
Braakkk!!
Prangg!!
Semua benda di meja kerjanya sudah berhamburan dan pecah dilantai. Ethan sudah beberapa kali menghamburkan dan memecahkan barang disana. Dia juga terlihat pendiam. Ekspresinya penuh kemarahan. Bahkan saat jadwal kunjungan \memeriksa orang di desa, dia tidak datang. Dia hanya mengurung diri di kamarnya. Ester dan lainnya mulai khawatir. Ethan tidak memilik selera makan juga. Dia lebih suka mengurung dirinya. Dia begitu marah pada dirinya, merutuki dirinya. Karena dia telah jatuh cinta pada Malvia. Seharusnya dia tidak boleh jatuh cinta padanya. Seharusnya dia membencinya. Tapi dengan bodohnya dia jatuh cinta pada jenis yang telah membunuh Sofia?! Dia benar-benar gila!
Tok tok tok
"Aku sedang tidak ingin di ganggu!" pekik Ethan.
"Tap-tapi tuan..." suara Ester terdengar bergetar. "Tuan Martinez dan tuan Saliz ada... Ada di bawah. Dia--"
K\rekk
Pi\ntu terbuka. Ester bisa melihat Ethan yang terlihat berantakan. Pakaiannya lusuh berantakan, rambutnya terlihat kusut. Sudah lama Ester tidak melihat penampilan tuannya seperti itu semenjak kematian nyonya Sofia.
Ethan keluar ruang kerjanya lalu segera menuju ruang tamu sambil merapikan pakaian dan rambutnya.
"Ada apa denganmu Sanders? Kenapa penampilanmu begitu?" tanya Micah yang mendapati Ethan datang dengan penampilan buruk.
"Ada apa?" tanya Ethan tanpa memperdulikan pertanyaan kedua temannya.
"Apa kau lupa kita memiliki pertemuan malam ini dengan para anggota?" tanya Micah. Ethan duduk di salah satu kursi. Dia merapikan pakaiannya.
"Aku dengar ada yang ingin masuk ke dalam kelompok kita." kata Jorge.
"Orang gila mana yang ingin gabung? Syaratnya adalah membunuh atau menangkap vampir sebanyak mungkin dan sekarang vampir sudah hampir punah. Susah menemukan mereka." kata Micah.
"Tapi itu benar Micah. Aku dengar dia membawa satu gerobak penuh mayat vampir!"
"Sudah aku katakan jangan bercanda!"
"Tapi aku--"
Ester memberikan sebuah surat pada Ethan. Semua orang terdiam melihatnya. Ethan membuka surat itu dan membacanya. Ethan membacanya tanpa ekspresi. Dia menghembuskan nafasnya lalu menutup surat itu.
"Jam berapa pertemuannya?" tanya Ethan.
"Seperti biasanya. Apa? Ada apa? Apa isi surat itu?" tanya Micah.
"Jorge benar. Ada seseorang yang membasmi vampir." kata Ethan.
"Lihat? Aku benarkan?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Micah.
"Kita akan menemuinya nanti malam. Kita akan lihat apa dia benar-benar bisa masuk." jawab Ethan.
"Ahh! Jangan lupa untuk menanyakan dari mana dia menemukan para vampir itu. Kita sudah mencari-cari mereka tapi dia justru menemukannya dengan mudah. Apa mungkin jangan-jangan dia juga vampir?"
__ADS_1
"Hei! Jangan menyimpulkan hal gila. Mana mungkin vampir. Kau tahu meski mirip manusia tapi mereka berbeda."
"Iya tahu. Tapi mungkin saja kan?"
"Baiklah, kalian pulang saja. Kita bertemu nanti malam." kata Ethan lalu beranjak menuju ruang kerjanya.
***
Sebuah ruangan yang cukup besar dan megah di penuhi oleh beberapa orang. Beberapa mengenakan pakaian terbaiknya, beberapa terlihat biasa saja. Bangsawan dan rakyat jelata berkumpul menjadi satu. Tapi tentu mereka masih di bedakan menjadi status. Bangsawan harus berada dengan sesama bangsawan. Mereka masing-masing berbicara satu sama lain membuat ruangan itu riuh.
Perdana mentri datang dan langsung duduk di kursi podium beserta dua pengikutnya yang berdiri tepat di samping kanan dan kiri. Malvia berada di dalam kerumunan itu. Malvia sudah bisa mengontrol hasrat ingin meminum darah para manusia ini, jadi dia bisa dengan mudah berbaur.
Perdana mentri mengangkat tangannya, membuat semua orang terdiam dan menatapnya.
"Selamat malam tuan-tuan dan nyonya-nyonya!"
Semua orang menjawab salam dari Rouglas.
"Mari kita mulai acara ini." kata Rouglas. "Laporannya."
Malvia mengerutkan keningnya. Madam Jade berkata jika pemimpin mereka adalah pria muda. Tapi Rouglas bukan pria muda melain kan pria paruh baya yang berkisar umur lima puluhan tahun.
"Jadi putri itu belum keluar?" tanya Rouglas.
"Belum tuan."
"Ada berapa vampir yang terbunuh?"
"Lalu dimana gadis itu?" tanya Rouglas lagi. Semua orang menatap Malvia. Malvia yang menyadari itu dan langsung keluar dari kerumunan. Malvia menggunaka gaun panjang hitamnya. Rambutnya di biarkan terurai namun tertata rapi.
"Nona..."
"Elizabeth Adams, tuan." kata Malvia lalu membungkuk hormat.
"Baiklah, nona Adams. Aku mendengar hal yang mengejutkan darimu."
Beberapa orang masuk dan memperlihatkan mayat-mayat para vampir yang sudah mati di tangan Malvia. Rouglas berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. Dia memperhatikan semua mayat vampir itu. Semua vampir itu terlihat terkoyak dan hancur.
"Kenapa mayat mereka seperti ini?" tanya Rouglas.
"Untuk memastikan mereka benar-benar mati, tuan. Membakar mereka akan menyulitkan saya memberikan bukti pada anda." kata Malvia.
"Dan kamu melakukan semua ini sendiri?"
"Tidak tuan. Bersama adik dan kedua pelayan saya."
Rouglas mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya.
"Bakar mereka!" sahutnya. Beberapa orang maju dan membawa tumpukan mayat vampir keluar.
__ADS_1
"Sekarang nona Adams, apa kamu bisa berbagi pada kami, bagaimana kamu bisa mendapatkan mereka? Mungkin ada yang bisa mengikuti jejakmu."
"Bawa dia." pinta Malvia pada Gabriel. Gabriel mengangguk lalu pergi keluar ruangan. Tak lama dia masuk ke dalam kembali membawa seorang yang di ikat oleh rantai perak. Orang itu tampak lemah.
"Dia adalah vampir. Saya menemukannya tanpa membunuhnya, mengikutinya hingga kesarangnya." jelas Malvia.
"Tanpa ketahuan kamu adalah manusia? Rasanya tidak mungkin." jawab salah satu orang. Malvia menatap orang itu.
"Tentu mungkin, jika kita melakukannya dengan benar." sahut Malvia membuat semua orang semakin penasaran.
Flashback
Teriakan terdengar di dalam gua. Semua vampir berteriak melihat satu vampir mulai menggila dan membunuh beberapa vampir lain. Yang lain berusaha menahan tapi justru menjadi sasaran atau bahkan terhempas jauh. Malavia melihat itu dan membantu mereka. Malvia menahan dan menekan tubuh pria itu ke dinding goa. Malvia mungkin seorang wanita tapi dia adalah putri mahkota, dia jauh lebih kuat. Malvia melepaskan tangannya dari pria itu lalu..
Krak!!
Malvia mematahkan lehernya. Pria itu mati tapi dia akan hidup lagi namun butuh waktu.
"Sekarang katakan, ada apa ini?" tanya Malvia.
"Dia.... Menjadi gila karena kelaparan dan terkena goresan pedang."
"Goresan pedang?"
"Benar yang mulia. Luka goresan itu... Luka itu... Tidak sembuh."
Malvia memeriksa tubuh pria tadi. Ada sebuah belas goresan pedan di lengan pria itu. Goresan itu tidak besar dan dalam. Tapi goresan itu terlihat kecil hanya saja menghitam hampir di seluruh tubuhnya.
"A-apa ini?" tanya Malvia. Dia tampak terkejut dengan luka itu.
"Luka di akibatkan sebuah pedang. Pedang itu aneh, kurasa. Maksudku... Hanya sekali tusuk saja pedang itu bisa membunuh kami semua!"
Malvia terdiam. Dia mengingat pedang itu. Dia teringat satu orang membawa sebuah pedang yang berbeda dari yang lainnya. Pedang itu membunuh orang tua dan saudaranya. Sebenarnya pedang apa itu??
"Aku butuh bantuan kalian." kata Malvia akhirnya. Semua orang saling menatap sejenak lalu kembali menatap Malvia. "Aku memiliki rencana untuk membaur menjadi manusia dan memasuki organisasi mereka. Aku tahu yang memiliki pedang itu adalah kaum manusia. Karena itu aku ingin masuk ke dalam organisasinya. Tapi aku butuh bantuan kalian."
"Ba-bantuan apa?"
"Bantu aku mengumpulkan mayat vampir, aku butuh mereka. Syarat memasuki organisasi adalah membunuh banyak vampir. Dan kurasa ini cukup. Dan karena dia sudah gila dan tidak mengenal siapapun lagi, dia akan kujadikan kambing hitam. Apa... Kalian akan bisa membantuku?"
Semua orang terdiam. Mereka tampak dengan pemikiran masing-masing.
"Saya akan bantu, dengan apapun yang saya bisa. Demi membalas dendam." kata salah satu vampir dengan menggebu.
"Saya juga."
"Saya juga."
Semua menyetujui untuk membantu Malvia. Malvia tersenyum. Ini akan mempermudah jalannya.
__ADS_1
......***......