
Cerpen 6
part 1
" Aku... Tidak bisa bernapas " ucap odelia dgn terserang.
Tanpa kusangka odelia justru langsung mulai begitu menghirup itu. Dia buru-buru menutup mulut.
Para pelayan langsung membantu odelia sementara Lee mengambil lilin yang ku berikan
" Kenapa kamboja malah membuat odelia mual? " Bingung ku dengan ini
" Odelia cobalah bernapas perlahan
" Ucap Claude dgn membantu odelia
Para pengawal langsung & pelayan segera mendekati kami. Dia antara berlari menuju ke arah ku.
" Nona ada apa yang terjadi " ucap Mbok Rara dengan khawatir
" Aku tak melakukan apapun ini llin aroma biasa. Pengasuhku melihat sendri waktu aku membuatnya " Ucapku dengan jujur
Aku menatap mbok Rara berharap menjelaskan. Namun belum sempat embok Rara menjelaskan pelayan odelia sudah darang lebih dulu menuduhku
". Bohong mreka mau mencelakakan nona odelia. " Ucap nya dengan menuduhku
" Ini belum bisa di pastikan " ucap Lee dengan tegas.
Lee mengamati Lee pemberian ku perlahan dia mendekati lilin itu ke hidungnya.
" Tunggu yang mulai lilin itu bisa saja beracun " ucap pengawal menghentikan Lee.
" Sudah jelas lilin racun tampak mereka " Ucap dia dengan Tegas
" Siapa kau mengadili calon ratu seperti itu?! " Ucap Lee dengan di ambang marah.
Bentakan Lee membuat pelayan odelia ciut. Dia beralih megipasi majikanya
" Kalau engga percaya lihat ini " ucap ku dengan sedu
Cepat-cepat ku rebut lilin itu dari tangan Lee. Sengaja ku hirup kuat kuat lilinya dia hadapan mereka
" Ini lihat..aku baik baik saja " sardik ku menunjukan tentang hal ini.
Lee mengambil lilin itu kali ini ia menghirupnya pengawal berseru mau menghentikan nya tapi. Terlambat.
Sementara terdiam menantikan reaksi Lee.
" Frenessa benar ini cuma lilin biasa di beri wewangian kalau lilin ini beracun harus nya aku langsung seperti odelia " Ucp Lee dengan dgn jelas dan baik baik saja.
' aku suka menang, tapi aku tidak mungkin meracuni orang seprt itu '
Batinku dengan kesal dan
" Jelas frenessa tidak bersalah jadi jangan menuduhnya " Ucap Claude dengan menjelaskan pada mereka dgn setengah marah
" odelia apa kamu makan sesuatu yang aneh sebelumnya " Ucap Claude sedu menatap odelia.
" Aku.. tidak... Bisa.. " ucap odelia dengan tersedak.
" Apa nona! " ucap Pelayan odelia dengan mendengarkan majikanya
Dengan jelas odelia menunjukan jarinya ke arah lilin pemberianku kulihat pelayan a itu masih ragukan kejujuran ku.
" Kamu masih engga percaya. " Ucap ku dengan nada amarah
Aku menyodokkan semuanya ke depan mereka. Para pengawal sedikit menarik diri. Masih ragu dgn lilin itu
" Claude coba saja, pengawal juga dan kau juga " ucapku dengan nada menahan amarah.
Pelayan itu menunduk ketakutan dan.
" Aku inggin membersihkan nama ku " ucapku dengan nada serius
Melihat ragu pelayan itu langsung
Mengambil lilin itu dan menghirup nya
" Ini... Kamboja " Ucap pelayan itu setelah menghirupnya
" Iyah aku hanya menambahkan minyak bunga kamboja. Di dalam lilin itu. Kudengar Kamboja itu langka mungkin cocok untuk odelia.
" Jelas ku dengan nada bisa saja amarahku mulai reda
Pelayan itu tiba tiba bersimpuh di depan kedua pangeran
" Mohon ampun, yang mulia pangeran! Ampuni saya nona Frenessa. Tapi. Nona odelia tidak tahan dengan aroma Kamboja.
" Kamu engga tahan dengan aroma Kamboja " Ucap ku dengan nada lembut dan kaget pada odelia.
Aku kesulitan mencerna informasi ini situasi ini tidak masuk dalam prediksi ku.
" Apa itu benar odelia " Ucap Claude dengan nada kaget.
Odelia menjawab dengan nada anggukan. Wajahnya pucat sekali.
" Kalau begitu ini memang karena lilin ini. Tapi. Frenessa tidak bersalah tidak ada yang tau odelia tak tahan dengan aroma Kamboja. " Jelas pangeran Lee senang nada tegas
" Kalian juga tak perlu mecurigai siapapun lagi. " Ucap Claude dgn pada mereka semua.
Claude berkata pada pengawal oelia dan odelia untuk membawa dia pulang. Dia langsung membantu odelia berdiri dan menopangnya.
" Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Ayo ku antar ke mobil. " Ucap Claude dgn nada sedu.
Sambil mengantar odelia
Begitu mereka pergi aku menjatuhkan badanku ke kursi lututku Teresa lemas .
" Kupikir aku di penjara tadi. Dan kemarin terusan hampir masuk penjara tadi. Dunia apa ini kupikr aku jadi pemeran utama disinii' pikirku dengan mrsa pusing dengan hal ini.
" Minum dulu " ucap Lee dengan menenangkan diriku.
Aku mengangkat kepalaku. Dan menatap Lee yang sedang menenangkan ku.
" Terima kasih " ucapku dan aku pun meminum yang di kasih oleh Lee.
' kalau odelia tak tahan dengan aroma Kamboja artinya. Surat itu bukan dari dia yang mengirim.' pikirku dengan mengingat ngingat
Tepukan Lee di bahuku menyadarkan lamunan ku
" Masih kaget " ucap Lee dengan menatapku penuh tanya
" Maaf aku jadi mengabaikan mu. " Ucapku dengan nada sedu
" Tenanglah odelia baik baik saja " Ucap lee dgan nada menenangkan ku
" Kuharap begitu. Sebaiknya aku pulang hari ini melelahkan " ucapku dengan nada Yang aga sedu. Jauh merasa bersalah karena aku tak tau. Dan memutuskan pamit..
" biar ku antar sampai mobil " ucap Lee dengan nada mengajukan Dirinya .
" Hah engga usah aku kan di temani mbok. Rara " ucap Ku dengan nada Yang aga kaget
" Udah ayo aku sekalian mengecek prajurit di tempat latihan.
Tawanya tidak bisa lagi di tolak aku pun mengikuti nya kembali ke bangunan istana
Sambil menuju mobil kami cerita soal penyelidikan kasus ku.
" Sejujurnya saat itu aku merasa Buntu. Kita sudah menyelidiki banyak orang tapi belum ada juga titik ujung nya. Rara asa aku lagi bisa menemukan dalangnya. " ucap ku dengan nada sedu yang bingung
" Maaf kalau saja kami tidak kehilangan fotografer itu " Ucap Lee dengan nada merasa bersalah b
" Itu bukan salahmu! Kita terlalu meremehkan nya setidaknya aku yakin sekarang dalangnya bukan orang biasa " ucapku dengan nada senang. untuk menghibur Lee
Aku menggenggam tanganku gemas. Memikirkan kesulitan yang kulalui gara gara foto itu.
Lee mengangkat satu tanganku. Aku baru sadar aku meremasnya terlalu erat sampai telapak ku memutih.
" Tenanglah melampirkan begitu tak akan berhasil " Ucap Lee dengan nada khawatir
Setelah aku lebih tenang. Aku melepaskan genggamannya. Lee berjalan mendahului ku.
" Jangan terlalu dipikirin perkerjaan mu pasti banyak " Ucapku dengan nada lembut. Menghawatirkan dirinya saat ini.
" Aku akan membantu karena ini adalah wewenang ku. Kamu harus benar benar membersihkan nama mu." Ucap Lee dgn nada serius.
" Tapi aku engga mau merepotkan mu terus. Aku tau kita teman kecil tapi urusanmu sendri sudah banyak." ucap ku supaya dia mengerti
Lee lagi lagi menghentikan dirinya dan berbalik ke arahku. Tanpa berbicara apapun dia membungkukkan badannya. Sedikit hingga wajahnya persis di depan mukakku
Mbok Rara dan pengawal serentak membelakangi kami.
Frenessa.. ucap Lee dengan lembut
Deg deg
' terlalu dekat... Wajahnya terlalu dekat... ' inner ku merasakan hak ini
" Aku bukan membantumu bukan karena teman masa kecil. " Ucap Lee dengan nada lembut.
Deg deg
Jantungku bertahanlah ' inner ku berusaha ingin membuat jantungku tentang
" A+Apa " ucapku dengan gugup
" Biar ku perjelas bagiku kamu bukan cuma teman masa kecil. Kami... Special " ucap lee dengan muka merona di pipinya
Lee maju selangkah. Wajahnya kian dekat aku reflek menutup mata..
' jangan bilang dia mau... ' inner ku gugup
Deg DEG
KRIK KRIK
Setelah beberapa saat tidak terjadi apapun aku membuka mata.
' Dia prgi?! ' heran ku dia tak ada di depanku
Lee sudah jauh di depan. Aku cuma bisa melongo melihat punggungnya menjauh.
dia Dibalik lalu tersenyum mengejek
" Ngapain kamu diam " ucap.lee dgn mengejek
' frenessa bodoh! Tadi itu melakukan sekali ku pikir dia mau apa ' inner ku menahan malu dan mengutuk diriku.
Sebelum bertambah malu aku buru buru mengajak mbok Rara cepat pulang
Part 2
Sepanjang perjalanan pulang aku berusaha mengalihkan pikiranku. Kembali pada penyelidikan ku.
' lupakan Lee masih banyak yang lebih penting ' Inner ku melupakan kejadian yang tadi terjadi
' kalau odelia engga tahan dengan aroma Kamboja... Apa mungkin surat itu kan dasi odelia ' pikirku dgn memungkinkan
Tiba tiba telepon membuyarkan lamunanku.
🎥Claude : Kamu sudah pulang
🎥frenessa : Baru saja apa ada sesuatu
🎥Claude : Aku cuma minta maaf karena meninggalkan mu saat minum teh
Odelia jatuh sakit di istana. Setidak nya sebagai tuan rumah aku harus memastikan pulang dengan selamat
🎥frenessa : Sebenarnya aku maklum kok kalau kamu begitu. Kamu engga mungkin membiarkan odelia begitu saja. Nanti bisa jadi skandal percobaan pembunuhan putri seorang di istana.Kamu lihat Pelayan odelia tadi? Kupikir dia akan siap menerkamku
🎥Claude : Dia bahkan sudah siap mengeluarkan cakarnya tadi untuk menghabisi mu
🎥Hey. Terima kasih
🎥frenessa : Untuk ?
🎥Claude : Membuatku tertawa aku merasa lebih baik sekaran Hari ini memang melelahkan sekali istirahatlah...
Entahlah sejak tadi aku memikirkan mu soal pencuri roti
🎥 frenessa : Aku engga bermaksud membuatmu engga,
🎥 Claude : itu bukan salahmu. Syukur lah aku mendengar cerita itu
Aku harus prgi sampai jumpah di ibukota lusa.
Semoga Claude baik baik saja " ucapku dengan engga enak hati
Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela. Mobil melewati area area persawahan di dekat pasar
' menurut Claude. Kamboja itu bunga langka. Jadi harusnya ngga banyak yg punya ' Pikirku tentang bunga
' sepertinya aku harus memastikan siapa saja yg membeli bunga itu
Gumang ku akhirnya menemukan ide
" pak supir. Kita mampir ke toko Bunga besar di pertokoan sana " Ucapku pada supir yg mengendarai mobilku
" Baik. Nona, " Ucap pak sopir dengan nada sopan dan langsung Mengantarku
Sesampai di Di toko bunga sore itu tidak banyak pelanggan di Toko ini
Aku langsung mendekati bapa bapa di kasir yang ternyata pemiliknya
" Selamat sore nona. Bunga apa yg anda cari ? Ucap Pemiliki toko itu dengan ramah
Aku menceritakan inti tujuanku ke sana
" kudengar ini satu-satunya tempat yg menjual bunga Kamboja. Tolong beritau aku. Siapa yg membelinya Ucapku ku sebab meminta penjelasan siapa yg suka beli bung Kamboja
Pemilik toko langsung menghelang napas, penyesalan
" Maaf kelancangan saya, nona, tapi saya sangat berjaga kerahasian pelanggan saya. " Ucap pemilik toko itu dengan nada menyesal
' mulut bilang begitu tetapi ekspresi wajah nya berbeda Inner ku memang aku akan ketipu
' sejak tadi aku melirik lambang keluargaku ' pikirku menemukan celah
Aku meninggalkan kederetan bunga yang di pajang. Ku ambil satu lalu kembali ke kasir. Sebelumnya sebuah amplop berisi uang terselip di situ. sebuah
' mau dimana pun semuanya engga gratis batinku dengan menanak
Aku memasangkan senyum termanis ku
" Aku inggin membeli bunga ini " ucapku pada pemilik toko itu.
" Mohon maaf nona tapi buket bunga ini tak di jual " ucap pemilik tokok dengan meyesal
' kalau dijual ngapain di pajang? Bilang aja uangnya kurang. .masa aku harus mengunakan nama putri mahapati baru saja tadi aku ngomel ngomel ningrat yg semena mena. Tapi engga ada pilihan lain Inner ku merasa bersalah harus mengunakan nama ayahku
Aku memberi tanda supaya pria itu mendekat. Aku mencondongkan tubuh supaya bisa mendekat ke telinga nya
Ku bisiki dia
" kau tau siapa aku. Aku bisa saja menghancurkan bisnis mu kalau kau tak mu kerja sama loh "Ucapku dengan nada sinis & mengancam
" Sa-saya mengerti nona maaf kelancangan saya nona " Ucap pemilik toko dengan penuh penyesalan
' bagus sekarang dia kelihatan panik inner ku dengan hal tingkah ini baru nurut
Tangannya gemetar namun masih mengambil buket dan menyelipkan amplop ku ke meja kasir.
" Mohon tunggu sebentar " ucap pemilik toko itu
Pria itu masuk keruangan di belakang kasir. Sambil menunggu aku iseng melihat-lihat koleksi bunganya
' suatu hari aku harus membuatkan lilin aroma untuk pangeran Claude & Lee. Mereka banyak membantu ku sejak aku sampai di sini.' innerku senang
" Nona ini buket bunganya sudah siap " Ucap pemilik toko itu dgn ramah menyerah kan buket bunga nya
Aku berterima kasih padanya lalu sedikit menjauh
Kupastikan tidak ada yang satupun memperhatikan ku. Sebelum mem buka lipatan kertas yang terselip di antara bunga itu.
' benar kata Claude engga banyak orang yang membeli bunga Kamboja.
' Menurut pemilik toko hanya keluarga odelia dan istri ningrat lain yg membelinya. Aku harus memberitau ayah soal ini. ' ucapku sedikit tercengang.
Stelah dua hari sejak minum teh di istana. Nyatanya prediksi Claude tepat. Odelia sudah kembali sehat.
Sesuai instruksi raja menemani beliau mengunjungi desa desa di luar ibu kota.
Saat kami tiba kami disambut sorak sorak rakyat yang sudah menunggu
" Terang abadi bagi mentari pertiwi paduka raja
* Terang abadi bagi pangeran dan calon ratu.
Odelia sudah mendahului ku bergabung dengan pangeran Lee dan claude. Aku bergabung dgn mereka
' kamu engga lupakan acara amal yg kita adakan disini " ucap odelia dengan senang pada Claude.
" Tentu saja aku ingat " ucap Claude dengan nada Lembut
" sayang sekali waktu itu kami masih di perbatasan Lee " Ucap Odelia dengan menyayang kan Lee engga di sana
__ADS_1
'...' Lee hanya terdiam
" Maaf aku terlambat " ucapku langsung mendekati mereka
" frenessa darimana saja kupikr kamu kesulitan menemukan tempat ini " Ucap odelia dengan menasehati ku
Kelihatanya kamu sehat yah odelia " Ucap ku sembah bersyukur dia baik baik saja atas kejadian kemarin
Kami menyaksikan raja mendengar kan keluhan rakyat
" Aku akan mempertimbangkan ongkos angkut hasil panen. Memang akan sulit menjual kalau biayanya terlalu tinggi. " ucap raja dengan serius
' hebat sekali tempat ini kelihatanya semua wilayah sudah punya tempat penghasilan. Sejak tadi tak ada yg mengeluh kelaparan atau pengangguran. ' batinku kagum pada yang mulia
Raja memberi tanda. Dan rombongan lanjut menyusuri desa tersebut. Sang bupati sejak tadi lengket di samping raja menjelaskn
Ini dan itu.
Aku memilih aga di belakang bergabung dengan Noah.
" Kak jangah lupa tersenyum. Kamu engga mau mereka berpikir calon ratu judes " ucap Noah dengan memperingati ku
" Iya iya kau cerewet banget " batinku dengan Sebal
Sejauh yang kulihat daerah ini cukup sejahtera. Rumah rumah berdiri batu berjajar rapi. Dilengkapi hamparan sawah.
Aku ingat pertema kali aku tiba disini.aku terlihat konyol dan tidak masuk akal.
" Noah kalau telaga Bayung jatuh dari sini " ucapku dengan nada bertanya
" yah jauhlah masih satu jam perjalanan dari sini. Tapi siap siap kak nanti penentuan raja akan berlangsung disana. Mungkin penentuan ratu juga " Jelas Noah dengan singkat
" Secepat itu " Ucapku dengan terkaget dan
" Seleksi raja sebenarnya udah di mulai duluan mereka diberi tugas masing-masing satu wilayah " ucap Noah dgn jelas
" Kamu pikir kenapa kita ke desa? Ini kan desa Claude. Para pendukung Claude sudah ngatur.
" Ucap Noah dengan menjelaskan kenapa kita kesini
Keperhatikan para ningrat memang bersikap super ramah kepada claude. Bahkan ada yang mengelilingi Claude.
" Sebenarnya raja itu si tentukan dengan cara apa.? Ucapku dgn bingung
" Entahlah cuma empu dan raja yang tau " ucap Noah mengangkat bahunya
" Eh paman sudah memberitahumu " tanya Noah dengan nada bingung
" Soal " Ucapku tanya balik
" Nanti paling setelah ini dia akan menemui mu di rumah bupati. " Jelas Noah
' ada masalah apa yah ' inner ku mulai pikiran buruk nih
Sekumpulan ibu ibu meneriaki namaku. Aku melambaikan tangan dengan ramah. Dari balik dinding salah satu rumah sekelompok anak kecil berpakaian compang camping
Mengintip
Aku menyikut Noah dan memberi nya tangan .dengan dahulu.
" apa anak-anak itu penduduk desa ini juga " Ucapku dengan nada aga sedu
" Entahlah tapi kalau Iyah, bupati tampak lihai menyembunyikan nya Ucap Noah dengan tak tau tapi seperti mengejek bupati
Di depan rombongan sang bupati masih asyik menjilati raja dan para pangeran.
" Apa Iyah bupati itu Menyembuyikn warga warga miskin " inner ku dgn sebal ata tingkah ini
Aku mulai menghampiri anak anak itu tapi rombongan kerajaan sudah harus bergerak ke kediaman buapi
Tidak lama kemudian aku sampai di kediaman Bupati. Supir membukakan pintu Noah langsung lari meninggalkan
" Kak, aku cuci muka dulunya! Panas sekali hari ini " izin Noah padaku.
" Anak itu... udah dewasa. Calon empu masih tetap saja " ucapku dgn geleng geleng kepala
Saat keluar mobil ayah menghampiri ku dan meletakan tanganku di lengannya
" Kau sudah lelah? Ucap Mahapati dengan khawatir
" Engga terlalu yah cuma Noah benar..hari ini panas sekali. " Ucap ku dengan senyum
Ayah menyeka keringat di dahiku dgn jadinya
" frenesaa informasi kita sudah menyelidiki informasi yang kami berikan istri Ningrat yang kamu minta selidiki sudah setahun terakhir berhenti membeli bunga Kamboja Ucap Mahapati dengan jelas tenang siapa yang minta ku selidiki
" dulu suaminya sangat menyukai Bungai itu. Tapi semejak sumainya meninggal aku tidak membeli lagi bunga itu. " Ucap ayah dengan menjelaskan LgI lalu
' terlalu lama kalau sampai aroma masih tertinggal di barang barang
' pikirku dengan mengingat lagi
" Artinya odelia. Aneh sekali odelia engga tahan dengan bau itu. Tapi aku yakin yah hari ini aku mencium aroma itu lagi " Ucapku dengan nada yakin
Ayah menghentikan langkahnya dan menatapku Curiga
" Sebenarnya kamu bisa megetahui aroma kamboja ini.? Apa informasi ini bisa di andalkan sebagaii bukti? Ucap Mahapatih lagi nampak minta penjelasan dariku
" Percaya padaku yah aku bisa menciumnya biar ku buktikan " Ucapku dengan penuh yakin
Aku memusatkan penciuman ku pada ayah
" pantas tadi aku sarapan. Ayah sudah engga ada. Tenyata ayah jalan jalan dulu di taman. Aku tau ada aroma semak mawar dari tanaman kita di baju ayah. " Ucapku dengan tebakan benar kemana Mahapati prgi akhir akhir Jam ini
" Lalu sempat mampir di toko rempah di pasar, ayah sempat mengenggam bubuk kayu manis. aroma nya tercium dari ujung ujung jarimu ayah " ucapku dengan menebak lagi
" Bagaimana mungkin kamu bisa megetahui semua itu " Ucap Mahapatih dengan kaget dan bingung
" Sudah ku bilang, aku tau.
Ayah menatapku bolak balik dari atas sampai bawah seolah meyakinkan diri nya sendiri
" Ini aneh. Akhir akhir ini kami berubah lalu sekarang pencium an mu yang tajam " ucap Mahapati dgn bingung
" Ah, kalau itu biasa biasa ajah Ucapku dengan biasa ajah
Ayah menatapku dengan serius
Dan
" Hmm..sudahlah ayah harus kembali mendampingi paduka. " Ucap Mahapatih padaku dan lalu ia pun prgi
" Sebenarnya aku engga mau Menyembuyikn apapun dia baik sekali " batinku dengan engga enak
Sepasang tangan menyentuh bahu ku aku berbalik
" Claude! Kukira siapa? " Ucapku dengan kaget
" Maaf, aku membuatmu kaget. Yah semenjak acara minum teh aku selalu memikirkan cerita mu tentang anak yg kelaparan. Aku inggin membuktikan nya sendiri maukah kau menemaniku " tawar Claude dgn baik padaku
" Keluar dari rombongan? apa itu engga masalah ? " Ucapku dengan bingung
" Kita akan menyamar lalu menyelinap dan cepat kembali " ucap claude dgn nada Jeli. "
"Baiklah aku akan menemui mu " ucap ku dengan Senang hati.
" Kalau begitu gantilah bajumu aku akan menemuimu di belakang
" Setelah mendengar instruksi prgi Aku segara prgi mencari mbok Rara
Part 3
" Sekarang aku siap menyelinap bersama Claude " ucapku dgn yakin
Begitu aku sampai di belakang dapur tenyata claude sudah menunggu di dekat pintu keluar
' tanpa pakaian pangeran pun dia terlihat berbeda " batinku. merona melihat penampilan Claude.
" Bagaimana penampilan baru ku. " Tanya dia berpendapat padaku.
" Untuk sebagai penyamaran lumayan juga... Tapi kau yakin kita engga perlu di temani seorang Pengawal " ucapku dgn khawatir
Kalau prgi dengan pengawal kita takkan leluasa " jawab Claude dgn nada bisa.
Dia langsung menggenggam. Tanganku setelah memastikan tidak ada yg melihat. Claude menarikku keluar melalui pintu belakang
" Aku janji akan melindungi mu " Ucap claude dengan senang
Sampai menyusuri jalanan tadi dilewati rombongan kerajaan kali ini dengan berbaur ke para penduduk.
" Udah yah aku engga jalan jalan tanpa pengawal " Ucapku Merasa senang untuk sesaat aku bisa jadi rakyat biasa
" Ternyata semuanya terasa beda kalau begini. Ini pertama kalinya aku keluar ibukota tanpa iringan pengawal dan penjabat
Tanpa keberadaan raja, penduduk desa kembali ke aktifitas masing 2x
" Awas! " Teriak Claude padaku
Menarikku ke pelukannya untung saja kami tidak terjatuh
" Te-terima kasih " Ucapku dengan gugup
" Syukurlah kamu baik baik saja " Ucap Claude dengan lega
" Hmm.. Kamu sudah bisa melepas kan aku " Ucap ku Dengan canggung
Kamu berpisah dengan canggung
* Cieeee mesranya * ucap anak yg melihat kami
Berberapa anak berpakaian compang camping mengintip kami dari Balik dinding
' eh itu anak-anak yang tadi pagi?
Kaget ku menemukan anak itu lagi
* Lihat itu mereka dekat sekali * Ucap anak perempuan itu
* Kata kakakku ini namanya pacaran * ucap anak perempuan itu
' pacaran? Siapa? ' Innerku malu
* Pacaran? Oh aku mau nyoba * ucap anak laki laki-laki itu
Anak anak tadi menurutku berpelukan dan Claude sambil tert Awa dgn polosnya
* Yeah, sekarang kita juga pacaran * ucap mreka dengan polosnya
* Ciee pacaran pacaran * sorak sorak anak itu
" Hush! Anak anak jahil " ucapku dengan nada Malu
Aku berusaha menghentikan mereka aku melirik Claude berusaha melihat reaksinya di goda anak-anak seperti ini
" Kenapa mukamu jadi merah gitu ? " ucap Claude dengan nada jahil
" Hah? Merah? A-Aku .... cuma... Cuaca hari ini panas yah? " Ucap ku mengalihkan pembicaraan
Aku mengibas ngibas diriku. Seolah hari ini panas sekali Claude beralih pada anak anak itu
" Kalian semua mau kemana? " Ucap ku dengan nada bingung
Yang kelihatan pak tua di antara mereka menjawab kami.
* Kami kesini mau melihat pangeran dan putri * ucap anak perempuan yg lebih tua itu
* Iyah, tapi engga di bolehin sama om-om yang bawa tombak * ucap anak laki-laki itu
" Orang tua kalian kemana memangnya kalian boleh berkeliaran sendiri begini " Ucap Claude pada anak anak itu
* Ayah ibu lagu nyangkul di sawah malam baru pulang * ucap anak itu dgn tenang
" Rumah kalian dimana dik jauh? " ucap Ku dengan bertanya lagi
* Nggak ah, kak. Cuma di ujung desa, kok * ucap anak laki-laki itu
Aku dan Claude saling bertukar tatapan. Sepertinya pikiran kita sama
" Kalian hati-hati yah! Kakak prgi dulu " Ucap Ku dengan senyum
Anak itu berlari sambil melambai tangan ke arah kami
" Mreka warga desa ini juga ? " ucap Claude dengan bertanya - tanya
" Claude gimana kalau kita meninggalkan jalan utama lalu menuju ujung desa. Mungkin lebih banyak yang bisa kita lihat " Ucap ku dengan memberi ide
" Pertama kita mampir ke bawah jembatan dulu. Kita bisa mendengar langsung cerita warga harusnya mrka di sana " Ucap ku dengan mengusulkan
" Boleh karena ini perjalanan untuk mengamati rakyat, aku inggin lihat semuanya " Ucap claude setuju dengan usulan ku
Kami berbelok ke gang-gang sempit dan masuk.semakin dalam ke wilayah desa. Sesampai di sana kami kehabisan kata-kata
" Apa apaan ini ? " Ucapku Claude dengan terkejut
: Tuan, tolong kami, beri kami sekeping saja. Kami sudah lama tidak makan, sekeping saja, tuan... " ucap pengemis itu dengan nada memohon
Aku menyerahkan sekeping koin, pada pengemis itu. Begitu melihat ku memeberikanya para pengemis lain langsung mendekati kami
Claude menarikku supaya lanjut berjalan melewati para pedagang yg terkulai kelaparan
' bupati ini benar-benar menyembunyikan semua ini tadi! ' innerku sebal
" Claude- " Ucap ku menatap Claude sedu
" Orang orang ini hidup seperti mati mereka Seperti sudah menyerah padahal kerajaan sudah memberi bantuan makanan setiap bulan " Ucap Claude dengan jelas
Seorang penduduk mendengar apa yg dikatakan Claude dan membalas nya dgn sinis
" Bantuan? Tentu saja, tuan. Bantuan itu sampai dengan aman di gudang bupati " Ucap Penduduk dengan nada mengejek
Orang orang disekitar kami tertawa mendengar jawaban penduduk itu aku buru-buru mengajak Claude prgi
" Ngga mungkin ini konyol! Aku sendiri yg memerintahkan supaya bantuan itu di berikan. Mereka bahkan rutin melapornya " Ucap Claude dengan nada aga emosi
" Jadi selama ini-- " Ucap claude mulai bimbang
Claude tidak menyelesaikan perkataannya. Ia justru larut dalam pikirannya sendiri
" Claude tenang dulu ayo kita lanjutkan! Sebaiknya kita mengecek tempat tempat lain " ucapku berusaha menenangkan Claude
Setelah berjalan lama kami sampai di area ujung desa. Tidak seperti di sekitaran rumah bupati tadi, disini suasananya lebih... Menyedihkan ...
" Bagaimana didesaku masih ada wilayah seperti ini. Dinding mereka bahkan banyak berlubang gimana mereka bertahan dari cuaca dingin di musim hujan? " Ucap Claude dengan nada Sedu
Claude menyelusuri dinding salah satu rumah. Seolah membayang kan bertahan hidup di dalam sana.
" Claude kelihatanya anak anak tadi berasal dari sini " Ucap ku dengan nada pikiran yang sama
' padahal bupati tidur di kasur yang empuk dan hangat dilindungi pagar tinggi. ' innerku dengan sedu dan prihatin
Kami masih memperhatikan rumah rumah penduduk. Tapi tidak ada satu pun orang yang kami temui
" Frenessa, aku sadar aku engga tau apa-apa soal dunia luar. Itu kenapa aku berkerja keras selama ini. Supaya rakyat, hidup damai. Tidur nyenyak, dengan perut kenyang " Ucap Claude mulai menyadari apa kesalahannya
" Tapi aku enggak tau kalau masih ada hidup yg mengenaskan. Bahkan di desa di wilayahku " Ucap Claude dengan nada Menyesal
" Claude, ini bukan salahmu." ucap ku dengan nada lembut
' yang dibutuhkannya adalah teman curhat ' innerku dengan bingung
Aku meremas tangannya berusaha meguatkanya. Perhatianku terpecah seorang nenek-nenek menuruni jalan curam aku segera berlari menghampirinya
" Nek, hati-hati! Nenek bisa terpeleset " Ucap ku pada nenek tua itu dan menatapnya lembut
" Biar saya yang bawa kayu bakar nya Nek " Ucap Claude dengan menawarkan bantuan
" Terima kasih, nak, kalian baik sekali "' Ucap nenek itu dengan suara yang lemas
Claude langsung meletakan kayu bakar si nenek ke bahunya kami mengikuti si nenek
" Kenapa nenek harus mencari kayu bakar sendiri? Kemana anak nenek " tanya ku dengan bingung kenapa nenek ini engga dengan anak-anak nya
" Iyah, anak ku sedang di ibukota, sudah berbulan-bulan dia di sana " Ucap nenek itu dengan menjelaskan
" Tega sekali! Anak macam apa meninggalkan ibunya yg sedang tua sendirian di sana! " ucap Claude kesal dengan anak yg meninggal kan nenek itu sendirian
" Engga, nak, anakku terpaksa ke ibu kota untuk berkerja " Ucap nenek itu berusaha menjelaskan pada Claude
" Kenapa terpaksa nek? " ucap ku dengan tanya penasaran
Wajah nenek berubah murung matanya berkaca kaca
" Tuan tanah mengambil lahan kami dan memaksa kami untuk berkerja di sawahnya. Tanpa lahan kami tidak punya penghasilan. Gaji dari tuan tanah Juga kecil sekali " Ucap Nenek dengan nada menjelaskan
" Rakyat kecil seperti kami. Tidak bisa apa-apa di hadapan ningrat akhirnya anakku memilih pergi " Lanjut nenek itu dengan suara sedu
Claude cuma diam mendengarkan cerita si nenek, nenek itu. Berhenti di depan sebuah rumah. Claude meletakan kayu bakar di dapur.
" Terima kasih nak kalian sudah membantuku aku tidak punya apa apa selain air putih " Ucap nenek itu berusaha sedikit sopan pada kami
" Nggak usah repot-repot. Nek, kami harus prgi lagi " Ucapku dengan menggeleng & tersenyum
" Nek, kemana para penduduk disini? Kenapa semua rumah kosong? " ucap Claude dengan bertanya kemana desa itu begitu sepi
" Kalau jam begini mereka masih berkerja di lahan-lahan bupati sebagian ada yang bisa ke desa lain mencari peruntungan kelihatan nya kalian bukan dari desa ini? " jelas nenek itu dan mulai curiga dengan kami
__ADS_1
Aku cepat-cepat mengarang alasan
" Kami perdagang yang mau ke ibu kota, nek. Kebetulan saja kami lewat " Ucap Ku dengan menjelaskan
Kami pun berpamitan melanjutkan menuju perbatasan desa. Tidak jauh akhirnya kami sampai di sana dari kejauhan kami bisa mendengar gertakan Pengawal
" Minggir kalian! Kami mau pergi dari sini! " ucap penduduk 1 dengan nada kesal
' orang orang ini membawa tas-tas besar. Seprtinya mau prgi jauh ' Innerku dengan bingung
" Kubilang minggir! Kenapa kalian melarang keluargaku prgi?! " ucap anak penduduk 1 itu dengan aga kesal
" Ini titah bupati. Raja dan pangeran
Berkunjung tidak ada yang boleh pergi hari ini " ucap prajurit dengan nada Tegas
" Ada keributan apa ini?! " ucap Claude dengan tegas
Pengawal itu tampak mengenali kami..dia langsung mundur dan membungkuk hormat
" Terang- " Ucap Prajurit itu dengan gugup
" Kau! " ucap ku dengan menatap Prajurit itu untuk diam
Aku buru-buru memberikan tanda supaya pengawal diam. Pengawal ini langsung bungkam
" Tuan sepertinya orang yg berkuasa. Tolong kami. Perintahkan pengawal itu supaya mengijinkan kami keluar! " ucap penduduk 1 dengan nada Memohon
" Memangnya kalian mau kemana? " ucap Ku dengan nada bingung
" Ke desa sebelah tuan kami mau pindah ke sana. " ucap Penduduk 1 itu dengan jelas dan hampa
" Kenapa harus pindah dari sini? " ucap ku dengan nada tanya lagi
" Kami tidak punya pilihan lain, nona, di sini sudah sulit sekali hidup " ucap penduduk 1 Dengan nada memelas
" Panen saya selalu dibeli murah oleh bupati " Ucap Anak penduduk 1 itu dengan sedih
" Bukanya kerajaan sudah menetapkan harga pembelian setiap masa panen.? " Tanya Claude pada mereka semua
" Betul tuan, kami diancam oleh bupati. Kalau tidak mau menjual, tanaman kami akan di bakar oleh orang suruhan bupati " Ucap penduduk itu Dengan nada hampa
" Seorang ningrat mengancam rakyat? " ucap Claude dengan nada amarah
" Kami sudah tidak sanggup lagi." ucap penduduk 1 dengan nada pilu
" Yah tuan makanya kami inggin pergi ke desa pangeran Lee saja " ucap anak penduduk 1 dengan menjelaskan kemana dia pergi
' ??! Pangeran Claude Seperi terkena tamparan telat
" Desa.. Lee? " ucap Claude dengan sock di wajahnya
" Kenapa harus ke desa pangeran Lee " tanyaku lagi dengan hati-hati
" Setidaknya di desa sebelah kehidupannya lebih terjamin Pangeran Lee menerapkan pajak tinggi bagi ningrat. Lalu uangnya di gunakan untuk membeli makan rakyat kecil ." ucap penduduk 1 dengan nada menjelaskan
' nggak habis pikir ningrat-ningrat itu ternyata kejam sekali. Pantas aja Lee bilang jangan gampang percaya. ' Ucapku dengan nada yakin saat ini
" Sebaiknya kalian tenang dulu dan pulang kerumah. Aku yakin keadaan akan berubah tidak lama lagi " Ucapku dengan nada Memohon dan senyum lembut
Mrka masih meragukan perkataan ku tapi tidak berkomentar apapun
Sementara Claude tenggelam dalam pikirnya sendiri. Wajahnya tampak sangat tegang
Aku memutuskan mengakhiri petualangan kali ini. Aku mengajak Claude kembali ke kediaman buapi
Aku dan Claude menyelinap kembali kedalam rumah. Bupati sepanjang jalan Claude tidak bicara
Sama sekali
" hari ini tidak seperti yang aku pikirkan. Aku jadi sadar aku terlalu buta. Aku sibuk memperkuat hubungan dengan kerajaan lain " ucap claude dengan nada sedu
Namu. Lupa memperhatikan situasi dalam kerajaan ini.
" aku percaya niat mu baik. Kamu mencintai rakyatmu, dan itu membuatku terharu " Ucap Claude dengan menyesal
" aku selalu penasaran bagaimana mereka hidup. Akhirnya hari ini semua nya terjawab
Terdengar suara langkah kaki sepatu besi. Pengawal pribadi Claude menghampiri kami dengan Noah
" Kenapa anda prgi tanpa pengawal " Ucap Prajurit pada claude
" aku bukan mau menyusahkamu. Aku hanya mengecek situasi desa bersama frenessa, sudahlah, yg penting kami kembali dgn. Aman " Ucap claude dengan menenangkan mereka
Nosh menyikut pinggang ku dan berbisik
" Kak dari tadi aku mencapai mu kenapa engga pamit " Ucap Noah dengan nada sebal
" Maaf, maaf ada masalah?" Ucap ku dengan nada bertanya
" sebentar lagi waktunya permaisuri berkumpul. Aku bingung kakak menghilang " Ucap Noah dengan nada tenang
" Kembali lah, frenessa " Ucap Claude padaku agar kembali
" Ta-tapi kamu? " Ucapku merasa bimbang
" Aku inggin beristirahat di taman nanti menyusul. Terima kasih sudah menemaniku " Ucap Claude namun dengan sorot mata pilu
Claude menuju taman kediaman Bupati. Punggungnya menjauh tampak kesepian..
' seberapa besar beban yang di tanggung punggung besar itu aku rusak inggin meninggalkan Claude ' Ucapku dengan tak tegas
" Aku menyaksikan hal yana sama dgn Claude hanya aku yg bisa menghiburnya. Noah, kembalilah duluan. Tolong, buatkan aku alasan yah, " Usul ku pada Noah dan
Aku menitipkan bawaaku ke Noah lalu bergegas menyusul Claude ke taman
Di dalam median bupati aku menemukan Claude sambil menatap pepohonan
' sebaiknya aku menyapa Claude ' Pikirku dengan senang
Aku menyentuh punggungnya dgn lembut. Claude menengok dan tersenyum tipis
" Kau menyusulku.? " Ucap Claude dengan nada senang karena aku datang
" Aku khawatir padamu. Apa aku boleh duduk disini " Ucapku dengan sedu menatap Claude yang muram Dan tanya inggin duduk
Claude tidak menjawab tapi menggeser duduknya
" Kamu baik-baik saja? Maaf ya, hari ini kamu pasti lelah sekali. " Ucap Claude dengan nada Sedu melihat ku yang kelelahan
" Yang harus nya kwatir itu aku, Sejak di desa tadi, kamu kelihatan terpukul. " Ucapku tersenyum di saat ini dia masih mikirkan orang lain dan menatap Claude sedu
" Aku enggak percaya kamu harus melihatku yang seperti ini. " Ucap Claude dengan nada merasa bersalah
" Jadi begitu. " Ucapku berusaha untuk menyangkal
" Banyak hal yang terjadi tanpa sepengetahuan ku. Ucap claude dengan nada sedu dan lalu
" Sejak kecil aku di ajari untuk menjadi penguasa. Dilatih, banyak nada buku, bergaul dengan banyak orang. " Lanjut Claude dengan nada senang karena ini untuk rakyat namun
" Tapi itu sia-sia nyatanya aku cuma mengurung diri dalam sangkar emas. " Lanjut Claude kembali dengan raut sedu
" Sebetulnya aku juga punya pikiran yang sama tadi. " ucapku Sedu merasa bersalah
" Kamu memikirkan apa.? " Tanya Claude dengan inggin tau
" Aku merasa egois, Sebelumnya kukira aku menjadi calon permaisuri untuk kepentingan sendiri. " Ucapku dengan sedu mengingat hal lalu kemudian
" Tapi setelah bertemu orang-orang tadi, aku sadar harusnya. Harusnya aku bisa berbuat lebih banyak lagi. " Lanjutku dengan nada tenang dan juga masih sedu
" Harus aku juga turun ke jalan, bertemu orang-orang." Claude dengan nada Biasa saja
" Kamu juga engga bersantai santai selama ini, Claude, kamu berkerja keras supaya hidup mereka bisa damai." Ucap ku dengan berusaha menasehati Claude
Claude mendongkrak menatap pohon yg bertiup angin
" Lee benar. Aku terlalu mempercayai orang di sekitar ku. " Kau tau? saat ibuku meningga, hanya mereka yang aku punya. " Ucap Claude dengan nada sedu tak menyadari dari awal
" Waktu Ibunda Ratu memecat mereka, aku sangat marah. Sekarang aku mengerti kenapa dulu Ibunda Ratu berniat menjauhkan ku dari Ningrat-ningrat itu. " lanjut Claude Dengan sedu mengingat kejadian yang menurut nya tak mengenakan
" Aku menyesal. Semua ini awalnya gara-gara ceritaku soal anak itu. " Ucapku dengan menyesal harus nya aku tak memberitau ini
" Justru aku harus berterima kasih, Frenessa. Kamu mengajarkanku banyak hal " Ucap claude dengan nada menyangkal namun halus
Kami duduk dalam diam mendengar nyanyian jangkrik dan Anggin. Tiba tiba Claude berjatuh kan kepalanya ke bahuku. Rambut peraknya teras mengelitiki pipiku
" Maaf kelancangan ku. Tapi, sebentar saja. Pinjamkan aku bahu mu. " ucap Claude dengan nada gugup inggin bersandar di bahu ku
Aku pun hanya mengangguk dan
" Terima kasih, Frenessa. " Ucap Claude berterima kasih dan menutup matanya
Aku membiarkannya berisitirahat di bahuku. Suara jangkrik yang hilir mudik. Terdengar samar. Seprti musik latar.
Aku memberikan diri mengenggam tangannya kuselipkan jariku di jemarinya. Meski lirih aku masih bisa mendengar perkataan Claude dgn jelas
" Aku sangat beruntung memiliki mu. " Ucap Claude dengan senang bisa mengenalku
" Menurutku rakyat sangat beruntung, " Ucap ku dengan nada Tenang dan juga senyum
" Kenapa? " Tanya Claude dengan nada bingung. Kini tengah menatapku.
" Karena mereka punya sosok seperti-mu. Maka mereka masih punya harapan. " Ucap ku dgn nada bahagia di sini masih ada orang yg seperti dia
" Kamu ingat semangat anak-anak tadi untuk menemui pangeran mereka? " Tanyaku dengan tentang anak anak tadi
Claude mengangkat kepalanya matanya menatap matahari yg mulai tenggelam
" Lagipula Siapa peduli kalau kamu satu dua kali salah?. Kamu juga manusia, apa lagi kamu ini Calon Raja." Tanyaku lagi dengan nada biasa saja Dan membuatnya tak merasa bersalah
" Pengalaman kegagalan adalah guru paling berharga untuk kesuksesan. Justru itu, akan membuatmu menjadi raja yang adil dan bijaksana. " ucapku memberinya pepatah dan bujuk dua inti bangkit
" Makanya, kamu jangan menyerah.! " Lanjutku lagi dengan senyum penuh keyakinan.
Claude tersenyum dan bangkit. Lalu mengelap debu di pakaianya
" kamu ini Selalu tahu harus bicara apa untuk menghibur Seseorang, Baiklah! Mulai sekarang pekerjaan sesungguhnya baru dimulai " Ucap Claude dengan kembali Tersenyum
" Sudah banyak daftar masalah yg kutemukan tadi, menunggu diberes kan " lanjut Claude dengan menatap ku dengan semangat
" Syukurlah, kelihatanya aku gak perlu khawatri lagi. Kamu pasti akan menjadi raja yang jempol di masa depan. " Ucapku merasa lega dan dengan senang
Aku mengangkat dua jempol ku
" Jempol? " Bingung Claude dengan tindakanku
" Iya. Maksudku kamu akan jadi raja yang hebat.! " Ucap ku dengan senyum yang lembut dan menganggumu dirinya
DEG
" Dan di saat itu aku akan selalu ada mengingatkan mu " Lanjut ku lagi dengan wajah merona mengatakan kata itu.
Claude tersenyum manis
" Ah-Ayo! Raja sudah menunggu kita. " ucapku dengan nada mengelak tak menjadi canggung lagi.
Kembali kekediaman saat aku baru masuk rumah duduk. Ayah odelia yang pertama menyadari kedatang anku.
Part 4
Kembali kekediaman saat aku baru masuk rumah duduk. Ayah odelia yang pertama menyadari kedatang anku.
" Sepertinya Nona Frenessa sangat menikmati waktu rekreasi sampai lupa waktu. " Ucap Mentri candana dengan nada pelan
" Maaf atas keterlambatan saya. Paduka raja " Ucapku. Dengan nada Lembut.
" Kudengar kau kurang enak badan bagaimana sekarang " ucap Raja dengan menanyakan keadaanku.
' pasti ini alasan yang di buat Noah ' selidik ku dengan hal ini
" Berkat istirahat tadi. Saya sudah merasa lebih baik. Paduka raja. " Ucapku dgn menjawab Sopan.
" Syukurlah kalau begitu kemari la aku punya tugas untukmu " ucap raja menyuruh untuk menemuiku
Aku dan odelia pun mendekati raja
" Seperti yang kalian tau, negara kita terkenal dengan memproduksi bawang kualitas terbaik." Jelas raja dengan biasa
" Sayang nya itu. Itu hanya berlaku lagi bahwa putih dan merah. Sementara. Bawang Bombay terlupakan " ucap raja dengan nada Aga sedu.
' Sampai sekarang aku masih belum terbiasa dengan semua pebawangan ini. ' inner ku dengan hal ini.
" Aku inggin kalian membantuku mencari supaya bawang Bombay bisa laku di pasaran " ucap Raja dgn mengumumkan tugasnya
" Sekarang kebanyakan petani kita membiarkan Bombay membusuk dan menjadi pupuk. Kuberi kalian waktu satu Minggu datang dan berikan jawaban nya padaku. " ucap Raja dengan tegas
" Kami akan berusaha sebaik mungkin paduka raja. " Ucap odelia dengan yakin.
' Menjual bawang Bombay apa yg bisa kulakukan? ' pikirku dengan tugas ini.
Paduka raja mengobrol dengan bupati dan beberapa penjabat istana lainya
" Paduka raja. Dengar kerajaan akan segera menaikan pajak bagi para ningrat seperti kami. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tenang. " Ucap bupati dengan nada sedu yg di buat buat.
' dasar ular! Aku engga tahan dgn kelakuannya ' batin ku kesal dengan tingkah bupati busuk ini. .
" Saya rasa saking sulitnya tuan bupati sampai lupa memperhatikan rakyat. Bukan begitu tuan " Ucap ku dengan nada serius.
" Tentu saja itu tidak benar, nona. Rakya saja tercukupi.seperti yg nona lihat mereka juga senang sekali bisa melihat anda " sanggah bupati dengan bentakan dan mulai kembali tenang.
" Tentu saja tercukupi saya bisa melihat itu. " Ucapku penuh penekanan di kata tercukupi tapi dgn wajah sedu.
Lee tertawa terbahak-bahak dia mengibaskan tangannya. Seolah menegaskan kalau ucapan sang bupati baginya konyol
" Bukanya sudah sepantasnya. Kalian membayar lebih banyak? Toh kemudian yang kami berikan juga sudah banyak sekali " Ucap Lee dengan nada Aga tegas
" Anda tentu tidak keberatan karena hasil panen tahun ini meningkat pesat kan ? " Ucap Claude dgn nada menyingung
Bupati licik itu mengusap janggut nya. dia beralih pada paduka raja.
" Meski begitu biaya yang kami keluarkan yang naik paduka raja. Jadi kalau di hitung-hitungan. Para pedagang di wilayah saya. Sebelum nya nyaris merugi " ucap bupati dengan nada sedu yg sama lagi.
Tidak tahan. Aku berbisik pada Noah
' padahal hidupnya jauh lebih enak dari rakyatnya sendiri ' ucapku dengan berbisik dan aga kesal
' Hust, nanti mereka dengar ' Hardik Noah agar menghentikan ucapan ku.
" Saya rasa itu di sebut resiko. Jika inggin untung. Ya harus mau keluar modal. " Ucap Lee dengan nada mengejek
" Sudah cari uang di tanah kerajaan tentu kami juga boleh meminta bagian kami. " Tega Lee kali ini lebih serius.
" Anda terlalu berlebihan pangeran Lee. Apa sebagai rakyat. Saya tidak boleh menyampaikan aspirasi saya " ucap bupati dengan nada biasa
" Pajak yang sekarang sudah menyusahkan kami. Tapi sekalipun kami tidak mengeluh " Ucap Bupati dengan nada sedu dia buat buat lagi
Bupati itu melirik Claude jelas jelas mengharapkan pembelaan Claude tersenyum dingin
" tentu saja itu menyusahkan. Tapi menurut kerugian itu tidak sebanding dengan rakyat yang kelaparan. Sampai mengungsi. Ucap Claude dengan nada Aga tenang dgn sindiran
" Anda setuju kan. Tuan bupati Lanjut Claude kali ini wajahnya Serius. Dan menyindir tegas Bupati
" ... " Kali ini bupati terdiam seketika
Agaknya jawaban Claude mengejut Kan banyak orang termasuk. Raja & Lee.
' aku senang kamu sudah bangkit Claude ' batink dengan bangga atas Claude ini.
" Atau tuan bupati keberatan menyisihkan sebagian kekayaan tuan untuk membantu rakyat kecil? " Ucap Claude dengan nada serius
" T-tentu saja Ti-tidak, pangeran. Tapi tetap saja pajak itu Ucap bupati mulai Ketakutan. Dan mulai marah
" Cukup! apa maksudmu. Kamu punya masalah membantu rakyat supaya sejak tera. " Ucap raja dgn marah
" Sudah lah kita tidak perlu membahas ini. Aku belum menyetujui kebijakan ini. Kita bicara di istana "kali ini paduka raja yang menyela kami dan kami pun diam
Segera seisi ruangan bangkit mengantar raja.
' wah hari ini benar benar... Keringat ku sampai banjir begini saking tegang ' batinku mulai bernafas lega.
" frenessa.. " ucap Claude dengan memanggilku
" Yah " jawabku dengan senyuman
" Terima kasih sudah menemaniku hari ini. Aku menantikn petualangan kita berikutnya. " Ucap Claude dengan nada senang atas hari ini
Claude mengambil tanganku lalu mengecup punggungnya. Setelah itu pergi memasuki mobil kerajaan
Dari ujung mataku. Aku sempat melihat tatapan cemburu odelia dan Lee
' ku harap hari ini aku bisa istirahat. Pikirku lelah dengan semua ini.
Aku hanya menunggu sampai mobil keluarga kerajaan pergi. Sebelum mobilku. Itu menjemputku
Sebelum pulang ayah odelia menyapaku.
" Apa anda sudah bisa menyesuai kan diri dengan rutinitas seleksi " tanya Mentri candana dengan tegas
" Meski awalnya sulit. Sekarang saya sudah biasa " ucap ku dengan tenang.
" Memang semua ini bisa sangat melelahkan. Sama seperti mbantu tugas raja. Kadang kadang itu juga membuat saya tegang dan migran " ucap Mentri candana dengan nada aga sedu
Ayah odelia menceritakan sambil mengeluarkan sebotol kecil dari sakunya. Ia mengoleskan isi botol ke belakang telinganya. Segera saja aroma familiar menyerbu penciuman ku.
' tunggu aku kenal aroma ini... Kamboja?! pikirku. dgn nada kaget
__ADS_1
' dia dalangnya ' inner ku dgn kesal akhirnya ketemu juga
To be continued