Red Diamond

Red Diamond
Bab 13 : Ketahuan


__ADS_3

Seorang pekerja s*x berjalan pulang setelah melalui hari yang lelah. Dia tidak tinggal di bar tempatnya bekerja karena memiliki anak yang menunggunya. Wanita itu berjalan di dalam gelapnya malam. Tiba-tiba tubuh wanita itu sudah berada di sebuah gang kecil yang sepi dan gelap. Seorang laki-laki menyergapnya, mencekiknya. Laki-laki itu mengeluarkan taringnya dan menghisap darah wanita itu tanpa jeda.


"Anthony." panggil satu orang. Anthony menghentikan kegiatannya dan menoleh. Malvia sudah berada disana dan menatap mereka. Anthony melepaskan wanita itu lalu mengelap mulutnya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak meminum darah manusia sampai keadaan aman?"


"Sampai kapan? Tidak ada yang mencurigai kita. Makanan kita adalah darah manusia, bukan hewan! Setidaknya aku ingin menikmati darah manusia sesekali."


"Tapi itu berbahaya. Apalagi kamu meminumnya di jalanan seperti ini." tegur Malvia. "Pergilah. Pulang. Aku akan membereskan ini. Cepat!"


Anthony menurut dan langsung melesat pergi. Malvia menatap tubuh wanita yang tergeletak di lantai jalan yang dingin. Dia masih bisa mendengar detak jantung wanita itu. Malvia menggigit tangannya lalu memberikan darahnya pada wanita itu. Wanita itu tersadar dan bingung. Dia tampak ketakutan.


"Kamu baik-baik saja nona?" tanya Malvia. Wanita itu terlihat linglung


"Saya... Bagaimana... Pria-pria tadi--"


"Apa kamu mabuk?"


"Tidak, aku-- pria. Tadi ada seorang pria!"


Malvia menatap sekitarnya. "Tidak ada pria nona. Aku menemukanmu terbaring disini. Apa kamu mabuk? Apa anda baik-baik saja?" tanya Malvia, berpura-pura tidak mengetahui apapun. Wanita itu semakin bingung. "Apa anda minum alkohol tadi?"


"Benar, aku--"


"Sekarang tenanglah. Kamu tidak apa-apa. Anda hanya mabuk dan lelah. Kamu akan baik-baik saja. Sekarang, kamu akan pulang dan istirahat." Malvia menghipnotis wanita itu. Wanita mengangguk dengan tatapan kosong lalu berdiri dan pergi. Malvia menghela nafas.


"Wah wah wah... Ternyata kita memiliki vampir yang bersembunyi disini." sahut seorang pria dari dalam kegelapan gang itu. Wajah pria itu tidak terlihat jelas tapi Malvia bisa mencium baunya. Manusia serigala. Sial!


Pria itu mendekat pada Malvia. Kini dengan penerangan cahaya bulan, Malvia bisa jadi melihat wajah dan seringaian pria itu.


"Jangan coba-coba." cegah pria itu melihat Malvia yang hendak menyerang. Pria itu menunjuk kepalanya. "Aku bisa mindlink siapa saja dan mereka akan langsung memburumu."


Malvia menghentikan tindakannya. "Apa maumu?"


"Kita akan lihat apa yang aku mau. Temui aku di pinggir danau Lakelyn besok malam. Bawa saja yang kamu punya, love. We'll see." ucap Pria itu dengan seringaiannya lalu pergi. Sial!


...***...


"Jadi bagaimana?" tanya Sarah besok malamnya


"Aku tidak tahu. Sepertinya aku harus menemuinya." kata Malvia. "Tidak ada jalan lain."


"Biar saya saja yang mu-- tidak, nona. Saya yang akan menemuinya." kata Gabriel.


"Tidak, Gabriel. Dia terlihat kuat. Kau tahu gigitan manusia serigala mematikan buat kita."


"Lalu kita harus bagaimana? Apa kita pergi saja? Semuanya? Kita bisa menyerangnya secara bersama-sama."


"Jika ini jebakan, kita akan mati. Jauh lebih baik jika aku sendiri yang pergi. Jika memang berbahaya, aku akan membunuhnya. Aku sudah pernah melawan lusinan manusia serigala. Aku akan baik-baik saja. Kalian tidak boleh ketahuan, kalian harus tetap aman."

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kau, Anthony! Kenapa kau begitu bodoh melakukan semua itu?!" tuduh Sarah. Anthony mengeraskan rahangnya.


"Oke, sudah cukup. Ini sudah terjadi, kita fokus pada apa yang terjadi saja. Hanya saja, jika aku tidak kembali sampai besok, kalian harus pergi dari sini. Sejauh mungkin. Apa kalian bisa?"


"Tapi kami... Kami tidak mungkin meninggalkan anda." kata Sarah.


"Ini semua demi kaum kita, Sarah. Jangan biarkan kaum kita punah. Bertahanlah, oke?" pinta Malvia. Sarah mengangguk. "Aku mengambil beberapa simpanan uang kita. Mungkin saja dia meminta uang dan harta."


"Kenapa kita harus menurutinya?! Kita bisa saja membunuhnya?!" Anthony terlihat kesal. Dia tidak terima harus berlutut di bawah kaki kaum lain.


"Aku akan melihatnya terlebih dahulu. Jika dia berlebihan, kemungkinan besar aku akan membunuhnya. Aku tidak punya pilihan lain."


"Kenapa kamu mengkasihaninya?! Dia musuh kita! Semua adalah musuh kita!"


"Tidak Anthony! Tidak semua. Tidak semua yang ikut pembantaian itu. Tidak semua setuju dengan semua itu."


"Jangan Naif!! Mereka memang tidak ikut perburuan, tapi mereka mendukungnya! Mereka semua berkomplot membinasakan kita. Jangan mulai membela dan melindungi mereka seperti kau melindungi wanita itu." geram Anthony.


"Anthony! Sopanlah pada yang mulia!" pekik Sarah. Anthony mengbuang wajahnya. Nafasnya tersengal, dia begitu kesal.


"Tidak masalah Sarah. Aku mengerti. Kita semua telah kehilangan. Pantas untuk marah. Aku harus pergi." Malvia beranjak pergi keluar.


Malvia menyusuri gelapnya malam menuju danau Lakely, jauh dari kota. Dia sudah mempersiapkan diri jika memang itu adalah jebakan. Bisa saja pria itu datang bersama kawanannya. Dia harus bisa melawan. Malvia tidak menggunakan kekuatan vampirnya. Terlalu beresiko. Dia menggunakan kuda agar bisa sampai dengan cepat.


Tak lama Malvia sampai di pinggir danau. Danau itu di kelilingi oleh hutan yang lebat. Tanpa ada penerangan kecuali bulan, Malvia turun dari kudanya. Dia mengikat kudanya di pohon. Malvia berjalan pelan, mencari tahu keberadaan pria itu.


"Kuda? Benar-benar menarik." kata pria itu dari arah belakang Malvia. Malvia menoleh cepat. "Aku kira kamu akan membawa teman vampirmu."


"Ahhh aku tahu kamu berbohong. Kamu menolong teman priamu itu."


Deg!


Dia melihatnya!


"Dia tidak ada hubungannya dengan ini." ucap Malvia.


"Oh tentu dia ada. Dia juga vampir. Aku melihatnya menghisap darah wanita itu."


"Hanya aku yang ada disini. Sekarang katakan, apa maumu? Aku tidak mendengar ada orang disekitar sini? Apa mereka jauh?" tanya Malvia.


"Aku bukan pengecut yang mengatasimu dengan membawa kawanan."


"Ahhh brave one." Malvia menyeringai.


"Tapi jika kau macam-macam, aku bisa dengan cepat memanggil mereka." pria itu menunjuk kepalanya.


"Katakan apa maumu?" tanya Malvia lagi.

__ADS_1


"Kamu."


"Apa?"


"Ayolah, aku ingin sekali bercinta dengan vampir. Kau tampak seksi dan cantik. Apa kamu pernah melakukannya bersama manusia serigala?"


"Apa hanya itu? Hanya sekali tidak buruk."


"Sekali katamu? Jangan bercanda. Aku ingin kamu menjadi pel*c*rku."


"Apa katamu?!"


"Kamu juga harus menyerahkan sejumlah uang padaku. Maka aku akan tutup mulut."


"Dasar brengsek!"


"Hei! Kau sekarang berada di jaman vampir itu musnah! Tidak akan ada yang menolongmu disini. Harapanmu hanyalah aku, sayang."


"Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku akan memberikanmu uang."


"Hei! Persyaratanku tidak hanya itu."


"AKU BUKAN PEL*C*UR!"


"Tidak ada cara lain, sayang. Jika kau dan teman-temanmu itu mau hidup, lakukan yang aku pinta." pria itu berjalan mendekati Malvia. Tangannya mulai menyentuh pundak Malvia, menyibak rambutnya. Pria itu mencium rambut Malvia. Lalu tangannya turun ke dada Malvia, masuk ke dalam gaunnya. Malvia menutuo matanya. Tubuhnya membeku.


"Apa aku harus melakukan ini? Tidak! Aku tidak mau!"


Malvia menjauh dari pria itu.


"Jangan kurang ajar!"


"Ayolah aku tahu kamu juga menginginkanku. Lagipula meski kau seorang putri kerajaan, tapi sekarang kamu bukan siapa-siapa."


"K-kau tau.. Siapa aku?"


Pria itu menyeringai. "Tentu, tentu saja aku tahu."


Tidak, itu sebuah kebohongan. Pria itu hanya menebak siapa Malvia dan ternyata tebakannya benar.


Pria itu kembali mendekatu Malvia. Kali ini secara agresif memegang pinggang Malvia, mencoba membuka gaun bawahnya. Malvia mencoba menghalaunya tapi pria itu adalah manusia serigala. Kekuatannya jauh di atas rata-rata manusia biasa tapi bisa menyaingi kekuatan vampir. Malvia terus memberontak saat baju nya di robek oleh pria itu. Malvia mengeluarkan taringnya dan menggunakan kekuatan vampirnya untuk menghempas pria itu. Pria itu terhempas kasar ditanah. Pria itu berubah menjadi serigala. Dia melolong keras, memanggil kawanannya lalu menyerang. Malvia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia harus melawan dan membunuhnya.


Serigala itu melompat tinggi. Malvia menghinda cepat. Serigala itu kembali menyerang dengan membabi buta, mencoba menggigit Malvia. Malvia bisa menghindari serangannya. Dia merobek perut serigala itu dengan gigitannya lalu mencabut jantungnya.


Tubuh serigala itu langsung kaku, tidak bergerak lagi. Tubuhnya tergeletak ditanah, sementara Malvia masih menggenggam jantung pria tadi. Tubuh Malvia berlumuran darah.


"Malvia?" panggil seseorang. Malvia menoleh.

__ADS_1


"E-Ethan?"


...***...


__ADS_2