
Malvia menyadarkan satu persatu kaumnya. Tapi meskipun mereka telah sadar, mereka seperti kehilangan arah dan akal. Beberapa orang masih bisa di selamatkan tapi yang lain, benar-benar tidak akan selamat.
"Kalian tunggu disini dan aku mohon bertahanlah." Malvia melesat pergi. Dia juga bingung kenapa kekuatan vampirnya berfungsi disini dan dia tidak menjadi lemah. Malvia mencari jalan keluar. Jalan apapun yang membuatnya keluar dari hutan itu. Entah harus kemana. Dia terus berjalan dan membuat tanda di pohon pada jalan yang telah di laluinya. Dia merobek gaunya dan robekannya di letakkan di pohon. Bahkan burung saja tidak mau hinggap di hutan itu. Malvia menemukan beberapa jalan keluar tapi semua sudah di jaga oleh kaum lain. Jalan satu-satunya adalah malam hari.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum gelap." kata Malvia sambil memapah salah satunya. "Bertahanlah. Kita harus bisa bertahan."
"Kita... Akan... Kemana?"
"Keluar dari sini. Cara satu-satunya kalian hidup."
Marlvia menggunkan kekuatan vampirnya melesat mengikuti tanda yang dia buat hingga sampai di dekat mulut hutan. Malvia meletakkan vampir yang dia papah, bersandar di sana.
"Tunggu, di sini. Aku akan membawa yang lain. Ada banyak kaum lain di luar. Jadi jangan kemana-mana. Kamu mengerti?" kata Malvia. Vampir itu mengangguk. Malvia segera melesat dan membawa satu persatu vampir.
"Kita tunggu disini sebentar dan menunggu malam."
Mereka duduk dan bersandar dipohon menunggu malam tiba yang tak lama lagi.
Langit semakin gelap. Malvia masih menunggu. Dia berdiri dan berjalan lebih dekat dengan ujung hutan. Dia melihat beberapa kaum menjauh untuk bergantian berjaga.
"Ayo kita pergi! Sekarang!"
Malvia membawa dua orang sekaligus dan satu lagi yang masih terlihat lebih baik dari dua lainnya, berjalan meski perlahan. Malvia melesat pergi disisi hutan lalu menjauh, sejauh yang dia bisa dan masuk hutan lainnya lalu kembali menjemput satu lagi.
"Kita harus makan. Untuk mengembalikan tenaga kalian." kata Malvia.
"Tapi dimana kita bisa mencari manusia?"
"Tidak! Jangan manusia. Kita akan minuk darah hewan." kata Malvia.
"Apa?"
"Jika kita meminum darah manusia itu akan sangat berisiko untuk kita, terlebih mereka sekarang mencari keberadaan kita. Aku tahu darah hewan tidak akan membuat kita lebih kuat tapi setidaknya tenaga kita akan kembali dan itu cukup untuk pergi lebih jauh dari sini." kata Malvia. Semua orang saling menatap lalu mengangguk. "Tapi pertama, kita harus mencari tempat aman."
Malvia kembali memapah satu orang dan satu lagi memapah temannya. Mereka berjalan menyusuri hutan dan semakin masuk ke dalamnya. Mereka menemukan sebuah goa. Malvia tidak merasakan kehadiran siapapun selain mereka. Dia mempertajam pendengarannya. Dia tetap tidak mendengar apapun. Malvia membawa mereka masuk ke dalam goa dan mendudukkan mereka di dinding goa.
"Sepertinya ini tempat yang cukup aman untuk sementara. Hutan ini masih di wilayah manusia. Jadi kita masih tetap harus berhati-hati. Aku rasa kita tidak akan mendapatkan apapun untuk dimakan. Apa kalian bisa menunggu?" tanya Malvia.
"Tentu, yang mulia. Setelah keluar dari hutan itu, tenaga kami perlahan pulih. Tapi kami hanya lapar saat ini. Itu bisa menunggu, masalahnya adalah, kami tidak bisa keluar disiang hari seperti anda." kata vampir wanita.
"Kamu tahu siapa aku?" tanya Malvia.
__ADS_1
"Tentu, yang mulia. Putri mahkota, Malvia Wycliff. Saya adalah pelayan bagian kebersihan di kamar putri Caroline."
"Ahh pantas kamu tampak familiar. Aku yang akan pergi mencari makan. Sebaiknya kalian beristirahat terlebih dahulu."
Malvia menyandarkan tubuhnya. Meskipun dia hanya berhasil menyelamatkan lima vampir. Malvia menatap keluar goa. Hujan turun dengan derasnya. Membuatnya teringat Ethan. Pria yang menyelamatkannya, pria yang selalu ada untuknya. Pria yang dia cintai. Dia begitu merindukannya. Apa dia baik-baik saja? Dia menyelamatkannya sampai akhir. Malvia begitu khawatir. Dia takut Ethan akan terluka karena melindunginya. Di tengah dendamnya untuk membalas kematian keluarga dan kaumnya, di jatuh cinta. Dia tidak ingin kehilangan orang yanh dia cintai lagi. Tidak lagi. Malvia menutup matanya dan terlelap.
...***...
Brakk!!
Dua rusa terikat terjatuh tepat di hadapan ke empat vampir yang sedang tertidur. Para vampir terkejut dan terbangun. Mereka menatap dua rusa itu lalu menatap Malvia.
"Apa yang kalian tunggu? Ayo makan!" ucap Malvia. Mereka semua langsung melahap dua rusa itu secara bergantian. "Uhmm sepertinya kurang. Aku akan mencari lagi. Bagaimana dengan babi hutan? Aku tadi bertemu dengan babi itu. Aku akan mengambilnya."
Malvia kembali melesat pergi mencari beberapa hewan untuk di minum darahnya. Sampai terkumpul cukup banyak untuk melepas rasa lapar mereka.
"Sekarang bagaimana?" tanya salah satu vampir pria.
"Yang jelas, pergi dari sini. Kita tidak bisa menetap di satu tempat dalam waktu lama. Tapi pertama-tama, kita singkirkan dulu bangkai-bangkai hewan ini." kata Malvia. Semua orang mengangguk.
Mereka duduk diam menunggu gelap. Saat matahari sudal mulai menghilang, mereka keluar untuk membuat lubang dengan alat seadanya untuk mengubur bangkai binatang. Setelah itu mereka pergi mencari tempat aman. Tapi Malvia ingin melihat sisa-sisa kaumnya. Jadi mereka pergi ke wilayah kaum Vampir. Malvia tahu itu sangat beresiko tapi dia benar-benar ingin melihatnya. Vampir lain juga setuju.
Mereka mengendap-endap masuk wilayah mereka sendiri. Mereka merasakan keberadaan kaum lain, tapi tidak terlalu banyak. Masalahnya adalah salah satu kaumnya adalah manusia serigala yang akan mendengar bahkan mencium bau mereka jika mereka mendekat. Jadi mereka hanya bisa melihat reruntuhan itu dari jauh. Ya, kastil itu runtuh, rata dengan tanah. Tidak ada tanda-tanda vampir disana. Bahkan Malvia bisa melihat seluruh rumah kaum vampir luluh lantah.
"Tenanglah. Jangan berikan mereka alasan untuk membunuhmu. Akan ada waktunya kita untuk balas dendam." kata Malvia.
"Tapi bagaimana caranya yang mulia?"
"Aku punya cara. Kita akan menjadi manusia."
"Apa?"
"Jangan di bahas disini. Ayo kita pergi." Malvia melesat pergi di ikuti vampir lain. Mereka kembali masuk ke hutan, menjauh dari wilayah mereka.
"Tunggu, tapi bagaimana caranya yang mulia? Kita tidak akan bisa menjadi manusia, kita terlalu berbeda. Mata dan kulit. Tidak akan bisa."
"Bisa. Apa kalian tidak memperhatikan perubahan kalian?" kata Malvia. "Kemarilah."
Malvia mengajak ke tempat terbuka. Mereka berdiri di bawah sinar bulan.
"Perhatikan diri kalian."
__ADS_1
Semua vampir saling menatap satu sama lain.
"Kulitmu..."
"Tidak... Matamu."
Semua terkejut dan bingung.
"Itu semua karena darah hewan. Selama ini kita selalu minum darah manusia dan enggan meminum darah hewan tentu karena rasanya yang jauh berbeda. Tapi justru membuat kita tampak seperti manusia biasa. Sekarang, kita tinggal mencari tempat tinggal." kata Malvia.
"Tapi yang mulia, kami tidak bisa berjalan di bawa sinar matahari seperti anda."
"Kalian bisa." Malvia mengeluarkan taringnya lalu mengigit tangannya sendiri. "Minumlah."
"Ti-tidak yang mulia." kata salah satu vampir. "Kami tidak berani. Anda... Adalah keluarga kerajaan. Kami tidak--"
"Ini perintah!"
Semua orang saling pandang. Malvia mengeluarkan taringnya lagi lalu menggigit kembali tangannya yang sudah sembuh.
"Cepat! Jika kalian mau hidup, cepat minum!" perintah Malvia. Vampir wanita yang pertama meminumnya. Lalu bergantian dengan vampir pria. "Bagus, sekarang kalian akan bisa berjalan di siang hari asalkan kalian meminum darahku setiap hari. Kalian mengerti?" semua vampir mengangguk. "Sekarang aku perlu nama kalian."
"Nama saya Alice, yang mulia." vampir perempuan bernama Alice itu menunduk hormat pada Malvia.
"Saya Peter."
"Dan saya Carlos."
"Baiklah, mari kita pergi ke wilayah kaum manusia lalu bersembunyi terlebih dahulu menunggu siang. Setelah itu, kita bisa keluar dan berbaur."
Semua mengangguk mantap. All set.
...***...
Esoknya mereka berbaur dengan manusia. Tentu saja, sebelumnya mereka minum darah Malvia terlebih dahulu. Awalnya mereka ragu, tapi Malvia meyakinkan mereka. Tentu saja Malvia pernah melakukan hal itu sebelumnya pada pelayan pribadinya dan itu berhasil!
Malvia pergi ke sebuah toko perhiasan. Dia menjual semua perhiasannya yang sempat dia pakai saat melarikan diri. Hanya satu yang dia simpan. Satu buah cincin khas kerajaan vampir. Dia akan ketahuan jika cincin itu sampai terlihat.
Uang dari menjual perhiasan Malvia gunakan untuk membeli sebuah bar tua. Dia akan mengelola sebuah bar bersama ketiga vampir lain. Dia menyamar menjadi lady Isabella dengan Peter sebagai kakaknya, Anthony dan dua pelayan Carlos menjadi Gabriel dan Alice menjadi Sarah.
Mereka membuka sebuah bar di kota, mencari tahu apa yang terjadi. Dan tentu, let's start the revenge!
__ADS_1
......***......