Red Diamond

Red Diamond
Chapter 10 : Hutan Larangan


__ADS_3

Semua pemimpin kaum berada di satu ruangan. Ruangan yang cukup besar yang terdapat meja oval di tengahnya dan kursi yang cukup untuk para pemimpin kaum. Semua pemimpin kaum sudah menduduki kursi itu. Hanya ada satu kursi yang kosong, kursi yang biasa di tempati oleh raja vampir. Dibelakang mereka sudah siap para penjaga pribadi mereka. Mereka memperdebatkan tentang Malvia. Mereka saling menuduh atas apa yang terjadi.


"Kaum manusia saja yang tidak becus!" cicit Isaac.


"Mereka memang sedari dulu lemah dan tidak becus." Theodore mendukung pernyataan Isaac.


"Apa katamu?!" Ellard yang tidak terima kaumnya di ejek, berdiri. Tangannya di kepal kuat.


"Ellard, tenanglah." Gudytha mencoba menenangkan Ellard. "Jangan dengarkan mereka."


"Bagaimana aku tidak mendengarkan mereka Gud? mereka mengatakannya tepat di depan wajahku!" pekik Ellard. Gudytha menghela nafasnya.


"Apa? Itu benar. Kalian para manusia bahkan dengan sengaja menyembunyikannya! Rencana? Cih! Tidak tahu malu! Dasar manusia hina!"


"Kau--"


"Yang mulia! Jika anda terus menghina kaum manusia, berarti anda menghina saya juga. Saya memang penyihir tapi saya juga masih manusia, apa anda lupa?!" Gudytha meninggikan suaranya.


"Begitu juga dengan kami. Setengah wujud kami adalah manusia." Jovial ikut berbicara.


"Okay mari kita semua tenang. Berhenti menuduh dan menyalahkan satu sama lain. Sekarang yang terpenting adalah vampir itu." kata Leyna, ratu kaum peri.


"Leyna benar. Jika terus bertengkar seperti ini, kita tidak akan menemukan jalan keluar." tanya Jovial. "Anggota packku mengikuti bau vampir itu dan sampai di hutan larangan. Salah satu betaku baru saja memberitahukanku tentang itu."


"Hutan larangan katamu?" ulang Gudytha. Dia tampak terkejut.


"Benar, hutan larangan." Jovial membenarkan.


"Bahkan para peri saja tidak bisa masuk ke sana. Hutan itu berbahaya, penuh tipu muslihat. Membuat kita berhalusinasi dan akhirnya tidak bisa keluar dari sana."


"Kalau begitu beres kan? Dia masuk ke dalam kuburannya sendiri." Issac terlihat puas.


"Tidak bisa Issac, kita tetap harus memastikan dia tidak akan keluar lagi dari sana." Jovial menyarankan.


"Jovial benar."


"Hah! Merepotkan sekali!" keluh Issac. "Ini semua gara-gara manusia! Jika mereka tidak menyembunyikan ini, kita sudah pasti menangkapnya. Suruh saja mereka yang berjaga!"


"Kau benar-benar--"


"Para manusia serigala akan berpatroli disana."


"Aku juga akan memerintahkan peri hutan untuk mengawasi."


"Baiklah, all set. Semua saling membantu. Penyihirku juga akan membantu."


Semua menatap Issac.


"Jangan menatapku! Aku tidak sudi melakukan sesuatu yang bukan kesalahanku!" cicit Issac.


"Bagaimana denganmu Theo?" tanya Gudytha.


Theo menghela nafas. "Baiklah, baiklah. Para goblin ikut membantu. Tapi kalian tahu kaumku tidak akan membantu tanpa imbalan yang berkilau kan?"

__ADS_1


"Itu akan kami siapkan, terima kasih Theo." ucap Ellard. "Para manusia juga siap."


"Dasar pengkhianat!" cicit Issac pada Theo. Theo hanya menggelengkan kepalanya. Issac selalu kekanak-kanakan.


"Mari kita makan. Jamuan sudah di sediakan." Ellard mempersilahkan. Semua pemimpin kaum berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Ellard mendatangi Rouglas, perdana menteri. "Bawa orang yang menyembunyikan vampir itu kehadapanku, besok!"


Rouglas mengangguk patuh.


...***...


Malvia kini sudah berada di dalam sebuah hutan. Dia tahu hutan itu adalah hutan larangan. Hutan yang telah di kutuk oleh penyihir beribu tahun lalu. Kutukan itu tidak bisa di hilangkan. Membuat hutan itu menjadi hutan tipu muslihat. Semua yang ada di hutan itu adalah imajinasi apa yang mereka inginkan. Membuat semua yang masuk kesana akan terbuai.


Tidak ada yang bisa mengejarnya masuk ke hutan. Mereka berpikir Malvia akan mati begitu saja disana karena tidak akan bisa keluar, tidak ada pula makanan. Ya, itu yang Malvia pikirkan. Tapi semakin Malvia masuk ke dalam hutan, dia semakin kalut. Hutan itu begitu gelap meski hari telah siang. Matahari pun enggan menyinari tempat itu.


'Malvia..'


'Malvia..'


Sayup-sayup dia mendengar suara memanggilnya. Semakin lama suara itu tidak hanya memanggilnya tapi berbicara padanya. Tidak hanya satu suara. Suara-suara lain juga bermunculan. Mereka saling berbicara bersamaan. Malvia menutup telinga dengan tangannya.


"Tidak.... Tidak... Hentikan... Hentikan!!"


Suara-suara itu semakin besar dan semakin banyak. Rasanya hutan itu seperti di tutupi oleh suara itu.


"Tidak! Aku harus bertahan! Sadar Malvia! SADAR!"


Malvia membuka matanya. Nafasnya cepat. Kepalanya sakit. Dia kebingungan. Apa yang terjadi? Tadi dia mendengar suara-suara. Apa dia pingsan? Karena dia saat ini sudah terbaring di tanah. Malvia mendudukkan tubuhnya. Dia menatap ke sekitar. Tidak ada satu orang pun, suara-suara itupun tidak ada. Tiba-tiba ada suara dengungan yang sangat keras, membuat telinga dan kepalanya sakit. Tak lama keluar darah dari telinga Malvia.


"Ada apa ini sebenarnya?"


Setelah beberapa lama, Malvia terbangun lagi. Tapi semua gelap. Hanya ada satu titik cahaya dikejauhan. Malvia berdiri dan mendatangi cahaya itu. Entah dia di mana yang jelas dia merasa harus mengikuti cahaya itu. Malvia terus berjalan menuju cahaya. Tidak ada apapun disitu selain kegelapan. Semakin lama cahaya itu semakin terang dan terang. Malvia menutup menghalangi cahaya terang itu dengan tangannya. Dia masuk ke dalam cahaya itu. Tiba-tiba cahaya itu hilang. Hanya cahaya dari lilin-lilin yang menerangi ruangan itu yang tersisa. Beberapa orang menari dengan gembira, beberapa lagi duduk di bangku dan meja panjang. Mereka tertawa, bercengkrama dengan riangnya.


"Aku di mana? Tunggu, ini sepertinya..."


Sebuah tangan menarik tangan Malvia. Seorang gadis muda. Dia mengenal siluet gadis itu.


"Ca-Caroline?"


"Sedang apa kamu disana? Bengong seperti orang bodoh. Mari kita berdansa saja kakakku!" Caroline memegang kedua tangan Malvia lalu menari berputar sambil berpegangan. Tampak kebahagiaan dari wajah Caroline.


"Caroline, ada apa ini? Kenapa aku ada disini?" tanya Malvia.


"Hm? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu kak." ucap Caroline sambil masih menari. Pandangan Malvia beralih ke meja makan khusus keluarga kerajaan. Dia melihat ayahnya sedang berbicara dengan lord Zendi, vampir kepercayaannya, sementara ibunya sedang memakan makanannya sambil sesekali berbicara dengan lady Enith. Adik laki-lakinya sedang menghisap satu manusia di ujung ruangan. Malvia menghentikan tariannya. Dia tampak bingung dan linglung.


Caroline melepaskan tangan Malvia lalu menari dengan vampir lain. Malvia berjalan menuju meja makan khusus keluarga kerajaan dan berhenti tepat di depan Emilya, ibunya.


"Malvia? Sayang? Kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat aneh." tanya Emilya dengan ekspresi khawatir.


"I-ibu?"


"Tentu ini ibu. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Emilya lagi. "Henry! Sudah cukup! Gadis itu akan mati!" pekik Emilya. Henry hanya mendengus dan memberikan gadis di pangkuannya itu pada asistennya, Ludroc. Henry berjalan menuju Malvia lalu mengalungkan tangannya pada pundak Malvia.


"Hai big sis!" sapa Henry. Malvia menatap Henry lekat. Dia ingin tahu ada apa ini. "Jangan menatapku seperti itu kak, kau akan jatuh cinta pada ketampananku nanti."

__ADS_1


"Huh!! Terlalu percaya diri!" ucap Caroline yang baru saja bergabung dengan mereka.


Melihat seluruh keluargnya, hati malvia terenyuh. Dia meneteskan air mata.


"Malvia kenapa kamu menangis?" tanya ibunya. Semua orang bahkan ayahnya menatapnya.


"Apa? Apa ada yang salah?" tanya Leonard, ayah Malvia. Malvia menggelengkan kepalanya lalu memeluk kedua adiknya.


Malvia kembali tinggal bersama kedua orang tuanya dan kedua adiknya. Dia tidak perduli ini semua hanya imajinasi atau apapun itu. Yang terpenting dia bisa bersama keluarganya, itu cukup. Pesta masih berlangsung meriah. Tawa masih menghiasi ruangan itu.


'Malvia..'


'Malvia..'


Sebuah suara memanggil namanya lagi. Dari suara musik dan orang berbicara, suara itu terdengar jelas di telinga Malvia.


'Malvia..'


Malvia memperhatikan sekitarnya. Mungkin saja di antara orang-orang itu ada yang memanggilnya. Tapi tidak ada. Semua orang sibuk dengan pesta itu.


'Malvia.. Malvia kau harus sadar. Ini adalah imajinasimu. Ini bukan kenyataan! Kau harus kembali.'


"Tidak! Aku tidak boleh kembali! Aku tidak mau!" pekik Malvia membuat semua orang menatapnya. Malvia tersadar semua orang sedang menatapnya.


'Malvia.. Mereka tidak nyata. Mereka hanya imajinasi. Kau harus bangun dan membalaskan dendam mereka.'


Malvia menggeleng cepat.


"Tidak! Aku tidak perduli dengan dendam. Hidup seperti ini sudah cukup bagiku. Aku ingin keluargaku!!" Malvia kembali berteriak.


"Malvia, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu berteriak?" tanya Emilya. Emily menatap ibunya lalu ayah dan kedua adiknya.


'Mereka butuh keadilan Malvia. Hanya kamu yang bisa. Kamu harus bangun!'


Malvia menatap sekitarnya, melihat betapa bahagia orang-orang di ruangan itu. Dia merindukan semuanya. Tapi suara itu benar. Ini adalah imajinasi. Dia harus bangun. Dia harus sadar. Dia harus balas dendam. Malvia menutup matanya.


"Bangun! BANGUN!!"


Malvia tersadar. Nafasnya cepat. Dia segera duduk dan menatap sekitarnya. Tidak ada satupun orang disana. Malvia bernafas lega. Jika dia tidak melawan, dia akan terjebak di imajinasi itu selamanya. Tunggu, lalu suara itu...


Malvia berdiri mencari disekitarnya. Tidak ada siapapun disana. Bahkan jejak bekas adanya orang disana pun tidak ada. Lalu siapa?


Malvia memutuskan untuk berjalan menyusuri hutan itu. Semakin lama udara semakin lembab dan dingin. Tubuh vampir Malvia tentu bisa menahan semua rasa dingin tapi Dia juga kelaparan. Malvia terus berjalan tanpa henti. Mungkin dia akan menemukan setidaknya hewan. Tapi anehnya dia tidak menemukan apapun di hutan ini. Bahkan nyamukpun enggan kemari.


Tiba-tiba Malvia mendengar sebuah suara. Lebih seperti suara erangan. Malvia mempertajam pendengarannya. Dia mengikuti arah suara itu hingga sampai di sebuah semak belukar yang cukup tinggi. Malvia membuka semak itu dan melihat di baliknya. Dia cukup terkejut. Beberapa orang sudah terbaring lemah di tanah. Mereka terlihat kurus kering tapi mereka tidak mati. Terdengar suara erangan mereka. Mereka seperti sedang bermimpi.


Mereka seperti Malvia saat dia berimajinasi tadi. Sepertinya mereka juga sedang terpengaruh imajinasinya. Malvia mulai menyadari sesuatu. Malvia mendekati mereka dan memeriksa satu persatu tubuh mereka. Mereka vampir! Mereka adalah kaumnya yang melarikan diri. Mereka terlihat kurus kering. Sepertinya mereka cukup lama terjebak disini.


"Hei... Bangunlah. Bangun." Malvia mengoyangkan tubuh salah satu dari. Vampir itu. Tapi vampir itu tidak juga sadar. "Hei! Bangunlah!!"


Mereka tidak bangun sama sekali. Malvia mengeluarkan taringnya, merubah wujudnya menjadi menyeramkan. Urat nadinya berubah menjadi hitam, bola matanya berubah menjadi merah. Malvia menancapkan taringnya di leher vampir itu. Vampir itu tiba-tiba membuka matanya dan tersadar. Malvia melepaskan taringnya dan berubah kembali. Vampir tadi tampak kebingungan.


"Selamat datang kembali.."

__ADS_1


...***...


__ADS_2