
Hari pagi Jum'at ini masih sama seperti hari pagi sebelumnya. Angin sejuk semilir memasukki kamar yang sederhana. Interior minimalis dan cat tembok berwarna orange menyambut pagiku. Aku menatap tirai jendela yang terbuka beserta cahaya matahari pagi yang masuk. Seperti biasa ibuku selalu membuka jendela dan tiraiku saat pagi agar aku terbiasa bangun pagi.
Mengumpulkan nyawaku hingga pulih lalu berjalan menghampiri meja belajar yang selalu tersedia susu hangat dan roti tawar. Hal itu sudah menjadi kebiasaan unik ibukku yang jarang orang lakukan, seperti tadi dia membiasakkan aku bangun pagi dengan membuka jendela dan tirai lalu menyiapkkan aku sepotong roti dan segelas susu hangat. Ibukku melakukan itu selalu setiap pagi. Karena ibukku adalah singgle parrent dan dia selalu bekerja untukku. Pergi dari pagi buta hingga pulang saat tengah malam, hanya demi aku seorang diri. Aku selalu sendirian dirumah. Dan sekarang akan aku perkenalkan siapa aku.
Arabelle Hafika itu adalah namaku. Aku adalah anak berusia 16 tahun yang menggemari membaca novel. Kehidupanku terasa lebih berwarna ketika aku membaca dan meresapi rasa yang karakter novel itu alami, bahkan aku bisa sampai 3 hari menguras air mataku karena komplikasi cerita yang membuatku merasa empati dan simpati pada tokoh utama wanita. Karena aku anak tunggal membuat aku merasa bahwa novel sudah seperti adikku, aku menyayanginya dan selalu memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuat novel. Aku selalu bermimpi rasanya menjadi karakter utama dalam novel, penasaran dengan semua rasa itu. Tetapi aku ingat bahwa tidak ada kehidupan nyata yang seperti itu, tidak ada namanya kejadian seperti aku bisa masuk kedalam dunia novel itu. Sungguh sangat disayangkan.
Kembali ke realita, aku menghirup oksigen sebanyak- banyaknya untuk memulihkan pemikiranku. Mengunyah roti yang kumakan dan tanpa sadar aku melamun. Melamunkan kisah novel yang aku baca semalam. Novel semalam masih menyisakkan jejak janggal pada hatiku beserta mata sembab yang sekarang hadir diwajahku ini. Menangis semalaman sambil merasakkan sesaknya terisak dan hidung yang bersumbat karena sebatas novel bacaan sungguh menderita, tetapi tetap saja aku melakukan hal menderita itu. Memang sungguh manusia itu sama saja, tetap naif. Dan novel yang kubaca semalam itu berjudul 'Love first sight'.
Cerita novel romantis yang sekarang menjadi 'best seller' dimana-mana. Aku sedikit mengerti mangapa para pecinta novel romantis menyukai cerita itu. Karena menurut sisi pandangku tentang novel 'Love first sight' ini. Memiliki plot cerita yang bagus dan membuat hati terbang serta secara bersamaan membuat menyesakkan. Walaupun ceritanya sama seperti yang lain cukup klise dan mudah ditebak. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya novel itu seperti hidup.
Hadirnya seorang peran antagonis yang kuat sehingga membuat cerita itu lebih kompleks dan terasa feelnya. Bahkan rasanya, di novel ini terkesan seperti pemeran anatagonisnya memiliki peran yang besar dalam novel ini. Pemeran antagonis di novel ini membuatku
semalaman bahkan hampir setiap baca bab cerita novel yang ada antagonisnya ini, aku meluapkan semua sumpah serapahku. Sungguh tak diragukan lagi bahwa penting sekali adanya peran antagonis untuk memperkuat sang protagonis. Sifat dari antagonis di cerita ini adalah perusak hubungan orang.
Siapa sih di dunia ini yang ingin hidupnya diberantakin sama pemeran antagonis apalagi kalau sifatnya perusak hubungan orang. Dan bingung aja gitu sebenernya apa sih yang mereka dapatkan dari merusaknya hubungan orang. Sungguh kejam.
"Haaah!" Helaan nafas lelah keluar begitu saja.
'Lagi-lagi aku terbawa suasana karena novel itu.' Batinku.
Arabelle menghentikkan lamunannya dan segera menghabiskan sarapannya. Karena setelah ini dia mandi dan akan berangkat sekolah untuk akhir pekan ini.
...•••...
Kicauan burung terdengar sepanjang jalan pagi menuju sekolah. Aku berjalan menyaksikkan hiruk pikuk kota di pagi hari yang dilakukan orang-orang. Tak lama sejauh mata memandang terlihatlah gedung sekolahku. Aku semakin mempercepat dan memperlebar langkahku agar cepat sampai dan tidak terlambat.
Sesampainya aku melewati gerbang aku langsung mengedarkan pandangan menuju taman sebelah lapangan. Dan bisa terlihat sahabatku. Seperti biasa mereka duduk disitu untuk menungguku agar bisa masuk ke kelas bersama. Aku kembali berjalan menghampiri mereka.
"Arabelle kenapa kau telat 5 menit dari perjanjian kita!" Ucap salah satu teman arabelle dengan rambut dikuncir kuda.
"Maafkan aku annie!" Sesal arabelle. Sahabatnya itu sungguh unik, mereka memiliki karakter tersendiri yang membuat arabelle ingin berteman dengan mereka. Annie sahabat cantik pertama Arabelle saat memasuki awal sekolah menengah atas, rambut dikuncir kuda dan nada suara yang melengking membuat dia mudah diingat. Dan satu lagi ialah Vika yang juga merupakan sahabat cantik Arabelle saat telah beranjak kelas 2 ditingkat sekolah menengah atas, wanita dengan kulit eksotis dan memiliki badan bak model. Membuat dia sangat mudah dikenal juga.
__ADS_1
Dan aku hanyalah wanita yang sedikit insecure jika saat bersama mereka. Aku sebenarnya tak terlalu memperdulikkan rasa insecure itu. Karena aku tahu bahwa dunia itu sungguh penuh dengan keirian,kejam, dan memuakkan, tetapi tetap saja aku ingin hidup dengan rasa syukur untuk orang yang sayang padaku dan diriku juga.
Walaupun dunia kadang akan selalu memandang kita sebelah mata dan menyimpulkan semua sendiri, namun itu bukan alasan untuk membuat hidup bahagia kita terhambat karena hal insecure pada orang lain. Karena yang perlu kita ketahui adalah terkadang hati lebih memperlihatkan apa yang tak terlihat oleh mata.
Aku kembali tersadar dari sebuah kenyataan setelah Annie dan Vika menarikku tiba-tiba menuju arah kelas. Kami berjalan dengan penuh dengan canda tawa membahas apa saja yang terlintas di pikiran kami. Sampai tanpa sadar tungkai kaki sudah membawa kami di depan kursi masing-masing. Aku duduk di tempat dudukku, mengeluarkan buku yang akan dipelajari jam pertama. Sesaat kemudian bel sekolah berbunyi dan gurupun masuk kedalam kelas. Aku memulai fokus untuk belajar.
...•••...
Tak terasa 8 jam berlalu di sekolah. Dan sudah saatnya aku kembali ke rumahku, lalu merasakkan cemilan serta novel yang sudah kurindukkan. Aku membereskan barang yang kubawa dan memasukkannya kedalam tas. Annie dan Vika sudah pamit duluan saat jam pelajaran benar-benar berbunyi, mereka selalu dijemput ayah dan ibunya untuk pulang. Jika boleh aku katakan pada ibukku, aku iri pada mereka. Aku ingin dijemput, dimanja, dan melakukan perjalanan wisata bersama ibukku. Tapi aku sadar bahwa ibuku sudah bekerja keras untukku setiap hari hanya untuk mempersiapkkan kehidupan masa depan yang baik.
Aku bertekad untuk sukses, agar ibuku dapat merasakkan kehidupan yang diamana para ibu-ibu bisa merumpi, bergaul, dan membali baju-baju bagus bersama anaknya. Aku ingin hartaku satu-satunya merasakkan hidup yang damai tanpa adanya beban. Aku memulai langkah kakikku untuk pulang. kembali lagi aku menyaksikkan hiruk pikuk kota ini di waktu yang berbeda. Sore hari ini terasa lebih santai dan menikmati setiap momenku berjalan.
Tak selang beberapa menit aku tiba didepan rumahku. Dengan perasaan tak sabar aku langsung masuk rumah. Mandi dan beberes rumah sebentar lalu habis itu aku bergegas mencari posisi ternyaman untuk bermain dengan adikku tersayang, yaitu Novel.
Membuka lembar-lembar halaman novel yang aku sukai dan menikmati suara dari pembalikkan halaman novel. Saat batas bacaku telah terlihat aku mulai membaca novel itu. Tanpa sadar baru satu baris saja yang berisi kalimat.
"Birdella maukah kau jadi pacarku!" Jason berkata sambil memegang tangan birdella yang hangat.
'Awww mau pingsan aku, kenapa Jason romantis banget!' Batinku berteriak bersama dengan lengkungan bibir yang terus meninggi dari wajahku.
"OMG, maaf tanganku terpeleset. Ouh! apakah cinderella terkena air pistolku. Maafkan aku, aku tak sengaja." Menjawab dengan akting level tingkat dewanya, intan menanggapi dengan seperti meremehkan. Memberikan senyum palsu diakhir perminta maafnya. Jason melihatnya dengan tatapan kebencian dan Birdella hanya menatap kosong sambil dengan perlahan membersihkan wajahnya menggunakan lengan bajunya.
'akhh sumpah ya, Tolong Author kalau misalnya ingin menambah scene romantis jangan munculkan intan. akhhh kesel!' Batin Arabelle yang jengkel karena momen yang dia bayangkan berantakan saat Intan merusak momen romantis pemeran utama.
Jason membantu mengelap wajah Birdella. setelah wajahnya telah kering, Jason menghampiri Intan yang ingin meninggalkan tempatnya. Menggapai tangannya dan menarik dengan kuat. Hingga tangan kecil Intan memerah.
"Akhh, Lepaskan!" Teriak intan kesakitan. Jason menatap Intan dengan pandangan tajam dan intens.
'Rasain tuh, makannya jangan jadi perusak hubungan orang!' makiku dalam hati.
"Kubilang, Lepaskan!" Intan dengan kesal memberontak. Jason yang melihat Intan melawan dengan perlahan mengangkat bibir sebelahnya terangkat menciptakan smirk yang sempurna.
"Apa kau puas? Menyiksa pacarku, wahai MANTAN pacar." Sinis Jason masih dengan smirk di wajahnya. Namun tanpa disangka Intan yang tadinya meringis sekarang mulai menampakkan smirknya.
__ADS_1
"Ouh! Maaf tuan Jason aku tidak sengaja. Apakah kau tidak mendengar? Baik akan kuulangi kembali. Tanganku terpeleset" Kata ringan Intan meremehkan.
'Wahh, ini antagonisnya savage banget! Benar-benar kejam!' Batinku.
tanpa sadar halaman perhalaman kulewatkan dengan meninggalkan banyak komentar didalam batinku. hingga aku telah memasukki bab baru yang kuyakini sudah menuju komplikasi dari cerita ini.
Aku menangis saat membaca Birdella tertabrak mobil dan kehilangan banyak darah, bahkan pebih kejamnya lagi sebeluk birdella tertabrak mobil. Birdella telah teracuni, jadi itu seperti sebuah pembunuhan yang terencana. Dan saat Jason memimpin bersama detektif bayarannya untuk menemukan pelakunya, ditemukkan bukti bahwa mobil yang menabrak birdella adalah mobil yang setahun lalu Intan beli. Karena bukti itu Intan ditangkap. Namun intan saat itu menolak keras pernyataan bahwa dia yang telah berencana membunuhnya.
"Hadeuhh, Jelas-jelas itu udah ada bukti. Jangan berpura-pura lagi deh intan!" kesalku. Rasanya aku ingin datang kedepan intan dan menjambakknya agar dia mengakui dengan jujur saja.
Pada akhirnya saat persidangan Intan dengan tatapan kosong hanya menerima semua itu dengan lapang dada. Karena bukti telah terkumpul kuat bahwa yang merencanakan pembunuhan Biradella itu Intan. Saat hakim memutuskan Intan akan dipenjara seumur hidup karena kasus pembunuhan berencana. Membuat intan dengan tatapan kosong menyaksikkan orang-orang disekitarnya. Dan dengan salam terakhirnya untuk pertama kali intan menunduk hormat kepada Ayahnya dan memandang langit untuk pamit ke ibunya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Hah akhirnya, Rasain tuh penjara. Akhirnya kutu penghalang paling besar hilang, Semoga Jason dan Birdella bisa hidup bahagia!" Senangku sambil mengelap sisa air mata di kelopak mataku. Hatiku akhirnya tenang.
Tak terasa waktu menunjukkan jam 9 malam karena aku fokus dalam membaca novel ini. Dan seperti biasa tanda-tanda hadirnya ibuku belum tiba, aku membatasi halaman terakhir aku baca. Dan aku membereskkan kasurku yang penuh dengan serpihan cemilan dan buku pelajaran yang masih tergeletak karena tadinya berniat untuk belajar. Tetapi buku novel lebih menggiurkan dibanding buku pelajaran, pada akhirnya aku tidak jadi belajar. Setelah aku membereskan kamara tidur aku pergi ke kamar mandi.
Membersihkan kulit kusamku dengan sabun cuci muka dan segala macam skincare untuk kulitku yang aku beli dari uang tabunganku bersama sahabatku. Setelah mengaplikasinya setiap skincare itu aku menggosok gigiku. Terkadang saat aku menyikat gigiku aku selalu berhalu. Berpura-pura menjadi pemeran tokoh utama novel dan mulai bermonolog sendiri dengan dialog yang aku ingat. Sungguh gila, tetapi itulah aku. Seorang single yang suka berhalu.
"Jason, iya aku mau jadi pacarmu. Awww coba saja kalau Intan tidak hadir saat tadi pasti Jason dan Birdella melakukan pelukan." Haluku dan saat bersama juga aku jengkel.
"Hufft, mari kita akhiri berhalunya. Dan ayo kita tidur dengan nyenyak!" lagi-lagi aku bermonolog sendiri dan berjalan menuju kamar tidur.
Merebahkan diri dikasur empukku dan mulai mencoba menutup mata agar aku bisa cepat terlelap. Setelah beberapa menit aku sudah terlelap kedalam bunga tidurku ditemani dengan cahaya candra pada malam yang gelap.
...°°°...
...*There's nothing u cannot be, do, and have*...
Bersambung...
^^^int4n18feb^^^
^^^21-September-2020^^^
__ADS_1
^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^