
"Kamu tidak akan selamat ditanganku, penghisap darah sialan!" pria itu mengangkat tinggi pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya.
Klang!
Pedang itu bersentuhan dengan pedang lainnya.
"Isabella, Lari!!" pekik Ethan. Isabella meneteskan air matanya menatap Ethan yang menahan pria tadi. Dia tidak ingin pergi, dia ingin menjelaskan masalahnya. Dia ingin tetap bersama Ethan. Tapi melihat Ethan kesulitan menahan serangan pria tadi, Isabella memilih pergi menggunakan kekuatan vampirnya.
Ethan terjerembab di tanah. Pedang pria itu terarah padanya.
"Sanders! Berani sekali! Jadi kamu melindungi penghisap darah itu selama ini?!" pekik pria tadi. Beberapa orang pria berdatangan membawa obor mereka.
"Ada apa ini Frederick?" tanya perdana mentri.
"Sanders membohongi kita selama ini tuan perdana mentri! Dia menyembunyikan penghisap darah!" tuding Frederick.
"Apa? Sanders, benarkah?"
Ethan yang masih terduduk di tanah tidak menjawab. Nafasnya memburu.
"Lihatlah tuan! Dia diam saja! Itu artinya benar!" kata Frederick lagi.
"Ethan Sanders!" panggil perdana menteri untuk menyadarkan Ethan yang masih terdiam. Ethan berdiri dan membersihkan pakaiannya.
"Jangan mencoba mengelak, Sanders!" Frederick menatap tajam. Ethan membalas tatapan tajam Frederick.
"Aku tidak akan mengelak. Ya, aku tahu dia vampir dan selama ini dia bersamaku." kata Ethan masih menatap tajam Frederick. Semua orang terkejut dan mulai berbicara masing-masing.
"Lihatlah! Dia bahkan mengakuinya. Cih!" Frederick meludah di dekat kaki Ethan. "Sok suci menjadi dokter!"
"Aku memang menyembunyikannya, tapi kamu merusak rencanaku!" kata Ethan dengan suara tidak kalah lantang dari Frederick.
"Rencana? Apa maksudmu dengan renacana?" tanya perdana mentri.
"Saya yakin dia hanya mengarangnya, tuan. Dia pasti berbohong!"
"Diam dulu Frederick! Biarkan dia menjelaskan." ucap perdana menteri. "Katakan Sanders! Aku tidak ingin omong kosong yang keluar dari mulutmu!"
"Sial!" umpat Ethan. "Aku memang tahu dia adalah vampir semenjak dia kutemukan terluka. Aku menyembuhkannya dan menyembunyikannya, karena aku ingin menyakitinya!"
"Apa? Omong kosong apa itu?!"
"Hei! Aku tidak perduli jika kamu tidak percaya. Aku punya rencana sendiri untuk menyakitinya!"
"Dia sudah gila rupanya!"
"Apa kamu sudah memastikan siapa dia?" tanya perdana mentri pada Federick.
"Sudah, tuan. Dia bukan vampir biasa. Dia bisa membedakan bau darah gadis tadi."
__ADS_1
"Jadi putri kerajaan yang melarikan diri itu?"
"Benar, tuan. Saya yakin itu." tegas Federick.
"Dengar Sanders, aku tidak bisa mentolerir tindakanmu kali ini, terlebih vampir yang kamu bantu adalah--"
"Putri sulung raja vampir, Malvia." potong Ethan. Semua orang terkejut.
"Kau... Tahu?"
"Tentu saya tahu. Sudah saya katakan saya memiliki rencana. Anda pikir saya memiliki rencana tapi tidak tahu siapa yang saya hadapi? Rencana itulah yang membuat saya tidak bertindak ceroboh seperti dia!" Ethan menunjuk Federick.
"Apa maksudmu?"
"Apa anda lupa calon istri saya di bunuh vampir? Anda pikir saya akan melupakan itu dan melanjutkan hidup? Membiarkan mereka, para vampir itu, tenang?! Tidak! Saya akan balas dendam! Tapi tidak dengan tindakan bodoh dan ceroboh! Wanita itu mengenakan segala sesuatu milik calon istri saya. Anda pikir saya murah hati? Saya tidak tahan dia mengenakan semua itu! Menjijikkan sekali!" Ethan memejamkan matanya, menahan amarah yang menggebu.
"Saya tahu vampir-vampir lain bersembunyi." lanjut Ethan. "Mereka akan menemukan sang putri karena hanya sang putri yang bisa melindungi mereka. Jika saya bisa mendapatkan kepercayaannya, dia akan menuntun saya ke para vampir dan kita bisa membinasakan mereka selamanya. Tapi semuanya hancur!"
"Ethan.. Tenanglah.. Tenang. Sekarang kembalilah ke rumahmu. Kami yang akan mengurusnya." kata perdana menteri mencoba menenangkan. "Hei, kau! Antar tuan Sanders kembali ke kediamannya."
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri." Ethan berjalan menuju rumahnya dengan kekecewaan di wajahnya. Bahkan dia tidak berpamitan.
"Sepertinya itu benar."
"Itu bisa saja bohong tuan. Kita tidak bisa mempercayainya begitu saja!" bujuk Federick.
"Anda benar tuan."
Semua orang setuju dengan perdana menteri. Hanya Federick saja yang masih merasa mengganjal.
...***...
Kilatan mantra melewati tubuh Malvia. Meskipun Malvia vampir, pada penyihir bisa mengimbangi kecepatan larinya dengan teleportasi. Meskipun sering tidak tepat.
Bruk!!
Malvia terkena kilatan mantra. Tubuhnya terhempas ke tanah. Malvia langsung berdiri dan kembali berlari. Dia mengganti arah larinya.
Kali ini suara geraman terdengar di telinganya. Para manusia serigala mengejarnya. Kecepatan manusia serigala menyeimbangi kecepatan lari Vampir. Sekarang ada dua serigala yang berlari di sisi kanan dan kiri Malvia. Kedua serigala itu berbelok dan menyerang Malvia bersamaan. Malvia melompat ke atas pohon, membuat kedua serigala tadi bertubrukan. Malvia berlari di dahan-dahan pohon sejenak lalu turun kembali. Para serigala masih mengejarnya.
Brakk!!
Tiba-tiba Malvia terjungkal. Tubuhnya berputar-putar ditanah. Rasanya ada yang menjegal kakinya. Malvia segera bangkit.
"Kurcaci." gumamnya.
"Serang dia!"
Malvia berbalik dan bersiap lari, tapi para serigala sudah menghadangnya. Sial!
__ADS_1
Malvia waspada di dua arah. Di depannya ada manusia serigala sementara di belakangan nya ada para kurcaci. Para manusia serigala maju dan menyerang. Malvia mengindari mereka tapi ada benda tajam yang juga mengenai kakinya.
"Aaargghh!! Kurcaci sialan!" pekik Malvia. Tubuh kurcaci memang kecil tapi mereka sangat lincah. Saat lengah, manusia serigala menghempasnya dan mencakar punggung Malvia. Malvia berteriak keras.
Malvia terpojok. Dua kaum menyerangnya dan dia yakin kaum penyihir akan segera datang. Malvia masih terduduk di tanah. Dia depannya sudah ada manusia serigala yang menggeram dan kurcaci yang siap dengan pedang mereka.
"Tidak! Aku tidak boleh mati!"
Malvia merubah wajahnya menjadi menyeramkan, mengeluarkan taringnya. Dia dengan cepat pergi dan menghilang.
"Sial! Dimana wanita jal*ng itu!" cicit salah satu kurcaci.
Srek!
Satu kurcaci terbelah menjadi dua. Malvia melesat lagi lalu menarik keluar jantung salah satu manusia serigala. Semua terkejut dengan tindakan Malvia yang tiba-tiba. Malvia semakin cepat. Gerakannya tidak terlihat. Satu persatu kurcaci dan manusia serigala tumbang. Dalam sekejap Malvia bisa menumbangkan lusinan manusia serigala dan kurcaci. Tubuh mereka berserakan di tanah. Beberapa tidak utuh. Malvia bernafas cepat. Dia memperhatikan sekitarnya, mencari tanda-tanda yang masih hidup. Tidak ada pergerakan. Malvia mengelap mulutnya. Dia terdiam. Dia merasakan darah di bibir dan tangannya terasa lezat dan manis. Mirip dengan darah manusia biasa. Malvia menjilati tangannya, mungkin dia salah. Tapi ternyata tidak. Rasanya benar-benar enak. Malvia menusukkan tangannya ke salah satu tubuh manusia serigala sejenak lalu menarik tangannya lagi dan meminum darah yang ada ditangannya. Manis, sangat manis. Malvia beralih ke kurcaci lalu menancapkan taringnya. Rasa darah kurcaci juga manis. Ini aneh. Apa lidahnya menjadi aneh? Kenapa tiba-tiba semua rasa darahnya lezat?
Di tengah kebingungan, Malvia melesat pergi. Dia tidak ingin ada serangan susulan. Sementara itu para penyihir baru saja datang dan terkejut. Semua sudah terbantai.
"Periksa! Mungkin ada yang masih hidup!"
Semua penyihir menyebar. Mereka memeriksa satu demi satu dan dengan teliti.
"Disini!" teriak satu orang. Semua orang berlari ke tempat orang berteriak tadi. Satu manusia serigala yang telah berubah menjadi manusia, sekarat dengan luka cabik ditubuhnya dan gigitan di lehernya. Pria itu bernafas tertahan dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Sepertinya parah. Aku akan menyembuhkannya." kata salah satu penyihir. Pria itu menggeleng.
"Jang-ngan... Kum-mo-hon..."
"Tapi kamu akan mati jika tidak aku sembuhkan." kata penyihir lagi.
"Tid-dak... Mass-sall-ah..."
"Aku akan mengurangi rasa sakitmu saja." kata penyihir itu. Dia mengeluarkan tongkatnya dan membaca mantra. Sedetik berikutnya pria itu mulai bernafas normal. Tapi dia masih sekarat. Hanya rasa sakitnya saja yang hilang.
"Aku harus mati... Aku tidak ingin menjadi vampir." pinta pria itu. "Dia.. Sangat kuat... Tidak.. Seperti... Vampir lain. Dia.. Juga.. Meminum.. Darah kami..."
"Tunggu, apa? Apa maksudmu?"
"Vampir tadi... Meminum... Darah manusia... Serigala dan... Dan kurcaci..."
"Itu.. Itu tidak mungkin! Vampir hanya meminum darah manusia saja!"
" Aku... Melihatnya.. Dengan... Jelas... Dia... Dia..."
Pria itu tidak bergerak lagi. Dia mati. Semua penyihir saling menatap.
"Itu tidak mungkin kan?"
...***...
__ADS_1