
Ethan menyusuri rumah dan perkarangan, mencoba mencari Malvia. Tapi Malvia tidak bisa ditemukan. Kata-kata bibi Jane memang selalu pedas didengar, Ethan sudah terbiasa. Tapi tidak Malvia. Karena itu Ethan menjadi khawatir. Terlebih pembahasannya tentang kaum Malvia.
Dari kejauhan Ethan melihat seseorang di dekat rumah kacanya. Ethan mendekat perlahan, dan benar saja. Itu Malvia yang sedang duduk di tanah sambil memeluk kedua kakinya. Ethan mendekati Malvia dan mengarahkan payungnya ke atas kepala Malvia. Malvia mendongak melihat Ethan.
"Sedang apa kamu disini? Hujan sangat deras. Ayo masuk." ajak Ethan. Malvia hanya diam menunduk. Ethan mengulurkan tangannya. "Ayo." ajaknya lagi.
Malvia menatap tangan Ethan. Dia memang sudah merasa tenang, tapi dia ragu sejenak. Malvia akhirnya menyambut uluran tangan Ethan dan berdiri perlahan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ethan. Malvia mengangguk pelan. "Ayo kita masuk."
Ethan masih mengarahkan payungnya pada Malvia yang sudah basah kuyup sedari tadi dan membiarkan tubuhnya basah terkena hujan karena payungnya tidak cukup untuk mereka berdua.
Di dalam rumah, Ester sudah menyambut mereka dengan kain kering yang di balutkan ke tubuh Malvia dan Ethan.
"Nona.. Mandilah. Saya sudah menyiapkan air panas nona dan menyiapkan pakaian ganti." kata Ester. Malvia mengangguk tanpa mengatakan apapun dan langsung menuju kamarnya.
"Tuan, apa yang terjadi dengan nona itu?" tanya Ester. Ethan diam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus diberikan.
"Mungkin traumanya kambuh. Jadi dia ketakutan. Tadi aku menemukannya bersembunyi di samping rumah kaca."
"Ohhh... Kasihan sekali dia. Kalau boleh saya tahu... Siapa namanya?"
Ethan terdiam. Dia baru sadar dia tidak pernah menanyakan nama wanita itu. Bodohnya dia. Dia hanya mendengar saat bibinya bertanya tadi namanya Isabella, entah itu nama aslinya atau tidak, Ethan tidak tahu.
"Aku belum bertanya." ucap Ethan yang masih merutuki dirinya dalam hati. "Akan aku tanyakan nanti."
"Baik tuan. Sebaiknya anda juga mengganti pakaian anda."
Ethan mengangguk. "Tentu." Ethan segera pergi ke kamarnya.
Setelah beberapa lama, Ethan mengetuk pintu kamar Malvia. Awalnya dia ragu, dia takut Malvia sudah tidur. Tapi akhirnya dia mencobanya.
"Masuklah." sahut Malvia dari dalam kamar.
"Ini aku." Ethan masuk beberapa langkah ke dalam kamar. Malvia sudah mengganti pakaian dengan pakaian yang kering dan duduk disalah satu kursi di dekat jendela.
"Ada apa tuan Sanders?" tanya Malvia.
"Bagaimana kamu--"
__ADS_1
"Tahu nama anda? Orang-orang disini memanggil anda tuan Sanders."
"Ahh tentang itu. Panggil saja Ethan. Namaku Ethan Sanders. Apa aku boleh tahu namamu nona? Yang sebenarnya?"
Malvia mengerutkan keningnya. "Untuk apa mengetahui namaku yang sebenarnya?"
"Untuk... Diingat?"
Malvia tersenyum. "Tidak perlu diingat tuan, kita mungkin tidak akan bertemu lagi."
Ethan mengangguk. "Kau benar. Ahh benar. Aku kemari untuk meminta maaf atas nama bibiku. Dia memang selalu bergitu saat berbicara. To the point dan berterus terang dan menyakitkan."
"Untuk apa anda minta maaf? Bukan anda yang salah. Aku sudah tidak apa-apa tuan. Mungkin tadi aku hanya syok. Tapi sekarang aku baik-baik saja. Tenang saja, aku tidak akan melukai bibi anda. Anda adalah orang yang menyelamatkanku."
"Aku tidak pernah berpikir jika kamu akan melukai bibiku. Aku hanya-- apapun itu, aku sungguh-sungguh minta maaf atas bibiku. Beristirahatlah.. Selamat malam."
"Selamat malam tuan Sanders."
Ethan keluar kamar dan menutup pintu. Malvia menghela nafas. Sedari tadi saat Ethan berada di kamarnya, dia berusaha untuk tenang. Dia selalu gugup jika berada di dekat pria itu.
...***...
Malvia mendengar suara ribut dari kamarnya keesokan harinya. Dia mengintip dari jendela kamarnya. Banyak orang sudah berkumpul di halaman depan rumah Ethan. Pria maupun wanita dan anak-anak. Malvia terkejut.
Malvia melesat dengan kekuatan vampirnya menuju ruang tamu. Tidak ada orang disana. Ethan bahkan bibi dan Ester sudah ada di halaman depan.
"Sungguh tuan-tuan dan nyonya-nyonya.. Anda tidak perlu melakukan semua ini." ucap Ethan.
"Tidak pak dokter. Anda sudah berbaik hati mengobati kami yang hanya petani dan peternak ini tanpa meminta imbalan apapun. Hanya ini yang bisa kami berikan jadi terimalah dokter, tanda terima kasih kami." kata salah satu pria yang berdiri paling depan. Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok itu, pikir Malvia.
"Aku melakukannya dengan percuma tuan Mcartney. Sungguh.. Anda dan warga desa tidak perlu begini." pinta Ethan. Tapi warga desa bersikeras untuk memberi. Akhirnya Ethan terpaksa mengambil apapun yang mereka berikan. Jika tidak, mereka tidak akan pulang. Malvia bisa melihat barang-barang yang di berikan itu adalah hasil panen. Jagung, kentang bahkan ada yang memberikan ayam mereka.
Malvia menyaksikan semua itu. Hatinya menjadi tersentuh. Bagaimana jika Ethan ketahuan menyembunyikannya? Ethan pasti akan dalam masalah. Dia tidak akan di sayangi dan di hormati seperti ini lagi oleh rakyatnya. Malvia kembali ke kamar secepat kilat. Dia menemukan satu kertas dan alat tulis di atas meja. Dia menuliskan sesuatu untuk Ethan lalu segera pergi dari rumah itu. Lagipula lukanya sudah sembuh. Dia bisa menggunakan kekuatan vampirnya lagi yang artinya racun dalam tubuhnya sudah tidak ada. Dia tidak ingin menjadi beban dan masalah untuk Ethan. Setidaknya ini yang bisa dia lakukan untuk kebaikan Ethan.
"Selamat tinggal tuan Ethan Sanders."
...***...
Malvia memilih bersembunyi di hutan, menunggu gelap. Saat sudah gelap, dia keluar dan membaur dengan manusia biasa. Kulit pucatnya tidak akan terlalu terlihat lagi. Sempurna.
__ADS_1
Dan benar saja, di benar-benar membaur dengan manusia. Mencari mangsa dengan bebas di daerah sepi. Tentu dia tidak membunuh mangsanya. Dia sudah terkendali sejak lama. Dia bahkan bisa menghipnotis mangsanya untuk melupakannya.
Malvia sudah memiliki tujuan malam ini. Memanggil sahabatnya dari kaum penyihir, Helena. Helena adalah sahabatnya sejak lama. Mereka selalu bersama. Helena pasti akan membantunya. Malvia pergi ke hutan wilayah kaum manusia setelah mengumpulkan bahan untuk memanggil penyihir. Helena pernah mengajarkannya tentang memanggil penyihir yang diinginkan.
Malvia melakukan semua yang di ajarkan Helena lalu menunggu dan bersembunyi. Dia tidak mau pasukan kaum manusia memergokinya atau yang datang bukanlah Helena. Beberapa menit kemudian, seseorang muncul begitu saja di tempat Malvia memanggil penyihir tadi. Tapi Malvia tidak langsung keluar. Dia menunggu untuk memastikan siapa yang dia panggil. Karena hari ini bulan tidak bersinar jadi sulit melihat dari kejauhan.
"Malvia?" panggil orang itu. Malvia kenal betul suara itu. Itu suara Helena. Malvia keluar dari persembunyiannya.
"Helena! Oh syukurlah itu benar-benar kamu!" Malvia mendatangi Helena lalu memeluknya.
"Malvia? Ini benar-benar kau?!" Helena terkejut.
"Tentu saja ini aku!" Malvia melepaskan pelukannya.
"Astaga Malvia! Aku kira kamu sudah mati! Aku takut sekali!"
Malvia menangis dan memeluk Helena lagi.
"Keluargaku, keluargaku di bantai. Kaumku di musnahkan. Sebenarnya apa salah kaumku hingga mereka melakukan hal sekeji itu."
"Tenanglah Malvia. Semu akan baik-baik saja." Helena mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang?" Malvia melepaskan pelukannya. "Sekarang aku sendirian Helena."
"Karena itu aku memintamu tenang dan fokus! Meskipun kamu sendirian, kamu harus bisa bertahan."
Malvia merasa lega memiliki teman seperti Helena. Setelah semua hal keji yang terjadi padanya, Helena akan menjadi semangatnya kembali.
"Terima kasih Helena." ucap Malvia.
"Untuk?"
"Untuk kehadiranmu disini bersamaku. Itu sangat berarti."
"Tentu saja. Aku sangat senang." Helena tersenyum. Tapi ada yang aneh dari senyumnya.
Satu persatu muncul penyihir mengelilingi mereka. Penyihir itu membawa tongkat sihir mereka dan mengenakan baju zirah khusus para penyihir.
"A-ada apa ini? Helena?" tanya Malvia panik. Helena hanya tersenyum dan melangkah mundur, mensejajarkan dirinya dengan para penyihir lain.
__ADS_1
"Aku akan dengan senang hati berada disini untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri, Malvia." ucap Helena. Malvia terkejut. Helena mengkhianatinya. Tapi kenapa?
...***...