
Kereta kuda berjalan dengan cepat melintasi jalan berbatu kecil. Kereta yang telah berjalan cukup lama akhirnya sampai di perkarangan rumah. Ethan turun terlebih dahulu lalu dia mengulurkan tangannya, membantu Malvia turun. Malvia tersenyum sembari turun dari kereta. Ester tergopoh-gopoh mendatangi mereka.
"Tuan, selamat datang." sambutnya sembari menundukkan sedikit tubuhnya, tanda hormat.
"Halo Ester. Apa semua baik-baik saja di rumah?" tanya Ethan.
"Tentu tuan. Semua baik-baik saja."
"Bagus kalau begitu."
"Tapi.. Siapa..." Ester melihat Malvia. Dia tidak mengenali Malvia. Selama tinggal di rumah Ethan, Malvia menggunakan gaun tunangan Ethan yang mewah dan merias dirinya. Sekarang penampilan Malvia jauh berbeda. Penampilannya lebih lusuh. Dia tidak merias wajahnya sama sekali. Rambutnya di ikat kebelakang dan pakaiannya juga lusuh, mengenakan pakaian pelayan pada umumnya. Kulit Malvia anehnya juga tidak pucat lagi. Wajar jika Ester tidak mengenalinya.
"Ahhh... Ini pelayan baru kita." kata Ethan. Ethan dan Malvia sepakat, Malvia akan tinggal di rumah Ethan sebagai pelayan. Malvia tidak ingin mencolok.
"Halo nyonya, nama saya... Belinda." Malvia mengenalkan dirinya. Ester menatap Ethan bingung.
"Ahh.. Dia aku pekerjakan sebagai asistenku saat merawat orang. Kamu sendiri yang berkata aku butuh seseorang untuk membantuku. Para pelayan di rumah ini sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Jadi aku memperkerjakannya. Jika dia tidak sibuk bersamaku, dia bisa membantumu di rumah." jelas Ethan.
Ester mengangguk." Baik tuan. Ayo, aku tunjukkan kamarmu." ajak Ester. Malvia menundukkan sedikit tubuhnya, menghormati Ethan lalu mengikuti Ester.
"Dari mana asalmu nak?" tanya Ester sembari berjalan ke kamar.
"Jauh dari sini nyonya. Kota thudar." jawab Malvia. Dia sengaja menyebut kota paling jauh di kaum Manusia.
"Itu jauh sekali. Bagaimana bisa kamu kemari?"
"Saya di tawari bekerja di kota oleh paman saya yang bekerja sebagai buruh." jawab Malvia dan tentu saja itu bohong. Sebenarnya alasan itu adalah ide Ethan.
"Lalu bagaimana kamu bertemu dengan tuan Sanders?"
"Ahhh... Di perkemahan perburuan nyonya. Saya bekerja di bagian pelayanan kesehatan. Kebetulan ada yang terluka dan saya membantu tuan Sanders."
"Hmmm begitu. Baiklah." mereka berhenti di depan pintu kamar. "Ini kamarmu mulai sekarang. Jika ada yang ditanyakan silahkan bertanya padaku."
"Baik nyonya terima kasih."
Ester melangkah pergi. Tapi belum jauh, dia berhenti dan menoleh lagi. "Berapa umurmu Belinda?"
"Dua puluh tahun, nyonya."
Ester mengangguk. "Baiklah. Istirahatlah dulu."
"Terima kasih, nyonya."
Ester berbalik dan pergi. Saat Ester sudah tidak di jangkauan matanya, Malvia masuk kamar. Malvia bernafas lega di kamar.
"Tadi itu sulit sekali."
__ADS_1
...***...
Malvia bangun pagi dan membantu keperluan di dapur. Dia berkenalan dengan pelayan dapur bernama Dorothy, koki di rumah itu dan Laila, asisten Dorothy. Pelayan di rumah Ethan ada tiga. Kepala pelayan, Ester, tentu, lalu ada Kate dan Grace.
"Terima kasih, darling. Kamu membuat pekerjaanku menjadi lebih ringan." kata Dorothy pada Malvia. "Laila selalu saja ceroboh! Dia bukan meringankanku tapi menambah pekerjaanku!"
Laila tertunduk. Malvia bisa melihat Laila masih sangat belia. Mungkin umurnya sekitar dua belas tahun. Tentu dia masih suka ceroboh. Malvia paham itu.
"Dia masih belajar. Lagipula dia masih sangat muda. Tenang saja, aku akan membantumu jika sedang tidak ada pekerjaan bersama tuan Sanders."
"Kau baik sekali." puji Dorothy. Tubuh Dorothy gemuk, itu membuatnya kurang bisa bergerak lincah. Karena itu dia butuh bantuan. Wanita paruh baya bertubuh gemuk dan anak berusia dua belas tahun, what a perfect combination! Malvia menggelengkan kepalanya.
Setelah memasak sarapan dan membantu membersihkan rumah, giliran Malvia membantu Ethan. Dia membantu mengurusi rumah kaca. Menyirami tanaman, memanen tanaman herbal yang siap di ambil, meramu obat dan masih banyak lagi. Meskipun tidak sedikit bau dari tanaman obat yang menyengat dihidungnya, mengingat hidungnya sangat sensitif, Malvia mencoba untuk menahannya.
Malvia berada di sana selama beberapa minggu dan selama itu pula Malvia dan Ethan menjadi dekat. Mereka sering terlihat bersama. Bercerita dan tertawa bersama. Tidak seperti Malvia yang penuh tekanan, Malvia sekarang jauh lebih ceria. Dia lebih sering berduaan dengan Ethan di rumah kaca. Malvia juga ikut ke desa dan memeriksa kesehatan warga desa. Tentu sebelumnya dia meminum darah terlebih dahulu. Malvia meminum darah hewan setiap hari. Darah hewan membuat kulitnya tidak pucat lagi dan bola matanya berubah menjadi bola mata manusia biasa. Dia lebih mirip manusia sekarang daripada vampir.
Setelah dari desa, Ethan akan duduk di kantornya dan memeriksa catatan kesehatan para pasiennya. Itu adalah momen kesukaan Malvia kedua. Yang pertama adalah saat Ethan memeriksa pasiennya. Dia dengan sabar memeriksa pasiennya meskipun tidak sedikit yang kadang kasar maupun menolaknya. Tapi Ethan masih melayani mereka dengan sangat baik. Momen kesukaannya yang kedua adalah saat Ethan sibuk bekerja di balik meja. Ethan tenggelam dalam kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Rambut merahnya akan berantakan. Tapi Malvia merasa Ethan sangat seksi. Aneh sekali.
"Isabella.." panggil Ethan. Tapi Malvia masih larut dalam lamunannya. "Isabella!"
"Hm? Ahh ya?"
"Apa kamu melamun?" tanya Ethan.
"Ahh maafkan saya." ucap Malvia.
"Tidak apa-apa. Kamu pasti lelah. Istirahatlah." pinta Ethan.
"Apa kau yakin?"
Malvia mengangguk. "Yakin."
"Tapi ini sudah malam. Istirahatlah."
"Baiklah, Selamat malam."
"Selamat malam, Isabella."
Malvia keluar ruangan dan menuju kamarnya. Sebenarnya Malvia enggan untuk pergi. Dia masih ingin bersama Ethan. Tapi Ethan benar. Ini sudah larut. Meski sudah berjauhan dari Ethan, dada Malvia masih berdebar kencang.
...***...
"Bagaimana? Apa parah?" tanya seorang wanita bangsawan. Ethan sedang mengunjungi rumah seorang bangsawan. Dia memeriksa suami dari sang wanita yang tiba-tiba pingsan.
"Sepertinya dia sangat kelelahan nyonya. Apa yang di lakukan tuan Beafold sampai dia kelelahan seperti ini?" tanya Ethan. Wanita itu menghela nafas.
"Dia selalu melakukan sesuatu yang gila! Aku bahkan tidak tahu apa itu. Dia selalu merahasiakannya dariku. Aku yakin dia berselingkuh dengan janda itu!"
__ADS_1
Ethan terkejut. "Ja-janda?"
"Nyonya Wornsprout. Dia janda itu. Semua orang mengetahuinya. Mereka pernah melihat mereka berduaan. Dia sudah tua renta tapi masih tidak ingat umur. Dasar mesum!!"
Malvia menganggukkan kepalanya. Pria tua tapi masih mesum itu sangat tidak bisa di tolerir. Tapi pria tua itu kaya tentu dia bisa menggoda wanita dengan kekayaan yang dia miliki.
"Atau mungkin dengan wanita muda?" lanjut wanita itu. "Dia selingkuh dengan semua orang. Tua, muda, bangsawan bahkan pelac*r sekalipun. Aku tidak tahan lagi. Aku berharap dia terkena penyakit kelamin."
Ethan dan Malvia hanya saling menatap sejenak sambil mendengarkan wanita itu mengeluh tentang suaminya.
"Aku sudah meresepkan obat. Berikan dia sesuai takaran dan setiap hari."
"Terima kasih, Ethan. Kamu penyelamatku." puji wanita itu.
"Sama-sama Nyonya. Tapi jika anda begitu tersiksa, anda bisa berpisah darinya."
"Dan membiarkan anakku tidak mewarisi apapun dari pria tua ini? Ohh darling, aku tidak bisa melakukan itu. Bukan untukku tapi demi masa depan anak-anakku."
"Baiklah nyonya. Apapun yang anda inginkan. Saya permisi dulu."
Ethan dan Malvia keluar dari rumah itu. Sebelum mereka pulang, mereka memilih untuk berjalan-jalan dan mencari tumbuhan herbal baru yang bisa ditanam. Selama perjalanan mereka, ada satu orang yang memperhatikan mereka sedari tadi. Pria itu menaruh curiga pada Malvia.
...***...
Satu orang wanita berdiri sendirian di dalam hutan. Dia mengenakan gaun sederhananya. Terlihat dia hanya gadis biasa, bukan dari kalangan bangsawan. Setelah mengikuti dan mengamati beberapa hari, pria yang mengikuti Malvia kini bertindak. Dia tahu jadwal Malvia di rumah Ethan. Malvia akan berada di rumah kaca hingga pukul sembilan malam.
Dan benar saja. Tepat pukul sembilan malam, Malvia mengunci pintu rumah kaca. Tapi entah kenapa dia mendengar suara aneh. Dia tahu suara itu berasal agak jauh dari tempatnya sekarang tapi Malvia bisa mendengarnya dengan jelas. Tak lama dia mencium bau darah yang menyengat. Darah manusia, yang sangat banyak dan segar.
Jika itu darah binatang, dia tidak akan lepas kendali. Tapi dia mencium bau darah manusia yang belum dia minum selama seminggu ini. Terlebih darah itu tercium sangat menyenga, mengalir dengan segarnya. Malvia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menahannya. Tapi bau itu semakin menyengat.
Itu adalah perbuatan pria itu. Dia membunuh wanita tadi dan menjadikannya umpan untuk mendapatkan Malvia. Malvia merasa aneh. Dia biasanya bisa menahan nafsunya tapi kali ini tidak bisa. Ini benar-benar aneh. Rasanya seperti bau darah itu menariknya.
Malvia memutuskan untuk mencari bau itu. Dengan menahan keinginannya untuk meminum darah, Malvia terus mencari. Bau darah itu semakin dekat. Tak lama Malvia melihat satu sosok gadis duduk bersandarkan pohon. Malvia mendekat. Gadis itu tampak terluka parah. Banyak sayatan di tubuhnya. Bau darah gadis itu benar-benar menggoda Malvia. Malvia tidak tahan pada bau darahnya. Ini aneh. Malvia sudah terbiasa mengontrol rasa laparnya, tapi berbeda dengan bau darah gadis ini. Baunya... Berbeda. Apa ini darah langka yang pernah di ceritakan ayahnya dulu? Yang jika menciumnya saja akan kehilangan kendali? Karena Malvia benar-benar akan kehilangan kendali. Matanya berubah merah pekat, taringnya keluar tanpa perintah. Nafas Malvia menggebu. Dadanya berdebar keras. Malvia meminum darah gadis itu. Dia kehilangan kendali sekarang. Dia benar-benar lepas kendali. Bau dan rasa darah gadis itu sangat memabukkan.
Malvia seperti terhipnotis dan menghisap darah tanpa henti sampai dia mendengar suara pedang yang di keluarkan dari sarungnya. Malvia menghentikan hisapannya.
"Oh tidak! Apa yang aku lakukan?!"
Malvia tersadar tapi semua sudah terlambat. Wajah dan tubuhnya di penuhi bekas darah. Gadis itu jelas sudah mati. Malvia meminum seluruh darah di tubuhnya. Dia benar-benar lepas kendali.
"Vampir brengsek! Berani sekali kamu masuk ke wilayah ini!" pekik pria itu. Malvia berdiri dan menoleh.
"Kau! Kau menjebakku dengan gadis itu! Kau membuatku meminum darah gadis itu!" pekik Malvia.
"Cih! Kau yang meminumnya! Yang kehilangan kendali!"
"Tapi kamu yang memulainya! Darah apa itu sampai aku bahkan... Bahkan tidak..."
__ADS_1
"Cukup! Kau akan mati di tanganku malam ini, penghisap darah! Pedang ini di buat khusus untuk makhluk menjijikkan sepertimu! Bersiaplah!"
...***...