Red Diamond

Red Diamond
Bab 14 : Bantuan


__ADS_3

"Malvia?"


"Ethan?"


Ethan melihat semua itu. Bagaimana Malvia membunuh pria itu. Dia tidak percaya apa yang dilihatnya. Pria itu sudah membeku di tanah dengan tubuh tercabik dan jantung sudah tidak ditempatnya lagi. Pemandangan mengerikan.


"Bagaimana... Kamu..."


"Ethan, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu lihat."


"Aku kira kamu berbeda. Aku kira aku bisa mempercayaimu. Aku kira aku tahu bagaimana dirimu. Tapi ternyata aku salahkan? Aku tidak tahu apapun tentangmu." Ethan berjalan menjauh.


"Ethan, tunggu."


"Tidak Malvia! Aku begitu khawatir padamu, aku mencarimu seperti orang gila! Aku memikirkanmu seperti orang gila. Kamu disini membunuh?"


"Tidak, tidak Ethan. Ini bukan--"


"Kamu sama seperti yang lainnya. Penghisap darah!" wajah Ethan penuh emosi. Nafasnya menggebu, rahangnya mengeras. Ethan menaiki kudanya dan pergi.


"Tidak... Ethan..." Malvia terduduk di tanah. Air matanya mengalir deras. Setelah kehilangan keluarga dan kaumnya, Malvia juga kehilangan pria yang dia cintai. Ingin rasanya mengejarnya, tapi rasanya kakinya membeku, tidak bisa bergerak.


...***...


Malvia pulang dengan mata sembab. Tubuhnya lemas. Hatinya sudah terkoyak. Lengkap sudah. Dia di tinggal oleh manusia yang dia cintai.


"Nona, ada apa? Apa anda baik-baik saja?" tanya Sarah. Dia begitu khawatir. Mereka saling memanggil nama samaran agar terbiasa.


"Aku baik." kata Malvia sambil berjalan menuju kamarnya. Melihat ekspresi wajah Malvia, tidak ada yang bertanya lagi. Malvia segera masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Anthony.


"Apa ada masalah? Aku sungguh khawatir." kata Sarah.


"Kita tunggu saja. Aku yakin cepat atau lambat dia akan bercerita. Mungkin dia lelah dan butuh waktu." kata Gabriel. Sarah mengangguk lalu kembali ke kamarnya.


"Itu bukan wajah lelah, Gab."


"Mungkin, aku tidak tahu tapi sebaiknya kita menunggu."


Gabriel pergi menyusul Sarah sementara Anthony masih diam menatap pintu kamar Malvia.


Esoknya Malvia kembali seperti semula, hanya saja wajahnya terlihat sedih. Sarah dan yang lainnya masih enggan bertanya.


"Apa kalian sudah memeriksa persediaan makanan kita? Aku akan memeriksa gudang minuman kita. Dan Sarah, jika ada bahan makanan yang kurang segeralah berbelanja. Ini darahku." Malvia memberikan satu gelas berisi setengah darahnya.


"Tapi nona, ini terlalu banyak." kata Sarah.


"Minum saja." pinta Malvia. "Ahh manusia serigala itu sudah mati. Dia tidak akan mengganggu kita lagi. Aku akan kegudang."


Malvia pergi menuju gudang meninggalkan ketiga vampir yang masih bingung.


Malvia menghitung semua persedian alkohol mereka. Tapi belum selesai, dia kembali diam. Air matanya kembali menetes tanpa di perintah.


"Apa kau yakin?" kata sebuah suara di luar gudang.


"Aku yakin. Tunggu..." kata orang satu lagi. Orang itu melihat sekitar, mencari keberadaan seseorang. "Pertemuan akan di adakan besok malam."


"Baiklah kalau begitu. Kita harus bersiap. Apa ada anggota lagi baru?"


"Ayolah jangan bercanda. Di mana mereka akan mendapatkan vampir saat sekarang ini? Syaratnya harus membunuh atau membawa vampir."


"Kau benar. Tapi bukannya kata perdana mentri, para vampir banyak yang bersembunyi?"

__ADS_1


"Entahlah, mungkin. Tapi aku rasa tidak."


"Baiklah, terima kasih infonya. Kita bertemu malam ini di theater?"


"Tentu."


Tak lama terdengar suara langkah kaki menjauh.


"Pertemuan? Vampir? Apa maksudnya?" gumam Malvia. Malvia keluar gudang dan pergi ke rumah bordil milik madam Jade. Malvia mengenal madam Jade. Dia juga pemilik bar milik Malvia sebelumnya. Madam Jade terkenal dengan informasinya yang akurat dan banyak. Tapi madam Jade tentu tidak tahu apa sebenarnya Malvia. Hanya sempat curiga.


Tok tok tok


"Masuk."


Bersamaan dengan derit yang terdengar, Malvia membuka pintu. Dia masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali.


"Oh nona Isabella Rodrigez. Senang bertemu. Apa ada masalah? Atau mungkin tawaranku untuk menjadikanmu salah satu pel*c*r ku ingin kau terima?" tanya madam Jade. Sebelum menjual barnya pada Malvia, madam Jade pernah menawarkan Malvia menjadi seorang pel*c*r dia bordilnya, melihat tubuh Malvia yang bagus dan wajah cantiknya.


"Tidak, madam. Tapi aku perlu, informasi darimu." Malvia menyerahkan satu kantong berisi koin emas. Madam Jade menatap kantong uang itu sejenak lalu menatap Malvia.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya madam Jade.


"Kelompok perburuan vampir." kata Malvia. Awalnya madam Jade terlihat terkejut, Malvia bisa melihat itu. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." kata madam Jade. Dia terlihat menghidari tatapan Malvia.


"Saya tahu anda mengetahui hal itu, madam. Saya mohon, saya ingin tahu." pinta Malvia.


"Kenapa kamu ingin tahu? Sebaiknya jangan terlibat. Tidak baik bagi gadis sepertimu. Biarkan para pria yang menanganinya." madam Jade berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela.


"Aku mohon madam. Beritahukan padaku."


Madam Jade menatap Malvia. "Memangnya kenapa kamu ingin mengetahuinya?"


"Apa? Kau gila."


"Saya harus bergabung madam. Saya mohon."


"Tidak." tolak mada Jade lalu beranjak pergi. Malvia berdiri dari duduknya.


"Saya mohon madam.."


Madam Jade menghentikan langkahnya dan menatap Malvia.


"Ada apa sebenarnya hingga kamu mau bergabung dengan organisasi itu? Itu berbahaya."


Malvia terdiam sejenak. "Tapi saya benar-benar ingin bergabung, demi kedua orang tua saya."


Madam Jade mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu dear?"


"Aku adalah bangsawan berasal dari daerah terpencil. Orang tuaku dan adikku mati di tangan vampir, apa itu belum menjadi cukup alasan? Aku bisa menjaga diriku sendiri madam Jade."


"Ohhh aku tidak meragukan itu dear. Hanya saja, masuk ke dalam organisasi itu, sangat sulit."


"Katakan padaku, semuanya. Aku mohon."


Madam Jade menghela nafas lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk.


"Organisasi itu di buat oleh seorang pria muda. Tidak ada yang tahu siapa terkecuali yang menjadi anggota di sana. Masuk ke dalam organisasi itu sangat sulit. Mereka harus membunuh vampir sebanyak yang mereka bisa tapi dengan cara yang brutal. Setelah di konfirmasi, barulah mereka akan memutuskan akan menerimamu atau tidak."


Malvia terdiam sejenak.


"Kalau begitu saya akan mencari vampir."

__ADS_1


"Oh dear, tidak semudah itu mencari vampir saat ini. Kau tahu vampir hampir punah."


"Lalu kenapa mereka, organisasi itu, masih ada?"


"Itu aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu. Yang aku ketahui, anggota mereka semakin banyak."


"Aku akan mencoba apapun yang aku bisa." kata Malvia mantap. Pokoknya di harus masuk dan menjadi anggota di dalam perkumpulan itu. Bisa saja dia menemukan alasan di balik pembasmian kaumnya.


...***...


Malvia menggunakan kekuatan vampirnya untuk mencari vampir lain. Tentu dia berhati-hati. Sarah memberitahukan di mana kira-kira para vampir bersembunyi selain di hutan kutukan itu. Sarah menyebutkan satu tempat kemungkinan mereka berada meskipun kemungkinannya kecil. Malvia belari di antara ranting-ranting pohon, memijak satu persatu dahannya. Di sudah berlatih ratusan lamanya untuk melakukan itu. Saat ini waktunya tiba untuk mempraktekkannya. Malvia hanya perlu berhati-hati. Mlavia berhenti di satu dahan pohon yang cukup besar. Malvia berdiri di sebuah desa yang hanya tersisa reruntuhannya saja. Desa itu telah lama terbengkelalai. Sebuah desa di kaum kurcaci. Tapi Malvia bukan mencari desa itu, melainkan goa tersembunyi di belakang desa itu. Sebuah goa yang tertutup semak belukar. Malvia melihat sekitar lalu. Saat di rasa aman, dia turun kebawah. Kaum kurcaci perlu sangat di waspadai. Mereka mungkin kecil tapi mereka cepat dan pandai bersembunyi, sangat tidak terlihat. Malvia menggunakan kekuatan vampirnya untuk sampai di depan goa. Saat sampai di depan goa, dia juga terus memperhatikan sekitar. Malvia menarik kasar semak yang menutupi goa itu.


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Malvia dengan kasar dan menahan tubuhnya di dinding. Malvia tidak memberontak karena Malvia tahu yang menariknya bukanlah kurcaci karena dia bisa merasakan tinggi dari tubuh orang yang menariknya.


Malvia menatap pria yang menariknya. Nafas pria itu memburu, rahangnya keras. Malvia tahu, pria itu adalah vampir, sama sepertinya. Pria itu mengerutkan keningnya saat menyadari Malvia juga seorang vampir. Satu orang lainnya menurunkan tangan vampir pria itu. Satu vampir yang terlihat sudah tua.


"Hentikan Ralph. Dia juga seorang vampir." kata wanita tua itu. Pria bernama Ralph itu menurunkan tangannya. "Mari masuk dear." ajak wanita tua itu.


"Tidak!!" pekik seorang wanita paruh baya yang baru saja mendatanginya. "Jangan biarkan dia masuk."


"Tapi kenapa Elena? Dia juga vampir sama seperti kita. Tidak baik membiarkannya disini."


"Tidak, Elanor. Dia tidak sama dengan kita."


"Tapi kenapa dear?"


"Lihatlah pakaiannya! Dia terlihat sangat bersih dan anggun untuk seorang vampir yang melarikan diri dan bersembunyi!" Elena menunjuk pakaian yang di kenakan Malvia. Semua menatap gaun Malvia. Gaun yang Malvia terlihat rapi dan bersih. Meskipun tidak mewah tapi sangat tidak terlihat jika Malvia adalah vampir yang bersembunyi atau melarikan diri.


"Itu bisa saya jelaskan." kata Malvia yang akhirnya berbicara. "Aku adalah Malvia Wycliff, putri raja Leonard Wycliff."


Semua orang menunduk hormat. Tidak ada yang berani mengangkat kepala sedikitpun. Di kaum vampir, perkataan sang raja adalah mutlak. Semua vampir menakutinya dan juga keluarga kerajaan karena mereka sangat kuat. Keluarga kerajaan juga memiliki kekuatan iblis di dalam tubuh mereka.


"Apa kita bisa masuk ke dalam?" tanya Malvia. Semua disana saling menatap sejenak lalu mempersilahkan Malvia masuk. Malvia masuk tanpa keraguan sedikitpun. Di dalam, dia melihat sekitar dua lusin orang berada di dalam sana.


"Maafkan aku datang terlambat." kata Malvia saat sudah ada di dalam goa itu. "Apa kalian baik-baik saja?"


"Ka-kami baik yang mulia." jawab salah satu orang.


"Jangan panggil aku seperti itu. Aku sudah bukan putri kerajaan vampir lagi."


"Tidak yang mulia. Anda tetaplah putri kerajaan vampir bagi kami."


"Terima kasih dan terima kasih juga telah bertahan hidup." kata Malvia.


"Tapi yang mulia, sebenarnya ada apa? kenapa kita di serang?"


"Sejujurnya? Aku sungguh tidak tahu tapi aku berencana untuk mencari tahu."


"Tapi bagaimana anda bisa mencari tahu tentang itu? "


"Dengan menyusup ke organisasi mereka."


Semua orang menatap bingung.


"Tapi yang mulia--"


"Karena itu." potong Malvia cepat. "Karena itu aku meminta bantuan kalian."


"Ba-bantuan apa yang mulia?"


"Bantuan yang sangat besar dari kalian dan aku sungguh minta maaf." kata Malvia,


Malvia merubah dirinya menjadi mengerikan, mengeluarkan taring, bola mata merah serta semua urat nadinya menghitam. Sedetik berikutnya terdengar suara teriakan menggema di goa itu. Teriakan demi teriakan terdengar. Tak berapa lama teriakan itu terhenti. Semua hening, tidak ada yang bersuara.

__ADS_1


***


__ADS_2