
Cherpen 9
Part 1
Aku akan mengeluarkan diri dari seleksi dari permaisuri. Ucap odelia dengan Tegas
Sejak bertemu odelia aku tidak pernah membayangkan penawaran ini akan keluar dari mulutnya
Bisanya aku Sulit mempercayai pendengar ku
" Apa maksudmu mau mundur! " Ucap ku dengan nada tegas
" Kamu akan langsung jadi ratu. Aku minta ampuni ayahku. " Permintaan terakhirnya
" Sambil berkata seperti itu Odelia menuangkan teh kecangkirku yg kosong lalu menyodorkan nya
Tanpa harus di jelaskan aku mengerti kalau aku meminumnya artinya aku menerima tawarannya
" Aku tidak boleh merendah lebih dari ini tolong terima tawaran ku. ". Ucap Odelia dengan sedu
" Aku memandang secangkir teh itu. Baiklah akan
Kuturuti permintaan mu tapi kamu harus tetap ikut seleksi kalahkan aku dan jadilah ratu kerajaan pertiwi. " Ucapku dgn nada senang dan menantang
" Tapi. Kenapa? " Ucap Odelia sambil marah
Odelia tak menyelesaikan kalimat nya hanya tertegu menatapku. Dia tampak berpikir keras mulutnya terkunci rapat
" Sejak awal aku memang tak pantas menjadi ratu kerajaan ini. Niat awalku mengikuti seleksi demi mendapatkan kasih sayang ayahku. " Jelas odelia dengan menunduk
" Sejak kalah dari Mahapati Yudistira dia mengabaikan Keluarga nya " Ucap Odelia dengan nada menjelaskan dan sedu.
" Setiap hari dipikirannya hanya bagaimana bisa menjatuhkan ayah mu dari kursi Mahapatih kami tau rasanya bagaimana di abaikan ayah sendiri " ucap odelia dengan balik nanya tegas padaku.
" Aku- " ucap ku tak bisa menjawab saat itu aku berharap bisa memberitau odelia bagaimana perlakuan kedua orang tuaku yang lama .
Odelia menumpahkan semua cerita tentang ayah nya.
" Kupikir jika berhasil persembahkan mahkota ke pangku an nya sekali lagi dia akan memeluk ku dengan bangga.." ucap odelia dengan nada sedu
Mata odelia mengejap ngejap bulir air mata.. air matanya berjatuhan
" Odelia... Ini bukan salahmu. Ayahmu susah memilih jalan yang salah. Kamu tidak harus menanggung dosa yang dia buat.
Odelia mengigit bibirnya berusaha menghentikan tangis " biasanya aku pasti akan membantumu. Namun hari ini aku bahkan tak bisa menyangkal penilaianmu " ucap odelia dengan nada Biasa saja
" Banyak orang bergantung harapan nya padamu. " Ucapku dengan nada sedu dan berhenti berkata
Ada jeda sejenak. Ia tersenyum getir matanya menatapku lemah
" Memang kamu kira aku engga mau jadi ratu? Meskipun tak setuju dengan rencana mu aku sepakat Pertiwi memang butuh banyak pertanyaan berubah " ucap odelia dengan nada Gugup..
" Sejak seleksi berlangsung rasa cinta itu pada rakyat tumbuh. Aku juga inggin mereka hidup lebih baik. Tapi jika jadi ratu ayahku akan mengunakanku untuk menghabisi nya " jelas odelia kembali bersalah
Aku mengebrak meja " tapi kamu bisa mencegahnya. ". Ucapku dgn tegas
Aku lupa mengendalikan emosiku.
Kamu mulai menarik perhatian pengunjung kafe yang lain..
"..." Noah hendak menghampiri kami aku aku mengisyaratkan nya agar tak menganggu
Stelah mengirim senyuman tipis pada semua orang untuk minta maaf. Aku mulai mengendalikan emosiku.
Aku bangkit menyodorkan secangkir teh itu kehadapan odelia menantangnya balik
" Buktikan kata-kata mu! Kalau kamu mau melindungi ayahmu lindungi dengan tenagamu sendiri " ucapku dengan menantang
" Jika. Aku jadi ratu kupastikan ku gunakan keleluasaan ku untuk menyeret ayahmu kepengadilan jadi berhentilah bersikap menyedihkan seperti sekarang ! * Ucapku dengang nada tega
".... Odelia hanya tercengang " kenapa frenessa. Aku tak pernah bersikap baik padamu selama ini. " Ucap odelia dengan bingung
" Ini karena kita teman. " ucapku dengan senyum
" Sejak kapan aku menganggapmu teman. Di pergaulan Kelan atas tidak ada namanya 'teman' "ucap odelia dengan kaget dan jelas dia sambil muka merona
Mari lupakan semua pergaulan Kelan atas..aku melihatmu bukan sebagai nona ningrat tapi Odelia * ucapku dengan nada lembut dan senang..
" Odelia tidak berkata apapun tapi matanya menatapku lembut. Dia bangkit dari kursinya. Setelah membungukkan badan..ia bergegas meninggalkan kafe.
Secangkir yang ku sodorkan tadi si biarkan tak di minum..tapi aku merasa dia antara kami timbul sebuah pemahaman
Beberapa hari setelah pertemuan dengan odelia. Panggil kerajaan datang.
Raja akan menurunkan akan mengumumkan soal calon putra pangeran Lee " ucapku dengan kaget
' apa Lee benar benar akan di keluarkan dari seleksi ' pikiranku mulai kembali ke padanya
" Mbok Rara aku harus ke istana tolong bantu aku ganti baju. * Ucap ku pada mbok Rara
Baik non " ucap Mbok Rara melaksanakan tugasku
Kali ini aku mengunakan pakaian Casual blue Cloud simpel. Tapi elegan
" Kak udah siap mobil menunggu di depan " ucap Noah setelah mengetuk pintu kamarku
" Udah nih..ayo " ucapku dengan dan siap berangkat
Aku merangkul lengan Noah sambil berjalan ke depan
' tuhan. Lindungi Lee, " batinku dgn penuh harap kali ini.
Sesampai di istana para ningrat sudah berkumpul Dan membuat kelompok kecil
Mereka berbicara kira kira paduka raja untuk anak bungsu nya.ku amati orang orang aku tidak menemukan odelia
' masa dia serius Mundur dari seleksi ' pikirku. mulai sedu lagi
Aku masih mencari ketidak hadiran odelia. Tiba-tiba seseorang menyentil dahiku.
" Lee " Ucapku dengan nada aga marah
" Hai, " Ucap Lee dengan menyapaku
Lee kemudian tersenyum mengejek kemunculan nya membuat seisi ruangan bergunjing tapi dia kelihatan cuek
" Memikirin apa? " Ucap Lee dgn nada bingung
" Ah, engga. Ini bukan waktunya kamu menghawatirkan orang. Kamu baik baik saja? " ucap ku dengan nada khawatir
" Memangnya aku kenapa? " tanya Lee berusaha Percaya diri
" Dasar sok kuat " Ucapku dengan nada mengejek
Lee mengamati para ningrat yang sudah hadir. Aku tidak bisa menolak apa yang di pikirkan ya
" Aku engga berharap apa-apa dari pertemuan ini ' Ucap Lee dengan nada biasa tapi sedu
Tiba-tiba Claude muncul dari belakangku merangkul adiknya,
" Enggak berharap apa-apa , apanya ?. Sejak pagi dia masih berlatih memanah berjam-jam. Apa lagi kalau bukan kamu gugup " Jelas Lee padaku dan sambil mengejek nya
Lee menyikut Claude dan melepaskan diri dari rangkulan kakaknya itu.
" Biasanya aku juga latihan pagi-pagi " Ucap Lee dengan menjelaskan dan menatap kakaknya dengan tatapan horor
" Matahari dan rembulan Pertiwi memasuki ruangan singgasana!." ucap sekertaris kerajaan mengumumkan kedatangan raja & ratu
Tapi sebelum raja dan ratu memasuki ruangan singgasana, odelia akhirnya datang. Dia langsung bergabung dengan ayah dan kubu penduduknya
Untuk sesaat kami bertatapan dan saling mengangguk kepala
'... Odelia hanya diam saja
' akhirnya kamu datang ' Inner ku senang dia masih di sini
Semua ningrat menyambut dari para ningrat mengembalikan pada agenda penting hari ini
* Terang abadi bagi matahari dan rembulan Pertiwi
" Aku sudah membaca laporan kalian tentang Lee dan di anggap memper sulit ningrat. Jadi kalian mau dia keluar dari seleksi dan usulan kenaikan pajak ningrat di usulkan nya di gugurkan " Ucap raja dengan jelas
" Aku mau mendengar pendapat dari para calon ratu tentang hal ini." ucap raja dengan nada menatap aku dan odelia.
" Ya? " ucapku dengan heran dan menatap raja
" Aku hanya inggin mendengar pendapat kalian apakah Lee pantas di pertahankan " Ucap raja dengan bertanya
Paduka raja menatapku dan odelia bergantian
" Menurut saya emosi pangeran Lee memang menjadi kekurangannya paduka, tapi pangeran Lee selalu serius memikul tanggung jawab demi rakyat dan kerajaan " Ucap odelia dengan nada jelas dan percaya diri
Raja mengalihkan tatapannya kpda ku. Sudah waktunya aku menjawab
" . Menurut saya pangeran Lee. Pangeran Lee sangat mencintai rakyatnya, paduka. Dia mau pasang badan melindungi anak kecil yang mencuri karena kelaparan. Semata mata karena hatinya tidak tega membiarkan anak itu dipukul. " ucap ku dengan nada senang dan lembut
' .... Lee hanya tersenyum saja
" Begitu yah, jadi itu pendapat kalian. Aku sudah memutuskan " Ucap raja dengan nada menimbang
Seisi ruangan tegang menantikan keputusan raja. Para ningrat yg mengajukan petisi Saling Lirik
' tuhan, lindungi Lee... " Inner ku dengan berharap
" Lee akan tetap mengikuti seleksi " Ucap raja dengan memutuskan
" Syukurlah " Ucapku dengan lembut
" Tapi aku menolak usulan kenaikan pajak, ningrat yg di usulkan Lee " Ucap Raja dengan nada syarat
Aku melihat Lee saat Claude menepuk bahu nya untuk memberi semangat. Aku berbisik pada Lee
" Sayang sekali, padahal kami sudah mempersiapkannya sejak lama " Ucap ku dengan nada cemas
Lee tersenyum tapi sorot matanya terlihat jelas kecewa
* Paduka raja apa alasannya paduka menolak untuk kenaikan pajak yg digunakan untuk rakyat kecil. Selama ini para ningrat sudah menikmati berbagai kemudahan yg diberikan kerajaan. Dan panen tahun ini pun melimpah
" Aku belum selesai. Sebagai gantinya aku Akan menaikkan standar hasil panen. Kalian tidak boleh membeli hasil Pertiwi dibawa harga yg sudah ditentukan " Jelas paduka raja pada sang akademis
' kalau kebijakan itu di terapkan rakyat tetap bisa lebih sejahtera ini sama saja dengan tujuan Lee tercapai ' innerku dengan senang Tujuan Lee tercapai
Gerombolan penolakan dari Para ningrat tuan tanah tidak bisa di lagi di cegah
- Paduka! Apa maksudnya ini
* Ini hal yang mustahil, apalagi paduka tiba-tiba kenaikan harga. Beli ini mereka sulit, paduka
* Saat ini saja kami harus menanggung ongkos pengiriman yg membengkak
Aku mengamati Satu persatu orang yg hadir, mencoba menghapal mereka yg.menolak keputusan itu.
' benar benar yah, ningrat-ningrat rakus, ' Inner ku dengan kesal para ningrat yg menolak
* Mohon pertimbangan keputusan nya paduka
Raja mendengar protes para ningrat dengan bosan dari singga sana
" DIAM KALIAN! Apa kalian belum mengerti kalau perintah, bukan negosiasi ? " ucap raja dengan nada marah dan tegs
Seisi ruangan menjadi hening tidak ada lagi yg Bernai menentang lagi
Ku dengar di masa bungkamnya, paduka raja sangat di takuti karena tidak segan menghabisi siapapun yg menentang
" Pantas saja dia jadi raja " Inner ku dengan aga takut
" Kuharap kalian sudah mengerti kalau begitu, segera disiapkan semua detailnya, lalu laksanakan! " Ucap raja dengan jelas
Setelah paduka raja dan ratu prgi. Sebagian ningrat yang tak puas memilih pergi. Lee harus meladeni penjabat sekutunya
" Jangan khawatir dia akan baik baik saja " Ucap Claude dengan nasehatku
Claude sudah di samping memandangi Lee. Aku merasa kalimat tadi di ucapkan untuk diri nya
" Ini juga berkat bantuan mu kamu yg menggerakkan para akademisi supaya bersuara " Ucap ku dengan nada senang Claude membantu
" Seenggaknya itu dibisa dilakukan olehku sebagai kakak. Selama ini aku selalu menutup mata terhadap apapun yang terjadi pada Lee. " ucap Claude dengan nada biasa
" Jangan menyalahkan diri sendiri " Ucap ku dengan nada tenang
" Kelihatanya kamu benar-benar sudah pulih. Masih suka mimpi buruk kalau malam? " ucap Claude Pada ku peduli
" Udah lama aku engga mimpi buruk aku takut kenangan itu akan kembali " Ucap dengan nada optimis
" Tenang saja, aku percaya kamu bisa melewati semua ini. Kalau begitu boleh aku mengajakmu berpetualang lagi " Ucap claude dengan percaya
" Ha? Berpetualang? " ucap ku heran dengan muka aga merona
Dia meraih tanganku, aku penasaran tuan putri Petualangan apa lagi yang akan kamu tunjukan padaku
Sambil berkata seperti itu. Dia mengecup punggung tanganku dgn lembut. Di kejauhan. Aku melihat Lee menatap kami dgn pandangan cemburu
'... Muka Lee menjadi masam
Aku membungkuk badanku. Dan berpamitan pada Claude
" Sampai bertemu lagi, frenessa " ucap Candana padaku biasa
Keluar dari ruang singgasana aku berpapasan dengan Odelia dan ayahnya. Aku tersenyum pada odelia. Meski dia mengabaikan ku
' terima kasih untuk tidak mundur odelia ' batinku dengan menatap odelia senang
" Selamat siang, nona Frenessa. Senang sekali melihat nona dalam keadaan sehat. Akhir-akhir ini banyak desas-desus soal keamanan kerajaan. Anda harus lebih hati-hati " Ucap Mentri candana dengan nada intimidasi
' Rubah tua licik itu!! ' inner ku dgn nada marah
Setelah berkata begitu. Dia berjalan melewati. odelia mengikuti dia belakangnya dengan patuh.
Meski berusaha kuat aku mengakui senyuman liciknya dan nada mengintimidasi nya untuk membuat ku gemetar
' Frenessa kenapa kamu masih takut sama dia? Kuat Frenessa, kuat! Berhentilah diam! ' innerku menguatkan diriku
Aku memutuskan berbalik mengejar mereka,
" Menteri candana! " ucap ku dengan nada tegas
" Ah, anda yang bisa saya bantu nona Frenessa
Aku menyerahkan selembar surat yang didapati di fotografer surat yang beraroma Kamboja
" Kurasa ini milikmu " Ucap ku dengan nada Terang terang gan
" Saya tidak mengerti maksud anda " Ucap Mentri candana dengan berbohong
" Sebaliknya aku rasa kau tahu maksudku. Ini surat yg kamu kirim ke si fotografer itu. Isinya perintah untuk mengawasi ku, dan mencari bahan untuk memfitnahku " Ucap ku dengan menjelaskan
" Atas semua yg kau lakukan kau berutang maaf padaku. Kuberi kesempatan minta maaf. Aku masih percaya manusia bisa berubah. Kau tau? Aku bisa melaporkanmu pada Paduka raja kapan aja " Ucap ku dengan nada tenang dan menatap nya serius
Ayah odelia maju ke hadapanku dan memandangku dgn pandangan merendahkan
" Coba saja, seprtinya nama keluarga Yudistira membuatmu sombong! " ucap Menteri candana dengan nada merendah kan kub
" Frenessa, kemarilah " Panggil mahapati padaku dari jauh
" Ayah!? ' Ucapku dengan heran dia tiba-tiba datang
Aku menoleh dan ayah sudah berjalan ke arah ku. Dia segera menarikku ke belakang nya, dan menghadapi menteri candana
" Selama ini aku membiarkanmu tapi sepertinya. Kamu lupa dimana posisimu. Jabatan kebangsawanan mu itu Mentri, sedangkan aku Mahapatih " Ucap mahapati dengan nada menyindir
" Sehelai rambut saja kau sentuh putriku. Akan kuhancurkan keluarga Candana " Ucap Mahapati dengan marah
" Ayah! " ucap ku dengan kaget
" Maafkan kami, Mahapatih " Ucap odelia dengan nada Sedu
Menteri candana mengepal tangannya. Wajahnya memerah menahan marah
" Odelia, kita pulang ! " Perintah Mentri candana pada odelia
Tapi odelia tidak langsung mengikuti ayahnya. Dia beralih padaku.
" Jangan sampai menolak tawaran ku. Aku pasti akan mengalahkan mu " Ucap odelia dengan percaya diri
Ku sodorkan tanganku untuk bersalaman dengan odelia.
" aku menanti kan penampilan terbaik " Ucap ku dengan tak kalah Percaya diri
Setelah odelia prgi, ayah yang tadi begitu marah ini menatapku dgn. Pandangan bertanya-tanya
" Sejak kapan kamu dan odelia jadi akrab nak, " Tanya Mahapatih dengan lembut
Ku pandangi sosok odelia yang semakin menjauh.
__ADS_1
" Kami engga akrab, yah. Cuma sekarang kami sudah memahami nya " Ucapku dengan memandang punggung odelia
Bulan bulan berikutnya. Kami bersama disebutkan dengan seleksi. Aku senang odelia membuktikan kata-kata. Tidak sekalipun dia mengecewakan ku
Tes demi tes Untuk membuktikan kami layak menjadi ratu. Kadang kami harus berkerja sama menyiapkan penyambutan dan utusan kerajaan lain
Seleksi raja pun semakin sengit Claude berkerja keras menyelesai kan masalah di desanya, Lee yg lolos dari petisi juga memperbaiki hubungan dengan para ningrat dan mulai mendapatkan dukungan mrka
Part 2
Tidak terasa penentuan hari penentuan raja dan ratu Pertiwi pun tiba mata. Pagi-pagi mbok Rara sudah membantu bersiap-siap.
Noah melongok kan kepalanya lalu masuk
" Sudah siap, kak? Kita harus berangkat soalnya perjalanan telaga lumayan jauh ' Ucap Noah padaku
Aku mengangguk pada Noah.
" Rasanya aku engga percaya ujian terakhir berlangsung hari ini " Ucap ku dengan nada tak percaya
" Tenang selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik, kok." ucap Noah dengan senang
" Aku akan naik ke tahta itu. Aku engga akan kalah dari odelia " Ucap ku dengan percaya diri
" Tentu saja pokonya apapun yg terjadi bagiku kamu yang terhebat! Nomor satu diseluru kerajaan " Ucap Noah dengan bangga
" Tapi kenapa ujian berakhir di telaga? " tanya ku pada Noah
" Wajar kok, dari dulu begitu di sana kan tempat sang hyang pertama kali nya memberkati kerajaan Pertiwi. Ada candi juga disana " Ucap Noah dengan jelas
' Candi suci, rasanya terakhir kali aku kesana aku engga lihat candi.' pikirku dengan bingung
" Kamu engga menelepon para pangeran dulu ? " ucap Noah dengan nada mengejekku dan bertanya
" Ngapain? " ucap ku dengan nada biasa
" Ngasih semangat gitu sebelum ujian akhir? Atau.. bilang cinta juga boleh. " Ucap Noah dengan jahil
" Apa sih? Calon empu, ngomong cinta-cintaan " Ucap ku dengan sebal
Panggilan telepon dari Claude masuk
" Tuh kan, ada yang kangen juga, " Ucap Noah dengan nada jahil lagi
Aku melototi noah supaya diam
Lalu aku pun angkat
🎥 Claude : Sudah sudah berangkat
🎥 Frenessa : aku masih dirumah
🎥 Claude : aku di rumah peristirahatan ku. Mau mampir? Kamu bisa minum teh
🎥 Frenessa : Hmm.. aku engga bisa janji. Ayah tadi minta bertemu sebelum seleksi dimulai
🎥 Claude : ah, begitu. Aku akan menunggu seleksi berakhir disini. Kalau ada waktu mampir lah
🎥 frenessa : oke, kalau sempat aku mampir
🎥 Claude : Sampai ketemu frenessa
Baru saja Claude menutup teleponnya. Handphone ku sudah berbunyi lagi
📩 Lee : Dimana? aku di telaga
📩 frenessa : masih dirumah cepat banget sudah sampai di telaga
📩 Lee : aku mau jalan-jalan sebelum seleksi cepat ke sini aku tunggu
Aku pun menutup SMS ku dan ponselku lalu
Dia ngajak atau merintah Sih? ' innerku dengan tingkah Lee yang meng SMS ku
Noah puas mentertawakan ku
" Sudah Sana temui mereka..masih ada waktu kok paman pasti nggak keberatan kalau kamu menemuinya " Ucap Noah dengan menasehati ku
Untuk terakhir kalinya aku memikirkan penampilan ku
' sudah sempurna tujuan sekarang mampir ke rumah Claude " inner ku dengan percaya diri
Kedatangan ku di sambut senyum cerah Claude. Dia membimbing ku menuju sofa ruang tamu. Anggin membawa aroma semak mawar masuk melalui jendela
" Kupikir kamu enggak akan datang " Ucap Claude dengan nada senang dan aku datang ke tempatnya
" Mana mungkin aku melewatkan undangan minum teh seseorang pangeran " Ucap ku pada Claude dengan gurauan hal lain
Tawa Claude pecah mendengar ledekan ku. Teh di hindangkan setelah itu para pelayan meninggal kan kami berdua
" Akhirnya kita bisa berdua. Entah gimana, setiap bersama mu, aku lebih bisa jadi diri sendiri " Ucap Claude masih senyum bahagia
" Kuharap aku membawa pengaruh baik untukmu " Ucap ku dengan Senyum dan
" Sudah lama Sekali yah... " lanjut ku dengan nada Mengingat kenangan di sini
" Iya, aku juga Nggak nyangka sudah berbulan-bulan sejak pertemuan pertama waktu itu. " Balas claude dengan nada senang dan senyum padaku
" Sekarang seleksi malam hampir selesai " lanjut ku lagi dengan senyum senang
" Aku memikirkan banyak hal tentang masa depan... stelah seleksi ini. Aku membayangkan akan jadi ratu seperti apa kamu, ketika aku jadi raja " Ucap Claude dengan nada Berpikir dan membayangkan yang akan datang
" Ratu...? Biasanya kamu engga membicarakn hal-hal yang belum pasti " Ucapku dengan heran dan bingung
" Aku nggak yakin seleksi berakhir bahkan masih nanti. Sampai di titik ini saja, aku sudah bangga " Lanjut ku lagi dengan nada tenang dan mulai mengenal Sisi Claude
" Frenessa aku tau sejak awal kamu bisa jadi ratu. Dibayanganmu, bagaimana kamu inggin di kenal sebagai ratu " Ucap Claude dengan nada yakin dan bertanya padaku
" Aku inggin jadi ratu yang paling bijak. Aku inggin orang meningat ku dan melihat semua yang akan ku lakukan selama ratu lalu berpikir " Ucap ku dengan nada tenang dan
" Ratu Frenessa selalu tau apa yang harus di lakukan " Lanjut ku dengan yakin nada Yakin
Claude tersenyum tipis
" Aku yakin kamu bisa menjadi pemimpin yang baik " Ucap Claude dengan nada yakin
Aku dan Claude sama sama tersenyum memandangi photo ibunya
" Hey, Claude maukah kamu memperkenalkan ku pada ibumu " Ucap ku dgn nada harap bisa di kenalkan oleh Claude tentang ratu pertama
Claude mengajakku ke depan photo ratu pertama. Ia tidak melepaskan genggaman nya
" Kamu masih suka merindukannya " Tanyaku dengan nada tenang dan menatapnya penuh arti
" Lebih yang dari bisa ku ungkapkan Frenessa, seingat ku dia suka sekali menghabiskan waktu di sini " Ucap Claude dengan nada senang dan tenang lalu
Aku meremas tangannya
" Dia akan mengijinkan ku menemani nya, saat itulah aku bisa jadi anak biasa, bermain, berlari. " Ucap Claude dengan mengingat kenangan nya
" Kedengaran nya menyenangkan " ucap ku dengan senyum senang
" Dulu aku sering memandangi photo ini sendiri. Bicara padanya, kadang berharap dia akan dia akan menjawabku. " Ucap Claude meningat waktu dia dulu
" Ibu mu pasti akan sangat bangga melihat mu di atas sana Claude, " Balas ku dengan penuh yakin
" Rasanya Ku inggin memperkenalkan kalian secara langsung " Ucap Claude dengan nada dengan nada harap
Claude meletakkan tangannya di pinggang ku, lalu menumpukan di bahuku
" Dia pasti akan menyukaimu " ucap Claude lagi dengan nada senang dan tenang
" Kenapa kamu seyakin itu " Ucap ku dengan nada aga yakin.
" Karena anaknya menyukai mu " Balas claude lagi dengan nada penuh ketulusan
Claude mempererat pelukannya aku memperbalik tubuhku menghadapinya
Aku menarik mendekat, ku kecup pipinya
"?!! " Claude yang sendri menyadari nya pun hanya kaget
" Hahaha! Lihat wajahmu. Aku berhasil mengagetkan mu, ya.? " Ucap ku dengan tawa senang bisa lihat saja blusing lagi sejak lama
" Frenessa... " Ucap Claude dengan nada seram dan mata tajam
CUP
Tiba-tiba Claude menoleh dan menciumku
Bibirnya menempel dengan lembut. Mengalihkan kehangatan yang menjalar di hatiku
Jantungku berkerja lebih cepat. Aku tidak menyadari apapun lagi. Pikiranku terpusat pada Claude
Claude akhirnya menaikkan diri nya
" Frenessa, Jangan menggodaku. Aku juga laki-laki " Ucap Claude dengan nada serius dan tak main-main
'... Lagi aku hanya bisa terdiam dgn muka merona
Claude mempersilahkan orang itu masuk
" Yang mulia , ada hal yang kami bicarakan sebelum seleksi " ucap Akademis pada Claude
" Aku akan menemui kalian " Sanggah Claude dgn tegas
Claude berbalik padaku dengan wajah penyesalan
" Sayang sekali, aku harus meninggal kan mu, biar pelayan menyediakan teh lagi? Aku tidak akan lama " Tawar Claude dgn memohon
" Aku baik-baik saja, aku Juga harus mempersiapkan diri untuk seleksi " Ucap ku padanya agar tak merepotkan
" Kita bertemu lagi di telaga " Ucap Claude dengan nada senang
" Sampai ketemu lagi " ucap ku dgn senyum
Noah menjemputku kami meninggalkan kediaman ruang Claude
Tiba tiba pesan muncul
📩 Lee : Udah sampai dimana
" Non kita kemana sekarang " Ucap pak supir padaku
" Kita ketelaga menemui pangeran Lee ' balasku dengan baik
Mobil tempat berhenti di jalan menuju masuk menuju telaga. Aku menemukan Lee duduk di pinggir telaga.
Para pengawal dan pelayan yg mendampingi nya berdiri tidak jauh dari situ. Saat aku mendekat Lee meraih dan menyadari kedatanganku
" Lama banget " Ucap Lee dengan nada sebal padaku
" Aku udah cepat-cepat ke sini. Bawel! " Ucap ku dengan nada Kesal dan juga sebal
Lee mengisyaratkan ku untuk mendekati nya
" Kamu lagi lihat apa? " Ucap ku dengan. Tanya pada Lee sedang apa
" Teratai, waktu Ritual terakhir mereka belum mekar. Ibuku Blang bunga ini banyak tumbuh di tempat kelahiran nya. " Jawab Lee dengan nada menjelaskan
Aku memperhatikan bunga-bunga teratai yang mengambang di telaga
" Aku selalu suka bunga teratai. " Ucap ku dengan senyum lembut
" Kenapa? " Tanya Lee dengan bingung tapi masih datar
" Bunga butuh dirawat, air bersih, di pupuk " Ucap ku dengan jelas dan tenang namun
" Tapi terasa justru akan semakin cemerlang jika jika ada dalam air berlumpur " Lanjut ku lagi dengan menatap tertawa dengan lembut
" Betul-betul bunga yang tangguh " Ucap Lee dengan nada setuju pendapat ku
" Setelah seleksi, kamu mau apa ? " Tanya Lee padaku setelah semua ini
" Jujur aku belum memikirkan nya mungkin serius memulai bisnis. Usul ibumu supaya aku memproduksi lilin aroma menarik juga " jawab ku dengan nada serius untuk melanjutkan rencana ku
" Kupikir aku akan membicarakanya dengan ayah setelah seleksi. " Lanjut ku dengan nada senang dan pecaya diri
Lee tersenyum dengan jawabanku
" Aku yakin lilin aroma mu akan di gemari banyak orang. " Ucap Lee dengan penuh keyakinan
" Pada akhirnya kita kembali lagi ke sini " Ucap ku dengan nada Mengingat kejadian silam
Ingatan saat pertama kali aku menginjakan kaki di kerajaan ini tiba-tiba muncul
" Waktu itu aku basah-kuyup, sampai sampai orang enggak percaya aku putri Mahapatih " Ucap ku dengan nada tenang dan dan meningkat waktu itu
" Untunglah mereka memujamu sebagai Dewi, bukannya kabur karena mengira kamu hantu penunggu telaga " Ucap Lee dengan nada mengejek kku
" Huh! Sembarangan! Apa aku kelihatan Seperti Hantu? " Ucapku dengan sebal dengan perkataan sakral Lee.
" Daripada hantu, kamu lebih Kaya kucing liar yang basah. " Ucap Lee dengan nada senyum kecil
Mau tidak mau, aku merasa geli mengingat kondisiku hari itu. Anggin bertiup kencang. Lee melirik ku. Lalu memakaikan jubahnya padaku
" Dulu kamu juga meminjamkan jubah mu. " Ucap ku mengingat kejadian lalu
" iya. Tapi seseorang kelihatan ya nggak berterima kasih. " Balas Lee dengan nada mengejek lagi
" Hey aku sudah berterima kasih padamu waktu mengembalikan jubahmu. " Ucap ku dengan nada sebal mengingat kan Lee
Jari ku memainkan. Jubahnya yg menyelimuti tubuhku aku merasa seolah Lee memelukku langsung
" Dulu kamu bilang kamu enggak meminjamkan jubahmu ke sembarang orang. " Ucap ku dengan nada senang dan ingat
" Ya, kamu... Kamu kurasa bukan lagi sembarangan orang. " Balas Lee dengan nada serius lalu dengan senang
Lee tidak berkata lagi tapi matanya seolah mengatakan banyak hal. Dia tiba-tiba meraih bahu ku. Dan mendorong ku ke tanah
BRUKK
Paya pelayan dan penjaga kami serentak membalikkan badan untuk memberi kami privasi
" Lee... " Ucap ku dengan kaget dan bingung
" Saat ini saja, aku nggak mau memikirkan masa depan. Setelah hari ini kita nggak tau apa yg akan terjadi " Ucap Lee dengan nada serius dan memikirkan hal yang akan datang
" Kupikir mungkin aku jadi raja dan ratu, mungkin juga... Tidak " Lanjut Lee dengan Serius dan tegas
DEG
Jari Lee bermain di ujung rambutku. wajahku memanas
" Kau membuatku melupakan semua aturan yang harus ku patuhi. " Ucap Lee dengan nada senang dan tenang
Setelah mengatakan itu. Lee mendekatkan wajahnya dan menciumku begitu dalam. Bibirnya terasa panas seolah membakarku
'??!! ' aku hanya bisa terkejut dan mematung
Hatiku tak kuasa menolaknya, Aku merasa bisa merasakan semua kasih sayang tertuang padaku
Ku pejamkan mataku untuk sesaat sampai gelombang perasan ini berlaku. Lee menjauh, dan memandangku
" Akan ku lanjutkan yang tadi ketika kita menjadi raja dan ratu nanti. " Ucap Lee dgn nada senang & menatapku penuh arti
Dia lalu pergi, sementara aku cuma bisa menutup wajahku yg merah padam
" Apaan sih yang dia pikirkan.. " Ucap ku dengan wajah sebal dan memalingkan wajahku
Part 4
Saat seleksi berakhir semakin dekat semakin banyak orang yang berdatangan. Orang-orang mengenakan baju paling rapi mereka punya, sementara para ningrat memamerkan pakaian mereka.
Di satu sisi. Wartawan di kumpulkan tempat paling strategis untuk mengabdikan momen ini
" Wow ramai sekali rasanya seperti lagi di festival " Ucap ku dengan senang melihat banyak orang yg datang
" Bedanya ini akan jadi Festival yang mempertunjukan kemampuan terbaik calon raja dan ratu, kak, " Ucap Noah dengan santai
Noah tersenyum menyemangati ku lalu memeriksa penampilan ku
" Sebenarnya apa yang akan di Claude dan Lee Lakukan saat seleksi raja berlangsung? Apa berbahaya " tanya ku dengan pensaran
" HM, kudengar seleksi akhir raja ada kaitannya dengan berdirinya petiwi " Ucap Noah dengan menjelaskan dan
Noah menceritakan sebuah kisah tentang raja pertama yang mencari selendang dan bertemu Petapa di gua
Setelah beberapa saat menceritakan kisah itu. Datanglah paduka raja, ratu. Diiringi empu agung dan para empu lain
Noah mengantarku ketempat Claude, Lee dan odelia berkumpul
" Semoga berhasil kak " Ucap Noah dengan menyemagati ku
__ADS_1
" Ke empat orang ini di hadapanku sudah berhasil membuktikan kelayakan mereka memimpin kerajaan ini. Kini mereka harus membuktikan pada sang hyang mereka yg terbaik " Ucap empu agung pada kami sebuah
' yah, aku sudah sejauh ini. Tinggal selangkah lagi, ' Inner ku dengan senang
" Kedua pangeran akan Masuk ke dalam candi dan memenuhi sang hyang. Siapa yang berhasil kembali dengan selendang maka dialah yg di restui sang hyang jadi raja Pertiwi " Ucap empu agung dengan nada tenang
Suara gong menandakan dimulai seleksi akhir suara gemuru terdengar dari jauh perut bumi.
" i-itu " Heran ku dengan terpana melihat ke depan
Sebuah candi perlahan menyeruak dari dalam.telaga kemunculan nya mengakibatkan tanah gemetar
Kedua pangeran dan odelia menatap ku dengan senyuman lembut. Aku menyembuhkan Ketakjuban ku di dalam hati
' selama ini ada candi di dasar telaga. ' pikirku dengan terpana dan takjub
" Semoga sang hyang melindungi kalian. Dan memberkati Pertiwi kita. " ucap empu agung
Semua orang serentak mengikuti perkataan terakhir empu agung. Selesai ucapara. Odelia menghampiri ayahnya. Aku memilih tetap bersama Lee dan Claude
Keduanya mengobrol seperti biasa seperti bukan akan berhadapan dengan bahaya
' setelah seleksi ini bagaimana hubunganku dgn mreka?. Apa aku bisa menghadapi akhir bahagia dgn pangeran pilihanku. ' Ucap ku dengan nada senang dan cemas
" bahkan saat ini pu kamu masih bisa melamun " Tanya Lee padaku dengan sedu dan membuyarkan lamunan ku
" Ada yang menganggu Pikiran mu " tanya claude dengan cemas
" Bukan saatnya memikirkan itu ' innerku membuang kegelisahan ku
" cuma sedang mendoakan kalian " ucapku dengan menyangkal
' Kuharap keduanya bisa mendapat kan akhir bahagia ' innerku dengan harapan
" Kita berdoa bersama " tawar Claude pada ku dan Lee
Lee tidak menjawab namun menyodorkan tangan dan di sambut oleh Claude. Keduanya lantas menyodorkan tangan padaku
" Lee terima kasih, sebagai kakak, aku banyak belajar dari mu pada Ucap Claude dengan tulus
" mau juga bukan kakak yang buruk kok " Ucap Lee dengan nada santai
Kami memgedahkan memandang langit. Semoga sang hyang melindungi kami. Semoga kami bisa membawa kedamaian bagi Pertiwi. Dan kedua Panji, bisa bersatu.
" Aku akan menunggu kalian disini " Ucapku dgn nada senang
" tenang saja, frenessa. " Ucap claude dengan nada lembut
" Kami akan kembali menemuimu " Lanjut Lee dengan nada tenang
Aku menatap tatapan empu agung padaku. Dia tersenyum mengangguk padaku. Tak perlu kata langsung. Aku telah berhasil menyelesaikan misiku
Cerita Noah menganggu pikiranku aku memutuskan mengejar Lee dan Claude sebelum mereka masuk candi
" ada apa? Ucap Lee dengan bingung menatap ku
" Apapun yang akan terjadi didalam ketika ada pilihan berhati-hati jangan sampai kalian tergoda oleh keserakahan " Nasehatku pada mereka semua
Keduanya menatapku bingung , tetapi empu agung dan raja Sudah memberi tanda untuk masuk candi
Aku melepaskan keduanya menghilang ke dalam candi. Begitu para pangeran pergi. Paduka ratu memangilku dan odelia
" Ini juga ujian terakhir bagi kalian ' ucap sang ratu dengan tenang dan menyuruh kami mengikutinya
" Kami mengikuti paduka ratu dgn penuh. Kami dibawa menyusuri tangga candi. Mengitarinya menuju ke puncak.
Selain kami hanya beberapa empu petinggi kuil kecil yang ikut. Sampai di puncak sudah ada ratu meja dan tiba kursi. Ratu mempersilahkan kami duduk.
Semua yang kami lakukan sebelum nya akan di tentukan disini. Para empu akan jadi saksi sehingga tidak ada kubu yg bisa membantah apapun seleksi ini
Paduka ratu menyodorkan kedua amplop kehadapan kami
' seleksi di tentukan oleh amplop ' pikirku mengingat amplop ini di kasih
" Aku mendapatkan 2 undungan dari kerajaan Ming dan kesulitan Utara jauh. Kerajaan Ming besar sekali. Wilaya luas. Dan sudah lama bersahabat dgn Pertiwi
Namun akhir akhir ini muncul kerajaan Ming sedang mengumpul kan untuk menyerang kita..
Ratu menarik nafas sejenak
Sedangkan kesulitan Utara jauh adalah kerajaan kecil yang makmur tapi punya sejarah masa lalu buruk kita.
Akhir akhir ini mereka mendekati kita dengan niat memperbaiki hubungan
Aku tidak yakin apa motif tersembunyi mereka tiba-tiba mau diberbaikan
Pertanyaan ku sederhana aja. Menurut. Kalian undangan mana yang harus aku hadiri?
Pertanyaan ratu padaku dan odelia membuat kami berpikir keras
Aku berusaha mengingat apa saja yang pernah ku baca soal kedua kerajaan itu.
Stelah lama kami berpikir odelia akhirnya menjawab duluan
" Menurut saya anda sebaiknya menerima undungan kesulitan Utara jauh paduka. Ucap odelia dengan memberinya pendapat
" apa alasanmu nona odelia? " Ucap sang ratu sopan
" Saya rasa kesulitan Utara lebih berharga untuk di jadikan Kwan. Lalu bersama mereka kita menekan kerajaan Ming supaya tidak macam macam " jelas odelia dengan aga setia
Ratu tampak puas dengan jawaban odelia. Dia beralih padaku. Tiba tiba dia menjawab
' solusi lagi tapi... Engga memberi jangka panjang. Suatu hari, kedua nya bisa bersekutu menusuk Pertiwi dari belakang
" Aku teringat pesan kakekku orang mengajarkan permainan catur.
" Sebuah strategi yang lebih.besar frenessa, "
Aku menarik nafas mengumpulkan keberanian.
" Bagaimana menurut mu nona Frenessa? " Tanya ratu padaku
" mohon maaf paduka ratu saya harap anda menolak kedua surat undangan tersebut " Ucapku dengan nada memohon
" Menolak keduanya, " ucap ratu kaget dan aneh
" kamu bercanda tindakan itu bisa menimbulkan perang. Kau itu terjadi yang di ungsikan rakyat kecil Ucap odelia dengan kaget Membuat
" kenapa kamu menyarankan agar aku menolak undangan keduanya, nona Frenessa " Ucap ratu dengan tanda tanya
Aku membungkuk badanku. Berusaha merendam ketegangan yg ku timbangi
" izinkan saya menjawab paduka ratu " Sanggah pada ratu untuk di izin menjelaskan
" Selama ini kita. sangat bergantung pada mereka. kita sangat terpengaruh dengan perubahan kecil apapun di kerajaan ming dah kesulitan Utara juga. Seikit gentara dari kerajaan Ming saja bisa membuat situasi kerajaan kira berubah. Padahal kita juga bukan kerajaan kecil. Jelasku dengan matang dan Serius.
" Jawabammu berhenti disitu atau kau punya saran lain " tanya ratu kembali padaku
" Saya mengusulkan kita yang mengundang mereka ke Pertiwi. Paduka. Dari pada datang sebagai undangan kita tunjukan siapa tuan rumah dari ikatan kerajaan ini. " Ucapku dengan nada jelas lagi
Odelia dan paduka ratu tampak tercengang Dengan jawaban ku
" Kamu berusaha menciptakan rasa segan, agar ke depannya mereka tidak berani mengancam Kiya " ucap odelia dengan nada jelas lagi
Paham maksudku
" Betul sekali nona odelia, dengan begini kita bisa melobi mereka untuk menggabungkan kekuasaan " ucap ku dengan Membenarkan kata odelia + dgn penjelasan
" Jika mereka menolak * cemas odelia
" Kalau gagal kita sudah tunjukan pada kerajaan Ming bahwa kita bisa bergabung dengan kerajaan Utara. Jika bergabung maka kerajaan Ming pun berpikir dua kali untuk macam-macam " ucapku dengan nada lembut
Setelah itu tidak ada satupun yang berbicara. ratu tampak berpikir keras sementara kami Menunggu keputusan yang akan di ambilnya
" Mendengar jawaban kalian aku semakin jelas kaliian adalah perempuan-perempuan terbaik yang dimiliki kerajaan pertiwi
" Jawaban odelia membuktikan kecerdikan
" .... Jeda yang mulai sesaat
" Namun pendapat frenessa juga membawa pilihan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya
Ratu menjabarkan nilai penilaian nya terhadap aku dan odelia
" Mari kita kembali ke telaga rakyat sudah menunggu..
Untuk kedua kali ini. Aku dan odelia mengikuti yang mulia ratu.
' apa jawabanku berhasil membawa ke singgah sana ratu. ' cemas dalam pikiranku bertubi-tubi
Begitu kami muncul-muncul orang yang menunggu langsung kasar kusut menebak siapa yang jadi ratu berikutnya
Aku dah odelia mendampingi tadi kanan kiri. Aku sempat bertatap dengan ayah. Dia mengangguk berusaha menguatkan ku.
' aku tau apapun yang terjadi aku mempunyai ayah dan Noah.
Ratu mengangkat tangan supaya semua orang diam.
Ketika seleksi dimulai mereka adalah perempuan muda dengan banyak potensi. Sepanjang seleksi mereka Syah semakin matang dan bijak. Pertiwi sahabat beruntung memiliki mreka " syukur sang ratu
Sayangnya hanya satu yang akan mendampingi raja baru memimpin Pertiwi. " Sedu sang ratu saat berkata itu.
' yang tersisa sekarang tinggal doa " batinku dengan nada harap
Ratu mengenggam tangan kami
Dan aku memilih..." Ucap ratu mengantung kan kalimatnya
Nona Frenessa! " ucap ratu dengan suara bangga
" Aku! Ratu! " Batinku dengan terkaget
" Nona odelia sangat cerdas dan luwes. Dia selalu bisa mengambil keputusan terbaik di situasi sulit. " Jelas sang ratu tentang odelia
" tapi pemikiran nona Frenessa ku harap bisa membawa perubahan baru di kerajaan pertiwi. Aku percaya dia bisa mendampingi raja baru kita. Dan membawa Pertiwi pada kejayaanya Ucap sang ratu dengan bangga menatapku.
Seketika mendengar namaku di eluk-eluk kan telaga yang tadinya tegang berbuah menjadi riuh oleh sorak kegembiraan mereka
* Panjang umur rembulan masa depan Pertiwi! Panjang umur nona Frenessa!
Ayah ku sampai kewalahan menerima ucapan selamat dari para pendukung kami
Termasuk beberapa ningrat pendukung odelia yang sudah tak sabar berpindah kapal.
" Tunggu sebentar paduka ratu" ucap Mentri candana menghentikan kegembiraan ku
Kemunculan ayah odelia menganggu perayaan kemenangan ku
" Ini pasti kecurangan! Bagaimana mungkin putriku dikalahkan... "
Ucap Mentri candana dengan menatap ku keji
" Keputusan ini tak adil. Sejak awal Anda memang mendukung Mahapatih Yudistira! " Ucap Mentri candana menolak tegas sang ratu
" Kamu menuduh mencurangi seleksi ini " Ucap Sang ratu dengan marah
' pria tua licik itu benar benar nekat
Dia sampai menuduh Padaku ratu curang ' Kesal ku kaki ini di ambang pital
Empu kuil suci " itu tidak mungkin. Tuan Chandana. Kami, para empu. Juga disana, menyaksikan seleksi terakhir. " Ucapnya dengan tegas
" Kami berani memastikan atas nama sang hyang maha tinggi. Putri keluarga yudhstria memang layak di pilih " jelas kembali sang empu dan bersumpah
Ayah Odelia mengeratkan emosinya menahan amarah
' tidak bisa! Ini kecurangan- " ucap An Mentri Chandana berhenti ketika odelia membentaknya
" Cukup! Ayah! Frenessa memang layak dariku menjadi ratu " ucap odelia dengan nada tegas
Mentri candana tampak tidak menyangka akan di tantang putri nya sendiri.
Odelia menghampiri ayahnya. Lalu mengenggam tangan pria tua itu.
" Ayah kumohon, ada hal lain yang lebih penting untuk dikhawatirkan daripada keputusan akhir seleksi " ucap odelia menahan tangis
Odelia menatapku penuh arti
' aku memang bilang nggak melepaskan ayahnya.' batinku dgn lembut melihat tatapan lembut itu
" Huh, anak Yudistira sudah mempengaruhi putriku " Geram Mentri candana dengan nada mengejek
Ayahnya membiarkan ayahnya pergi sementara ia tinggal untuk mengikuti perayaan kemenangan ku
" Rakyat Pertiwi sambutlah calon rembulan Pertiwi kalian yang baru! " Ucap Ratu pada rakyatnya
' reaksi pertamaku stelah diumum kan menjadi ratu. ' pikirku dan
Aku berinisiatif memeluk odelia dia terlihat tidak siap dengan tindakan ku
" Kuharap kamu mendapatkan akhir bahagia " batinku berdoa untuk gadis itu.
Rasa penyambutan kami dengan kegembiraan
* Pajang umur bag rembulan masa depan Pertiwi! Panjang umur nona Frenessa!
Usai merayakan. Aku mencari odelia lagi dan menemukan di pinggir telaga. Dia duduk sendri memandang pantulan di permukaan air
" Frenessa, bukanya kamu harusnya masih merayakan kemenangan mu ? " Ucap ovalia kaget dengan kehadiran ku
" Aku inggin memastikan keadaan mu. Barangkali kamu butuh teman. " Ucapku dengan senang
" Sejak kapan kita jadi teman " ucap odelia dengan malu malu
" Engga udah malu-malu lagi aku tau kamu juga menganggap ku teman " ucap ku dengan lembut
Odelia tersenyum kecut.
" Kadang kadang kamu ini polos sekali " Ucap odelia dengan haru
" Hei setelah ini apa kamu akan naik naik saja. Tadi kamu menentang ayah mu di depan orang " ucap ku dengan cemas
" tenang saja aku akan baik-baik saja. Ayah ku juga harus belajar menerima kenyataan " Ucap odelia dengan nada yakin
Odelia mengulurkan Tangannya ke hadapanku. Mengajakku. Bersalaman
" Selamat kamu pantas menang! " Ucap odelia dengan bahagia yang tulus.
" Aku teringat pertemuan terakhir ku dgn odelia di pertandingan catur. Saat dia menolak bersalaman dengan ku
" Tapi aku bukan dia ' pikirku dengan nada sedu.
Aku menggenggam tangannya dengan erat.
Setelah itu datang mbok Rara dgn berlari
" Nona, kedua pangeran sudah kembali. " Ucap Mbok Rara dengan nafas terselang
Kami bergegas kembali ke rombongan
Orang orang sudah mengelilingi empu agung. Raja, dan kedua pangeran. Tidak siapapun bicara
' syukurlah mereka kembali dgn selamat ' syukur ku melihat kedua nya pria itu selamat
Lee dan Claude tanpak kelelahan tapi mereka nampak tidak terlihat senang, atau lega
" Kenapa mereka. Bahkan aku engga bisa menebak apa yang di pikirkan empu agung dan raja. ' batinku mulai cemas lagi
" Apa seleksinya gagal " takut meng hantui pikiranku.
" Kedua pangeran sudah melaksanakan tugas terakhir dari sang hyang yang maha agung. Masing masing sudah membuktikan diri mereka. " Ucap empu agung menjelaskan
" Kamu mau siapa yang ter pilih? " Ucap odelia dengan berbisik dan mengodaiku kali ini
" Hah? Kenapa aku? " Ucapku berbisik lagi
" Yah hatimu siapa yang mau pilih? " Ucap odelia berbisik dengan nada Penasaran
" Hah apaan sih aku engga tau. " Ucapku dengan nada aga malu
Aku kembali memperhatikan empu agung. Ia sedang menceritakan seleksi yg sudah ditempuh para pangeran
" aku tidak bisa menemukan cara lebih baik untuk mengumpukan ini sepanjang Pertiwi ini belum pernah terjadi. " Empu agung pun hanya terkaget
Sebenarnya apa yang terjadi ' batin ku mulai cemas lagi
" Yang berhasil membawa selendang suci... Keduanya pangeran Claude dan pangeran Lee " ucap empu agung dengan nada tegas
Orang-orang langsung berbisik kaget dan rasa bercampur jadi satu.
" Kenapa jadi dua-duanya apa gara gara peringatan yang kuberikan ' ucapku mulai panik takut ini kesalahanku lagi
' baru kali ini seleksi raja berakhir begini. Bahkan sang hyang merestui mereka " ucap odelia dgn tercengang
__ADS_1
" Kalau begitu siapa yang akan jadi raja berikutnya dan mendampingi mu " ucap Odelia dengan nada bingung
To be continued