
Aku mengikuti kemana orang itu menuntunku ke area ruang osis sekarang. Sambil sekali lagi aku mencoba mulai mengenali jalan ke kelasku dan memperhatikan murid sekolah disini yang suka sekali dengan gosip. Sangat unik, namanya juga kehidupan novel.
'Tapi, apakah setiap novel begini?! Dan apakah ada orang yang sejalur denganku? Masuk kedalam novel tanpa tau apa ini semua.' Terlintas saja pertanyaan aneh dipikiranku. Jika memang benar-benar ada orang yang masuk kedalam novel ini seperti aku atau ada orang yang memang masuk ke dalam novel tapi bukan novel ini. Pasti sulit bagi mereka menerima seperti diri ini.
Jujur saja semenjak aku masuk kedalam tubuh ini, pasti aku berpikir yang tak bisa dicapai nalar dan ujung-ujungnya hanya menerima jawaban sendiri yang bodoh.
Memang aku benar-benar ingin menerima ini semua dan menjadi benar-benar Intan sesungguhnya. Tetapi Arabella tetaplah jati diriku yang sudah mendarah daging dengan jiwa sebenarnya. Disini aku hanya seperti roh yang masuk ke alam beda dan media beda dan itu sungguh sulit menerima.
Tapi lagi dan lagi aku harus benar-benar menerima ini. Entah ini takdir ataupun hanya mimpi belaka. Menghela nafas berat dan kembali menyadarkan diri. Dan tak jauh dari sini ku menatap papan diatas dekat pintu yang tak terlalu jauh bertuliskan Osis.
Tak berselang beberapa lama. Aku akhirnya sampai di depan pintu osis bersama orang yang tadi membawaku. Akupun melangkah masuk ke ruang osis yang dimana aku sekarang melihat 2 peran utama protagonis sedang duduk bersama satu guru. Dan atensi mereka tiba menatapku.
Mengambil langkah maju untuk duduk dikursi setslah dipersilahkan guru. Sangat canggung. Aku terus menghembuskan nafas perlahan untuk menetralkan jantungku.
"Baik! Karena sudah berkumpul disini, saya ingin meminta tolong kepada kalian. Secara mendadak." Kata guru itu dengan mengajukan permintaan tolong kepada kami.
"Pertolongan apa yang ibu butuhkan?" Tanya Birdella. Atensiku beralih kepada Birdella.
'Tak memungkiri, bahwa dia peran utama protagonis. sungguh benar-benar cantik seperti bidadari. Apalagi hatinya yang baik.' Batinku, setelah memperhatikan Birdella cukup lama aku memalingkan muka dan tak sengaja mataku bertemu mata Jason yang intens dan dingin.
Jika saja mata Jason adalah belati. Mungkin saja wajah aku sudah memiliki berali-kali tusukan. Dan tentu saja aku hany melebih-lebihkan perumpamaanku. Walau itu tak setajam belati tapi tatapannya membuat diriku langsung mengalihkan pandangan secara tak langsung.
"Jadi ibu minta tolong pada kalian karena 3 murid kembar yang seharusnya menyambut siswa mereka tidak bisa menyambut dikarenakan orang tuanya meminta izin tiba-tiba untuk urusan keluarga mendadak. Bisakah kalian membantu Ibu?" Tanya guru tersebut.
Adegan ini memang ada di plot cerita novel 'Love First Sight' tapi seinget aku Intan tak pernah diminta acara begini. Apa aku tidak bagus dalam mengingat. Tentu saja itu bisa terjadi membaca saat aku benar-benar mangantuk memungkinkan aku melupakan plot cerita bagian ini dan membuat ingatanku tidak bagus.
"Saya akan membantu ibu!" Sungguh Birdella menjawab dengan senyum yang cantik sekali. Hingga aku cukup terlena dan terpana. Aku saja sebagai wanita sangat iri dengan senyumnya yang tulus dan sifatnya yang baik. Kembali ke semula aku masih belum menjawab pertanyaan guru itu.
"Saya juga!" Jason akhirnya membuka mulutnya dan berkata menyutujuinya.
'Karena Jason ikut. Sepertinya aku lebih baik menjauh, karena ini akan menjadi momen mereka berdua yang romantis. Dan aku akan mencari spot paling depan yang kubisa untuk melihat 2 pasangan utama ini serasi!' Batinku. Saat aku ingin membuka mulut dan berkata 'aku tidak menyetujui!'. Sang guru mengelak.
"Baik kalian bertiga akan menjadi penyambut siswa bulan pelajaran selama musim gugur!" Semangat gurunya menyimpulkan dan tersenyum.
"Tapi–" akhirnya mulutku berkata juga. Atensi orang disekitar menatapku dengan penasaran. Aku menelan ludahku karena kaget akan antensi intens mereka.
"Saya belum menjawab." Protesku, gurupun yang mendengarnya tersenyum penih arti. Tapi aku tidak tahu artinya.
"Tentu saja tanpa kamu menjawab ibu sudah tahu jawabannya. Bahwa kamu akan ikut karena Jason pacarmu ikutkan?!" Seru ibu guru itu.
"Tidak bu! Lalu aku dan Jason sudah putus." Ucapku dengan nada biasa tanpa tersirat penyesalan dan kesedihan. Jason menatapku dengan tatapan yang tak bisa diartikan serta Birdella menatapku dengan tatapan terkejut sama seperti halnya dengan bu guru.
"Apa?!" Kaget bu guru itu memadangku dan Jason secara bergantian.
"Kemana perginya Intan yang selalu mengikuti Jason. Dan rumor yang beredar bahwa kalian sangat dekat hingga seperti sepasang lebah!" Seru guru itu.
'Sepasang lebah bukankah itu terlalu berlebihan rumornya.' Pikirku.
"Tapi kami sudah putus dan itu kesimpulannya bu!" Ucapku sambil menghela napas berat.
"Baiklah ibu mengerti! Tapi tidak bisakah kamu membantu ibu." Ibu guru itu mengerti tapi dia tetap kekeh ingin aku ikut. Hingga setelah beberapa aku berdiam dan berpikir.
"Baik!" Jawabku.
"Baiklah kalau begitu kalian siap-siap hafalkan pidato singkat ini!" Perintah gurunya sambil memberi masing-masing 1 lembar kertas yang isinya kata-kata singkat penyambutan.
__ADS_1
"Ibu tinggal dulu!" Setelah mengucapkan kata perpisahan Ibu guru itu keluar dari ruangan osis. Dan tinggalah kami bertiga. Sangat canggung.
...•••...
Setelah setengah jam kemudian akhirna aku dapat menghafal pidato singkat ini. Lalu Birdella yang dari tadi sudah selesai menghampiriku. Aku melihatnya duduk di kursi depan.
Lihatlah dia, entah berapa kali aku memuji visualnya. Tapi aku baru menyadari bahwa Jason dan Birdella dari tadi terus terkena cahaya mentari yang hanya ada padanya. Dan aku hanya warna kusam. Tidak diragukkan lagi bahwa pemeran utama protagonis akan selalu mendapat cahaya yang tidak akan didapat oleh pemeran biasa maupun antagonis sepertiku.
'Birdella Aurantiasya. Nama yang indah seperti orangnya. Birdella berarti mempunyai kepribadian Peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban, ekspresi kreatif. Sungguh mirip dengan adegan yang selalu dia lakukan didalam novel. Lalu Aurantiasya, kata nama belakangnya sangat sulit diucapkan tapi memiliki arti Emas mulia yang sederhana serta berhati lembut.' Batinku mengingat ciri khas Birdella.
"Bolehkahku bertanya?" Tanya Birdella dengan mata yang tertuju pada netraku. Aku terpaku seolah terhipnotis dan mengatakan 'Tentu saja'.
"Benarkah kau putus dengan Jason?" Tanya Birdella penasaran dengan suara kecil agar tak mengundang perhatian Jason pada kami. Aku hanya menjawab dengan anggukan.
"Kenapa?" Tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum canggung sambil mencari alasan. Namun sayangnya alasan yang terlintas tak mungkin aku ucapkan, bahwa aku bukan Intan sebenarnya.
"Memang harus ada alasan untuk aku putus dengan dia." Akhirnya aku hanya bisa menjawab pertanyaan itu dengan kalimat tadi yang berarti haruskah aku putus dengan sebuah alasan. Dilihat dari wajah Birdella sepertinya dia tidak puas pada jawaban instanku.
"Butuh!" Semangat Birdella. Aku melihat matanya yang entah apa artinya itu. Tapi aku hanya mengangkat bahu dan berkata seolah apa adanya tanpa alasan.
"Tidak alasan yang spesifik. Rumor pasti harusnya sudah menyebar!" Kataku santai.
Tanpa diketahui oleh Intan dan Birdella. Bahwa dari tadi Jason menguping pembicaraan mereka tanpa sengaja, walaupun mereka berbisik tapi ruangan ini cukup sunyi sehingga Jason dapat mendengar.
Jujur saja Jason heran saat mendengar bahwa Intan hanya mengatakan tidak butuh alasan untuk putus. Memang benar menurutnya juga putus tak butuh alasan. Tapi entah kenapa ada sesuatu rasa aneh.
Apa mungkin karena biasanya Intan yang mengikuti Jason kemana-mana sekarang tidak mengikuti Jason lagi. Entah apa alasannya tapi Jason yakin bahwa Intan hanya ingin mencari perhatiannya.
Ketukan pintu terdengar memecah keheningan serta bayangan mereka. Tak lama munculah Ibu guru tadi yang meninggalkan mereka. Dengan semangat ibu guru memberitahu bahwa para anak baru sudah siap dan Kami juga harus segera ke lapangan penerimaan siswa baru. Dengan tekad aku menarik nafas dan mulai berdiri.
Berjalan mengikuti Ibu guru dengan posisi yang sudah ditentukan sesuai kalimat pidato. Birdella di depan, di tengah Jason, dan aku dibelakang mengekori mereka. Tapi mata para siswa melihat kami, sepanjang jalan benar-benar kami menjadi pusat perhatian.
Bisa dimengerti karena aku berjalan dengan kedua pemeran utama protagonis novel ini. Aku yakin mereka hanya terpikat melihat kecantikan wajah Birdella dan Jason.
Tak lama setelah beberapa langkah kami tempuhi. Aku, Birdella, dan Jason menunggu giliran kita untuk membacakan sambutan pidato singkat. Sekarang kepala sekolah kami sedang memberi sebuah sambutan. Setelah kepala sekolah sudah mengundurkan diri sehabis pidatonya. Pembawa acara mulai berbicara.
"Baiklah sekarang akan kita dengarkan sambutan 3 orang senior dari angkatan kelas 2. Birdella Aurantiasya, Jason Elard Caldwell, dan Intan Viona Cantika!" Ucap pembawa acara. Kamipun berjalan ke arah depan semua para anak baru, semua orang melirik kami dengan mata penasaran.
Jujur saja aku iri pada Jason dan Birdella yang pasti sekarang lagi ditatap oleh para adik kelas. Aku ingin terkenal juga, tapi menjadi terkenal hal yang melelahkan. Mungkin. Lalu terdengar suara bising bahkan teriakan gembira seperti Ganteng yang ditengah, Cantik sekali, Jadilah pacarku. Begitulah teriakan yang terdengar.
"Selamat Pagi semua!" Sapa kami bertiga. Semua para adik kelas bersorak sorai dengan membalas sapaan kami.
"Jadi kami akan memberikan sambutan kepada kalian semua!" Kata Birdella dengan suara lembutnya.
"Perkenalkan Aku Birdella Aurantiasya. Kalian bisa memanggilku Kak Birdella. Aku adalah Wakil ketua Osis Halcyon School. Salam kenal bagi para siswa baru! Terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga Halcyon School. Semoga kalian disini bisa meningkatkan kemampuan NonAcademy maupun Academy kalian!" Birdella membaca pidatonya dengan senyum.
"Banyak hal yang bisa kalian lakukan disini. Jadi nikmatilah dan jangan lupa bekerja keras juga untuk masa depan! Terima kasih." Seru Birdella lalu terdengar riuh tepuk tangan memenuhi lapangan Halcyon School.
"Selamat pagi semua!" Sapa Jason menampilkan senyum sedikitnya yang membuat para adik kelas langsung terpana dan berteriak kencang seperti orang kesurupan. Sungguh tak diragukan ketampanannya yang bisa membuat adik kelas teriak.
"Kami disini adalah perwakilan. Saya Jason sebagai ketua osis Halcyon School. Bagi kalian yang mungkin mengalami kesulitan, bisa menanyakan kami di ruang osis. Dan bagi kalian yang ingin mengikuti kegiatan ekstrakulikuler silahkan juga mendaftar di osis! Terima kasih." Salam akhir Jason menutupi pidatonya. Dan sekarang giliran diriku.
__ADS_1
Aku baru ingat mengapa aku dipanggil ke ruang osis tadi. Bahwa aku bukan hanya terkenal mengikuti Jason saja tapi Aku sebagai Intan yang di novel adalah duta kesiswaan hanya karena demi Jason. Aku pun menghembuskan nafas dan mulai membuka mulutku.
"Selamat pagi semua!" Sapaku. Tanpa diduga aku kaget pada suara para lelaki yang riuh membalasku. Akupun tersenyum sebentar sebelum melanjutkan pidatoku.
"Untuk menyambut kalian lagi kami mengadakan pesta sambutan malam besok. Kalian semua harus hadir ya! Dan jangan lupa membawa pasangan kalian. Terima kasih!" Senyumku mengakhiri pidatoku.
Memang aneh bahwa sekolah ini mengizinkan mereka ke pesta bersama pasangan. Tapi ini harus diingat bahwa aku masuk dunia novel romantis. Jadi tak mengherankan malah terkesan wajar.
Setelah selesai Ibu guru yang tadi menyuruh kami untuk berpidato menghampiri kami. Dan mengucapkan terima kasih. Tapi kamu belum disuruh balik.
"Ada yang mau bertanya?" Ucap guru itu. Lalu kukira semua murid baru akan diam tapi merek malah antusias mengangkat tangan mereka.
"Baik kamu! Silahkan." Tunjuk Bu guru mengarah lelaki yang mukanya menarik perhatian. Wajah kecil nan tampan maju.
"Pertanyaan saya, tadi kakak berambut biru belum mengucapkan namanya secara langsung. Jadi saya mau bertanya siapa nama kakak?" Laki tampan itu bertanya dengan menatapku. Sungguh aku terkejut lalu terdengarlah siulan menggoda dari para murid baru. Aku pun tersenyum menatapnya.
'Ganteng juga ini brondong! Ah, aku bisa gila.' Batinku.
"Namaku Intan!" Balasku dengan senyum tulus, pria yang menanyaiku tersipu. Sungguh menggemaskan.
Birdella menatap Intan dan siswa baru itu dengan tersenyum, lain halnya dengan Jason yang menatap dengan tatapan geli.
"Waduh bisa jadi suka nih!" Ucap guru tiba-tiba memotong sesi ricuhnya sekolah.
"Baiklah silahkan balik kembali ke tempat! Acara penyambutan dari senior dan kepala sekolah serta gur telah selesai. Jadi kalian bisa istirahat. Terima kasih, sampai besok di perjamuan pesta siswa baru!" Ibu gurupunmengakhirinya. Kamipun bertiga berenana kembali ke kelas.
Namun tiba-tiba para siswa baru memghampiri kami. Para wanita terlihat mengerumuni Jason dan para laki-laki terbagi dua kubu yang dimana tempat Birdella lebih banyak dikelilingi laki-lakinya dibanding denganku. Aku hanya tersenyum dan menanggapi pertanyaan mereka dengan apa yang kutahu.
Lalu saat semua sudah semakin berkuang laki yang tadi bertanya namaku mendekatiku yang sekarang mungkin hanya tersisa 4 laki. semakin berjalan mendekat hingga benar dihadapanku. aku menatapnya yang tinggi namun mungkin lebih pendek satu cm dari Jason.
Dia menatapku dengan tatapan bersinar. Lalu dengan senyum anak polos dia mengulurkan tangannya. Aku menatap tangan lalu ke wajahnya itu dengan bingung. Seolah dia mengerti kebingunganku.
"Maukah kakak jadi pasangan besok untukku?" Tanya Laki itu. Sungguh aku tercengang, kenapa dia menwariku sungguh tak masuk akal. Aku menatap kosong tangan itu. Dan berpikir.
'Haruskah aku menerimanya?' Batinku bertanya.
...°°°...
...Calm is super Power. mindset is everything....
Bersambung...
.......
.......
.......
.......
^^^int4n18feb^^^
^^^05 Oktober 2020^^^
^^^𝓡𝓮𝓬𝓸𝓻𝓭 𝓪 𝓛𝓲𝓯𝓮 𝓝𝓸𝓿𝓮𝓵^^^
__ADS_1