Record A Life Novel

Record A Life Novel
Bab 2 - 'Masuk Dunia Novel'


__ADS_3

Pagi yang cerah namun tidak membuatku bangun dengan semangat melainkan bangun dengan posisi lesu. Kamar putih dengan gaya eropa dan barang mewah yang hadir disekelilingku. Membuatku merasa tidak mengerti apa yang terjadi sampai sekarang dan masih merasa terkejut.


Sudah sejak satu minggu lebih aku baru menyadari bahwa aku masuk kedalam sebuah Novel. Aneh. Tapi ini nyata, awalnya pada satu minggu lebih yang lalu aku kira saat tiba-tiba terbangun dalam kamar ini hanyalah mimpi atau hanya ilusi haluku saja. Tetapi saat 2 hari berturut-turut ku melakukan percobaan untuk memastikan seperti tidur sebentar dan bangun melihat sekitar. Untuk mengetahui dan mengecek bahwa pasti ini hanya sekedar ilusi bunga tidur semata. Tapi lagi dan lagi ternyata aku salah. Aku bangun dan tetap ada di kamar ini.


Entah apa yang terjadi, aku juga bingung dengan semua ini. Terakhir kali yang kuingat adalah aku tertidur dikasur dan bangun sudah ada di dunia aneh ini. Dan alasan mengapa aku tahu bahwa aku masuk dunia novel serta yakin ini benar-benar dunia novel. Ialah karena saat aku bangun nama-nama yang terlontar dan sering diucapkan di rumah ini tak asing bagiku. Semakin aku teliti dan dengar seksama ternyata nama yang selalu terucap di sini  adalah nama pemeran dari novel yang terakhir kali aku baca sebelum tidur dan masuk ke dalam novel ini. Apalagi kalau bukan novel 'Love First Sight'


Dan yang lebih membuatku semakin masih terkejut adalah aku hadir di dunia novel ini sebagai pemeran antagonis bukan sebagai pemeran utama protagonis. Sungguh terlalu kejam. Sudah 7 hari ditambah hari ini dari percobaan awal aku untuk memastikan ini hanya ilusi, aku sudah merenungkan banyak hal yang dari penting hingga tak penting. Aku juga bertanya dari mulai apa yang terjadi sekarang di duniaku hingga bagaimana masa depanku jadi pemeran antagonis di rumah ini. 


Hal aneh yang terjadi secara tiba-tiba seperti sebuah fenomena. Membuat pikiranku semakin penuh dengan stress. Pikiran tindakan-tindakan pemeran antagonis di cerita 'Love first sight' ini juga hampir setiap hari terlintas seperti bergentayang, saat aku merenungkan apa yang sebenarnya terjadi di hidupku. Tindakan kejam antagonis yang aku selalu maki sekarang menjadi seperti jebakan yang mengarah kepadaku.


...Tok!Tok!Tok!...


Ketukan pintu membuyarkan pikiranku dari alam bawah sadar. Aku tersadar dan langsung menatap ke pintu tempat suara itu berbunyi. Dengan muka bantalku, aku menunggu sebuah kalimat setelah ketukan pintu. karena hampir seminggu lamanya aku disini aku mulai tahu kebiasaan orang sekitarku.


"Nona, Apa anda telah bangun?!" Kalimat  yang kunantikan akhirnya terlontar. Suara itu adalah suara wanita paruh baya yang terdengar dibalik pintu luar. Wanita paruh baya ini sudah kuduga sejak awal bahwa dia adalah kepala pelayan dari keluarga Intan ini. Karena dapat diketahui dari dia yang selalu mengurus mansion ini dan dari kutipan novel juga. Bahwa intan sangat dekat dengan kepalaya pelayan di rumah ini.


"Iya!" Jawabku lesu dengan suara aneh yang masih tak terbiasa keluar dari mulut ini. Sungguh sangat aneh rasanya dan sedikit membuatku tak nyaman. Karena suaraku yang sebenarnya itu adalah melengking tipis, lalu sekarang mengalami perubahan membuat sangat canggung. suara yang diri intan ini punya adalah suara bass dan sedikit serak. 


Sang kepala pelayan akhirnya membuka pintu dan masuk membawa baskom berisi air hangat beserta kain. Dibelakangnya diikuti satu pelayan muda yang bernama marie yang selalu mengantarkan makanan pagi akhir-akhir ini  ke kamarku lebih tepatnya intan.


 Aku hanya menatap dalam kekosongan sesaat aktifitas dua orang wanita ini dimulai. kepala pelayan dan marie mulai mencuci wajahku ditempat tidurku dan menyisir rambut kusutku yang pendek ini. Dan aku hanya menikmati sambil memakan makanan yang mereka bawa. Benar-benar kehidupan impian. 


"Nona, harum apakah yang ingin anda pakai untuk air mandi hari ini?" Tanya kepala pelayan berhati-hati  sambik masih bergelut dengan rambutku.


" Terserah." Jawabku singkat yang menunjukkan definisi perempuan sekali. Terserah. Jujur saja aku senang, aku senang dapat merasakan hidup mewah, dan hidup seperti ini sebelum mati. Tapi aku juga masih belum dapat menerima apa ini semua. Aku kangen pada ibuku dan temanku.


'Apakah mereka sekarang mencariku?' Batinku yang kembali menyelam kedalam pikiran dunia aku. Aku cukup sedih. Karena aku tidak tahu apakah ibuku mengetahui aku tidak ada. Apakah ibuku hidup dengan baik. Aku hanya berharap aku dapat kembali dengan cepat keduniaku dan kehidupanku yang sebenarnya.


"Nona, Tadi ayah nona berkata agar nona bersiap pukul jam 9 pagi tepat. Karena keluarga Jason akan makan siang bersama sekaligus menjenguk nona, Pacar anda akan datang!" Marie ceria memberitahuku tentang apa yang baru saja ayah intan katakan tentang kedatangannya padaku. 


Jika di cerita novel, Intan itu sangat senang menantikan kabar tentang datangnya keluarga jason ke rumah ini. Bahkan sampai ia bisa mengurung dirinya di kamar agar Jason datang. Walaupun Jason datang hanya duduk diam sambil membaca lalu pergi kembali.


Aku hanya mengangguk memberi jawaban. Ini adalah hari pertama yang menjadi pertemuan aku 'Arabelle Hafika' dengan pemeran utama pria novel yang kusuka. Sebenarnya aku ingin membalas dengan senang, namun aku ingat bahwa lubang kehidupan suram Intan digali oleh  mantan pacarnya sendiri. Sungguh mengerikan.


'Huh! Aku bertekad untuk melindungi masa depanku, Jika aku tidak akan bisa kembali keduniaku!' Batinku pasrah dan mencoba menerima apa yang terjadi jika aku masih benar-benar terjebak dalam dunia novel 'Love First Sight' ini.

__ADS_1


Mengarahkan pandanganku pada dinding yang terdapat jam mewah dengan berlapis emas dan ditengahnya terdapat berlian. Membuat jam itu sangat fantastis. Jam itu menunjukan bahwa tinggal satu jam lagi untukku bersiap untuk menuju jam 9.


"Nona sudah selesai, akan saya segera siapkan alat mandinya!" Undur diri Marie dan kepala pelayan yang sekarang menuju kamar mandi.


Tak selang berapa lama kepala pelayan memberi tahu aku bahwa air dan alat mandinya telah siap. Aku segera memasukki kamar mandi. Namun saat aku ingin menyelami tubuhku di Bathup. Kepala pelayan dengan lembut menarik tanganku dan menidurkannku di sofa kamar mandi.


Aku bingung apa semua dunia novel begini. Hal yang tidak Lazim seperti, ada sofa di kamar mandi, ada kasur di perpustakaan, dan ada sampul buku berlapis emas dan berlian. Tak dapat diragukan lagi. Bahwa ini benar-benar dunia novel.


Aku melakukan spa serta pijatan halus ditubuhku. Wangi minyak yang belum pernah ku hirup sekarang menjadi aroma pijatan yang kusukai. Walaupun pelayanku hanya dua. Kepala pelayan dan Marie, Namun mereka cukup terampil dalam hal Multi talenta sebagai pelayan. Rasa kantukku mulai terasa kembali datang saat aku berendam ke air di bathup yang hangat. Hingga tanpa sadar aku tertidur.


...•••...


Setelah ku mandi. Aku dibanguni oleh Kepala pelayan.  Wangi dari tubuhku menyeruak harum itu semua karena berbagai macam ritual yang jarang aku dapat di duniaku. Lalu aku memilih baju yang menarik perhatianku. Akupun akhirnya dapat berpakaian rapi dan berjalan ke cermin.  Menatap ke cermin, bagaimana penampilanku. Tidak ebih tepatnya Intan. Aku menatap ke cermin yang memantulkan sebuah tubuh kecil ideal dan cantik. 


Pada awalnya kukira intan jelek. Karena authornya mendeskripsikannya  bahwa intan memiliki warna kulit putih pucat dengan rambut pendeknya. Namun siapa sangka bahwa anggapanku kalau putih pucat seperti nenek-nenek berubah saat aku melihat tubuh dan wajahnya di cermin. Sungguh definisi yang bagus . Author juga mwmberikan deskripsi bahwa mata intan aneh. Padahal menurutku sesuatu yang aneh atau berbeda adalah hal yang indah. Kembali ku menatap diri intan di cermin.


'Yup, Namaku sekarang bukan Arabelle lagi. Karena Namaku adalah Intan Viona Cantika. Wanita jahat dalam novel ini yang ternyata sungguh cantik dengan kekurangan dan kelebihannya. Walaupun dia bodoh tapi dia hebatnya adalah wanita yang licik. Jika diartikan dari namanya saja sungguh Penulis membuat dengan sangat spesifik. Intan berarti permata yang sulit didapat. Viona yang berarti berkulit putih, dan terakhir cantika yang berarti wanita cantik' Ucapku sebagai Intan dalam Hati.



Setelah aku puas melihat diriku ke cermin. Aku mengatakan dan menetapkan bahwa aku sekarang bukanlah arabelle hafika lagi. Sekarang aku adalah Intan Viona Cantika. Nona muda satu-satunya anak dikeluarga ini. Walaupun aku masih tak mengerti dengan semua yang terjadi dan sulit menerima. Tapi aku merasa bahwa jika aku melakukan sesuatu yang terbaik di novel ini, mungkin akan semakin cepat membuatku kembali ke dalam duniaku.


'Mari mulai lakukan Berperan!' Batinku


Aku mulai berjalan dengan langkah tegap dan tegas melewati lorong keluarga ini. Berbagai foto keluarga berjajar dibingkai itu hanya ada Intan dengan ayahnya. Dalam novel dikisahkan bahwa ibu Intan meninggal saat melahirkannya. Karena itulah bingkai foto ini hanyalah sebuah keluarga tanpa keharmonisasian, kebahagiaan, serta senyuman. Dan yang hadir di foto ini hanyalah kekayaan. 


Seperti persis juga digambarkan didalam novel bahwa hubungan Intan dengan ayahnya tak pernah baik. Walaupun ayahnya tak pernah terlihat khawatir tentang Intan, Namun aslinya dia tetaplah seorang ayah biasa yang menyampaikan rasa sayangnya berbeda dari ayah yang lain. Memberikan keperluan Intan dengan kekayaannya dan kerja kerasnya agar anaknya tak hidup dalam keadaan susah. Sama hal-nya dengan intan yang juga anak seperti  lainnya, memiliki emosi untuk diperhatikan dan disayangi. Dan menyampaikan rasa sayangnya juga berbeda. Menyampaikan sebuah rasa sayang memiliki banyak cara dan yang bisa kita lakukan adalah mengerti serta menghargai cara mereka menyayangi kita.


Tanpa sadar tungkai kakiku sudah didepan tangga turun. Dengan fokus aku menuruni tangga dan terlihatlah di ruangan tamu Ayah Jason beserta Pria paruh baya yang masih tampan di usia bayanya ini, yaitu Ayah Intan yang sekrang harus kuanggap sebagi ayahku sendiri. 


Lalu mataku beralih menatap pria tampan yang bersender di salah satu pilar rumahku. Sangat Tampan. Tidak diragukan lagi bahwa dia benar-benar pemeran utama protagonis pria novel ini. Sangat beruntung bahwa laki itu adalah  pacar Intan sekarang. Untuk pengetahuan aja bahwa aku masuk ke novel ini dari bagian bab pertama.


Lihatlah laki itu yang sekarang matanya beralih ke mataku juga. Kami bertatapan. Dan aku hanya menatap dengan ekspresi datar walaupun hatiku berdegup kencang. Dalam cerita novel dikatakan bahwa Intan jarang tersenyum, sekalinya dia tersenyum . Senyumannya membentuk sebuah smirk licik. Jadi aku sekarang harus menetralkan ekspresiku.


__ADS_1


'Lihatlah dia. Kulit yang tidak terlalu bewarna putih dan sedikit memiliki warna eksotis beserta mata sipit nan tajam. Rahang tegas dan hidung mancung yang menjadi impian. Serta rambut abu gelombang yang bersinar membuat siapa saja ingin mengelusnya.' Sungguh deskripso author yang sanagt cocok denganya. Batinku hanya bisa menjerit.


Nama dia adalah Jason Elard Caldwell.Seperti namanya Jason yang berarti cerdas. Dia adalah ketua osis pada kelas 2 dan sekarang menjadi Ketua angkatan kelas 3 . anak dengan peraih 4 semester berturut-turut rangking pertama satu sekolah. Elard yang berarti berani, Dalam semua tindakan yang kubaca di novel dia selalu berani mengambil keputusan beserta resiko yang besar sekaligus. sungguh pria idaman dan yang terakhir. Caldwell orang yang penolong, dingin, dan artristik. Penggambaran tokoh yang detail. Dan sungguh beruntung Intan menjadi pacarnya walaupun hanya sebatas bisnis saja.


'Dan oh lihatlah tubuh kekarnya. wow sungguh idaman!' Batinku yang tadinya dari muka beralih pada badannya yang sepertinya telah banyak terlatih oleh olahraga.


"Intan, Mengapa kau disitu saja? Ayo turun!" Tanya dan ajakan ayahku secara bersamaan. Hal itu membuatku tersadar dari pikiran seorang wanita. Lalu aku melanjutkan menuruni anak tangga. Sesampainya dilantai dasar ayahku segera menuntun ayah Jason ke ruang  makan keluarga dan aku dan Jason hanya mengikuti para orang tua.


Kami berempat duduk dan para pelayan dengan cepat menyiapkan makanan pembuka kami. Namun saat sesi penyiapan makanan. Ayah Jason bertanya padaku sebagai Intan.


"Bagaimana kondisimu nak?!" tanya ayah jason yang menatapku. Aku melihat mata ayah Jason dan membalas dengan senyum dan berkata.


"Sudah membaik!" jawabku singkat diiringi senyum.


"Maafkan anakku yang tidak mengunjungimu selama kau sakit!" Pinta maaf Ayah Jason padaku. Menatap Jason dan Ayahnya secara bergantian.


"Tidak apa-apa. Aku sudah membaik!" Jawabku sehati-hati mungkin. Karena di novel jarang dituliskan cara Intan menjawab pertanyaan Ayah Jason. Membuatku harus berhati-hati dari melakukan kesalahan. Kembali hening dan diam.


Makan telah siap semua dari makanan pembuka hingga penutup. Kami memakan dengan canda tawa ringan dari obrolan bisnis para Ayah. Dan aku hanya mencoba menutup mulutku sebanyak yang kubisa hingga sesi makan ini berakhir. Aku masih belum siap jika ditanya tiba-tiba tentang hal Intan yang tidak diketahui diriku. Aku takut membuat kesalahan dalam berperan. Aku ingin mengubah cerita Novel ini dari kejadian buruk yang mungkin akan terjadi di masa depan.


...°°°...


...* u deserve better, u know u do *...


Bersambung...


.......


.......


.......


^^^int4n18feb^^^


^^^25 September 2020^^^

__ADS_1


^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^


__ADS_2