Red White Cinderella 1

Red White Cinderella 1
red white Cinderella 1 pertemuan pertama dengan keluarga bawang


__ADS_3

Cherpen 1


Part 1


Suara tv di ruangan tamu terdengar sampai terasa sekilas namaku. Di sebut.


" Pertandingan di prediksi sengit. Dua musuh bebuyutan kembali berhadapan siapa kah di dua pencatur harapan bangsa ini yang melaju ke final " penyiar


" Harapan bangsa? Mereka terlalu lebay " ujar ku


Iseng kubuka, handphone lalu mengetik namaku di Google. Namaku Frenessa yah hari ini aku akan mengikuti lomba catur. Aku mengecek tasku supaya tidak ada barang yang tertinggal. Noah, adik ku satu-satunya melihatku. Dgn tatapan memelas di depan pintu.


" Kak, ikut yah " ujar Noah


" Kamu kan ada pentas nanti sore engga ke buru loh" ujar ku pada Noah. Noah justru memeluk ku manja di pinggangku aku hampir tersenyum dan mengelus suara Noah.


" Kamu mau apa sih? " Tanyaku.


" Kakak nanti datang ke pentas ku kan " ujar Noah sambil menyerahkan selembaran tiket pentas.


Aku mengambil tiket itu. Melihat jadwal pentas tiket itu.


' waktunya mepet sekalih dengan pertandingan ku " gumangku


" Hmm. Gimana yah? Baiklah, selesai tanding, kakak langsung ke pentas mu. " Ujar ku


Mendengar hal itu, Senyum Noah tersenyum sangat lebar


" benar kak? Asiknya " sorak Noah senang


'biarlah kalau cepat-cepat pasti keburu. Yang penting dia senang ' gumang ku dengan senyum melihat Noah yang tampak senang


" Yang penting nanti jangan telat yah, kak. Kalau pertunjukan udah di mulai, engga ada lagi yang boleh keluar masuk " jelas Noah


" Ok. Tuan muda, tapi nanti kamu jadi apaan sih narator? Atau pohon!


" Tanyaku.


" Enak aja kenalin nih tokoh utama nya aku jadi bawang putih " jawab Noah dengan penuh semangat mengatakan perannya


Mendengar hal itu aku justru terheran heran


" Hah? Gak salah kamu? Bawang putih kan akan anak perempuan. " Tanya ku lagi.


" Engga kok,... Makanya nonton. Kak "


kubiarkan saja dia... Aku senang teater Noah jadi Lebih PD. Sebelum nya dia selalu gugup. Gara gara tanda lahir unik di wajahnya.


" Eh aroma apa ini? Kok aku baru sadar? " Tanyaku yang mencium yg tak asing.


" E-eh? Aroma? Aku engga cium apa itu kak? " Ucap Noah gagap..


" Kamu pakai parfum papa lagi? Tanya ku


Aku mendekatkan hidungku ke Noah. Noah justru kabur secepat kilat.


" Kakakkan sudah bilang, papa ngga suka kalau kita masuk-masuk kamar mereka. Nanti di marahi " ujarku


" Iih kak! kok masih kecium sih? Aku kan pakai yang tadi malam. Cuma dikit kok. " Tanya Noah sambil mencium baju nya sendiri.


" Kakak masih bisa nyium tuh"? Ucapku.


" Hidung kakak kayanya bisa di pakai ngelacak aku dari jauh. "


Mendengar hal itu. Aku hanya terkekeh, aku melirik ke arah jam tanganku. Sudah waktunya berangkat.


" Engga boleh telat nih. Kakak duluan yah "


Aku menaiki mobil dan bergegas ke gedung perlombaan, sampai di sana aku bergegas dan menekan tombol lift. Di dalam lif.


" Kenapa sih, tempat pertandingan nya harus di lantai 10. " Ujarku


Kenang burukku soal ruangan tertutup terlintas di benakku. Gudang yang sempit, penggap, dan gelap.


' kalau bukan karena hampir terlambat mending aku naik tangga darurat '


Sesampai di lantai 10 aku langsung memasuk ke salah satu ruangan. Aku melihat sekeliling sambil mencari tempat dudukku.


" Tahun kemarin, frenessa berhasil mengalahkan odelia stelah sebelumnya imbang. Apa tahun ini. Frenessa. Bisa pertahankan gelar juaranya? " Ujar komentator


Aku bergerak menuju ke tempat ku. Di sana sudah ada odelia sedang menyusun buah. Catur nya


" Hai..." Sapa ku bukanya membalas sapaan dia mlah bersikap sombong


" Muka mu pucat banget. Gak pura pura sakit kan " ucap odelia


" Buat apa pura pura sakit di hari sepenting ini? " Jawabku membalas ucapan odelia .


" Siapa tau kamu lagi cari alasan buat kalah, supaya ngga malu malu banget. Habis kayanya pemainamu tahun ini gak ada perkembangan tuh " ujar odelia


' dia mau menekan mental ku? "


" Peringatan tadi ku sebaliknya. Mulai sekarang siapkan alasan. karena kamu yang akan kalah. " Ucap ku.


Pertandingan kami pun mulai dari satu persatu


Dua jam kemudian


' CK. Aku terdesak ' gumang ku


Aku melihat odelia yang hanya memasang wajah sombong nya,


Hingga akhirnya...


" Dan pemenangnya adalah... Odelia ujar komentator.


Odelia mengulurkan tangannya menyalami ku.


" Nanti aku kirim Poto kemenangan ku di Rusia " ucap nya


' sombong nya. Dia engga pernah berubah, dia betul 2x meremehkan aku. Sudahlah, frenessa, nanti malam ayo analisis pertandingan tadi. Selanjutnya aku pasti bisa mengalahkan dia. 'gumangku.


Aku berjalan keluar ruangan, namun tiba tiba saja ponsel ku berdering tertera nama adikku. Aku langsung menekan tombol panggilan video


🎥 Noah : kak, gimana pertandingan nya ? " Tanya Noah


🎥 frenessa : oh, itu... Maaf kakak kalah " ucapku membuat ekspresi Noah menjadi sedih


🎥 Noah : kakak pasti kecewa banget," ujar Noah. aku hanya tersenyum.


🎥 frenessa : engga usah khawatir, kayak gak kenal kakak saja " ujarku membuat senyum adikku kembali lagi.


🎥 Noah : kakak cepat kesini aja, biar aku yang usir sedihnya nanti


Aku justru tertawa melihat Noah yang sangat antusias. Rasa sedih ku pun hilang melihat adik kecilku itu.


🎥 " Hahaha... Iya, berangkat nih "


Aku menutupkan sambungan nya


Ku tinggal kan aula pertandingan menuju tangga darurat


" Kenapa tangga darurat ga bisa di pakai sih?


Tangga darurat lagi perbaikan dan baru bisa di pakai dua jam lagi.


" Gedung apaan sih, memperbaiki


Tangga darurat di jam operasional? Gimana kalau ada kebakaran atau bencana alam? Masa harus naik lid lagi?


Sebuah pesan masuk, aku lalu memeriksa nya ternyata Noah


📩 Noah : kak, kalau udah sampai kabarin aku yah


📩 frenessa : Okeh, Kakak lagi kesana


Aku mematikan ponselku. Menarik. Napas dalam dalam.


"Cuma tiga menit, frenessa, cuma tiga menit "


Belum sempat aku berjalan kearah pintu lif, sebuah suara menghentikan langkahku. Seperti suara bel kecil.


' tidak ada suara apa apa ? '


Sesuatu yang hangat, lembut, dan hangat menempel di kakiku.


Meong!


" Kucing? Aneh, kok bisa ada di lantai 10 gini? Tanya ku.


Aku justru duduk dan mengelus kepala kucing itu.


" Hei Pemiliki mu kemana" ucapku sambil terus mengelus kepala kucing itu.


Meong!


Namun aku tidak bisa berlama lama dan akhirnya cepat cepat berpamitan pada kucing itu lalu masuk lif di dalam lif.


" Tahan, sebentar lagi, " ujarku yang berusaha menenangkan diri


Namun tiba tiba tiba lampu lift mati menyala dan ada goncangan pada lift nya


' kenapa ini?! '


Lift berguncang hebat. Aku berusaha menggapai tombol bantuan. Tapi sebelum berhasil.... Lift terjatuh dengan cepat. Seketika semua gelap.


" Aku engga boleh mati aku sudah janji ke Noah, tolong, siapapun, kalau Tuhan memang ada selamatkan aku.


Namun terdengar suara lagi. Suara bel, setelah itu terdengar seekor kucing mengeong


Meong


Disana sudah ada kucing yang kutemui tadi.


' kenapa kucing itu disini?! Mau mati saja aku di temani. Kucing '


Mata kucing itu yang tadi nya tertutup seketika terbuka, menampakan bola mata berbeda warna yang kiri biru dan disisi lain warna kuning. Dan membuatku terkejut adalah.


" Aku bisa menyelamatkanmu kalau kau siap dengan konsekuensinya "


" ku-kucing bisa bicara! "


" Apa kau inggin di selamatkan " ucap kucing itu


" Tolong! selamatkan aku! Aku belum mau mati. Adikku sedang menunggu " ujarku yang air mata ku sudah menetes.


" Untuk golongan jiwa yang spesial keinginanmu. Sederhana sekali yah. Dengarlah aku tidak akan mengulangi perkataan ku " ucap Kucing itu.


" Kamu harus menyatukan Panji merah yang penuh amarah... dan Panji putih yang tengah di butakan..


Kamu harus mencegah kehancuran dan menyelamatkan banyak nyawa, dan kamu akan bisa bertemu adik mu. Siap menerima takdirmu tuan putri.?'


Mendengar hal itu tanpa pikir panjang aku menjawab... Aku bersedihah


' saat cahaya kembar melintas di langit secara bersamaan... Saat itu lah takdir manusia bisa di ubah'


Sesak dadaku seperti siap meledak, rasanya Dinggin dan. Aku dimana? Begitu buka mata. Aku sudah dalam air. Aku reflek berenang. Sekuat tenaga dan


Aku .... Selamat


Kenapa aku bisa disini? Aku berusaha menyingkirkan rambutku yang menutupi wajah tapi. Sesuatu terangkut di lenganku.


" Apa sih ini? Kenapa baju ku jadi begini?! "


Aku mengamati pantulanku ke permukaan air. Selain rambut dan wajah semuanya berubah.


' bukannya tadi aku mati di lift. Kenapa sekarang jadi begini ' gumangku.


" De-dewi....?! " Orang asing


Aku berbalik. Banyak orang di tepi danau yang melongo melihatku. Rambut dan pakaian mereka benar benar aneh.


'ini tempat apa? Kok mereka terus memperhatikan ku


" Sang hyang mengirim dewi pada kita ujar orang asing lain nya


" Hah " ujar ku kebingungan


" Puji Dewi kesuburan! " Ujar wanita tua.


Aku belum sempat berkata apa-apa tapi mereka sudah bersujud menyembahku.


" Sang hyang telah menyertai Kerajaan Pertiwi! "


Sala satu terus berteriaki sang hyang, sebenarnya siapa itu aku bahkan berpikir kalau ini cuma prank


" Apa aku kena prank ya? Mereka ngapai menari. nari gitu ?


Aku hanya heran melihat orang orang itu dengan tatapan aneh. Tapi pandangan ku terfokus pada kerumunan itu .seorang pria berjubah muncul.


" Terang abadi bagai utusan dewa. Sang bawang putih. "


Seketika semua orang berbungkuk hormat padanya beda lagi dengan ku yang tambah ke bingung


" Bawang putih. "


Pria itu memberi isyarat supaya aku menghampirinya


" Dia memanggilku? Tapi siapa dia? Aku harus ke tempat kering dulu. Ujarku pelan.


Meskipun ragu, aku akhirnya mendekati pria itu. Susah payah aku berjalan mengenakan baju basah nan berat ini. Danau ini juga berlumut. Jadi aku berjalan sangat berhati-hati. Saat aku hampir sampai di daratan. Pria tadi mengulurkan tangannya


' apa dia bisa di percaya? ' gumangku


sebelum aku baru akan menggenggam tangannya. Aku justru terpeleset. Pria itu menarik. Lalu satu tangannya menyanggah tubuhku. Dan jarak sedekat itu aku bisa melihat rambut perak berkilau. Memantulkan cahaya matahari.


" Kamu baik baik saja?"


Sejenak aku melihat wajah tampan nya yg begitu dekat.


" Ma-malaikat! "


Dia malah Tertawa kecil..merasa canggung. Aku cepat Cepat melepaskan diriku dari pria itu.


" Kamu tidak apa apa " ucap pria itu


" Aku menjawab pertanyaan nya dgn anggukan. Seorang pria yang seumuran dengan ayahku. Menghampiri kami. Dari belakang. Seorang wanita. Mengikutinya dgn sikap patuh.


" Terang abadi, bagi titisan dewa, pangeran Claude. " Ujar bapak. Bapa itu.


" Anda terlihat sehat Mahapatih. " Ucap pria itu yg di panggil Claude itu.

__ADS_1


"Sedang kan aku masih memproses perkataan keduanya


" Pangeran? Mahapatih? Terang apa tadi. "


Aku tidak mengenal mereka situasi ini. Membuat ku bingung


" Maaf apa ada yang bisa menjelaskannya ini dimana? Kalian siap? " Tanyaku. Dengan Bingung.


Krik krik krik suara jangkrik


Seketika semua menoleh kearah ku. Muka mereka tampak tak percaya, pria yang di panggil maha Patih itu menarik lenganku kesamping nya, dia berbisik dan menegur.


" Jangan mempermalukan keluarga kita di depan pangeran " tegurnya lalu melihat ke arah pria Yang di sebut. Pangeran itu.


" Maaf, yang mulia. Putri saya telah mengacaukan upacara, mbok nya tidak bisa menjaganya dengan baik kali ini. "


Pria itu menatap Sinis ke ibu yang tadi Mengikutinya. Ibu itu terus menunduk tidak berani Mengangkat wajahnya,


" Ini bukan masalah besar. Mahapatih, tapi apa putri mu baik baik saja? Mungkin. Sebaiknya kalian memangil dokter. " Ujar pangeran claude


Orang-orang di tepi danau kembali kasak-kusuk


" Loh tadi katanya dia Dewi?


" Apaaa, trnyata dia putri Mahapatih


Toh? Eh tapi cantik yah? " .


" Cantik sih... Tapi kenapa nyebur di tengah-tengah ucapara "


" Pst! Nanti mereka dengar. Dia kan ... "


Putri Mahapatih? Tenggelam? Aku tidak mengerti satu pun yang mereka katakan, pakaianku menang aneh. Tadi sampai beberapa menit. Lalu. Aku masih terkapar di lift.


" Maaf sepertinya kalian salah orang, saya bkan Puteri Mahapatih "


Krik krik krik


Mereka kelihatan makin bingung. Aku heran apa yang aneh dari kata kata-kata ku


" Frenessa! Sebaiknya tahan bicara mu, pikiranmu mulai kacau!


Aku sedikit gentar dibentak seperti itu. Tiba-tiba kerumunan orang orang di depanku. Kembali berisik, Serentak mereka semua membungkuk, lalu kerumunan terbelah dua seolah membuka jalan seseorang pria misterius. Dengan rambut Hitam. Muncul. Matanya yg tajam tertuju padaku.


' siapa lagi mas-mas ini ? '


" Terang abadi bagaikan utusan dewa, sang bawang merah. " Ujar kerumunan itu


Tadi putih, sekarang bawang merah ? Bawang putih dan bawang merah ? Semua itu mengacaukan pikiranku. Tanpa sadar. Pria itu menghampiri kami berdiri di hadapan ku.


Mengamati dari atas ke bawah. Kemudian tanpa. Memperhatikan sekitar, ia melepaskan jubahnya lalu memakai nya padaku.


"??!... "


" Pakai ini dulu " ujar pria yang baru datang itu


" Terima kasih " jawab aku.


' aku tidak menyangka dia akan meminjam kan jubahnya padaku.


" Terang abadi bagi, titisan dewa, pangeran Lee " ujar mahapati


" Terang abadi bagi titisan dewa, pangeran Lee " ujar wanita yang mengikuti Mahapati


" Pangeran lagi!? "


Pria itu di panggil pangeran Lee itu bralih pda bapak-bapak di samping ku


" Ada keributan apa ini? " Tanya pangeran Lee


" Mohon maaf kami membuat keributan yang mulia, putri saya jatuh ketelaga di saat upacara. Seperti nya dia terlalu bersemangat karena ini ritual pertamanya " jawab bapak-bapak yang ada di samping ku.


" Benar kamu jatuh sendiri? Atau ada yang mendorong mu ? " Tanya pangeran Lee, sekarang ia bertanya kepadaku


Ini membuatku jengkel sekarang. ada apa sebenar nya ini? Karena mereka bersikeras kalau aku ini jatuh?


" Saya sudah bilang tadi. Saya ngga jatuh. Tadi saya naik lift, tiba-tiba lift nya putus. "


Krik. Krik. Krik.


Lagi-lagi semua kebingungan mend engar penjelasan ku. Mereka saling bertukar tatapan. Pria bernama Lee. Yang pertama bicara lagi.


" Kamu mungkin masih bingung. Tapi aku butuh. Tau apa yang terjadi " ujar pangeran Lee


" Sudahlh Lee, tunda dulu interogasi


Kamu tidak lihat. Dia kedinginan ? " Kali ini pangeran. Claude bersuara


" Jangan ikut campur! Ini sudah prosedurnya, paling tidak aku sudah Menberikan jubahku." Kali. Ini pangeran Lee kembali bersuara.


" Sebelum kamu datang aku sudah lebih dulu menolongnya " ujar pangeran claude dengan menekan kata lebih dulu.


" Kau...!


Aku hanya bisa memperhatikan perdebatan kedua. Pengeran itu. Sangat susah berbicara dengan mereka ini.


" Sejak bergabung ke militer, kamu kaku sekali. Dulu kamu. Bahkan tidak. Tidak pernah mempedulikan jadwal kerajaan " Ujar Claude


Karena tak tahan degn perdebatan itu. Mahapatih melerai kedua pangeran itu.


" Pangeran, saya rasa berdebat di depan rakyat, bukan teladan yang baik. " Ujar mahapati


Keduanya terdiam. Claude terlihat menarik. Napas berusaha mengendalikan diri. Dia berbisik ke pengawal nya, aku tidak bisa mendengarkan yang di ucapkan Claude. Tapi pengawal itu langsung pergi. Mahapatih kembali bersuara.


" Pangeran Lee, saya mohon maaf dengan kondisi putri saya. Seperti interogasi Tidak memungkinkan " ujar mahapati


Seketika pangeran Lee terdiam terjerat dan kembali bersuara.


" Baiklah, saya akan mampir ke rumah anda nanti malam."


Lee berbalik pergi. Orang-orang, kembali minggir dan membungkuk padanya


'sebenarnya kenapa aku terjebak di tempat aneh. Ini? Rasanya ini terlalu nyata kalau di sebuah prank. Apa ini semacan masa lalu.? Jangan jangan habis ini harus belajar naik kuda.


Sebuah mobil mendekat. Bagian kap. Dan sisi badannya dihiasi ukiran emas.


' ini apaa apaan? Kereta kencana versi modern? " batin ku dengan bingung


" Mahapati, putri anda tidak mungkin pulang seperti itu. Jarak telaga ini ke ibukota terlalu jauh. Bagaimana jika dia singgah di peristirahatanku . Dia bisa ganti baju. Lokasinya juga lebih dekat.


" Terima kasih atas kebaikan anda yang mulia pangeran. " Ujar mahapati dengan sopan dan


' Aku ikut ke rumahnya? Sementara ini aku ikut saja maunya kemana mereka. ' pikirku dengan melihat situasi.


' lagi pula aku ngga mungkin berkeliaran pakai baju basah. Kalau dia macam-macam. Aku pernah belajar sedikit cara bela diri. ' pikirku dengan pertimbangan dan dengan yakin


" terima kasih " ucapku. Sopan menyetujui Ajakan ya


" Mbo Rara, siapkan baju ganti dan semua keperluan, Frenessa! " Tegas Mahapatih pada wanita yang bernama mbok Rara itu dan ia pun mengangguk


Aku sadar ini pilihan terbaik, setidaknya aku harus ganti baju dulu. Seseorang pengawal membukakan pintu mobil.


' Kelihatanya ini bukan prank. Entah bagaimana, aku terdampar di sini.


Bahkan aroma tempat ini bukan aroma perkotaan yang ku kenal. ' batin ku dengan bimbang kondisi saat ini.


Aku masuk mobil di ikuti claude.


" Nona ini ponselnya, saya akan menyusul " ucap Mbok Rara dengan memberikan Ponsel padaku


" Ada handphone juga di sini? " Ucap ku dengan nada kaget dan


Untuk sekian kalinya hari ini. Claude dan Mbok Rara tertegu menatapku.


" Stelah ganti baju dan minum yang hangat nanti. Kamu pasti akan baik baik saja " ucap Claude dengan nada kasihan


Tatapan kasihan Claude membuat ku malu. Dia mungkin diam diam menganggapmu konyol.


' ikuti saja frenessa, ikuti saja, ' ujar ku dengan mengatasi ini


Part 2


Kami pun tiba di kediaman Claude yang megah Claude keluar ruangan membiarkan ku ganti baju. Tentu saja Mbok Rara membantuku memakai kain Baju Kasual biru ini.


" Biar saya sisir Rambutnya nona, " ucap Mbok dengan mengajukan pertolongan


" Eh, jangan aku bisa sendiri. " Ucap ku dengan nada sungkan


Lagi lagi sepertinya aku salah, mbok Rara malah kelihatan khawatri.


" Anda baik baik saja, biasanya anda suka di sisirin " ucap Mbok Rara dengan aga khawatir


" Kali ini aku mau sendri " Ucap ku dengan sopan dan menyakinkan Mbok Rara.


" Baiklah saya akan kembali mobil sudah siap " ucap Mbok Rara dengan span dan mohon pamit.


Begitu mbok Rara pergi aku mengamati handphone yang di berikan nya


' apa ini bisa dipakai telepon ? " Pikirku dengan cepat aku cari nomor telepon polisi dan


Jeda panjang... Lalu. Muncul pemberitahuan tidak di kenal.


' Sebenarnya apa yang ku harapkan ? '


Bayanganku di pantulan Di cermin wajahku tidak berubah. Tapi aku merasa asing.


' Ah Iyah kucing itu! Ini pasti gara gara dia. Kucing penipu! Mana noahnya! ' ucap ku dengan kesal karena sudah di jahili dan


' Ini bukan kesempatan kedua yang ku mau ' batinku sedu dan terduduk


Aku memijat dahiku. Pikiranku. Di penuhi pertanyaan setelah ini harus apa. Sikap orang-orang di telaga menunjukan aku bukan orang biasa


' Putri Mahapatih ? ' ucap ku dengan sedu dan memikirkan hal ini


" Ada yang membuatmu tidak nyaman " ucap pangeran Claude dgn khawatir menatapku.


Claude masuk di ikuti pelayan yang membawakan Minuman


" Cuma sedikit pusing " ucapku dengan sopan dan kembali melepaskan tanganku dari Kepalaku


" Minum dulu. Aku belum tau apa yg kamu suka jadi pilih saja. " Ucap Claude dengan ramah dan


Pelayan menghidangkan tiga minuman bagiku. Semua punya aroma enak.


' hmm, Minuman mana yah yang sebaiknya ku coba ? ' ucap ku sambil memilih minuman itu dan aku memilih milkshake


Ku teguk milkshakenya. Seteguk. Dua teguk.... Sementara Claude menikmati minumannya sambil mengamatiku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan sikap Claude karena minuman ini enak! Sekali.


" Wah enak. Ini milkshake yang pernah aku coba " ucap ku dengan terpana mencicipi milkshake ini


" Oh, ini buat dengan bawang kualitas terbaik. Yang termanis di seluru kerajaan Pertiwi " ucap Claude dengan senang menjelaskan


Uhuk.. uhuk... Uhuk...


Mendengar ucapan Claude. Aku spontan batuk-batuk. Saat minum di cangkirku jadi kelihatan menjijikan


Claude menatap ku dengan tatapan Prihatin.


" Apa minuman nya engga sesuai selera " ucap Claude dengan sedu


" Ah. Bukan. Bukan begitu. " Ucap ku dengan mengeleng dan cepat cepat meletakan gelasku.


' aku bahkan nggak Bernai membayangkan ya ' batin ku yah memang benar tau kan rasa bawang yang sesungguhnya kan di masa ini


" Oh yah, kamu tak perlu seformal itu padaku. " Ucap Claude dengan santai dan ramah


' mana bisa, aku seenaknya? Dia kan pangeran ' pikirku merasa tak enak.


" Santai saja panggil aku Claude. " Ucapnya dengan memberikan ku izin memangil namanya dan


" Tidak mungkin anda adalah pangeran Sa-saya... " Ucap ku mulai gugup dan merasa sungkan


" Kan aku duluan yang Bicara santai padamu. Apa aku harus memerinta hkan mu dulu supaya kamu bicara santai padaku ? " Tanya claude dgn menatapku Yg gugup.


Gawat aku semakin gugup. Claude mencondongkan badannya ke arahku. " Coba panggil namaku " tanya claude dengan senyum dan Santai


" C-claude " ucap ku dengan gugup menyebutkan namanya


Claude menarik dirinya& tersenyum bangga.


" Gampang kan ?. Toh ke depan kita akan sering ketemu. " Ucapnya dengan senang dan tenang.


' sering bertemu? Bagaimana aku bisa santai kalau orang memanggil mu titisan dewa ' pikir ku dengan aga bingung.


Aku harus Mengikutinya demi mencari informasi soal dunia ini.


Aku perlu tahu dunia ini. Sebelum mengatur strategi selanjutnya.


Drrrrt


Tiba tiba Handphone ku bergetar peringatan baterai lagi habis.


" Bisa aku pinjam charger? " Ucap ku dengan aga harap.


" Silahkan " Ucap Claude dengan mempersilahkan


Claude tersenyum tidak bergerak, hanya tersenyum.


" Boleh ku pinjam Charger " ucapku dengan nambah penekanan pada kata Pinjam


" Iyah, silahkan " ucap Claude dgn kembali santai


' silahkan, silahkan, tapi engga di kasih. ' ucap ku mulai bete dan


" Jadi mana kabel Charger nya " ucap ku dengan bingung.


" Maksudnya? " ucap Claude dengan bingung.


" Ya-ya-chargernya.... Mana? " Ucap ku dengan heran dan


Sepuluh menit kemudian


" Wow!! Meja ngecharger! " Ucap ku dengan takjub.


Claude masih tertawa. Aku masih takjub melihat baterai handphone mulai mengisi. Begitu di letakan di sudut meja.


" Kau Ini seperti engga pernah ngecharger handphone saja. Pada hal kabel itu engga praktis dan mudah rusak. " Jelas Claude dgn masih aga tertawa


' kalau soal engga praktis. Laku bagaimana dengan baju kita? Pikirku dengan yang saat ini kita pakai itu menurutku. Engga praktis


" Siapapun pencipta Teknologi ini, terimakasih " ucap Ku dengan berterimakasih dan harapan

__ADS_1


" Sama-sama " ucap Claude dgn senang dan bangga


" Sama-sama? Ini yang kamu ciptakan. Kamu Jenius" heran ku dengan hai ini. Dan kaget juga juga memuji bakat Claude


Kami menikmati cemilan sebelum melanjutkan pembicaraan.


' katanya ini pertama kamu keluar rumah sejak ibumu sakit lalu meninggal. " Tanya claude dengan aga sopan.


' ternyata aku yang disini sudah tidak punya ibu yah ' pikirku mulai berkerja dan " yah begitu lah. " Ucap ku dengan menjawab Sopan.


" Lalu, bagaimana pendapatmu tentang setelah keluar " tanya Claude menanyakan pendapat ku


' biar aman, singkat saja jawabnya ' batinku agar tak curiga " yah... Luas sekali. Sebenernya Seberapa luas kerajaan ini ? " Tanyaku sekaligus mencari Informasi.


Claude tersenyum padaku. Dia mengajakku mendekati peta yang tergantung..


" Ini semua wilayah yang berhasil di kuasai kerajaan Pertiwi " ucap Claude dengan bangga menunjukan denah negaranya


Seprtinya kerajaan termasuk kuat. Wilayahnya membentang dari ujung barat sampai timur. Seperti Indonesia.


' yang pojok ini gambar apa.? ' pikirku bingung dan seperti sebuah Peta konsep.


Aku melihat gambar itu, dan berusaha mempelajarinya. Dari situ aku pun mengerti. Tenyata keluarga Mahapatih disini sangat penting & berpengaruh.


' Bahkan cuma kerajaan posisinya yang lebih tinggi. Jadi aku putri keluarga seperti itu.' pikirku melihat peta konsep itu dan berusaha mengingatnya ini semua. Dan mikir tentang diriku sekarang


" Aku jga jarang sekali keluar ke ibu kota. Cuma setahun sekali tiap. Upacara." Jelas Claude dengan beri tau bahwa dia tak pernah ke ibu kota


" Bukankah, sebagai pangeran, kamu bebas kemanapun? Semua bawahanmu pasti bisa menyiapkan semuanya " ucap ku dengan bertanya dan melihat Claude. Namun


Claude menghelang napas sambil memperhatikan peta kerajaan. Jari jarinya menelusuri area di peta itu.


" Sayangnya, ngga selalu bisa bgitu


Aku pun inggin bisa menjelaskan semua wilayah ini satu per satu. " Ucap claude dengan nada sedu dan


" Bukan sekedar lewat karena harus. Buru buru mengejar jadwal tpi tanggung jawabku selalu banyak mengharuskanku ke kerajaan lain. " Jelas Claude dengan serius.


" Apa seorang pangeran punya waktu untuk bersenang-senang? " Tanya ku dengan aga sedikit menghibur


" Hmm, aku engga yakin apa membaca di perpustakaan bisa di sebut. Bersenang senang. " Ucap Claude dengan aga ragu dan


" Kadang istana mengadakan pesta


Sayangnya selama ini kamu engga pernah datang " Ucap Claude dgn nada heran


Aku cuma senyum dan menanggapi Ucapanya. Dan perhatianku tertuju pada lukisan seorang perempuan dgn mahkota di kepalanya


" Cantiknya " pujiku dengan nada lembut dan berdiri mendekat ke arah lukisan itu.


Claude berdiri di belakangku. Dan ikut mengamati lukisan itu.


' Perempuan itu mirip dengan Claude. Kalau pakai mahkota mungkin dia ini ratu ' Batinku mulai memikirkan siapa perempuan ini.


" terima kasih, beliau pasti senang mendengarnya. " Ucap Claude dgn sedu. Dan sorot matanya berubah sedih. Tapi tampaknya. Dia tidak mau. Membahas itu.


Mbok Rara. Datang memberitau kalau mobil jemputan sudah menunggu. Di saat bersamaan pengawal mengabarkan kalau pangeran Claude harus kembali ke ibukota.


' Masih banyak hal yg membuatku penasaran. Kelihatanya. Mbok. Rara akan curiga. Kalau aku. Banyak bertanya. Apa aku tanya claude. Siapa tau bisa pulang bareng?. Aku bisa mengenal kerajaan ini lebih. Jauh jika bersama dengannya. " Batin ku inggin mengajak Claude untuk ikut pulang bersama.


Merasa ragu, aku mendekati pangeran Claude


" Maaf. Mungkin ini lancang. Tapi aku punya permintaan. Ini pertama kalinya aku keluar rumah. Ada banyak hal yang membuatku penasaran. " Ucap ku dengan aga gugup dan


" Apa boleh kita pulang bersama?. Aku akan senang kalian kalau mau memperkenalkan kerajaan ini " ucap ku dengan malu dan gugup. Dan sambil menantikan tanggapan Claude.


" Tentu saja. Aku juga senang. Perjalanan yang panjang ke ibu kota akan membosankan kalau sendirian " ucap Claude dengan senang dan Tenang dan mengajak ku.


Aku pun ikut tersenyum.claude mempersilahkan aku masuk ke mobilnya


Part 3


Mobi Claude membawa kami melewati gerbang kediaman peristirahatan nya. Begitu lewati gerbang. Aku baru menperhatikan sepanjang jalan di penuhi Panji Panji merah dan putih


' Mungkin Claude tau tentang Panji Panji itu ' Pikirku dengan memikirkannya dulu sebelum ber Tanya. " Kenapa sepanjang jalan ini penuh dengan Panji merah dan putih " Tanyaku dengan penasaran


" Selama ini kamu betul. Betul menutup diri yah dari luar. Panji 2x itu di pasang sebagai tanda seleksi raja akan dimulai. " Ucap Claude dgn mulai menjelaskan


" Panji putih itu lambang kelompok yang kupimpin " ucap Claude dgn terlihat enggan melanjutkan Ucapan nya


' Artinya yang merah itu punya pangeran satunya lagi.? ' pikir ku tentang Yang satunya lagi


" Hubunganmu dan Lee engga terlalu baik yah. " Ucap Ku dengan nada hati hati. Takut menyinggung


" Kelihatan sekali yah.? Kami cuma sering berbeda pendapat " ucap Claude dengan nada enggan untuk bercerita


Setelah itu aku merasa Claude menghindari pertanyaan tentang Lee. Kalau pembahasan ini di terus kan bisa-bisa Suasana semakin rusak.


' biarlah, itu masalah mereka ' pikirku dengan hal ini. Lagi pula aku juga tak inggin. Mengganggu urusan mereka.


Setelah itu Claude banyak cerita soal kerajaannya. Aku memperhatikan desa-desa yang kami lewati.


" Asri sekali " ucapku dengan kagum dan senang. Melihat ini .


Claude menceritakan desa-desa yang kami lewati.


' Claude ini kelihatanya sangat mencintai rakyatnya ' batin ku dgn menatap Claude menceritakan desanya


Rombongan kami terus menuju ke arah ibukota. Semakin lama. Aku bisa mencium aroma lautan. Kubuka sedikit kaca mobil agar anggin bisa masuk.


" Bersiaplah, pemandangan setelah ini yang selalu kutunggu. Ketika pergi ke luar ibukota." ucap Claude dgn nada sangat Senang


Sesampai di puncak. Sejauh mataku memandang. Terhampar deretan bangunan yang dikelilingi dinding batu. Area itu di belah jalan berkelok yang di apit pepohonan.


" Kota ini sibuk sekali " heran ku dengan melihat kesekitar. Banyak orang yg berlalu lalang.


" Tentu saja ini waktunya kapal berlabu sebentar lagi kita sampai di ibu kota " Jelas Claude dgn senang


Kapal kapal berjejer di sepanjang kanal. Yang terhubung langsung ke lautan lepas. Pemandangan seperti cuma bisa kulihat di imajinasi ku sebelumnya


" Apa sepanjang tahun sekalu begini " tanyaku dengan menatap ke sekeliling.


" Yah, khususnya habis semasa panen, sepeti sekarang. Kamu lihat nanti kalau kita benar benar sudah lewat gerbang ibu kota " jawab Claude dengan menatap juga ke sekeliling


Aku, asyik memperhatikan pengawal-pengawal berbaju zirah. Yang berpas pasan dengan rombongan kami. Seru semangat mereka mengalahkan derap langkah kudannya.


" Lihat ke sebelah sana " ucap Claude dengan Setengah berseru dan menunjuk


Aku melepaskan pandangan ku kearah yang di tunjukan Claude seketika aku tercengang


" Tinggi sekali " ucapku melihat gerbang seperti gapura bernuansa ada Indonesia. Bali / Jawa


Aku tidak tahan ku keluarkan kepalaku dari jendela mobil.


" Hati-hati kepalamu. Tuan putri " Peringatan Claude kepadaku


" Hei kau dengar itu. Ombak kedengaran sampai sini " Ucapku dengan aga sedikit berseru.


Claude tertawa tapi aku tak memperhatikan hal itu. Tak peduli


" Sekali kali melihat dunia luar menyenangkan bukan? " Tawar dan sindiran Claude padaku dengan tingkahku mungkin.


Para pengawal bertombak berjaga di kanan-kiri gerbang. Di antara mereka Panji Panji putih dan merah berkibar di Hembusan angin laut.


' bawang dan panji putih.... Bawang putih? Lalu yang itu bawang merah mereka... Bawang merah dan putih " batinku mulai terpikir akn sesuatu


" Bagaimana menurutku " tanya Claude padaku.


" Hah?! " Bengong ku saat menjawab pertanyaan Claude tadi


Aku terlalu terpaku sampai lupa kalau aku sedang bersama Claude


" Aku tadi bertanya apa kau suka dengan perjalanan pertamamu kali ini. Aku takut kamu bosan. " ucap Claude dgn mengulangi pertanyaannya.


" Sama sekali tidak " Ucapku dgn senang dan senyum.


Dan aku pun kembali kan kepalaku kedalam mobil setelah melewati gerbang ibu kota. Dan duduk kembali di samping Claude


Semakin kedalam. Hiruk-pikuk, kesibukan kerajaan Pertiwi semakin terlihat. Aku memandang rumah megah, gudang bata, deretan kios perdagangan.


Orang orang serentak minggir dan membungkuk hormat begitu rombongan kami lewat.


" Jadi segini pun mereka masih berdagang " ucapku dengan natal kesepanjang jalanan.


Para wanita menenteng keranjang belanjaan sambil memilih bahan makanan.


" Ini area tersibuk di ibu kota. Di sini pusat perekonomian berlangsung. Lalu di atas situ ada kuil kecil tempat para empu " ucap Claude sambil menjelaskan yang ada disana


Claude menunjukan jalan setapak lurus yang memanjang. Lewat dari pasar. Perkataan Claude selanjutnya cuma lewat ketelinga saja.


Aku teringat lagi tentang Panji Panji itu.


" Bukan bawah putih dan bawang merah itu anak perempuan. Ini malah seperti cerita yang mau di pentaskan Noah. " Batinku dengan ingat tentang pentas adikku itu.


" Kalau aku masih hidup pasti skrng


Aku sedang menonton Noah pentas


" Sedu ku mengingat kejadian itu


" Kali ini apa yang kau pikir kan Frenessa, " ucap Claude dengan menatap sikapku.


" Ah, maaf terlihat jelas kah? ' ucap ku dengan nada Aga kaget


" Untuk seorang putri keluarga ningrat ekpresimu jelas sekali. " Ucap Claude dengan mengatakan apa yang ia lihat.


Kalau Claude bisa membacanya mungkin orang lain juga. Aku berusaha menutupi rasa Maluku dengan melihat lihat penyimpanan jok mobil.


' buku cerita cinta ' batinku kaget melihat buku yang kudengar Ku paham dan menenggelamkan buku itu.


" Hei kembalikan " Ucap Claude dgn nada aga sedikit Gugup


Claude langsung merebut buku yg kutemui, tapi aku lebih dulu menyembunyikan di balik punggung ku.


" Apa ini punyamu? Wah ternyata seorang pangeran bersenang senang dengan membaca cerita cinta " ucap ku dengan santai dan menatap claude


" bukan begitu, aku cuma penasaran . Ini pertama kalinya aku membaca buku seperti ini " ucap Claude dengan nada lebih gugup dan aku bisa lihat Sudut warna merah di pipinya.


" Ngga apa apa kok. Tenyata kau orang yang sensitif yah " ucapku dengan nada pujian Dan ampuh membuat


Pangeran Claude menutup wajahnya yang memerah


" Aku tidak percaya aku terlihat seperti ini di depanmu " ucap Claude dengan berusaha mengalihkan wajahnya yg merona dan mulai terkendali. Aku hanya tersenyum saja


Part 4


Mobil Claude sampai di depan rumah Mahapatih.


' Rumahnya bisa sekali. Rasanya aku harus membungkuk hormat pada rumah ini ' batik ku melihat ke sekeliling rumah Megah ini


Seorang pelayan membukakan pintunya untukku. Aku sudah akan turun. Tapi Claude menahanku. dia keluar lebih dulu. Berjalan ke sisiku.


" Biar ku bantu. " Ucap Claude dengan santun dan mengulurkan tangan


Seminar Anggin menyapu rambut & jubahnya. Langit yang kontras membuat rambut perak dan jubah putihnya terlihat memikat. Tatapan mata kami bertemu. Seketika waktu seperti berhenti untukku. Ku pegang tangannya lalu turun dari mobil.


" Hati hati " ucap Claude dengan menuntunku untuk keluar dari mobil


Untuk sesaat aku melupakan semua keanehan yang belum ku mengerti sejak sampai di dunia ini.


' aku rasa semuanya akan baik baik saja setelah ini. ' batinku mulai merasa tenang dan


" Terima kasih sudah menemaniku " ucap ku yang sudah berdiri di sampingnya dan Tersenyum lembut


" Aku yang harus berterima kasih. Hari ini sangat menyenangkan. " Ucap Claude dengan nada senang dan menatapku lembut.


" Aku punya firasat kau akan banyak mengejutkanku di masa depan " ucap Claude dengan tersenyum yang ia pikirkan.


Aku pun hanya tersenyum. Claude harus pamit menuju ibukota dan aku pun tersenyum. Aku menunggu mobil Claude keluar dari gerbang.


Stelah itu aku memantapkan hatiku memasuki rumah megah itu.


" ganti baju dulu nona. Sebentar lagi makan malam. " Ucap Mbok Rara sambil senyum dan ramah dan memberikan baju padaku


Aku pun mengenakan pakaian adat yang sama dengan aga bernada yaitu warnanya merah marun dan


Setelah itu.


" Nona istirahat dulu. Sambil menunggu makanan siap. Saya ambil kan minuman hangat dulu. " Ucap Mbok Rara dgn sopan dan membungkuk padaku. lalu prgi ke arah pintu dan sebelum menutup pintu. Mbok Rara pun berbalik dan


" Nona saya senang anda selamat " ucap Mbok dengan sangat senang.


Dan lalu menutup pintu tersebut


Dan rasanya mbok Rara Bisa ku percayai di dunia ini. Meski begitu aku tetap merasa asing.


" Aku bahkan bukan bagian dari dunia ini " ucapku dengan nada sedu dan lalu


Handphone ku pun berdering dan terdapat pesan lalu kubuka pesan itu


📩 Lee : sudah sampai rumah.


📩 frenessa : Baru sampai.


📩 Lee : jaga kesehatan jangan sampai sakit.


📩 Lee : nanti aku kerumah


📩 Lee : ada beberapa hal yang harus kutanya kan tentang kejadian di telaga


Pesan itu pun berakhir dan


Kenapa putri Mahapatih sudah punya nomor Lee ' ucapku dengan nada bingung pikirku.


" Aku engga tau apapun soal kehidupan si putri Mahapatih ini. " Ucap Ku dengan nada sedu dan bimbang


" Ini semua gara gara kucing aneh itu. Apa ada cara untuk meminta penjelasan " ucapku Dengan nada tenang dan berpikir. Tapi


Lamunan ku menjadi buyar ketika mbok Rara membawakan minuman


Dia lalu membereskan baju-baju ku


Tiba tiba aku mencium bau familiar aku mengenalnya sebagai aroma Noah.


' tunggu kucing itu memang bilang aku bisa bertemu Noah lagi. Selama ini penciuman Ku engga pernah salah. " Ucapku dengan nada senang dan aga heran


Aku berlari menuju pintu dan


" Noah.. ini Noah " ucapku dengan penuh yakin ku bukakkan pintu dan


" Hai, lama tak jumpa " ucap pria itu dan aku aga terkejut. Ternyata tak seperti dugaan ku dia lebih dewasa

__ADS_1


To be continued


__ADS_2