
Lima hari kemudian akhirnya hari perayaan olahraga datang. Aku berdandan hari ini, karena bakal ada senior-senior tampan. Aku tahu itu terlalu genit tapi ayolah ini dunia novel. Masa aku tidak melakukan hal yang kumau. Apalagi sekarang aku sebagai orang kaya. Nikmat apa yang harus kudustakan.
Aku memoles liptint untuk terakhir dari step dandanku. Dan sekarang aku memakai baju olahraga sekolah ini. Aku selalu takjub oleh sistem desain dari baju sekolah disini. Lihat saja kita beli sepasang baju olahraga dan saat di kelas seni kita boleh berkreasi. Aku sangat senang.
Baju bewarna pink tua dan rok bewarna biru membuat kontras dengan kulit Intan yang putih pucat. Aku menguncir rambutku, karena aku akan berpartisipasi dalam berbagai hal lomba olahraga seperti tenis meja, lari estafet wanita, dan lomba pasangan olahraga.
Dan sekarang aku memutuskan untuk berpasangan dengan Jason karena ayah mengirimku seorang ajudan yang memberitahuku untuk berpasangan dengan Jason. Aku sendiri tidak masalah tapi aku memikirkan Birdella.
'Sudahlah, ayo kita semangat untuk hari ini!' Batinku penuh tekad. Karena selama lima hari terakhir sebelum hari lomba ini aku sudah berlatih dengan giat bersama Jason. Jason disana sebagai guru olahragaku.
Ternyata cara dia melatih tak cuma-cuma. Aku disuruh push-up, sit-up, Back-up, dan lari masing-masing 30 kali. Apakah dia tidak lihat kalau aku perempuan. Atau sudahkah dia lupa bahwa aku perempuan yang lemah.
Tapi dari semua ajaran dia yang keras. Dia sangat baik terkadang kalau kakikku sakit dia akan menggendongku dari lapangan ke dalam kamar. Atau tidak saat aku lelah dia akan membelikan apapun makanan yang kuingin. Serta tidak lupakan saat aku berlari dan mulai lelah, dia akan menggenggam tanganku erat sambil berlari bersama.
Aku pikir dia benar-benar baik. Apalagi aku tidak sabar jika melihat Birdella dan Jason bersatu. Pasti seru melihatnya secara langsung bermesraan. Aku sangat menantikkannya.
Memakai sepatu dan mengikat talinya. Lalu keluar pintu. Secara bersamaan pintu Jason yang ada didepanku terbuka. Aku hanya bersemangat dan melirik sebentar sebelum menghampiri kamar sebelah Jason. Aku mengetuk dengan gembira.
"Sabar!" Terdengar teriakan dari kamar yang diketuk aku. Dan disisi lain Jason hanya masih memandangku.
...Krek! ...
Daun pintu yang aku ketuk akhirnya keluar. Seorang laki-laki tinggi dengan memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan. Siapa lagi kalau bukan Brady. Dia sangat lucu dengan rambut yang masih berantakan.
"Hahaha! Jerapah bermuka singa. Lihatlah rambutmu." Tawaku pecah saat melihat rambitnya yang unik. Akhir-akhir ini aku dan Brady dekat dan benar-benar menjadi teman yang dekat. Terkadang aku sudah melupakan dimana dunia asliku. Benar-benar nyaman punya teman yang lucu seperti dia dan hangat.
"Hei! Itu salah kau. Kau terlalu pagi dan lihatlah aku belum berdandan untuk rambut!" Kesal Brady sambil menjambak kuncir kudaku.
"Yak! Kau bisa merusaknya. Ayo cepat kakikku pegal. Angkat aku!" Ucapku biasa dengan Brady untuk menggendongku. Dan sekali lagi karena ini dunia novel. Semuanya tidak masalah.
Saat Brady siap mengangkatku, sebuah tangan menahan tangan Brady yang tak lain adalah Jason. Aku menatapnya bingung. Jason menatapku lalu berkata hal yang mencegangkan.
"Biar aku yang mengangkatmu!" Ucap datar Jason. Aku dengan cepat menggeleng.
"Kakimu sakit karenaku!" Jawab Jason menuntut. Memang benar dia yang membuatku begini tapi aku benar-benar tidak nyaman.
"Terima kasih! Tapi, aku mau meminta Brady." Kataku yang langsung menangkap ekspresi Jason berubah entah apa tapi matanya lebih tajam.
"Maaf Jason. Kami pasti mengganggu pikiran kamu!" Kata Brady yang langsung menggendongku. Aku langsung memeluk lehernya. Kami pergi tanpa menatap Jason.
...••• ...
"OMG! Brady tolong angkat aku. Aku pingin lihat itu, kakak senior yang katanya populer." Teriakku senang sambil menarik baju Brady.
"Baiklah, sabar kau itu berat!" Kata Brady kesal.
Aku hanya menatap kesal saat mendengar kata berat. Padahal aku bertambah tinggi dan beratku tetap 42kg. Brady mengangkatku dengan ringan dan akhirnya aku bisa menatap para senior yang terkenal itu. Dan tak sengaja mataku bertemu dengan senior populer yang mungkin dia adalah ketua dari perkumpulan itu.
Senyum indah aku tunjukan yang terbaik dan senior itu juga menatapku dengan senyum yang manis. Hingga sebuah tangan menutupi mataku. Sial sekali, padahal aku lagi ingin menikmati senyumnya para senior tampan. Tapi lihatlah telapak tangan besar ini menghalangiku.
"Hei! kurang ajar kau! Aku masih ingin melihat para bidadara tau." Marahku.
Brady hanya berdecak dan menurunkan aku. Aku kesal bukan main saat dia menurunkanku dan berkata bahwa tangannya patah hanya karena berat badan yang enteng ini. Aku akhirnya memutuskan menyempil untuk bisa melihat apa yang membuat para siswa bergerombolan untuk para senior.
Jawabannya pasti pertama visualnya bukan main. Tapi sepertinya ada sesuatu yang menarik. Aku terhuyung ke kanan ke kiri terdorong depan belakang dengan susah payah. Hingga sebuah tangan menarikku didalam kerimunan yang ricuh ini. Aku ditarik dan berdiri didepan orang yang menarikku.
Saat palaku menoleh sedikit. Presensiku mendapat bahwa ini pasti Jason. Karena baju yang body fit membuat otonya yang kuat tercetak. Sangat menggoda. Semakin bergelombang desakan ini. Entah kenapa hingga ada seorang lelaki menghadapku dan hampir ingin menabrakku.
Jika saja Jason tidak cepat menarikku langsung berbalik dan mendekapku. Dengan tubuh kokohnya dia melindungiku dari para rombongan laki-laki didepanku tadi menabrakku. Jason benar-benar membuatku terkagum. Dan karena ini kesempatan dalam kesempitan.
Akan kugunakan untuk memeluk karakter utama. Aku mengangkat tanganku lalu membalas dekapan Jason dengan senyum bahagia. Dan tak lupa bersandar pada dada bidang. Disisi lain Jason kaget saat Intan membalas dekapannya yang semata untuk melindungi Intan. Tapi saat melihat Intan membalas pelukannya dengan senyum dan sedikit manja di dada bidangnya. Membuat Jason memasang Smirk.
'Dasar anak bodoh!' Kekeh Jason dalam hati.
__ADS_1
Balik lagi pada Intan. Aku masih setiap memeluk Jason sampai tak terasa semua desakan melonggar. Saat kesadaran penuh karena tatapan tajam Jason aku langsung menengadah. Mataku dan Jason saling bertemu.
"Te–terima kasih dan ma–maaf." Gugup maluku saat berusaha berbicara. Aku bersiap kabur.
Tapi Jason merangkulku dan membawaku ke tempat yang agak sepi. Dan dengan tiba-tiba Jason berjongkok. Aku dengan cepat langsung menutup rokku dengan refleks. Aku bingung dengan apa yang dia lakukan. Lalu Jason menengadah dan memberikan smirk. Mencurigalkan sekali.
"Apa yang inginau lakukan, hei?" Kagetku.
"Kau memang bodoh dan ceroboh!" Ucap Jason
"Ha?!" Bingung dan kesal perasaan itu hadir bersama.
"Lihat talimu!" Ucap Jason. Akupun menatap kebawah dan sekaliam mengambil awas anak rambutku. Agar bisa leluasa melihat apa yang dilakuin oleh seorang Jason. Langsung mataku menatap tangan Jason yang ingin mengikat taliku. Benar sekali dia memang ingin mengikat taliku.
Aku hanya diam menyaksikkannya. Dalam diam, kupikir sepertinya memang sudah kebiasaan Jason berpacaran dengan Intan. Jason harus menjaga Intan layaknya tuan putri. Atau mungkin bisa kusimpulkan Jason hanya menganggap Intan hanyalah adik.
"Terima kasih Kakak!" Kataku dengan gembira saat Jason sudah mengikatnya. Dia terkejut dengan panggilanku. Dan terlihat dari rautnya yang bingung.
"Karena kita sudah putus. Aku akan menganggapmu sebagai kakak laki-laki yang menyayangi adiknya. Baiklah sampai nanti kakak! Aku harus mencari laki ganteng dulu!" Seruku langsung meninggalkan Jason yang rautnya sangat tidak enak.
"Hufttt– apakah aku dulu terlalu dingin dan menutup? Hingga tak tahu sejak kapan aku mulai suka pada Bocah bodoh itu. Aku pasti gila!" Gumam Jason saat Intan sudah tak terlihat dari pandangannya.
...••• ...
"Baik bagi para peserta lomba Tenis meja wanita silahkan ke lapangan indoor!" Suara pengumuman menggema. Para peserta lomba termasuk aku yang juga berpartisipasi memasuki lapangan indoor. Didalam terdengar suara ricuh penonton laki-laki yang mendukung wanita perwakilannya.
Aku bisa melihat bagian kelasku yang tidak terlalu bersemangat mendukungku. Karena aku tahi bahwa Intan di novel aslinya sudah sangat jahat bagi teman sekelasnya. Dan dibarisan tempat duduk kelasnya hanya Birdella dan Brady yang semangat mendukungku dan mengangkat papan namaku.
'Ayo jangan ragu, Kamu pasti bisa!' Batinku. Aku menghela nafas sebanyak-banyaknya untuk merilekskan badanku.
Saatnya aku maju melawan senior. Sungguh deg-degan jantungku. Aku mulai bertanding. Hingga tanpa sadar aku sduah melewati 3 turnamen. Dan sekarang adalah turnamenku melawan senior yang terkhir. Akhirnya waktu habis dan aku akhirnya mendapat skor lebih dari senior terakhir. Aku menang dan tidak percaya.
Dan saat pembagian mendali itu yang mewakili adalah senior yang tadi bertatapan denganku. Sungguh menawan senyumnya.
"Selamat kamu Juara satu!" Suara tegas nan indah memasukki runguku. Aku hanya menjawab dengan anggukan semangat. Dan tiba-tiba senior itu memelukku.
"Pelukan selamat dariku!" Sungguh tiba-tiba membuat matakku melotot. Aku mendengar lapangan indoor langsung riuh karena kakak senior yang terkenal ini memelukku. Aku tidak boleh menyia-nyiakkan kesempatan. Aku membalas peluknya dengan semangat
Terdengarlah kekehan dari kakak senior.
Dia masih memelukku dan mengelus rambutku. Aku hanya tersenyum kemenangan.
"Namaku kevin, salam kenal anak kecil!" Ucapnya manis.
"Salam kenal. Intan, panggil sesuka senior!" Timpalku semangat.
"Baik sayang!" Ucap senior.
"Aku suka sekali panggilan itu. Sayang!" Balasku. Lalu dia melepas pelukan selamat yang agak lama itu. Dan menatapku dengan tersenyum.
'Meleleh sudah aku!' Batinku.
Senior turun dari panggung. Dan jantungku masih kaget berdebaran. Ku melihat ke arah para penonton wanita yang menatapku benci dan iri.
'Maafkan aku para wanita, aku tidak boleh menyiakan suatu kesempatan yang mungkin di duniaku tidak akan dapat!' Batinku sedih menatap para wanita yang iri padaku.
Aku berjalan menuju Brady dan Birdella yang sudah turun dari kursi dan menungguku. Lihatlah visual Birdella yang selalu cantik membuat terkagum saat jalan menujunya. Saat Brady merentangkan tangan aku mulai berlari sekuat tenaga dan melompat karah Brady. Dengan cepat Brady mengangkatku dan memelukku.
"Ternyata kau hebat juga anak Bodoh!" Celetuk Brady. Aku hanya membalas dengan berkata memang. Aku diturunkan dan birdella menghampiriku.
"Selamat Intan!" Ucap lembit Birdella. Aku hanya mengangguk semangat dan mengatakan terima kasih.
__ADS_1
...•••...
Lomba selanjutnya ialah Lomba berpasangan. Agak aneh tapi aku mengingat bahwa ini dunia novel bergenre Romantis. Jadi kumaklumi.
Aku sekarang berada dipunggung Jason. Iya aku digendong piggy back oleh Jason. Dan sebelah kananku ada Birdella dan Brady. Lalu sebelah kiri ada senior tadi yang memelukku bersama perempuan yang memandangku sinis.
Aku hanya menghiraukan dan berfokus pada lomba ini. Karena hadiahnya lumayan Dinner di restoran mahal yang sebenarnya semua anak sekolah ini mampu. Hanya saja bedanya kita bisa memakannya selama sebulan gratis. Aku sangat menantikan itu.
"Bersiap, Mulai!" Saat tembakan sudah dilangkan Jason dengan cepat berlari sambil menggendongku. Aku hanya memangangnya erat dan bersiap untuk menjawab pertanyaan akademik.
Saat sudah sampai ternyata kakak senior yang sebelah kananku lebih dulu. Dilanjut olehku dan Jason. Aku buru-buru membaca soal dan menghitung dalam diam.
'Walaupun Intan di dunia novel ini bodoh tapi percayalah aku Arabella masih memiliki kepintara di dunia." Batinku yakin saat pertanyaan internasional keluar.
Tak terasa saat aku menjawab akhirnya aku bisa. Sungguh tak diragukan. Dengan kekuatan penuh Jason langsung lari ketempat push-up dan aku yang masih setia diatasnya mengikuti alurnya. Jason push-up seperti tidak ada beban saja di punggungnya.
Setelah push-up hampir 15 kali Jason kembali berlari dan menurunkanku. Menyerahkan langkah terakhir yaitu berseluncur hanya dengan seutas tali kuat. Dengan cepat aku turun dan berlari.
Saat aku berlari bayangan wanita lain muncul ternyata senior dan Birdella juga sedanga berbalapan melawanku. Dengan kekuatan penuh aku berlari kencang dan cepat memasang seutas tali itu dengan kuat seperti yang diajarkan oleh Jason.
Jaosn yang terlihat tadi sudah menurunkanku dan berlari menuju tempat akhirku dia siap manangkapku. Dengan kekauatan aku memberanikan diri dan. Meluncurlah aku. Dengan mata tertutup.
...Brak! ...
Suara berhentinya tali membuatku harus segar melepas tali dan loncat. Terlihat kak senior juga ada dibawahku dia menanti pasangannya. Aku buru-buru membuka tali. Hingga.
"Aaaaaaaa—!!!" Teriakku.
Aku masih deg-degan. Untungnya Jason menangkapku dengan tanggap dan memlekku dalam dekapannya berkata bahwa aku sudah berhasil.
"Kita Juara satu!" Ucap Jason datar tapi seperti ada nada gembira. Aku hanya mengangguk lemah di dekapannya karena jantungku yang masih tak berdiam.
"Ayo istirahat!" Kata Jason yang langsung kuanggukan. Karean kakikku tak kuat berdiri lagi karena gemetaran.
Aku diangkat oleh Jason menuju ruang tunggu khusus lomba berpasangan. Aku diselonjorkan. Dan dengan muka dataranya nan dingin dia memijitku dengan telaten.
"Ahhh rasanya lega! Bayangkan saja aku hampir jantungan saat melepas talinya dan kau tidak menangkapku!" Ucapku membuncahkan kekhawatiran.
Tiba-tiba Jason mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata dengan nada aneh.
"Tak mungkin ku membiarkkan milikku jatuh!" Ucapnya yang membuatku benging tak berdaya.
...°°° ...
...*Jadilah dirimu sendiri. Orang tidak harus menyukaimu, dan kamu tidak perlu peduli.* ...
Bersambung.....
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
^^^int4n18feb^^^
^^^23 Oktober 2020^^^
^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^
__ADS_1