Record A Life Novel

Record A Life Novel
Bab 3 - 'Rencana Masa Depan'


__ADS_3

Ketika acara makan selesai, sebenarnya aku berniat untuk mencari alasan pergi ke kamar. Tetapi sebelum aku bisa mencari alasan, Ayah memanggilku dan memintaku menemani Jason. Jujur saja hatiku berdebar tapi bukan karena suka, lebih tepatnya karena takut jika aku melakukan kesalahan. Dan lebih menakutkan serta aneh lagi jika aku menolak permintaan ayah. Akhirnya aku dan Jason pergi ke taman belakang.


Sinar matahari yang teriknya tak membuat tubuh ini merasa sedikit sengatan panas sedikitpun itu dikarenakan sebulan ini musim gugur akan segera memasukki musim dingin. Dan setahu aku menurut Novel aku masih berlibur untuk 2 hari lagi sebelum memasukki kelas musim gugur akhir tahun ini. Aku sebagai Intan sangat senang karena setidaknya aku dapat merasakan satu kali seumur hidup sekolah di musim gugur atau apapun yang berkaitan dengan sebuah musim.


Dedaunan kering berwarna merah kekuning-kuningan jatuh berguguran memenuhi area taman rumah Intan yang bisa sedikit dibilang bahwa ini luas. Bahkan mungkin dapat menampung 3 mobil disini. Mungkin. Balik lagi ke Aku yang sekarang ada di posisi yang hening, Karena kita sama sekali tak berbicara sedikitpun. Dari tadi aku dan Jason hanya berjalan dan posisinya Jason selalu dibelakang mengikutiku. Dalam perjalanan tadi aku berpikir dan yakin bahwa Jason akan merasa aneh mengapa Intan yang biasanya cerewet sekarang menjadi diam dan tak banyak aksi.


Namun, saat aku melamun. Entah kenapa kejadian salah satu Intan yang masuk penjara dengan mata kosong terlintas dipikiranku. Sungguh menyeramkan, sebaiknya aku harus berbicara dengan Jason sekarang.


'Maaf Jason sepertinya kita memang harus benar-benar berbicara tentang putus!' Batinku sebagai Arabelle yang meringis mengingat masa depan buruknya Intan. Dengan kekuatan dan keteguhan diri, aku berbalik menghadap Jason dengan tiba-tiba. Dan–


...Duk!...


Sepertinya aku membalikkan badan pada waktu dan posisi yang kurang tepat. Sekarang posisinya adalah kepalaku menempel pada dada bidang Jason. Dan ini sangat canggung, Bahkan mungkin sekarang mukaku merah jelas. Malu tetapi tindakan tak bisa dibohongi bahwa aku nyaman. Jadi aku tak bergegas mengangkat kepalaku dan malah makin menikmatinya. Hingga Jason dengan wajah kesal meletakkan jari telunjuknya di dahiku dengan tanpa perasaan dia mendorong kepalaku hingga kepalaku terdorong kebelakang pelan. Baru saat itulah aku sadar. Aku pasti sudah gila.


"Hahahah, Maafkan aku spertinya kepalaku tadi sedikit terpeleset!" Tawaku ringan menutupi rasa canggung dan malu.


"Bodoh." Kata Jason tanpa ekspresi yang membuat diriku semakin malu dan menatapnya dengan jengkel.


'Iya, memang kubodoh lalu mau begaimana?' makiku dalam hati. Tapi itu hanya bisa diucapkan dalam hati. Seketika aku menyadari sesuatu. Tunggu jangan-jangan aku masuk dunia novel jadi pemeran antagonis karena sifatku sama. Bodoh, ceroboh, cerewet, serta lebay. Jika karena itu aku sangat merasa kecewa, karena sifat bodoh, ceroboh, cerewet, serta lebayku tidak setingkat level dengan Intan. Intan itu udah level overdosis.


Sudahlah aku males berantem dengan batinku terus lebih baik aku pikirkan bagaimana aku menangani masalah ini untuk masa depanku di novel ini. Aku mengabaikkan makian Jason tadi serta tak jadi membicarakkan yang ingin kubicarakan dan berjalan menuju tempat duduk yang ada ditaman, lain halnya di Jason yang memutuskan untuk bersandar pada pohon yang tak jauh dari tempat kita berhenti. 


Kami menyelami pikiran diri sendiri. Aku memutuskan mulai menyusun rencana. Setelah 10 menit berlalu aku menyimpulkan sebuah rencanaku. Pertama aku harus benar-benar bisa mendalami sebagai Intan dan mencoba melupakan Arabelle diriku yang asli. Kedua aku harus dapat mengubah sedikit ceritanya, menjauhi diri ini dari bertindak iri, marah, dan haus akan kasih sayang. Ketiga mari kita ubah mindset orang bahwa Intan sebenarnya bukanlah orang jahat. Keempat menjalani hidup dengan damai sambil melihat cerita romantis Birdella dan Jason dari dekat. Lalu terakhir berdo'a agar aku bisa segera balik ke dalam duniaku.


Setelah aku memikirkan point-point itu aku bangkit dari tempat duduk dan mulai menyiapkan diriku menjadi Intan totalitas tanpa batas. Menyiapkan diriku dan mulai berjalan menghampiri Jason.


"Jason!" Panggilku saat sudah dekat denhan tempatnya, yang namnya dipanggilpun langsung membuka matanya menghadap aku yang masih berjalan ke arahnya.


Jason juga akhirnya berdiri tegak dan berjalan kearahku, tatapannya yang begitu intens seolah dia berkata bahwa aku mengganggu waktu santainya. Kami akhirnya berhadapan, dan aku sangat pendek sehingga mengharuskanku mendonggak. Aku membalas tatapan Jason dengan datar dan kembali meyakinkan diriku untuk menyatakan sebuah kalimat ini. Menarik nafas sebanyak yang paru-paruku bisa tampung dan membuang perlahan. Lalu aku juga melipat tanganku untuk mengurangi kegugupan dari tindakanku. Angin dingin membuat hatiku semakin berdebar. Dan aku sekarang sudah sudah siap.


'Ayo kita katakan!' Batinku.



"Ayo kita putus!'' Akhirnya kata-kata ini keluar dari tenggorokkanku. Bukankah tadi aku sungguh hebat. Berkata sebagai Intan dan menyatakan kata 'Putus' dengan semangat. Dan itu sangat berbeda dari jalan cerita novel. Sebelum Jason mengakhiri hubungan dengan Intan hanya demi Birdella. Aku sebagai Intan harus menghentikkan masa depan yang buruk untuk diri karakter ini. 

__ADS_1


Dan bagi pembaca cerita novel 'Love First Sight' pasti mereka sudah tahu mengapa di novel ini Intan dan Jason berpacaran, mereka berpacaran hanya karena ayah Intan dan ayah Jason memiliki urusan perusahaan yang dimana Ayah Intan menanam banyak saham pada perusahaan ayah Jason. Sehingga hubungan Intan dan Jason hanyalah bertepuk sebelah tangan karena adanya beban tak enak tentang


saham perusahaan. Sungguh menyedihkan.


''Bagus deh. Akhirnya diriku bebas dari hubungan menyesakkan, Kita putus sekarang dan kau jangan ganggu ataupun ikut aku kemanapun lagi!" Ucap Jason datar dan menukik tajam menyetujui perpisahan ini tanpa adanya kekecewaan. Sungguh sangat disayangkan bahwa aku tidak bisa merasakkan lebih lama berstatus pacaran dengan karakter novel pria yang aku sukai. Kami akhirnya sama-sama menyetujui akhir hubungan ini .


Kami mengakhiri pertemuan ini dengan kata bisu satu sam lain dan aku memutuskan berbalik badan dan berjalan dengan arah  yang berlawanan dengan Jason. Aku tadinya berniat lewat pintu belakang agar aku bisa menghindari posisi canggung. Akupun menyemangati diriku sebagai Intan yang baru pada diriku. Dan semoga kedepannya harus diri ini bisa melewati semuanya walau masa depan tidak akan selalu mulus. Semulus lantai porselen.


'Dan Ayo Intan kamu karakter antagonis yang harus merasakkan kebahagiaan sekarang!' Batinku. Dan tanpa sadar aku berjalan tidak lihat kondisi sekitar. Aku benar-benar diambang akan jatuh ke kolam ikan, aku hampir kehilangan keseimbangan Jika saja Jason tak segera memegang pinggangku yang ramping agar tak jatuh. Tubuhku sekarang seperti hampir 45° menghadap air di depan mataku ini. Dengan mudahnya Jason mengembalikkan posisiku ke semula.


Aku menghela nafas lega karena aku selamat. Sungguh sayang dengan baju yang mahal dan riasan make up yang sudah secantik ini harus jatuh ke kolam ikan. Aku menatap Jason yang menatapku dengan tajam dna sedikit dimatanya tersirat kemarahan. Tapi tunggu kenapa dia marah. 


'Ah tentu dia marah karena dia bilang jangan mengganggu hidupnya lagi tapi aku malah membuat kesalahan yang hampir fatal. Serta menjerumuskan dia pada kemurkaan ayahnya!' Batinku menebak yang terjadi.


"Maaf dan Terima kasih!" Ucapku sambil mengerucutkan bibirku, seperti sudah kebiasaan aku mengerucutkan bibir jika malu untuk berkata maaf dan terima kasih.


"Bodoh dan ceroboh, ck!" Sinis Jason yang langsung membalikkan badan. Jujur saja wajahku merah karena malu dan marah menyelimuti diriku, Jason yang sudah ada membalikkan badan memudahkanku memakinya dibelakang tubuhnya. Kami akhirnya balik ke ruang utama dan terlihat ayahku yang seperti memberikan sesuatu kepada ayah Jason. Itu mungkin seperti sebuah tradisi, memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih telah mengunjungi.


Dan akhirnya setelah beberapa menit kemudian kami benar-benar berpisah. Jason sudah kembali ke rumahnya dan aku disini dengan keluargaku yang baru menjalani hidup seperti yang novel jelaskan. Hidup masing-masing dan bahagia serta menderita masing-masing. 


Tak terasa 2 hari berlalu dengan cepat aku akhirnya merasakan kegiatan yang aku nantikan. Yaitu, sekolah musim gugur. Dalam novelnya tertulis bahwa dalam sebulan program sekolah musim gugur ini akan diadakan festival musim gugur, acara pesta dansa, pergi berkemah, berlibur, dan masih banyak lagi. Lalu hal yang paling kunantikan adalah disetiap prigram sekolah itu akan ada banyak adegan romantis pemeran utama wanita dan prianya serta hadirnya peran kedua untuk pria. Sungguh membuatku greget dan tidak sabar.


Dengan senyum-senyum seperti orang tidak waras aku memakai seragam yang lucu dan mungkin tidak pernah kutemukan di duniaku. Kemeja bersih berwarna krem, rok lucu yang bewarna abu tua, dan yang lebih menarik lagi adalah dasi model jaman eropa dulu dan jasnya. Sungguh berasa nuansa seperti sekolah eropa. Saat aku mencoba memakai dasi yang entah bagaimana caranya, akhirnya aku menyerah dan meminta kepala pelayan memasangkannya. Akupun memakai jas yang memang sangat identik dengan sekolah novel  'Love First Sight' ini. Aku sangat menantikannya.


"Nona, Supir anda sudah siap!" Interupsi marie membuat hatiku semakin berdegup tak sabar. Cepat memakai sepatu sport putih yang anehnya malah mengundang kerutan halus didahi kepala pelayan dan marie. Melihat itu aku dengan hati-hati berkata.


"Ada apa?" Tanyaku heran dan berhati-hati.


"Nona biasanya akan meminta kami membawakan sepatu high heels yang mewah. Dan sekarang nyonya hanya memakai sepatu putih biasa itu!" Ucap marie heran dan kepalaya pelayan hanya menatapku dengan penasaran.


Aku baru ingat bahwa Intan sangat suka dengan sesuatu yang kaya dan berlimpah. Tapi aku memang ingin menjadi Intan sepenuhnya, Namun aku juga tak bisa membiarkan kakikku lecet dan berjalan tak nyaman menggunakan high heels ke sekolah. Aku pun menggelengkan kepalaku dan berkata.


"Sekarang musim gugur akan ada banyak kegiatan jadi untuk menghindari kecelakaan, aku memutuskan untuk memakai sepatu ini!" Kata-kataku membuat kepalaya pelayan dan marie mengangguk paham. Akhirnya sesi berdandan selesai akupun menaikki mobil dan mobil berlaju dengan aku yang disupiri.


Melihat jalanan kota yang indah membuatku tak sadar bahwa aku sudah sampai di depan gervang sekolah yang megah. Dan kami para siswa harus berhenti didepan sekolah untuk melihat tata tertib disekolah ini. Dan aku turun dari mobilku lalu mengikuti semua orang yang antri. Sungguh menajubkan benar-benar sekolah impian banget. Dan sekolah ini bernama Halcyon School.

__ADS_1


Halcyon school merupakan sekolah yang mungkin menjadi impian dan hanya ada sebatas imajinasi novel. Sekolah dengan dekorasi bangunan eropa dengan luas yang tak bisa dijelaskan dan banyaknya anak murid kaya dari berbagai penjuru dunia bersekolah disini. Pintar dan bodoh tak masalah di sekolah ini karena murid disini tak peduli dengan itu semua. Sekolah ini juga mengadakan sebuah beasiswa yang dimana hanya bisa kemungkinan 10% orang yang dapat beasiswa di sekolah mewah ini. Dan salah satunya adalah Birdella, pemeran utama wanita yang cantik bahkan pinter. lalu diisini bukan sekolah yang memandang senjang sosial tapi mereka hanya akan memandang gosip terpanas. 


Setiap ada gosip yang baru saja keluar, pasti dalam 5 menit seluruh sekolah tahu. Karena mereka mengumumkannya lewat speaker sekolah. Sungguh unik. Tapi para guru membiarkan para siswa melakukan hal yang mereka inginkan dan jarang menghukum siswa di sekolah ini. Karena metode sekolah ini adalah Bebas, Kreatif, dan belajar dari kesalahan. Benar-benar impian yang tak pernah terpikirkan. Aku beruntung dan bersyukur bisa merasakan sekolah yang luar biasa ini. Aku sangat menantikan hari ini.


Tak lama waktu giliranku datang. Tasku dan barang bawaan aku seperti buku, Make up, bahkan duitpun harus diperiksa. Dan diperiksannya itu menggunakan alat seperti sebuah alat pengintai yang ada dibandara kalau diperumpamain dari benda didunia aku. Luar biasa baru kali ini ada sekolah sangat ketat sekali dengan barang yang bisa saja dibawa oleh siswa dan dapat merusak masa depan siswa. Andaikan disekolah duniaku ada pasti banyak generasi anak muda yang akan menjadi emas dan tidak akan hancur dan gagal dalam mengejar impiannya.


Akhirnya pemeriksaan selesai dan aku boleh masuk. Tapi sebenernya aku sangat khawatir dan bingung tentang dimana kelasku dan nanti aku duduk dimana dengan siapa. Kemudia aku teringat dengan kutipan novel yang dimana Intan berteman dengan pemeran laki kedua yang menyukai Birdella. Dengan bergegas tujuanku adalah.


'Mari temukan dia!' Aku berjalan tak tentu arah untuk mencari lelaki yang kucoba inget seperti apa visualnya dan namanya.


Aku masih mencoba mengingat nama dia dalam novel. Dan aku sekarang ingat, Dia bernama Brady Charles Howard. Nama yang yang indah. Dia berasal dari keluarga howard yang dimana terkenal dengan ukuran tinggu tubuh keluarganya itu. Aku mencari terus saat sudah mengingat kelebihannya. Melihat kanan dan kiri hingga sebuah suara mengaggetkanku.


"Apa yang kau cari?" Suara laki-laki berkata beserta tangan kekar yang tiba-tiba bertengger dipundakku. Aku menoleh dan mendonggak. Seseorang berkulit eksotis yang menjulang tinggi merangkulku.


'Dia adalah Brady!' Kaget batinku.



...°°°...


...*It takes a lot of courage to show your dreams to someone else.*...


...-Erma Bombeck...


Bersambung…


.......


.......


.......


^^^int4n18feb ^^^


^^^28 September 2020^^^

__ADS_1


^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^


__ADS_2