berdebar tak karuan. Jidat paripurnamanya sangat indah. Garis tajam rahangnya begitu menajubkan. Serta pesona tatapannya yang tak beralih serta rasa genggaman tangannya pada tubuhku menggetarkan. Tolong selamatkan aku.


Setelah beberapa detik terlena dengan pelan aku akhirnya  mendorong pelan dada Jason. Dengan kedua tanganku. Lalu mengingat apa yang membuatku penasaran.


"Aku mau bertanya?" Tanyaku setelah wajah Jason sudah tidak dekat lagi dengan wajahku.


"Hm?" Sebuah balasan dan tanyaan singkat yang sudah terbungkus rapi.


"Itu lucu sekali. Dari siapa?" Tunjukku pada gantungan kunci yang daritadi mengalihkan fokusku. Jason menatap ke arah jariku menunjuk. Lalu dia kembali menatapku. Aku menunggu jawaban Jason dengan binar di mataku.


"Bodoh!" Ejek Jason.


'Kenapa? Mengapa? Ada salah apa aku dengannya? Sungguh bingung. Padahal aku hanya bertanya. Dan aku tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Kenapa Brady dan Jason sering mengejakku!' Aku marah dalam batin. Karena aku selalu diejek di novel ini. Sungguh bisa-bisa darah tinggi aku naik drastis.


Aku mengerucutkan bibir kesal dan menatap arah lain dengan kemarahan.  Jason yang sedari tadi melihat perubahan raut wajahku memasang smirk yang menyebalkan. Apa maksud semua ini. Akupun tanpa sadar memasang ekspresi cemberut.



"Kau, bodoh!" Kata Jason tiba-tiba. Aku mengerjap mata tak mengerti apa maksudnya. Hingga dia mengulang maksudnya agar aku mengerti.


"Dari kau, tikus kecil!" Jawab Jason acuh tak acuh. Dan kembali berjalan mendudukkanku dikasurnya. Seketika aroma citrus mint menyeruak dan membiat indera penghirupku teralih pada parfum ruangan Jason. Kasurnya juga mengeluarkan aroma yang sama. Dan itu sangat membuatku merasakkan ketenangan.


'Tapi tunggu! Tadi dia bilang gantungan itu dariku?' Tanyaku bingung. Karena seingatku novel itu tak menampilkan sebuah adegan yang dimana Intan memberi gantungan. Tapi ada adegan Birdella memberikan gantungan kepada Jason. Dan aku lupa itu terjadi saat kapan.


Akupun mengalihkan dari terlenannya aroma wangi Jason dan beralih melihat Jason yang sekarang menyiapkan secangkir teh melati.


"Kau bilang dariku? Kapan aku memberikannya?" Tanyaku penasaran.


"Kau bohong!" Jason berkata dan pasti dia mengira aku hanya mengetesnya. Tapi sayangnya aku bukan Intan asli yang akan mengingat hal yang akan diberikan pada Jason. Akhirnya aku mengakhiri perdebatan ini tanpa balasan apapun.


Kembali lagi aku terfokus pada aroma kasur tidur Jason yang kuat akan wanginya. Aku menahan kantuk saat hanya suara makanan yang Jason siapkan yang sepertinya dari pesanan makanan antar. Dan akhirnya aku pasrah menyelonjorkan badanku dan mulai mataku tertutup.


Menikmati empuknya kasur serta aroma baru. Aku sudah tak peduli jika aku beneran terlelap di kamar Jason. Karena ini salahnya. Masih pagi begini sudah mengajakku sarapan. Dan sepertinya aku harus bilang ke Ayahku kalau aku dan Jason sudah putus.


"Ck–" terdengar decakan kesal yang sudah pasti dari Jason. Tapi aku mengabaikkannya dan menganggap suara yang timbul ialah angin berlalu. Kembali mencari posisi nyaman menggunakan guling Jason sebagai penyanggah satu kakikku.


"Hei! Sarapan." Kalimat itulah yang terakhir kudengar sebelum kesadaranku menghilang kedalam alam bawah sadar.


...•••...

__ADS_1


Mataku perlahan membuka dari rasa kantukku. Seperti biasa saat aku bangun aku akan mencari air botolku. Dengan setengah sadar aku berjalan dan masih menghiraukan perbedaan yang terjadi. Mengambil langkah dan sekarang aku sudah tepat didepan meja belajar.


Tapi aku merasa seperti ada yang janggal. Hampir semua kamar ini hitam. Aku diliputi rasa bingung mendadak. Aku ada dimana. Aku kembali mengedarkan netra dan–


"Ah sial! Aku lupa kalau aku tertidur." Gumamku menepuk jidat. Aku ingat bahwa harusnya aku sarapan bersama Jason. Tapi tunggu Jason dimana. Tak lama setelah penasaran suara derik pintu terdengar.


...Krek!...


Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Dan pertama kali saat aku menoleh adalah aku disuguhkan sebuah pemandangan yang indah. Lihatlah Jason keluar dari kamar mandi tanpa atasan.


Tubuhnya membiatku terpana. Tubuh yang sangat sesuai ekspetasiku. Sangat atletis. Dan memiliki 8 kotak berharga bertengger di perutnya. Sungguh menakjubkan. Dan tidak dia hanya memakai handuk untuk bawahannya. Rambutny yang basah juga menambah sebuah pesonanya.


'Bisa-bisa aku jatuh cinta dan rela mati demi dia' Batinku saat aku masih terpaku pada tubuhnya yang menggiurkan bagi wanita sepertiku. Hingga kalimat menusuk memecahkan imajinasi liarku.


"Apa yang kau lihat?" Suara Jason memenuhi gendang telingaku. Aku menelan saliva dan langsung beralih ke wajah Jason. Saat melihat matanya yang tajam menusuk aku cepat-cepat menutup mataku dengan telapak tangan dan memberikan celahnya sedikit untuk menikmati pandangan indah di dunia novel ini.


"Tidak ada yang kulihat!" Bohongku berucap keras dan gugup.


"Bohong!" Klaim Jason. Aku hanya menjawab iya dalam hati karena mana mungkin aku melintarkannya yang ada aku malu dan mukaku akan semerah kepiting rebus.


"Misi aku ingin mengambil baju!" Interupsi Jason yang mau berjalan ke arahku dengan cepat aku memindah posisiku. Sekarang Jason berjalan mengambil baju di dekat meja belajarnya. Saat Jason membelakangiku aku membuka kembali telapak tanganku.


'Maklumi saja, aku hanya seorang wanita biasa!' Batinku menelisik punggung kokoh Jason tanpa atasan.


"Kau membuka telapak tanganmu lagikan!" Ucapan Jason sukses membuatku secara refleks langsung menutup mataku.


"Ti–tidak kok!" Jawabku panik. Dan terdengar sebuah kekehan dari Jason. Sungguh Jason membuatku panik  dan menimbulkan pertanyaan aneh dipikiranku.Apakah Jason selama ini punya mata di punggungnya. Apa dia cenayang. Sudahlah aku maklumi karena ini dunia novel. Dunia yang mustahil bisa menjadi wajar.


"Baiklah kalau begitu aku akan balik ke kamar!" Ucapku buru-buru sebelum jantungku berdetak dan malu merambat saat dia akan mengganti semua pakiannya termasuk celana. Ah sial pikiranku lagi-lagi. Dengan gerakan cepat aku berjalan manuju daun pintu.


Aku memegang gagang dan sebuah tangan menumpuk ditanganku yang memegang gagang pintu. Badanku terkejut dan menegang. Aku menoleh sedikit ke kanan. Dan sudah kurasakan rambut basahnya mengenai baju tidurku.


"Makan dulu. Kau belum sarapan tadi sampai sore." Kata lembut tapi memaksa Jason membuatku terasa harus menurutinya. Karena aku seperti tertarik oleh suatu dorongan.


Aku pun berbalik perlahan dan wajahku sudah disuguhkan pandangan kesukaanku. Dada bidang luas untuk bersandar. Aku tanpa sadar manganggukkan kepala sambil masih memandang pemandangan didepannya.


...•••...


"Ah apa ayamnya tidak ada lagi!" Seruku tatkala aku sudah menghabiskan 3 potong ayam. Aku melirik ke Jason dengan tatapan melas yang berarti. Entah kenapa aku lapar sekali bahkan kami hanya membali 4 potong ayam dan aku menghabiskan 3 potong ayam.


"Tidak! Kau sudah menghabiskan 3 potong ayam!" Ucapan Jason langsung membuatku cemberut. Tak kusangka Jason pelit sekali. Walaupun sebenarnya aku yang serakah. Karena sudah menjadi kebiasaan kalimat yang mendarah daging didiriku. Wanita selalu benar.


Akhirnya aku memutuskan memakan salad sayur didepanku untuk menahan rasa lapar. Aku memakan dengan rasa bete. Hingga didepanku sebuah potongan ayam tersodor. Jason memberikan ayamnya kepadaku. Sungguh senang.


Aku dengan cepat menyambar ayam Jason dengan senyum merekah. Menggigit mereka dengan wajah bahagiaku. Ternyata Jason hanyalah pria idaman yang sifatnya cuek dan tajam tapi peduli. Romantis banget. Pantes Intan dan Birdella jatuh hati.


"Tarima kasih!" Senangku mengucapkan rasa terima kasih. Dan jason menjawab dengan deheman mengiyakan aku.


"Apakah kau tahu bahwa sebentar lagi ada perlombaan untuk merayakan hari olahraga?" Tanya Jason memecahkan keheningan.


'Perlombaan? Peelombaan perayaan? Perayaan hari olahraga?!' Batinku mengingat-ingat.


"Oh, aku tahu itu!" Celetukku saat aku sudah mengingat bagian adegan lomba olahraga ini.


Perlombaan olahraga untuk merayakan hari jadi olahraga  dunia. Sekolah halycon school selalu mengadakan lomba itu di program musim gugurnya ini. Dan biasanya seperti pertandingan olahraga dari berbagai negara akan diselenggarakan. Kalau tidak salah Jason dan Birdella menjadi partner lomba pasangan estafet.


"Kau jadi partnerku kali ini!" Kata Jason yang membuatku kaget. Dan teringat lagi soal bisnis ayah kami.


"Jason sudah kubilangkan berkali-kali. Hubungan kita sudah putus dan tidak usah khawatir soal aku akan mengadu pada ayah atau tidak. Aku tidak akan! Jadi bebaskanlah dirimu untuk memilih!" Kataku menenangkan kekhawatiran Jason.

__ADS_1


"Aku sudah memilih semauku. Kamu yang kupilih." Jason membala yang sontak membuatku mengerutkan jidat.


"Apa Birdella menolakmu?" Tanyaku menebak. Sudah dipastikan Jason mengajak Birdella. Sungguh kasian jika dia ditolak. Jika memang benar tolaklah yang membuat dia pasrah, mau bagaimana lagi aku akan membantunya dengan menjasi pasangan lombanya.


"Maksudmu?" Bingung Jason.


"Maksudku apa Birdella tidak mau menjadi partner perlombaan olahragamu?" Tanyaku memperjelas dan semakin membuat raut Jason tak terbaca.


"Jadi kamu mengira ku mengajak Birdella?" Jason bertanya balik daripada menjawab pertanyaanku. Aku menatapnya dengan memiringkan kepalaku dan berdiam sambil masih memegang potongan ayamku disebelah kanan.


"Ha? Bukankah sudah jelas! Kau dan Birdella ada hubungan!" Ucapku. Aku berucap berdasarkan kesimpulan dari sudut pandangku dari cerita novel ini. Karena entah bagaimana aku merasa bahwa novel ini seperti adegan yang terasa acak. Karena kecepatan waktunya. Dan melewatkan beberapa adegan namun memunculkan adegan baru yang tak tertulis di novel.


Jadi sudah pasti Birdella dan Jason sudah jatuh cinta satu sama lain saat Jason masih berpacaran dengan Intan si antagonis cerita ini.


"Apa yang kau maksud? Aku tak pernah berhubungan dengan seseorang. Kecualo denganmu!" Protes Jason. Aku bingung saat tiba-tiba Jason menjawab dengan suara yang meninggi.


"Oh baiklah!" Jawabku seadanya karena masih tak mengerti.


"Oh baiklah?!" Tanya Jason mengikuti nadaku.


"Hei! Ada apa dengamu? Tiba-tiba begini!" Tanyaku dengan menghakiminya. Karena aneh aja gitu rasanya Jason sang Laki bijaksana dan tegas menjadi posesif tiba-tiba. Ada apa dengannya. Sungguh.


"Jadi alasanmu memutuskan hubungan ini karena kau mendengar rumor murahan itu!" Kesal Jason.


'Kenapa dia jadi aneh?' monologku yang masih terjerat kebingungan.


"Ha? Maksud kamu apaan? Aku tidak mengerti!" Pusing palaku akan Jason yang tiba-tuba begini.


"Ah sudah lupakan!" Ketus Jason. Akupun meraskan kesunyian kembali menyelimuti kami. Aku sungguh tak mengerti apa yang Jason katakan.


Hingga kami kembali menghabiskan sisa makanan dalam sebuah kesunyian. Aku membereskan bekas makanku dan membung bungkus makanannya.


"Terima kasih atas makanannya dan juga tempat tidurnya. Oh iya! Kau harus mengajak Birdella dulu. Kalau kau tak menemukan partner aku akan mempertimbangkannya! Kalau begitu aku pamit!"  Salam penutupku untuk acara mendadak ini.


Aku membuka pintu Jason untuk menuju lorong dan yang terakhir kudengar dari kamar Jason adalah helaan napas jengah. Aku hanya terus berjalan dan masuk ke kamarku.


'Tapi ada apa ya dengan Jason?!' kebingunganku masih terus menghantuiku. aku penasaran kenapa dia tiba-tiba posesif dan membungungkan pokoknya.


sulit dimengerti. sudahlah aku tak ingin memikirkannya karena aku baru ingat bahwa aku belum mandi sampai malam hari. sungguh tak patut dicontoh. aku harus mandi lalu lanjut rebahan.


...°°°...


..."Life is a journey to be experienced, not a problem to be solved". - Winnie The Pooh...


Bersambung...


.......


.......


.......


.......


.......


^^^int4n18feb^^^


^^^17 Oktober 2020^^^

__ADS_1


^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^


__ADS_2