Record A Life Novel

Record A Life Novel
Bab 4 - 'Insiden Hari Pertama'


__ADS_3

"Hei, Kau cari siapa?" Tatap Brady dengan kebingungan setelah dia mencari ke kanan dan kiri untuk mengetahui seseorang atau sesuatu yang aku cari. Dan aku hanya bisa membalas dengan lamunan kosongku. Lalu dengan gerakan spontan dia mengacak rambutku. Perbuatannya yang tiba-tiba membuatku tersadar dari lamunan.


"Hei, Kutanya kau cari siapa? Dan ada apa dengan kau hari ini?" Tanya bertubi Brady. Namun Brady lagi dan lagi melakukan hal yang tidak terduga lagi. Memegang jidatku seolah itu bukanlah hal yang tak biasa mereka lakukan. Aku sangat malu karena bisa dibilang ini pertama kalinya laki-laki menyentuhku lebih dari di tangan.


"Br-ady?" Tanyaku gugup. Karena aku masih malu dan tak menyangka apa ini benar Brady yang kucari. Dan Tolong mengapa suaraku tadi jadi gugup begini, apa karena aku terlalu kaget dengan tibanya Brady yang entah darimana batang hidungnya berasal. Aku harus bisa lebih rileks lagi.


"Iya!" Jawab Brady dengan kening yang berkerut bingung. 


'Huft sepertinya benar dia adalah Brady yang kucari' Leganya diriku setelah dia berkata iya. Berarti sekarang aku tak usah bingung lagi.


"Entah ke berapa kalinya aku akan bertanya kepada kau! Siapa yang kau cari?" Tanya Brady kembali ke topik utama. Otakku langsung berpikir pilihan kata apa yang harus kuberikan untuk menjawabnya. Untuk sekian kalinya aku akan berkata bahwa aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan pria, karena aku jarang berkomunikasi di kelas duniaku sebelumnya. Lalu aku ingat dia berbicara kau, mungkin saja aku kamu tepat di perbincangan pertemanan aku dan Brady.


"Aku mencari Kamu!" Jawabku dengan santai dan percaya diri yang tidak seperti tadi aku gugup. Tak lama kemudian tawa pecah muncul. Aku melihat ke Brady yang sekarang masih tertawa. 


"Aku dan Kamu , Hahahahahaha!" Kata ejekan disertai tawa yang masih terdengar dari brady. Tunggu apa aku melakukan kesalahan. Bukannya tadi dia bicara kau kepadaku, terus apa salahnya dengan aku kamu yang kuucapkan. Aku benar-benar  tidak mengerti apa yang dia tertawakan.


Saat aku melihat sekelilingku aku baru sadar bahwa sekelilingku memperhatikanku. Langsung para siswa yang melihatku berbisik-bisik. Sudah kuduga Halcyon school sekolah berstandar gosip. Aku Malu. Mungkin kulitku yang putih pucat ini sudah seperti kepiting rebus karena rasa malu yang mendalam. Aku pun menatap Brady yang masih terkikik geli, karena aku tidak mau jadi perhatian pusat. Tanganku yang kecil menarik tangan Brady menuju suatu tempat.


"Hei, mau kemana?" Brady berhenti tertawa dan bertanya dengan penasaran. Aku hanya diam dan membawanya ke salah satu tempat duduk di taman yang seluas ini serta tempat yang benar-benar sedikit orang.


"Jangan mengejekku didepan semua orang!" Kesalku.


"Hah! Ada apa dengan kau? Benar-benar aneh. Apa kau sakit? biasanya kau tak pernah mau mendengar satu katapun gosip kecuali tentang Jason. Dan biasanya kau memanggilku Jerapah didepan semua orang. Kenapa jadi tiba-tiba 'kamu' dan mementingkan gosip orang. Apa jangan-jangan sakitmu kemarin belum sembuh?" Kata panjang lebar dari seorang brady dengan akhir pertanyaan yang tersirat kekhawatiran. 


Jujur saja aku sepertinya harus benar-benar meminta maaf  kepada pembuat novel 'Love First Sight' dan Brady. Jadi aku sebenarnya kurang suka membaca percintaan peran pendukung karena itu aku sering melewatkan bagian plot cerita mereka dan hanya terfokus pada kisah penting dan adegan romantis pemeran utama novel aja. Kalau saja aku tau akan begini, aku akan membacanya bahkan aku akan meneliti tiap katanya. Malang sekali diriku. Pasti Brady sangat bingung karena perubahan aneh ini. 


'Berarti hal yang harus kulakukan adalah akting senatural mungkin!' Monologku dalam batin.


"Ekhem! Maaf sepertinya aku sedikit berubah karena sakit. Dan kondisiku sekarang hanya merasa sedikit keringat dingin." Kataku dengan batuk kering diawal untuk menaturalkan kekuatan aktingku saat akhirnya memutuskan membuka mulut. Setelah kataku keluar muka brady langsung panik dan memegang tanganku. Lalu Brady menarik tubuhku yang kecil ini mengikutinya. Sungguh penarikan yang tiba-tiba, Aku beserta langkah kecilku mengikuti langkah kaki panjangnya itu. Dalam perjalanan itu aku melihat sekilas keadaan sekolah halcyon school. Lalu menyelami pikiran serta mencoba lebih mengingat dan mengumpulkan banyak informasi tentang siapa Brady itu.



'Brady Charles Howard. Brady yang berarti dari pulau yang luas dan lembut, sepertinya dia orang yang benar-benar suka menjelajah.' Simpulku 


'Charles seorang pria ceria dan memiliki rasa humor, seperti disetiap novel pemeran laki-laki akan ada dua orang yang bertolak belakang. Pemeran yang dingin dan pemeran yang lebih hangat, Namun terkadang pemeran hangat lebih mudah jadi Sadboy.' Sungguh sangat disayangkan.


'Terakhir Howard seperti yang kutahu diawal, itu adalah nama keluarganya yang berarti Howard itu tinggi. Seperti Badannya sekarang yang menjulang tinggi. Tapi dia adalah pria yang manis dan penuh kegembiraan. Sayangnya Birdella ditakdirkan bukan untuk dia' Lagi dan lagi aku sangat menyayangkan nasib tidak adil dari Brady. Tapi mau gimana lagi itu sudah hukum novelnya dia menjadi seperti itu. Sama sepertiku yang sudah ditakdirkan menjadi antagonis. 


"Sekarang kita sudah di UKS! Kau istirahat saja. Aku akan segera menelpon ayahmu agar kamu bisa langsung pulang!" Kata Brady menyadarkanku. Aku melihat sekelilingku, benar-benar UKS. Akupun langsung dengan cepat membalas dengan gelengan.


"Hei, Sungguh aku tak apa." Aku berucap dengan nada meyakinkan, tapi sepertinya Brady adalah orang yang keras kepala.


"Tidak, kau harus istirahat!" Bantah Brady.


"Sudah kubilang. Aku baik-baik saja!" Tak mau kalah aku juga membalasnya dengan kesal.


"Tidak!"


"Iya!"

__ADS_1


"Tidak!"


"Iya!"


"Tidak!"


"Iya!" Kami tetap sama-sama keras kepala.  Lorong area yang kosong sekarang mulai ada para siswa yang terundang karena perkelahian kami. Hingga seseorang datang kedekat kami.


"Apa yang kau perebutkan dari iya dan tidak?" Tanya seseorang. Tapi aku dan Brady sepertinya terlalu larut dalam perkelahian sepele kami.


"Berhenti!" Teriak orang yang tadi bertanya pada kami. Namun tadi kami mengabaikannya. Saat teriakan itu menggelegar aku dan Brady diam tapi kami tidak berhenti menatap satu sama lain. Memang kekanakan sekali, tapi masa iya aku harus pulang dan melewatkan hari pertamaku disekolah impian ini hanya karena dia sangat khawatir.


"Tidak!" Brady tiba-tiba memulai pertikaian kembali yang membuat jiwa berantem adu mulutku keluar.


"Iya!" 


"Tidak!"


"Sudah kubilang berhenti!" Teriakan marah kesal orang yang masih berdiri didekat kami.


"Kamu yang diam!" Sarkas Brady tanpa melihat ke orang yang bilang berhenti. 


"Apa kau bilang?" Marah orang tersebut, seketika pertanyaan yang menyuramkan atmosfer disekitar menggelegar dan membuatku menoleh. 


'Waduh! Gawat orang itu seorang paruh baya yang memakai baju formal dan membawa map tebal serta penggaris panjang. Sepertinya dia adalah seorang guru.' Kagetku. Aku menoleh ke arah Brady dan guru itu secara bergantian. Sungguh malang sekali nasibmu Brady. Dengan berhati-hati aku berjalan mundur saat guru itu dengan aura hitamnya mendatangi kami. 


'Lebih baik aku kabur!' Pikirku. Tapi tunggu apa Brady tidak merasakan atmosfer mencekam ini. Mati sudah kau Brady. Namun, dia dengan santainya hanya tersenyum ejek melihatku.


"Beraninya kau–!" Marah Brady saat menolehkan kepalanya. Tetapi kata-katanya langsung terbungkam oleh tatapan laki didepannya yang setajam silet. 


"Beraninya kau apa, hah?!" Bentak guru itu. Aku membalikkan badanku dan kabur. Terakhir kali hal yang kulihat adalah Brady yang menatapku dengan belas kasihan. 


'Maaf Brady, sepertinya aku akan mengangkat tanganku jika soal itu berkaitan dengan kemarahan guru!' Batinku tak sanggup. Sepertinya setelah aku meninggalkan Brady, ada rasa penyesalan muncul. Karena akhirnya sia-sia aku mencari dia tanpa mengetahui dimana kelasku. Sekarang aku tidak tahu harus kemana.


Tetapi bagaikan dewi fortuna berpihak padaku. Seorang yang kukenal dari novel lewat dan dia merupakan teman Birdella yang setia, bernama Bona. Segera aku diam-diam tapi pasti mengikutinya dari belakang.


Dan ternyata dugaanku benar aku sekarang sudah samapi dikelas yang dimana semua pemeran yang kukenal sekelas denganku. Aku melihat sekeliling kelas dan untungnya setiap meja hampir terisi penuh dan sisa 6 meja. Aku Brady lalu siapa lagi 4 orang. Saat aku mengedarkan pandanganku, Aku baru sadar bahwa Birdella dan Jason belum ada dan 2 orang lagi siapa. Sudahlah aku tidak mau berpikir keras.


Akupun mengingat sesuatu tentang tempat duduk dalam novel. Birdella pasti duduk bersama Bona. Jason mungkin duduk diantara 3 bangku kosong itu dan aku pasti duduk dikursi paling belakang itu bersama Brady. Seketika aku mengingat kejadian dimana Brady dijewer, aku berjalan menghampiri tempat duduk paling belakang. Dan menatap kursinya yang kosong.


'Kasian sekali kursinya kosong. Brady maafkan aku, tapi kira-kira hukuman seperti apa yang dia terima?' Pertanyaan Monologku dalam hati.


Di lain sisi, Seorang laki jangkung duduk dengan 7 lembar kertas kosong didepannya.


"Hukumanmu menulis tanggapan tentang perbuatanmu yang tadi kamu lakukan sendiri. Sebanyak 7 lembar penuh, harus selesai sebelum jam mapel terakhir!" Peringat gurunya. Benar laki itu adalah Brady. Dengan muka menekuknya dia menatap lembaran didepannya.


'Sial! Awas aja kau Intan.' Kesal Brady dalam hati saat mengingat perlakuan Intan yang meninggalinya. Sebenernya bukan salah Intan tapi Brady tetap saja ingin menjahili dengan membalas dendam. Tanpa sadar pikiran balas dendam membuat mulut Brady terangkat mengejek. Guru didepannya menangkap Brady tersenyum mengejek. Dan–


"Jadi kamu meremehkan hukuman yang saya berikan?!" Bentak Guru didepannya.

__ADS_1


"Tidak pak. Saya tidak meremehkan, serius!" Wajah Brady langsung panik. Sangat sial dia benar-benar tidak tahu bahwa dia tersenyum mengejek.


"Saya jadikan 10 lembar. Tidak ada penolakan!" Kata guru itu dan langsung keluar ruangan yang dimana Brady ada.


'Akhhhhhhhh' tangisan batin Brady meronta-ronta.


...•••...


Tak terasa bahwa aku sudah duduk dikelas ini selama 10 menit tanpa melakukan sesuatu, kecuali tidur leha dan melamun. Aku penasaran bagaimana sebenarnya sekolah ini bekerja. Tapi tak lama kemudian suara gemuruh siswa terdengar dari luar. Suara teriakan entah apa yang membuat para siswa teriak. Jiwaku yang penasaranpun akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Saat aku melihat dibalkon kelasku terlihatlah 3 orang laki-laki yang keluar dari mobil sport masing-masing.


'OMG! Pria ganteng. Aku suka pria ganteng. Sebentar apakah ini semacam F4 dunia novel, tolong ganteng banget. Tapi tunggu bukannya itu.' Dalam hati aku sangat senang karena ternyata di dunia novel ada semacam F4 seperti drama masa kecilku yang ku tonton di duniaku, yaitu Boys Over Flowers. Tapi tatapanku terasa tak asing saat melihat seorang laki jalan paling depan memimpin. Mataku membelalak saat tau itu adalag Jason.


Para murid baru yang melihatpun teriak seperti orang kerasukan. Sesaat aku tahu bahwa itu adalah Jason. Aku langsung malas melihatnya dan beralih ke dua orang pria tampan dibelakangnya. Tapi apakah aku melewati adegan paling penting bahwa Jason memiliki 2 teman pria super ganteng ataukah memang ini tidak ada di plot cerita novelnya. Aku masih menatap laki-laki dibelakang Jason.


"Kyaaa! Siapa laki itu? Kenapa dia ganteng sekali!" Ucap salah satu anak baru yang sepertinya dia dan temannya lagi berkeliling di lantai atas dan bersandar diseblahku. Di balkon yang sama juga denganku.


"Hei! Memang ganteng sih, tapi rumornya mengatakan bahwa dia punya pacar. Dan rumor yang lebih seru lagi adalah pacarannya hanya sebatas bisnis." Jawab salah satu temannya.


"Benarkah?! tapi kasihan sekali wanita itu." Para wanita itu bersemangat dan sepertinya sangat tertarik dengan rumor itu. Tapi sebenarnya itu bukan rumor dan itu adalah nyata. Akupun kesal saat semakin lama para anak baru itu menyebarkan rumor jelek tentang Intan yang bahkan dia tidak tahu dan mengaggungkan Jason. Saking jengkelnya aku segera mendekat kearah mereka.


"Kalian anak baru, sini!" Panggilku mendekat mereka dan memecah acara gosip mereka. Mereka dengan penasaran mendekati aku dan manatapku seolah bertanya ada apa aku memanggil mereka.


"Akan kuberitahu sebuah gosip yang luar biasa. Rumor yang kalian katakan itu sebenarnya fakta. Dan aku sudah menyelidikinya. Lalu satu lagi kalian jangan khawatir Laki depan itu yang kalian idolakan sudah Putus dengan pacarnya!" Kataku dengan meresapi suasana bergosip.


"Benarkah?!" Tanya mereka serempak dengan jiwa anak muda berkobar.


"Iya, tolong sebarkan ini. Mereka benar-benar putus dan bukan lakinya yang memutuskan tapi wanitanya. Asal kalian tahu juga bahwa rumor yang mengatakan wanita itu menempel terus itu bukan fakta itu sangat hoax yang menjelekkan. Jadi sebarkan yang kuberitahu tanpa kurang ataupun lebih karena ini 100% fakta!" Ucapku meyakinkan mereka, mata mereka semua bersinar dan mengangguk. Dengan gerakan respon cepat mereka, mereka lari menuruni tangga. Dan dapat dilihat mereka semua langsung menyebarkan gosip dari kelompok datu ke kelompok lain. Gila.


"Intan!" Panggil seseorang dan membuatku menoleh karena sudah terbiasa dengan nama panggilanku sekarang.


"Kau dipanggil Guru ke ruangan Osis, sekarang ikut aku!" Kata seseorang yang memanggilku. Ada apa aku dipanggil ke Ruangan Osis. Aku bingung tapi aku tetap berjalan mengikuti orang tadi bersama tasku yang ternyata belum aku lepas sama sekali.


...°°°...


...*All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.*...


...— Walt Disney...


Bersambung...


.......


.......


.......


^^^int4n18feb ^^^


^^^30 September 2020^^^

__ADS_1


^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^


__ADS_2