Red Diamond

Red Diamond
Chapter 7 : Bertemu lagi


__ADS_3

Malvia mencoba berlari, tapi dia tidak bisa keluar dari perisai tak kasat mata yang diciptakan para penyihir. Layaknya nyanyian, para penyihir mulai membaca mantra bersama-sama. Kepala Malvia mulai sakit. Semakin lama rasa sakitnya semakin terasa. Malvia memegangi kepalanya lalu duduk di tanah.


"Tidak!!"


Darah keluar dari mulut, telinga dan hidung Malvia. Malvia melihat darah yang mengenai tangannya. Tangannya gemetar. Suara memekakkan telinga itu terdengar semakin keras. Satu penyihir maju mendekati Malvia sambil masih membaca mantra. Penyihir itu menyentuh pundak Malvia. Malvia semakin berteriak keras.


"Tidak! Aku tidak boleh mati disini! Tidak akan aku biarkan!"


Bola mata Malvia berubah menjadi merah pekat. Taringnya memanjang. Wajahnya memiliki banyak kerutan dan urat seluruh tubuh dan wajahnya berwarna hitam. Malvia memegang tangan penyihir yang menyentuhnya lalu meminum darah penyihir itu. Penyihir itu berteriak keras. Penyihir lain melangkah mundur tapi tidak menghentikan pembacaan mantranya. Malvia berteriak keras. Dia nmemukul-mukul perisai tak kasat mata itu. Semakin lama pukulan itu semakin keras dan krak!!


Perisai itu retak. Retakannya dengan cepat menyebar. Para penyihir terkejut. Malvia menyeringai senang, lebih tepatnya, menyeramkan.


"Jangan lengah. Kita harus tetap memba--"


Prank!!


Perisai itu pecah. Semua orang terkejut. Satu penyihir yang berdiri tepat di depan Malvia menatap Malvia dengan tubuh gemetar.


"You should run." bisiknya. Bibir kanannya naik, membentuk seringaian kecil. Penyihir itu mundur perlahan. Semakin lama semakin cepat dan berbalik. Sedetik berikutnya Malvia sudah berada didepannya dan menghisap darahnya.


Tiba-tiba tubuh Malvia terhempas, tapi Malvia bisa menyeimbangkan tubuhnya saat tubuhnya menyentuh tanah. Malvia berdiri tegak.


"Itu adalah kesalahan yaangg besar."


Malvia melesat, mendatangi satu persatu penyihir dan meminum darahnya. Semua penyihir tumbang, kecuali satu, Helena. Malvia sengaja menyisakan Helena paling akhir. Dia benar-benar merasa dikhianati. Dia percaya pada gadis berambut pirang itu. Tapi Helena justru mengkhiantainya.


"Aku tidak takut padamu Malvia." ucap Helena.


"Benarkah? Tapi kenapa detak jantungmu berdetak cepat? Detak jantung tidak bisa berbohong, Helena." ucap Malvia dengan nada mengejek. Helena menelan ludahnya. Dia tahu Malvia benar.


Sebuah kilatan melewati Malvia. Sedikit lagi dia terkena kilatan itu. Sedetik berikutnya kilatan demi kilatan menyerangnya. Malvia menghindari semua serangan itu.


Malvia melesat pergi secepat yang dia bisa menyusuri hutan dalam kegelapan malam. Malvia terus belari tanpa berhenti. Dia melewati hutan demi hutan.


Setelah beberapa lama lari, akhirnya dia berhenti. Dia mendengar aliran sungai. Hutan itu terasa berbeda. Malvia diam sejenak, mencoba mendengarkan lebih jelas. Dia mendengar suara hewan yang cukup banyak, tapi tidak ada manusia atau kamu lain satu pun. Bahkan para peri yang biasa tinggal di hutan. Malvia pergi mendekati sungai. Dia duduk di bawah pohon sambil menatap bulan yang bersinar meskipun bukan bulan purnama.


...***...


Malvia mengintip dari balik pohon. Dia terlihat waspada, menatap di depan. Malvia mengeluarkan taringnya lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyergapnya.


Dalam hitungan detik rusa itu sudah terbaring dengan leher patah dan Malvia meminum darahnya. Dia meminum darah hewan untuk memuaskan dahaganya. Meskipun rasanya tidak seenak darah manusai. Malvia berdiri dan mengusap mulutnya. Dia mengambil batang kayu agak besar lalu membuat sebuah lubang cukup besar dan dalam. Malvia bisa membuatnya cukup cepat dengan kekuatan vampirnya. Sebelum memasukkan bangkai rusa itu ke dalam lubang, dia menarik kasar keempat kaki, kepala dan buntut dari badannya lalu memasukkan semuanya ke dalam lubang dan menutupnya.


Malvia menatap gaun yang dipenuhi darah. Malvia kembali ke sungai dan masuk ke dalam air sungai dan berendam di dalamnya untuk menghilangkan bau darah dari tubuhnya. Setelah ini Malvia berencana untuk menyusup ke pemukiman manusia biasa saat malam dan mencuri pakaian mereka lalu berbaur.


Dalam hatinya dia merasa sedikit menyesal telah pergi dari kediaman Ethan, tapi dia harus melakukannya. Demi dia dan Ethan.


Malvia keluar sungai lalu berjalan-jalan di hutan, mencari tempat berlindung sampai malam tiba. Langkah Malvia terhenti. Dia mendengar detak jantung. Tidak hanya satu, melainkan banyak. Dia juga mendengar suara orang berbicara dan langkah kuda yang sangat cepat ke arahnya. Apa dia ketahuan?

__ADS_1


Malvia masuk ke dalam semak belukar yang rimbun dan bersembunyi. Karena dia tidak akan aman jika berlari maupun bersembunyi di balik pohon. Setidaknya gaun hijau lumutnya bisa menyamarkannya.


Benar saja, tak lama datang beberapa orang berkuda dan yang lain berjalan kaki. Malvia memperhatikan orang-orang itu dari dalam semak. Mereka manusia biasa. Dia tidak mencium bau bulu seperti manusia serigala atau bau dupa seperti penyihir. Hanya bau keringat dan darah manusia. Dia terkejut melihat raja Ellard, raja kaum manusia. Dia mengenakan kuda coklat dan membawa busur panah ditangannya dan pedang di pinggangnya. Orang-orang bersamanya juga membawa perlengkapan lengkap.


Malvia siaga, dia yakin mereka sedang mencarinya.


"Bagaimana? Apa ada tanda-tandanya?" tanya Ellard.


"Ada jejaknya yang mulia. Tadi dia lewat sini." kata salah seorang pencari jejak.


"Lalu ke arah mana?" tanya Ellard lagi. Pencari jejak itu mulai mengamati tanah disekitar mereka.


"Kesana yang mulia!" tunjuk pencari jejak.


"Kalau begitu, ayo semua! Kita kesana!" ucap Ellard lalu berjalan menjauh dari tempat Malvia bersembunyi. Setelah mereka jauh, Malvia keluar dari tempat persembunyiannya. Dia masih menatap arah raja Ellard pergi tadi.


"Nona." panggil seseorang. Malvia tersentak. Malvia membeku sesaat lalu memberanikan diri menoleh. Ethan?


Ethan sudah berdiri dibelakangnya menatap Malvia bingung. Ethan mendatangi Malvia.


"Ini benar anda." kata Ethan lalu tersenyum.


"Tunggu, bagaimana anda bisa-- bagaimana bisa aku tidak mendengarmu datang?" Malvia tampak bingung. Dia menatap Ethan atas bawah bergantian.


"Mungkin karena anda terlalu fokus melihat yang lain. Aku berada dia barisan paling belakang tadi karena datang terlambat lalu melihat anda keluar dari sana." Ethan menunjuk semak belukar tempat Malvia bersembunyi tadi. Malvia masih tampak bingung. "Sedang apa anda disini? Saya kira anda sudah pergi jauh dan ada apa dengan gaun anda?" tanya Ethan yang terkejut melihat gaun Malvia yang robek sana sini dan kotor. Bahkan rambut Malvia sudah kusut, wajahnya terlihat lusuh dan kumuh.


"Menangkap anda? Apa maksud anda?" Ethan mengerutkan keningnya. Dari raut wajahnya terlihat kebingungan.


"Iya, bukankah anda dan mereka ingin menangkap saya? Lihat saja busur dan pedang yang anda bawa itu." Malvia menunjuk busur panah yang sudah di kalungkan di tubuh Ethan, anak panah yang di bawa di belakangnya dan pedang panjang terikat di pinggangnya. Ethan menatap busur dan pedangnya sejenak.


"Ahhh... Ini? Ini untuk berburu."


Malvia terkejut. "Berburu? Memburuku? Berarti dugaanku benar."


"Hah? Tunggu, tunggu, apa? Bukan, kami tidak sedang memburumu. Lihat, ini adalah hutan Hundira, hutan khusus untuk para bangsawan berburu seperti rusa, harimau. Seperti itu. Bukan berburu vampir atau sejenisnya. Biasa kami berburu sebulan sekali. Hari ini adalah waktunya. Keluargaku adalah keluarga bangsawan, bergelar Viscount. Jadi aku harus ikut menggantikan ayahku."


"Jadi... Kalian tidak memburuku?" tanya Malvia memastikan.


Ethan tertawa kecil. "Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa orang tadi melihat jejak? Maksudku.. Dia tadi mendapat jejak. Mereka mengikuti jejak itu."


Ethan tersenyum. Dia tahu Malvia pasti kebingungan. Dia tidak mengenal baik kaum manusia.


"Itu pencari jejak. Biasa kami berburu menggunakan jasa mereka. Tapi untuk mencari jejak binatang, bukan manusia atau vampir. Tenang saja."


"Ahh..." Malvia bernafas lega. Ethan menatap Malvia. Dia memperhatikan setiap jengkal wajahnya.

__ADS_1


"Ayo ikut aku." pinta Ethan.


"Mau kemana?" tanya Malvia.


"Kita harus memperbaiki dirimu. Orang akan curiga jika melihatmu seperti itu."


"Tidak terima kasih. Aku akan bersembunyi saja."


"Nona, kamu tidak bisa bersembunyi disini. Mereka akan menemukanmu. Ikutlah, ayo!" Ethan mempersilahkan Malvia untuk berjalan bersamanya. Malvia ragu. Dia memainkan kuku ibu jari tangannya dan menggigit bibirnya. Tapi akhirnya dia ikut melangkah.


Ethan membawanya ke perkemahan para bangsawan dengan sembunyi-sembunyi. Saat di dalam tenda, Malvia di minta untuk membersihkan dirinya dengan kain basah lalu mengganti pakaian dengan yang baru, yang telah disiapkan Ethan, sementara Ethan menunggu di luar tenda.


Beberapa orang melewatinya dan menyapanya. Ethan membalas sapaan mereka.


"Tuan Sanders?" panggil satu orang. Ethan menoleh. Dia melihat tangan kanan raja, Eldiron, menyapanya.


"Tuan Eldiron."


"Kenapa anda tidak ikut berburu? Saya kira tadi anda ikut." Eldiron berhenti tepat di depan Ethan.


"Ahh... Itu karena saya datang terlambat. Sudah kehilangan jejak mereka." kata Ethan berbohong.


"Ahh begitu. Kalau begitu kita tunggu saja mereka. Kita ikut makan saja nanti." Eldiron tertawa. Ethan ikut tertawa canggung.


"Saya juga ingin berjaga disini. Mungkin ada yang terluka nanti. Well saya harap tidak ada."


"Kau benar tuan. Kalau begitu saya pergi dulu. Ada yang harus saya kerjakan. Sampai jumpa di perjamuan tuan Sanders."


"Tentu tuan, sampai jumpa."


Eldiron meninggalkan Ethan sendiri. Dia masih menunggu Malvia selesai.


"Tuan.." panggil Malvia pelan tapi cukuo terdengar di telinga Ethan. Ethan masuk ke dalam. Dia melihat Malvia yang sudah bersih. Tubuh dan wajahnya bersih bahkan pakaiannya sudah berganti.


"Dari mana anda mendapat pakaian ini, tuan?" tanya Malvia. Dia mengenakan pakaian terusan berwarna abu-abu.


"Ahh.. Aku membelinya dari salah satu pelayan. Untung saja muat. Dan maaf aku hanya bisa memberikanmu pakaian pelayan. Karena aku tidak ingin terlihat mencolok."


"Tidak apa-apa tuan. Ini cukup bagus. Aku juga tidak ingin mencolok. Berpura-pura menjadi pelayan anda juga sudah bagus." ucap Malvia sambil tersenyum. Ethan mengagumi senyum itu. Meski Malvia mengenakan pakaian lusuh pelayan, tapi itu semua tidak menutupi kecantikannya.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Malvia yang melihat Ethan tiba-tiba terdiam.


"A-ahh... Tentu saja baik. Kita akan menginap malam ini. Besok baru kita bisa pulang. Kalau begitu istirahatlah. Ada yang harus aku lakukan." kata Ethan lalu beranjak keluar tenda. Tapi sampai di pintu masuk, langkahnya terhenti dan menatap Malvia. "Nona, maukah anda pulang bersamaku? Kerumahku?"


Malvia cukup terkejut dengan pertanyaan Ethan yang tiba-tiba. Dia mengajakku pulang? Hati Malvia tiba-tiba terasa hangat dan tanpa sadar menjawab.


"Tentu tuan, dengan senang hati."

__ADS_1


...***...


__ADS_2