
Ethan berjalan bolak balik di ruang kerjanya. Beberapa hari ini dia kurang tidur. Beberapa hari ini pikirannya terlalu penuh. Penuh dengan Malvia. Ya, setelah Malvia pergi, dia begitu gelisah, begitu merindukannya. Dia jatuh cinta padanya. Rasa yang tidak pernah dia pikirkan akan dia rasakan lagi, kini dia merasakannya. Ada rasa bergejolak didalam dirinya. Dia begitu khawatir padanya. Apa dia selamat? Apa dia baik-baik saja? Dia terus menyalahkan dirinya atas yang terjadi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar.
"Ini saya tuan, Ester." sahut Ester dari balik pintu.
"Masuklah, Ester."
Ester membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Ethan.
"Kereta ibu anda sudah sampai tuan." kata Ester.
"Aku akan segera ke sana, terima kasih Ester."
Ester membungkuk hormat lalu keluar. Ethan mengambil jasnya lalu ikut keluar.
Di luar sudah berhenti kereta kuda milik ibunya. Seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan sudah keluar dari kereta kuda beserta satu pria.
"Ibu." panggil Ethan lalu memeluk wanita paruh baya itu.
"Apa kabarmu nak?" tanya Sarah, ibunya.
"Baik bu."
Ethan menyalami dan memeluk pria yang juga kakaknya itu.
"Hai bro." kata Aiden.
"Hai. Ayo masuk." ajak Ethan.
"Jadi, apa kabar disini nak?" tanya Sarah. Sarah melihat sekeliling rumah, tampak mencari sesuatu.
"Aku baik-baik saja bu. Apa yang ibu cari?" tanya Ethan.
"Wanita itu, tentu saja!" Aiden tertawa.
"Wanita? Wanita apa?" tanya Ethan bingung. Sarah menarik tangan Ethan untuk duduk.
"Katakan pada ibu nak, apa yang terjadi?" tanya Sarah yang tampak khawatir.
"Apa maksud ibu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, adikku."
Ethan mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan ibu dan kakaknya.
"Kata bibimu, kamu memiliki wanita disini."
"Wanita? Ahh wanita itu..." Ethan baru menyadari jika yang mereka bicarakan adalah Malvia.
__ADS_1
"Apa dia adalah vampir itu? Ada apa denganmu? Kenapa membawa vampir?!" pekik Sarah.
"Tenanglah bu, Ethan akan menjelaskannya, benarkan Ethan?"
Ethan menghembuskan nafasnya dan memijat pelipisnya.
"Well? Kenapa diam saja?" Sarah dan Aiden menatap Ethan, menunggu jawaban darinya.
"Aku hanya lelah membahas hal ini bu. Aku bahkan membahasnya dengan raja."
"Karena itu! Kau sampai di panggil oleh raja Ellard. Kenapa kamu menjadi begitu gila?!"
"Ibu mash bertanya kenapa aku menjadi gila?" Ethan balik bertanya.
"Ethan, sayang.. Sofia sudah meninggal, demi tuhan! Lanjutkanlah hidupmu! Bukannya justru terlibat dengan kegilaan ini!" pekik Sarah. Dia tidak habis pikir dengan anak bungsunya.
"Bu, Aku baik-baik saja. Semua sudah berlalu, oke?" tegas Ethan.
"Jadi, pihak kerajaan melakukan apa?" tanya Aiden.
"Aku rasa ayah sudah tahu, kenapa tidak bertanya padanya saja?"
"Ayahmu marah padamu! Jadi dia tidak mau kemari." kata Sarah.
"Biarkan saja ayah, adikku. Dia selalu begitu. Harga diri dan derajad yang paling penting dari pada anaknya."
"Aiden!"
"Okay, hentikan. Bu, aku baik-baik saja. Yang jelas aku tidak berkhianat pada kaum kita. Aku sudah berusaha maksimal tapi bukan aku yang menggagalkan rencanaku. Tapi sekarang semua sudah selesai. Yang mulia juga sudah menghukumku untuk tidak mengikuti pemburuan selama enam bulan. Jadi aku akan baik-baik saja." jelas Ethan.
"Baiklah. Kalau begitu menikahlah."
Baik Aiden maupun Ethan terkejut dengan perkataan yang Sarah lontar barusan.
"Apa? Kenapa tiba-tiba menikah?" tanya Ethan.
"Itu lebih baik bukan. Jadi pikiranmu hanya pada istrimu dan ada yang merawatmu." ucap Sarah santai.
"Pikiranku baik-baik saja bu. Ada Ester yang merawatku dan demi tuhan! Aiden saja belum menikah!" Ethan protes keras.
"Ibu tidak perduli lagi pada Aiden. Ibu sudah lelah padanya." Sarah menggeleng. Aiden hanya terkekeh mendengar perkataan ibunya. Aiden berumur dua puluh delapan tahun tapi dia tidak ingin menikah, sama sekali. Dia terkenal sebagai pria casanova.
"Lupakan Sofia. Menikahlah Ethan. Ibu mohon." pinta Sarah lagi. Ethan menghembuskan nafasnya. Entah sampai kapan dia akan mendengar permintaan ibunya.
...***...
Malamnya Ethan berada di rumah kaca. Dalam rumah kaca itu terdapat sebuah ruangan tersembunyi. Hanya Ethan yang tahu tempat itu. Dia membangun ruangan tersembunyi itu setelah Sofia meninggal. Dia menggali tanah dan membuat sebuah ruangan khusus di bawah tanah.
Ethan masuk ke ruang paling belakang rumah kaca. Dia menggeser lemari kecil agar pintu masuk terlihat. Pintu masuk ada di lantai yang terbuat dari kayu. Ada sebuah gembok dan tali untuk mengangkat penutupnya. Etahn membuka gembok dan mengangkat penutupnya. Ada sebuah tangga kecil yang cukup seukuran tubuhnya, turun ke bawah. Tak lupa Ethan membawa sebuah obor untuk menerangi jalannya. Di bawah, Ethan harus menyusuri jalan beberapa meter kedepan lalu sampai di depan pintu kayu. Ethan membuka gemboknya lalu masuk ke dalam. Dia menyalakan lilin-lilin yang ada di dalam ruangan kecil itu lalu menyangkutkan obornya di dinding.
Ethan menatap ruangan itu sejenak. Ruangan itu penuh barang dan tampak berantakan. Di tengah-tengah ruangan ada sebuah meja kayu. Di atas meja itu terdapat berbagai macam senjata. Ada pedang, busur panah, pisau, pasak dan berbagai macam lagi.
__ADS_1
Setelah kemaitan Sofia, dia mendedikasikan dirinya untuk membuat senjata yang bisa digunakan untuk membunuh vampir. Semua vampir, bahkan keluarga kerajaan. Dia berhasil membuatnya, karena itu kenapa sekarang kaum vampir musnah, kenapa Ethan hanya di beri larangan berburu vampir hanya untuk enam bulan saja. Karena kontribusinya membuat senjata itu. Jadi secara tidak langsung, dia lah yang menghancurkan keluarga Malvia. Meski malam itu dia tidak terlibat, dia tidak ikut membunuh kaum vampir, tapi dia tetap bersalah.
Karena itulah, disinilah Ethan. Berdiri diam dalam ruangan sempit, menatap hasil karyanya dan menyesalinya. Pertemuannya dengan Malvia membuatnya memiliki perasaan yang tidak dia duga, yang seharusnya dia tidak boleh miliki. Tapi semakin dia menolak dan menyangkal perasaan itu, perasaan itu justru semakin besar. Terlebih sekarang dia tidak tahu dimana dan bagaimana kabar Malvia. Karena dia di berhentikan sementara dari pemburuan, jadi dia tidak tahu apapun tentang vampir.
Ethan mengambil satu senjata. Sebuah pedang perak yang berbeda dari pedang lainnya. Pedang yang memiliki ukiran unik di gagangnya. Dari semua pedang yang dia ciptakan, pedang itulah yang paling mematikan. Pedang itu yang telah membunuh raja vampir. Dia meminjamkanya pada perdana mentri Rouglas.
Flashback
"Ethan, apa kamu yakin tidak ikut?" tanya Rouglas. Dia bersiap melakukan penyerangan malam ini.
"Aku rasa tidak tuan. Sebaiknya tidak." kata Ethan. Sebenarnya dia ingin ikut, tapi jika dia melihat vampir secara langsung, emosinya akan langsung meledak dan dia tidak ingin menghancurkan rencana.
"Baiklah. Kami sungguh berterima kasih atas senjata yang kamu berikan pada kami." ucap Rouglas.
"Tidak masalah, tuan. Setidaknya itu yang bisa saya lalukan. Dan.. Ini." Ethan menyerahkan pedang khususnya.
"Pedang?"
"Benar. Pedang ini berbeda dari yang saya berikan sebelumnya. Pedang ini bisa membunuh raja vampir dalam satu tebasan. Bisa kah saya percayakan ini pada anda?"
"Membunuh raja vampir? Dalam satu tebasan? Tunggu, bagaimana bisa kamu membuat ini?" tanya Rouglas terkejut dan bingung.
"Tidak tanpa kesulitan tentu. Seluruh hidupku aku kerahkan untuk membuat pedang ini. Jika anda memang yakin ingin membunuh seluruh vampir, anda bisa gunakan ini."
"Apa kamu tidak yakin?" tanya Rouglas.
"Tuan, yang saya butuhkan adalah membunuh satu vampir yang membunuh calon istri saya, bukan seluruhnya. Tapi ini adalah misi kita sedari awal."
Rouglas menghela nafas. "Baiklah, akan aku gunakan dengan baik."
"Bisakah saya minta satu hal tuan?" pinta Ethan.
"Tentu, apa saja."
"Setelah digunakan, tolong kembalikan kepada saya. Hanya pedang ini dan tolong jangan beritahukan pada siapapun tentang keberadaan pedang ini."
"Tentu, tentu saja. Tapi... Memangnya ada apa? Jika raja vampir mati, pedang ini tidak akan digunakan lagi."
"Tapi pedang itu tidak hanya bisa membunuh vampir tapi semua kaum."
"Apa? Apa maksudmu? Ba-bagaimana kamu bisa membuat pedang ini?"
"Anda tidak perlu mengetahuinya. Apa saya bisa memegang kata-kata anda tuan? Tentang permintaan saya tadi?" tanya Ethan.
"Baiklah, aku berjanji."
"Terima kasih, tuan."
Flashback off
Ethan menghela nafas. Dia telah membunuh keluarga Malvia dan kini dia mencintainya. Entah apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
...***...