
Kaki kami mengikuti setiap melodi musik yang indah. Sebenarnya aku bukan pemain handal dalam dansa hanya saja, aku seseorang yang mudah meniru. Ketika Jason melangkah pertama memang aku sangat ragu mengikuti langkahnya, tetapi sekarang langkah itu sudah kuingat dan kutiru.
Memang aku sangat ahli sampai saat aku tak sengaja melupakan satu langkah penting yang membuatku akan terjungkal yang dimana belakangku adalah pembatas balkon ini. Aku menutup mata karena takut menjadi kenyataan apa yang kutakutkan.
'Bodoh, masa aku harus mati sebelum dapat merubah segalanya!' Batin diriku yang memaki.
Hingga dugaanku terpatah karena terasa badanku terputar lalu terdorong kedepan. Dengan intesitas kecepatanku juga aku memeluk pasanganku saking kerasnya dorongan kedepan itu. Aku terperangah dengan mata membulat sempurna. Tanganku juga masih memeluk Jason dalam keterkejutanku.
"Apa kau baik-baik saja?!" Kataku panik saat tersadar dari keterkejutan. Tanganku yang masih memeluknya secara refleks meraba-raba punggung kokohnya. Takut-takut jika ada yang patah tulang akibat benturan yang mengejutkan.
'Wow! Tak diragukan lagi dari pemeran utama pria. Pasti memiliki tubuh yang bagus. Lihatlah punggungnya lebar dan pinggangnya ramping, Sangat beruntungnya Birdella!' Batinku yang tadinya khawatir teralih oleh sebongkah punggung kokoh.
"Hm." Jawaban singkat Jason sudah menjadi penjelas bagi pertanyaannya yang kira-kira berjumlah dari satu kalimat yang singkat.
"Baiklah, Maaf dan Terima kasih!" Ucapku dengan nada sedikit menyesal. Karena jika patah aku pasti merusak masa depan Birdella. Setelah kuucapkan rasa terima kasihku tepat sekali musik intro dansa berhenti.
"Dansa sudah berakhir. Haruskah kita kembali ke aula?" Ajakku. Jason hanya mengangguk, Namun sesaat aku berjalan dan sudah sampai ambang gorden. Aku membalikkan badanku kepada Jason. Tapi yang tetjadi karena aku berbalik tiba-tiba. Aku menubruk dada bidang Jason karena itu aku juga akan terjungkal lagi.
Aku pasrah untuk terjungkal karena aku tahu bahwa novel roman pasti telah mengatur rencana untukku. Pasti aku akan segara ditangkap oleh Jason. Aku tanpa sadar memasang senyum.
...Bruk!...
Dugaanku seratus persen salah saat aku merasakan rasa sakit diarea belakang bawahku. Sangat menyakitkan dan memalukan. Aku melihat Jason memasang wajah datar tanpa rasa bersalah. Ada apa dengannya, dia bilang tidak membenci Intan tapi apa ini. Aku jatuh tak dibantu. Memang pria terkadang suka berbohong.
Aku yang tak mau diliputi rasa malu lagi segera bangkit dengan kekuatanku. Walau rasanya area pinggulku seperti akan retak mungkin. Setelah kubangkit ku langsung memutar tungkai ke dalam aula. Karena malu saat memikirkan bahwa aku di tolong itu salah total. Memalukan rasanya aku ingin mengumpat di lubang semut sedalam mungkin yang kubisa.
Sementara Jason masih memperhatikan setiap langkah Intan yang terlihat semakin menjauh. Kerutan halus memenuhi kening Jason dalam sebuah tanda pertanyaan yang besar. Sebuah kebingung tersirat dari raut wajahnya.
'Ada apa dengannya? Kukira dia hanya berakting sementara saja. Tapi sebenarnya apa yang terjadi' tanya Jason dalam hati.
Dia menolong sohyun saat di ujung balkon karena itu berbahaya tetapi pada saat sohyun akn jatuh kedua kalinya ia memikirkan untuk mengurung pertolongannya yang kedua kalinya untuk menguji apakah Intan memang hanya ingin menyari perhatiaannya atau ada yang salah dengannya. Sungguh aneh.
...•••...
Area aula kembali penuh dengan para peserta. Aku menahan sesak ditengah kerumunan untuk mencari Brady dan Birdella. Tapi sayangnya tubuhku terlalu pendek dibanding dengan para lelaki dan wanita didepanku. Para wanita mungkin berlomba-lomba untuk memakai hak tinggi. Dan lihat para lelaki mereka memiliki tubuh yang menjulang.
Aku seperti anak semut yang mencari jerapah. Berdempet sesak dengan adik kelas dan kakak kelas membuatku mumet. Tapi kadang kala terasa indah karena aku menabrak pria tampan. Maafkan aku yang tak bisa lepas dari visual dunia novel ini. Andai aku bisa membawa temanku kesini sudah pasti mereka berteriak histeris.
Badan aku merinding kala leherku tersentuh oleh tangan dingin. Saat aku melihat kebelakang yang kudapat ialah baju yang sama denganku. Sudah dapat ditebak Brady. Untung Brady menemukanku duluan.
"Hei bodoh! Kau pendek sekali." Sarkas Brady yang masih memegang leherku.
"Jerapah! Kau yang terlalu tinggi tau." Kesalku menekankan kata tetlalu tinggi di akhir. Dan terlihat hanyalah sebuah kekehan balas dari Brady.
"Bodoh! Ayo kita maju. Supaya kau tidak tenggelam." Ejek Brady lagi.
"Baiklah, eh tapi tunggu!" Aku pasrah dan kami akan bergerak sampai aku bingung akan sesuatu dan memberhentikkan Brady.
"Ada apa?" Kerutan dijidat Brady terlihat menandakan dia penasaran.
"Dimana Birdella?" Ucapku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Tapi aku tak melihat Birdella ada disekitar kami.
"Tadi dia sudah bertemu Jason. Jadi aku biarkan dan mencarimu!" Balas Brady. Aku mengangguk mengerti. Lalu Brady mengaitkan kedua jari kami dan membawaku mengikuti langkah besarnya menerobos para siswa. Dan akhirnya kami sampai didepan panggung.
__ADS_1
"Baiklah, para hadirin! Sepertinya acara pesta kita sudah berada di penghujung acar nih." Pembawa acara memecah kebisingan aula ini.
"Dan kalian tahu. Kita akan menentukan edisi Couple king and queen di pesta kali ini!" Lanjut pembawa acara dengan teriakan dna para murid lainnya bertepuk tangan. Sama halnya denganku yang sangat menantikan adegan ini. Biasanya adegan pemilihan king and queen di novel romantis sudah biasa. Jadi aku ingin meraskannya.
" Dan menurut kalian siapa ini yang bakal menjadi Couple king and queen angkatan kalian?!" Pembawa acara semakin memanasi aula pesta. Para hadirin semua bersemangat dan meneriakkan nama couple yang mereka kagumkan. Aku juga ingin berpatisipasi dan berteriak.
" Birdella dan Jason! Birdella Jason. Birdella Jason!!" Teriakku mengundang pandangan mendelik Brady. Aku terlalu terobsesi untuk meneriakkan couple favoritku berdasar novel 'Love First Sight'.
"Hei, Bodoh! Terlalu mencolok kau berteriaknya!" Brady menutup mulutku dengan telapak tangannya yang lebar bahkan hidungku yang kecil ikut tertutup. Aku menatap Brady kesal.
"Mereka cople goals. Tau!" Ucapku sehabis melepas tangan Brady dengan paksa.
"Ha?" Brady menatapku heran. Dan aku baru tersadar akan cerita itu bahwa Brady cemburu saat Birdella dan Jason menjadi Couple the best di novel itu.
'Kasian sekali Bradyku! Aku akan membuatnya menang malam ini bersama Birdella. Hanya sekali saja karena dia sangat malang!' Batinku. Aku menatap Brady dengan kasihan.
"Hei! Ada apa dengan tatapanmu bodoh." Kesal Brady. Aku segera memajukan badanku dan membelai punggung Brady dengan kasih sayang. Dan aku berkata mengerti padanya.
"Mengerti apa? Kamu mabuk ya? Sedang bicara apa soh kau. Melantur ya??" Tanya Brady heran karena aku masih menatapnya dengan tatapan belas kasihan lalu membelai punggungnya dan memberikan kata-kata tegar dan kuat.
"Pokoknya kamu harus kuat dan tegar! Akan kubuat kau bintang pemenang malam ini." Ucapku yakin dan memberhentikan elusanku yang masih meninggalkan kerutan penasaran Brady. Akupun mulai dengan tekad lalu meloncat dan meneriakkin nama Brady dan Birdella.
"Couple Goals terbaik Brady dan Birdella!" Teriakku sekencang mungkin hingga mengundang tatapan dari lingkunganku saja. Lalu mereka masih memeperhatikanku meneriakki Brady Birdella. Tak lama setelah itu orang sekitar yang menatapku mulai mendukungku berteriak Brady Birdella.
Brady panik tentu saja. Dia menghentikanku tetapi memberhentikanku bukanlah hal yang mudah wahai ferguso. Aku terus meneriakki nama Brady dan Birdella bersama hingga dilihat panggung pembawa acara yang tadi menyimak sekarang siap berbicara dengan kertas yang tadi dikasih pegawai staff sekolah.
"Baiklah, Keputusan sudah ada ditangan saya. Mana suaranya!" Teriak pembawa acara. Aku membalas dan berteriak sekencang mungkin. Aula semakin ricuh dengan para pendukung couple masing-maisng.
"Malam ini adalah istimewa. Akan ada kenangan yang terbuat. Dan menjadi momen terpilihnya Couple King and Queen sekolah ini. Dan saya akan mengumumkannya siapa yang akan menang!" Pembawa acara melanjutkannya dengan nada gembira.
"Untuk murid baru Couple King and Queen jatuh pada Charlie dan Fira!" Angkatan pertama telah diumumkan. Para pendukung Couple itu berteriak senang.
"Dan untuk angkatan senior. Kak Philip dan Kak Bella!" Pemenang angkatan senior sudah diumumkan. Membuat angkatan senior berteriak. Aku dan para angkatan tengah sangat menanti ketika seorang remaja naik ke atas panggung dan memberikan secarik kertas ke pembawa acara.
Lalu terlihatlah pembawa acara membuka kertas dan melongo tidak percaya. Rasa penasaranku sangat meronta-ronta berharap itu Brady dan Birdella. Seorang remaja turun dari panggung dan pembawa acara mulai bicara kembali.
"Apakah angkatan tengah siap mendengar?!" Tanya pembawa acara. Aku lamgsung membalas dengan semangat "Iya, cepatlah!".
"Baiklah karena sepertinya sudah larut malam saya akan mempercepatnya. Pasangan terakhir untuk angkatan tengah King and Queen jatuh kepada–!" Pembawa acara itu sengaja menghentikkan ucapannya untuk membuat suasana mencekam berdegup.
"Intan Viona Cantika dan Jason Elard Caldwell!" Teriakan pembawa acara para angakatan tengah ricuh. Termasuk aku yang seketika mematung mendengar itu.
'Apa ini?! Kenapa aku yang menang? Hei! Akukan tadi ada di Balkon.' Bingungku. Terasa sebuah tatapan intens yang tak asing. Aku mendonggak untuk manatap Brady yang kini membalas tatapanku dengan tajam sangat mengintrogasi.
"Hei! Aku juga tidak tahu. Ayolah jangan kecewa." Bantahan ku keluarkan. Aku sangat meminta maaf pada Brady dan Birdella karena akulah dan Jason yang menjadi acara Couple King and Queen ini.
'Aku benar-benar sudah merubah alur ceritanya!' Batinku.
Akhirnya aku pasrah dan naik dari sisi yang berbeda dengan Jason. Lalu kami berdiri ditengah di himpit oleh pasangan yang cocok dan tentunya bahagia. Mungkin hanya aku yang maju dengan gelisah. Karena sebelah pasanganku itu pembunuhku pada masa depan.
Kami para pemenang dipakaikan sebuah mahkota dan selempang serta bunga. Tak bisa dipungkiri dunia novel adalah dunia fantasi yang kurasakan sekarang. Hal yang mustahil di duniaku maka menjadi nyata di dunia novel. Aku ingin tinggal disini bersama ibuku.
Setelah selesai aku buru-buru turun panggung dan tidak mau berlama-lama dengan Jason. Dia seperti memiliki aura mencekam yang seram. Aku harus menjauh. Berlari kecil ke arah Brady. Namun, ku merasakan orang mengikutiku. Ya! Jason ada dibelakangku mengiringku. Aku berpikir positif dan berjalan ke arah Brady.
"Ayo pulang! Ayahku akan marah." Ajakku terburu-buru kepada Brady. Brady mengangguk dan menuntunku ke mobilnya. Jason ditinggal sendiri dengan tatapan bingung akhirnya Jason mencari keberadaan Birdella.
__ADS_1
...•••...
Hari yang cerah menyambutku di kamar yang berbeda. Kali ini kamar aku terlihat lebih sederhana. Warna kamar yang berwarna krem dan masih sama berpola eropa. Namun, meja belajar yang tak jauh dari kasur dan sebuah lemari baju. Serta kamar mandi yang masih tersedia di area satu kamar yang tak terlalu luas ini.
Sudah semenjak 1 minggu aku pindah le asrama putri sekolah karena program musim gugur ini. Aku pindah sehabis hari dimana aku pulang pesta dengan selamat dan keesokannya mendapat sebuah pengumuman kami para siswa harus berada di asrama. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara pada ayahku lebih tepatnya ayah Intan soal asrama ini.
Aku tahu pasti mereka akan mencurigai perubahan sikapku. Tapi aku juga ingin menyoba hal-hal baru yang belum pernah kucoba. Saat aku memberitahukan kepadanya terjadi sedikit konflik dengan pendapat bedaku dengan Ayah. Aku tahu dia pasti mengenal Intan yang hidupnya bergelimang harta namun sekarang harus tinggal di sebuah petak Asrama putri. Walaupun asramanya tak buruk.
Bahkan asramanya menurutku lebih dari cukup. Ayah akhirnya mengalah padaku yang keras kepala dan memberikanku banyak barang sebagai gantinya. Aku hanya bisa pasrah menerima barang-barang yang kelewat batas ini. Seperti layer kasur tambahan, selimut tebal, Berbagai baju santai, bantal tambahan, gorden yang diganti, serta bathup kamar mandi.
...Tok!tok!tok!...
Ketukan membuyarkan pikiranku. Aku enggan membuka pintu dan tetap berbaring karena ini masih jam 7. Terlalu dini untuk bangun."Siapa?" Tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku!" Suara bass merambat masuk kedalam. Kalian jangan kaget dan sudahku jelaskan bahwa ini dunia novel yang dimana hal mustahil menjadi tidak mustahil jika kalian disini.
Walau labelnya asrama putri tapi tetap saja kami bersebrangan dengan asrama putra atau kata yang lebih detailnya kamarku bersebrangan dengan kamar laki-laki. Dan laki itu adalah king karakter kasukaanku. Awalnya memang aku sangat takut saat tahu model asramanya begini.
Tetapi untungnya keamanan disini sangat terjaga dan biasanya udah jadi hal lumrah disini para lelaki bertamu ke kamar perempuan entah malam atau pagi. Kurasa mereka semua memiliki akal sehat yang lebih baik daripada orang diduniaku. Pendidikan mereka tentang hubungan sangat bagus. Kupikir otak para karakter novel ini harus dipindahkan ke bumi.
"Tunggu!" Kataku dan cepat mengambil jaket dan membuka pintu. Terpampanglah Jason. Aku sudah terbiasa dengan dia datang karena ayahku menyuruhnya sangat menjagaku. Bahkan dia juga menyuruh Jason datang ke kamarku malam hari untuk mengajariku.
Aku hanya bisa pasrah dan mendengarkan seksama guru privat, Jason. Tapi hanya sebagian yang menyangkut. Jasonpun sudah tau mungkin karakterku. Kembali lagi aku menuntun Jason duduk di sofa yang ada di sebelah kasurku. Lalu aku kembali tidur.
"Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang selalu Jason lontarkan tiap mengunjungi ruangku.
"Tentu!" Jawabku dengan nada lemas.
"Baiklah, ayahmu memberitahuku untuk sarapan bersama. Makanannya sudah ada dikamarku!" Ucap Jason. Aku hanya menatapnya dengan mata sayu. Aku sangat malas untuk berjalan bahkan membuka mata.
"Jason. Kamu makan sendiri saja! Bilang ke ayahku aku sangat mengantuk. Bahkan menatapmu satu incipun sudah tak kuat." Kataku lalu kulihat Jason yang sudah biasa wajahnya akan merespon datar.
"Ini perintah ayahmu!" Jason berkata datar. Aku hanya tak memperdulikannya lalu mencoba untuk tidur.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" Panikku. Sebelum ku menutup kelopak mataku untuk menyelami mimpi. Jason tiba-tiba menarikku duduk lalu menggendongku.
'Apa semua yang ada di novel ini selalu berakhir di gendong?!' Batinku kesal. Mataku kaget dan semua tubuhku menjadi menegang.
...°°°...
...* Love ur self and Be ur self*...
Bersambung......
.......
.......
.......
.......
.......
^^^int4n18feb^^^
__ADS_1
^^^14 Oktober 2020^^^
^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^