
Cherpen 8
Part 1
" Ugh! Ringisku pada kepalaku
Sakit rasanya seperti ada palu yang menghantam kepalaku dari dalam Dinggin lantai batu seolah membangun seluru inderaku
Aku pelan pelan berusaha bangkit
' dimana ini? ' batinku Bingung dan takut
Sedikit demi sedikit mataku mulai terbiasa dengan sumber cahaya yg terbatas
Ruangan yg sempit dan tertutup ini lagi lagi membangkitkan kenangan burukku. Aku bergegas menghampiri pintu.
" Tolong. Apa ada orang diluar? Tolong? " teriakku dengan ketakutan
" Berulang kali ku gedor pintu itu tpi tidak ada jawaban. Kucoba membuka tak bisa teeriakanku Seperti menguap begitu saja. Aku mulai kesulitan bernapas
' aku harus keluar ' batinku buru buru mencari-cari akal
Di kepalaku kejadian msa lalu yg membuatku trauma seolah olah terputar kembali
Entah sudah berapa lama aku disini tiba tiba terdengar beberapa langkah kaki dari luar
* Dia di dalam tuan * ucap seorang penjaga yg menjaga tempatku ini
" Tolong! Keluarkan aku " Ucapku dgn nada Terselang
Seorang pria melongo memalui jendela terkecil di pintu.
" Kau " ucapku dgn marah
Mentri candana tersenyum licik. Melihat aku meringkuk di lantai penjara yg Dinggin
" biasanya kau sok kuat dan sombong. Ternyata kamu bisa begini juga. " Ucap Mentri candana dgn senang
" bebaskan aku! " Ucapku dengan marah kembali
" Tidan sekarang. Nona aku tidak bisa membiarkan mu menggangu rencana ku Ucap Mentri candana dengan santai
Aku menatap Mentri candana dgn frustasi namun pria itu tetap tenang
Malah mengoleskan minyak Kamboja ke belakang telinganya
" Aku berhak tau apa yang kau mau ' ucapku dengan kesal
" Baiklah kamu inggin kita bicara rupanya " Ucap Mentri candana dengan nada Enteng
" Uang? Jabatan " tanya ku apa yg dia inginkan
" Kamu pikir aku tidak punya semua itu. Aku cuma inggin mengajarkan mu kejamnya istana " ucap Mentri candana dengan nada Enteng
Mentri candana menyimpan botol minyak Kamboja kembali ke saku
Aku inggin memperingati mu tapi kau terus menganggu waktu kehilangan fotografer tidak berguna itu harusnya kau paham & menyerah " Ucap Mentri candana dengan nada marah
' dia benar-benar membunuhnya ' Batinku ku sedu pasti fotografer itu sudah di bunuh
Tapi sepertinya memang keras kepala mengalir dalam darahmu ayahmu juga begitu. Tidak cukup jadi mahapati. Dia juga menyodorkan putrinya untuk jadi ratu
" Kau menculik ku? lalu memfitnahku? kau pikir bisa lolos " ucap ku dengan kesal dan sakit
" Kau pikir kau bisa melawanku kau benar benar optimis. Atau naif coba saja kalau kau dan keluarga mu bisa mendapatkan bukti untuk menangkap ku " ucap Mentri candana dengan nada Biasa saja dan Seperti iblis
Dengan langkah lemah aku menjauh dari pintu.. berbagai pikiran berkecamuk di otakku
" Odelia... Apa dia tau semua rencana mu " sedu ku menatap Nya
Tawa Mentri candana menggema
Sayang nya anak semata wayang yg polos itu. Sama seperti mu tanpa ayahnya dia tidak akan mendapatkan apapun " ucap Candana dengan Seringai Megrikan
Dia tidak tau apa yg kulakukan supaya dia bisa mencapai posisi nya sekarang
" Kau pak tua menjijikan " Teriakku dengan kesal
' ini bukan kejahatan, nona, ini dinamakan pengorbanan ada harga yg Harus di bayar untuk setiap tujuan yg kita capai " Ucapa Mentri candana dengan santai
" Paduka raja tidak akan mengampuni perbuatan mu " Ucapku kali ini benar benar marah
" Kau bercanda menurutmu siapa yg lebih di percaya. Aku seorang Mentri dgn reputasi tak tercela
Atau Puteri mahapati yang baru muncul dan langsung jadi calon permaisuri " Ucal Mentri candana dgn Menyindir
Senyum bengisnya membuatku mengidik ngeri
" Kau...ningrat buruk! Lihat saja paduka raja tidak bodoh! Kedua pangeran juga. Dia akan memisah kan ningrat buruk seperti mu dari orang-orang yang layak memimpin ningrat Seperti mu akan di basmi. " Jelasku dengan marah memakinya
Mentri candana menarik dirinya sebentar. Tanpa berpikir banyak ia berbalik. Dan tersenyum licik
" Mati kita lihat apa raja bisa dengar Ucapa orang yang sudah mati " ucap Candana dengan tersenyum licik
Dia beralih ke anak buahnya
" Habisi dia " perintahnya pada para penculik ku
* Baik tuan kata penculik itu dgn nada Tegas
Sebelum benar benar pergi Mentri candana berbalik padaku.
" Sejak awal hanya anakku yg pantas jadi ratu " Ucap candana dengan Sebelum prgi
" Tunggu! Keluarkan aku! CANDANA KEPARAT!. Matipun takkan kubiar kan kau hidup tenang. " ucap Ku dengan nada kesal dan lemas
Setelah ayah odelia prgi. Aku cuma bisa duduk sambil merasa capek dan marah harapan ku untuk kabur pun tipis
' ayah, Noah, ..... Tolong aku. Filing jangang tinggalkan aku disini " harap ku mereka menemukan ku
Seseorang penculik masuk dan berlutut di depanku.
" Maafkan aku tuan putri, tapi sebentar lagi penderita akan mu selesai sayang sekali nyawamu harus berakhir di tangan mu " ucap penculik itu dgn mengodaiku
Ujung pedangnya menempel kearah pada leherku.
' aku harus kabur '. Pikirku dgn cepat dan serius
Pintu ruangan yg dibiarkan terbuka membuatku bisa menekan rasa ketakutanku. Dengan sisa tenaga yang aku punya aku melawan penculik itu.
'Sebaiknya ku tendang ************ ' setelah itu aku pun mendendangkan selangkangnya dan
" ARG! PEREMPUAN SIALAN " Rintih Penculik itu dengan Kesal
Pria itu bersekukuh kesakitan kupaksa kakiku yg lemah untuk bangkit dan berlari tapi dia masih menahan bajuku dgn satu tangan
' aku harus lari ' pikirku dengan nada Terburu buru
Aku memukul tangan nya berusaha melepaskan cengkraman tapi tidak berefek apapun.aku berusaha menarik kain itu hingga sobek
" BANTU AKU! DIA MAU KABUR. " Teriak pria itu dengan nada kencang
Salah satu rekan di penculik datang dan nampak dengan keras. Telinga ku sampai berdenging
" Kau pikir kau bisa lolos?! " Ucap Rekan penculik itu dengan nada Tenang
' siapapun tolong aku. ' Ucapku dgn sedu penuh harap
Mereka menyeretmu lalu memborgol tanganku ke teralih salah satu jendela
" Harusnya kamu menurut supaya semua cepat selesai " Ucap Rekan penculik itu dgn kesal
' bakar! " Perintah Rekan penculik itu dan
Satu di antara mereka lalu menyulut api lantas meninggalkan ku. Api cepat cepat membesar menjalar tumpukan tumpukan jerami di penjara itu
" Tolong! Tolong! " ucapku dgn meminta tolong dan napas Lelah
Sayup sayup aku mendengar suara perkelahian di bawah
" Pengawal kerajaan datang " ucap mereka dgn berteriak
Aku setengah mati berusaha melepaskan borgol ku
" Aku belum mau mati tidak bisa batinku inggin melepaskan diri
Terdengar suara perkelahian tapi asap hitam menghalangi pandangan ku
Api semakin membesar dan nafasku sesak. Perih membuatku tak bisa lagi membuka mata
" Akhirnya aku selesai begini saja
Dosa apa sampai harus mati dua kali pikirku dgn nada Sedu
" Claude, Lee kuharap kalian akur dan saling membantu Demi kerajaan Pertiwi. Siapapun rajanya kalau kalian bersama kalian engga akan mudah digulingkan " pesanku dengan benar yakin aku engga akan selamat tapi...
" Pesan pesan nya nanti saja kalau aku sudah jadi raja, tuan putri " ucap Lee dengan nada Enteng
" Siapa jadi raja? tolong jangan kepedean di saat seperti ini " sebel Claude Lee malah ajak debat
" Suara itu Lee dan Claude. Aku pasti berhalusinasi " Ucapku dgn napas Terselang
Pintu penjara di dobrak dan muncul lah dua pangeran
" Aku betul betul sudah gila " ucap ku mulai bingung
" Kamu engga gila, bodoh! Claude cepat selamatkan dia! Biar aku yg berjaga di sini " Ucap lee dgn kesal dan menyuruh Claude menyelamat ksnku
" Kalian betul betul datang " Ucapku dgn kaget dan penuh syukurl
" Jangan bergerak Frenessa! " ucap Claude dengan memperingati kan ku
Claude memutus tali Borgol ku dgn sekali tebas san Claude terima kasih.
" Tunda dulu rasa terima kasihnya Frenessa kau bisa berdiri. " Ucap Claude dengan nada Khawatir
* Kalian tidak akan bisa lolos * Ucap Penculik itu dengan kesal
Sisa-sisa penculik tadi berdatangan Lee menahan mereka tapi aku dah Claude tidak bisa keluar
" Tunggu sebentar di sini. Sebentar lagi aku kembali." ucap Claude dgn menasehati ku
Setelah berkata seperti itu claude langsung membantu Lee
" Kamu pikir aku engga bisa menghadapi ini sendirian aku ini jenderal perang " Ucap Lee dengan nada Kesal dan lalu menahan serangan musuh
" Aku cuma inggin. Membantu mu supaya cepat beres kamu mau lama di sini " Sanggah Claude dgn mengeluarkan pedangnya
" Tunjukan kalau kau cuma engga bisa ngomong doang " Ucap Lee dgn nada menantang
" Dua orang itu masih sempat sempatnya " Pikirku melihat tingkah mrka
Didalam penjara yg terbakar aku melihat mereka bertarung dgn para pencuri
Tuhan terimakasih telah memberiku dua kesatria pelindung ini " harap ku bersyukur bertemu mereka
Para penculik itu menggepung mereka lalu bersama sama menyerang keduanya
" Lee, sebelah kiri " Ucap Claude pada Lee dan
" Kak! Perhatian kan belakangmu " Ucap Lee dengan nada Peringatan
Satu persatu penculik berhasil mereka kalahkan. Keduanya menebas para pencuri dgn gesit
' aku belum boleh mati Panji putih & Panji merah kini mulai bersatu
Claude Lee bahkan bisa menyelesai kan masalah masa lalu mereka. Ini saatnya aku menjalani tadirku. " Batin ku Merasa optimis
Demi kerajaan pertiwi
Tak butuh waktu lama untuk melumpuhkan mreka para penculik itu. Lee dan Claude berlari menjemputku
" Kamu masih kuat " Ucap Claude dgn lembut
" Ayo kita pergi " Ucap Lee dengan senang dan mreka berdua pun mengulurkan tangan
aku menyambut uluran tangan mereka
Aku duduk lemas di depan menara yang te bakar Api.
" Frenessa! Ucap mahapatih dengan nada khawatir
Ayah bersama dengan pengawal kerajaan langsung mendekati ku.
Di samping ada odelia. Tapi aku tidak sempat memikirkan kenapa dia bisa ada di sini.
Ayah langsung menariku ke pelukannya
" Syukurlah kamu selamat! " Ucap Mahapati dengan nada sedu dan bersyukur
" Tenang ayah aku baik baik saja pangeran Claude sah Lee tadi yg melenyelamatkan ku tadi. " Ucap Ku dengan nada lembut agar ia tak khawatir
Ayah melepaskan pelukanku lalu membungkuk hormat pada kedua pangeran
" Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan putri saya yg mulia " ucap Mahapatih dengan nada sangat bersyukur
" Syukurlah Frenessa selamat " ucap Claude dgn senang
" Kau buat kami khawatir " kesal Lee dengan menatapku.
' untung saja kami bisa menemukanmu " ucap nya kemudian dengan wajah sedu
Reflek, aku memeluk keduanya
" Terima kasih. " Ucapku dengan nada lembut di masing masing telinga mereka
Aku melepaskan pelukanku. Dengan canggung. Wajah kedua nya memerah
" Kita harus berterima kasih pada odelia " ucap claude dengan lega
' aku sampai lupa ada odelia disini ' pikirku baru mengingatnya
" .... " Odelia tampak canggung begitu Claude menyebut nya
" Odelia tidak segala melihat mobilmu di ikuti. Ia lalu melaporkan pada kami " ucap Lee dengan menjelaskan bagaimana dia bisa tau aku di sini.
Odelia tampak canggung saat menatap ku. Aku pun mendekatinya
' dia tau ini semua perbuatan ayah nya ' batinku memikirkan hal ini
" Odelia terima kasih " ucapku dengan nada lembut dan sungguh bersyukur
Tangisnya pecah
" aku engga pantas mendengarnya Ucap odelia dengan nada sedu da Malu dan menangis
' odelia dia cuma korban ambisi ayahnya, " pikirku dengan nada sedu dan kesal pada ayah odelia
Aku berinisiatif memukulnya ku dekatkan mulutku ketelinga dan berbisik
" Aku tau kamu itu baik. " Ucapku dengan nada berbisik sekaligus menenangkan dirinya
Odelia balas memelukku dengan tangisnya. Ia berbisik padaku
" Maafkan aku ..." Bisiknya dgn tangis meminta maaf
Rombongan kerajaan menghampiri kami. Mreka melapor pada Lee dan Claude
" Maaf kan kami yang mulia. Tapi saat kami mengejar penculik nya. Mereka sudah mati terbunuh. " Lapor para pengawal itu
' lagi, " kesal ku di dalam hati dan aku masih menenangkan odelia
" Sial lagi lagi kita tidak bisa mengintrogasi mereka "marah Lee dengan kabar ini
" Tenang dulu Lee, " ucap Claude dgn menenangkan Lee
" Se-sebaiknya kita fokus dulu pada kondisi frenessa. Dia butuh istirahat " Ucap Odelia dgn takut
' bagaimana nasib odelia kalau ayahnya di hukum ' pikirku dengan melayang pada gadis ini
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan
" Kita pikirkan itu nanti. Sekarang melihat kita semua selamat. Aku.. aku lega kalian baik2x saja. Kita selamat tidak kurang dari satu apapun bukan kah itu yg terpenting sekarang " jelasku dengan nada lembut
" Lagi pula kalian berdua ya! Membuat orang khawatir saja menembus api seprti begitu " ucap ku dengan nada mengomel
Claude dan Lee tersenyum geli melihat ku mengomel. Lee menjitak lembut kepalaku.
" Kau ini msih bs mengkhawatirkan orang lain " ucap Lee dengan nada pelan
Setelah jitakan itu. Claude yang mencubit pipiku.
" Aku senang kamu baik naik saja ' ucap Claude dengan nada Gembira
__ADS_1
Setelah itu ayah mengantar ku masuk mobil. Dan kami berkendara meninggalkan mobil itu
Setelah sampai aku sudah berada di kamarku dan betapa khawatir nya mbok Rara waktu itu dan berapa menit kemudian
Part 2
Aku pun Menganti pakaianku dengan pakaian Aksen biru lokal dan setelah itu mbok Rara datang Rara
" Nona, syukurlah anda baik-baik saja, saya pikir tadi... Hah sudahlah . Yang penting nona selamat " Ucap mbok Rara dengan nada wajah lega
" Terima kasih embok aku udah engga apa-apa kok " Ucap ku dengan nada senang
Noah tergesa gesa menghampiriku dan langsung memelukku erat.
" Kak, syukurlah mereka berhasil menyelamatkan mu. " ucap Noah dengan bersyukur dan lega
' Kupikir aku engga bisa lagi bertemu dengan mu
" Kakak, membuatmu khawatri ya? Maafkan kakak yah? " Ucap ku dengan nada aga sedu
" Yang harus minta maaf itu bukan kamu, kak! Tapi orang-orang jahat yang membahayakan mu " Ucap Noah dengan kesal
Noah lantas mengomel sendiri, aku hanya bisa tersenyum geli menyaksikan
' Noah dan ayah, benar benar menyayangi ku ' inner ku senang
" Aku sampai lupa tadi disuruh memanggilmu " Ucap Noah dengan aga terkejut
'??? ' Pikirku bingung
" Paman menunggu mu di ruang tamu " Ucap Noah dengan menyuruhku ke ruang tamu
Sesampai sana, ayah sudah menungguku bersama dengan pangeran Lee
" Nak, maafkan kami. Tapi pembahasan ini tidak bisa menunggu lama sampai pagi " Ucap Mahapatih dengan nada sedu
" Kami butuh informasi soal penculikan mu " Lanjut mahapati dgn serius
Aku menatap mereka , semua menunggu jawabanku. Aku menghelang napas dalam-dalam lalu menceritakan kronologi penculikan
" Foto itu hilang, hilang nya si Fotografer. Lalu penculikan semalam. Semua dilakukan atas perintah Mentri candana, ayah odelia ' Inner ku dengan nada Kesal
Ketegangan merayap keseluruh ruangan begitu aku menyebut Mentri candana. Keduanya tampak berpikir keras.
" Menteri candana itu lebih licik dari kelihatanya. Kita harus membalas perbuatannya. Dia harus merasakn dinginnya lantai penjara " Ucap ku dengan nada menahan amarah
" Penjara itu nyaris membunuhku! " Ucapku masih sama
Kupikir mereka akan sependapat. Tapi baik ayah maupun Lee tampak ragu. Keduanya saling bertukar pandang. Aku gemas tidak tahan dengan keheningan ini
" Ayah! Jangan diam saja! Harusnya kita segera Ke istana untuk melaporkan pada paduka raja, " Ucapku bingung dan sedu
" Nak, tenang dulu " Ucap Mahapatih dengan menenangkan ku
Claude menyusul kami.
" Maaf tadi aku mengantar odelia pulang dulu. " Ucap Claude mengatakan kedatangan terlambat
" Syukurlah kau datang Claude dengarkan " Ucapku dengan nada sedu
Aku menceritakan ulang semua pengalaman ku pada Claude, termasuk soal Mentri candana
" Karena itu ayo kita menemui paduka raja." Ucapku dengan nada berapi api
Lagi-lagi Claude malah menatap ayah dan Lee
" Kenapa sih kalian semua?!" ucap dengan marah dan menahan tangis
Pangeran Lee yg pertama kali bicara
" Aku khawatir masalahnya engga sederhana itu. "' ucap Lee dengan nada sedu
" Maksudmu? " ucap ku heran
" Kami engga punya petunjuk lain yg mengarah ke Mentri perdagangan. Kerajaan engga segampang itu percaya pada kesaksian mu. " ucap Lee dengan nada aga sedu
" Tapi aku ini korban! " ucapku dengan marah
" Frenessa, ini bisa jadi bumerang untuk keluarga Yudistira. Kubu Mentri perdagangan bisa mengunakan ini sebagai usahamu untuk menyabotase odelia " Ucap claude dengan menasehati ku
Aku menatap mereka semua dgn tatapan tak percaya
' aku hampir mati, lalu sekarang mereka bilang ngga semudah itu menghukum pelakunya? ' Innerku merasa kesal dan sakit
" Tapi aku engga bohong ayah, kita engga bisa melepaskan dia begitu saja " Ucap ku dengan menatap ayah berusaha menyakinkan nya
" Nak, tenang dulu apa yang dikatakan pangeran, itu benar
Kita engga bisa ambil resiko selama seleksi masih berlangsung. " Mahapatih dengan nada lembut dan menjelaskanya situasinya
" situasi istana juga sedang semakin panasMeski secara posisi kita lebih tinggi tapi dukungan para keluarga canda tidak boleh di remehkan " jelas Mahapatih dengan serius
Kata-kata ayah tadi menyandarkan ku.
' ayah benar, aku terlalu gegabah, bahaya bisa jadi bukan cuma ke keluarga, tapi seluru kerajaan ' pikirku dalam dalam
Aku pun hanya bisa terdiam dan menunduk Pikirku melayang ke arah tugasku agar tak akan terjadi pertumpahan darah.
" Maaf kan ayah. Nak, kalau saja aku inggin menghabisi semua orang yang mencelakakan mu " Ucap Mahapatih dengan sedih
Hatiku rasanya tercabik melihat sorotan mata kesedihan ayah
" Sayangnya politik istana memang
Engga sederhana itu. Kita engga bisa mengulingkan orang dari posisinya. Sama sulitnya basmi para ningrat korup " Ucap Lee dgn kesal
' gimana caranya aku menjerat rubah licik itu? ' innerku bingung
" Frenessa, bahkan kalaupun odelia menjadi ratu. Kami enggak bisa menolak itu. "' ucap Claude dengan sedu
Percakapan Claude membuat ucapan seisi ruangan hening. Rasanya aku dihadapi pada kenyataan pahit. Di kerajaan ini pengaruh dan kekuasaan adalah segalanya. Seorang penjahat bahkan bisa duduk berkuasa
' suatu hari ku balas perbuatanya ' innerku dengan tekad kuat
" Menuruk kalian apa odelia tau rencana semua ini? " ucap Claude dengan bertanya
" Kalau sampai dia tau, dia engga layak tetap diseleksi! " ucap Lee dgn nada geram
" Tapi kalau dia tau, kenapa dia membantu kita? " ucap Claude dgn engga yakin namun masih sama nya
Kami semua lagi-lagi terdiam hanyut dlam pikiran masing-masing
" Kurasa..odelia Engga tau apa-apa " Ucapku dengan memberitau mrka
Aku menceritakan pertengkaran Odelia dengan ayahnya
" Pasti engga mudah tumbuh dgn ayah seperti itu. " ucap Lee dengan nada prihatin
" Odelia yg selalu tersenyum itu..." ucap Claude dengan serius
' semua ini terlalu melelahkan.
" Kepalaku sedikit pusing. Aku... Akan kembali istirahat ' ucapku dgn nada liris. inggin istirahat dan melupakan hal ini
Aku bangkit dan berpamitan pada semua orang. Lee mengikuti ku keluar
" Aku yakin semua ini pasti megesa lkan. Tapi terkadang, di istana, kita diharuskan melunak " Ucap Lee dengan nada Serius
" Aku engga percaya kamu tumbuh di tempat seperti itu. Kalau itu aku yang mengalami aku... Aku sudah kabur menghirup udara segar " ucap ku dengan nada tenang
Lee tersenyum matanya menerawang ke depan
" Di bayanganmu kamu inggin. Hidup seprti apa? " tanya Lee pada ku
" Hmm... Bertani, sedikit-sedikit saja selama aku dan keluarga ku bisa hidup. " jawabku singkat
" Menarik juga, aku engga keberatan dengan berkerja kasar seperti mencangkul tanah " Ucap Lee dengan senang
" Lalu aku bisa mengajar anak-anak tetangga membaca "' Ucapku dengan senang juga
" Setelahnya aku bisa mengajari mereka bela diri. " ucap Lee dengan percaya diri
Aku menghentikan langkahku lalu menghadap Lee
" Hei? Memang aku bilang kalau aku inggin bersama mu.? " ucap ku dengan nada bingung & malu
Lee tertawa melihatnya tertawa aku tidak mau ikut juga tersenyum
" malam ini aku diiyakan ambisi. Bisa membuatkan seseorang. Tapi semuanya sudah berlalu " Ucap Lee padaku dengan nada gram namun bisa menahannya
Lee prgi mencari para penjaga yg mengawal rumahku.
Saat aku hendak menuju kamar, Claude menyusulku.
" Frenessa, ternyata kamu disini " Ucap Claude padaku
" aku baru mau ke kamar dan istirahat. Kamu mencari ku "' ucapku dengan nada bingung
" Aku cuma mau mengecek keadaan mu. " ucap Claude dengan menatap ku sedu
Claude menemaniku mengobrol sambil menuju kamar.
" Kuharap semua kejadian itu engga membuatmu takut pada kehidupan di istana " Ucap Claude dengan berharap
Butuh waktu lama aku memikirkan jawabannya
" Sejujurnya aku belum yakin. Sebelum seleksi, menjadi seorang putri Mahapatih Yudistira terasa mudah." ucap ku dengan nada lembut
Claude mengambil tanganku lalu menyelipkan di antara Jemarinya
" Waktu kecil aku pernah merasa di terkurung di istana. Ibuku meninggal. Lalu orang-orang yang ku kenal di sekitarku semua di buang oleh paduka ratu. Istana terasa jadi seperti penjara waktu itu " kisah Claude tentang kehidupan nya dulu
" Luar biasa. Kamu bisa bertahan selama ini." ucapku dengan kagum pada pendiri an claude
" Semua berkat orang orang special yang membantuku " Ucap claude dgn senyum cerah
" Orang-orang special ? "' Ucapku dengan bingung
" Sejak kecil aku diajarkan. Untuk menyimpan semua emosiku, frenessa, seorang pangeran tidak boleh merengek apalagi menangis bahkan, ketika kami kehilangan " Ucap Claude dengan nada sedu
" Aku terpaksa menangis waktu bersembunyi " Ucap claude dgn sedih
" Seandainya aku disitu saat itu." ucapku bisa menghibur nya
Claude tersenyum padaku. Ia lalu melanjutkan ceritanya
" Tapi dimasa itu juga. Selalu ada pengawal yg mengajakku bermain atau koki dapur yang diam-diam menyelinap sepotong kue untuk menghiburku " Ucap claude dengan tenang
" Mereka pasti sangat menyayangimu " Sanggah ku tentang orang orang yg di ceritakan Claude
" Yah, aku bisa merasakan mereka melakukan ku bukan cuma karena aku pangeran. Meski mereka lelah berkerja. Mereka masih memikirkan dan mendoakan ku. Saat itulah aku sadar aku tidak sendiri di istana. & Aku harus kuat demi mereka " Ucap Claude dengan senang
Cerita claude mengingatkan ku. Pada mbok Rara, para pelayan, juru masak, dan para pengawal ku
' kalau aku menyerah candana akan bebas menghancurkan keluarga ku lalu mbok Rara dan yang lain... Bisa terancam ' Innerku dengan nada khawatir
" Terima kasih Claude. Kamu menyadarkan aku juga punya orang orang yg inggin ku lindungi demi mereka aku ngga boleh lama-lama takut " Ucap Ku dengan nada senang
" Kalian menyelamatkanku dari maut. Aku harus mengunakan kesempatan ini. Aku inggin membuat Pertiwi tempat yg nyaman bagi semua orang. Ngga cuma ningrat "' ucapku dengan nada lembut
Claude meremas tanganku
" Kalau begitu itu jadi mimpi kita bersama. Dan saat itu terwujud ku harap kamu ada di sisiku. " ucap Claude dengan tulus
Pipiku memanas. Kalimat Claude tadi seperti sebuah janji untuk di masa depan
Claude mengantarku sampai pintu kamar
" terima kasih sudah mengantar ku " Ucapku dengan tenang
" Kamu yakin akan baik baik saja? " Ucap Claude dengan khawatir
" Nggak usah khawatri, aku akan baik-baik saja, " Ucapku dgn nada tenang supaya menyakinkan disv
" Aku akan kembali keruangan duduk dan untuk bicara dengan ayahmu sebelum kembali ke istana
Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa mencariku " Ucap Claude Pamit sebelum ia pergi ke ruang tamu
Part 3
Aku memastikan para Claude aku baik baik saja lalu menuju ke kamar
" Waktunya aku mencoba istirahat ' innerku berusaha tenang
Aku pun Menganti pakaian ku dgn. Gaun tidur. Baju dengan kain sutra bisa bikin tidurku nyaman
Ketika aku sedang bersiap. Tidur ayah masuk dan mengajakku duduk dipinggir tempat tidur..
" Frenessa,... " ucap Mahapatih dengan nada sedu
" Apa ada yang menganggu Pikiran ayah? " ucap ku bingung
Ayah meraih kedua tanganku
" Setelah kejadian ini, ayah pikir kau tidak perlu ikut seleksi ratu kau lebih baik mundur " Ucap Mahapatih dengan nada nyakinkan ku
" Kenapa Tiba-tiba " Tanyaku dgn. Heran
" Apa yang terjadi malam ini membuatku sadar, ayah engga bisa mengorbankan mu. Ayah minta maaf atas semua masalah yang kau alami " Ucap Mahapatih dgn nada Sedu
" Kamu engga harus kembali ke istana " Ucap Mahapatih dengan nada mohon
Aku bisa mendengar kesungguhan dari suaranya. Ku genggam tangan nya
" Aku... Akan tetap melanjutkan seleksi, yah. " ucap ku dengan tenang
" Tapi nak, ayah Tidak bisa kehilangan putri ayah " larang mahapati Dengan nada khawatir
" Aku seorang Yudistira, yah. Aku tidak di ajarkan Untuk lari dari masalah yang sulit di pecahkan "Ucapku dengan tekad kuat
Ayah menepuk bahuku dengan lembut. Aku memeluknya
" Nak, ayah bangga padamu. " ucap Mahapatih Dengan senang
" Terimakasih yah " Ucap ku dengan lembut
Setelah itu ayah meninggal kan ku supaya bisa istirahat. Tapi meski tadi aku begitu percaya diri, saat akhirnya sendirian di kamar. Keresahan itu baru muncul
Aku tidak bisa menghilangkan bayangan penculikan itu dari kepalaku
' penjara sempit dan dinggin, gelap lalu kobaran api. " Innerku dengan ketakutan
Aku bangun dan duduk di tempat tidur kuminum segelas air yang yg disiapkan mbok Rara.
' Aku engga bisa melupakannya.... Aku perlu seseorang. ' innerku dengan tenang
Aku menyusuri koridor yang sepi. Di ujung koridor terlihat lampu yang menyala,
' apa Claude ada disitu ' pikirku melihat kesana
Aku juga mendengar suara Lee dari jendela yang terbuka aku mencoba untuk melihatnya
' dia betul betul bicara dengan pengawal ' Heran ku kaget ternyata Lee benar-benar dengan ucapannya
" Hm... Susul Claude ke ruang tamu " pikirku sebelum pergi dan aku pun memutuskan ke sana
Satelah aku memasuki ruangan tamu. Claude sedang duduk menatap keluar
" Frenessa!. Kupikir kamu sudah tidur. " Ucap Claude dengan nada senang memangilku dan bertanya padaku
" Tadinya mau begitu. Tapi... Aku nggak bisa tenang " Ucapku dengan pelan dan juga aga sedu
" Boleh Aku menghabiskan waktu bersama mu. " Tanyaku dengan nada lembut.
" Tentu, aku senang sekali. " Ucap Claude dengan senyum dengan rona di pipinya
" Ku harap aku engga membuatmu bosan " Ucapku dengan nada senang dan tenang
Claude menemaniku sambil mengobrol berusaha membuatku tenang
" Aku khawatir penculikan tadi masih membuatmu enggak nyaman " Ucap Claude dengan menatapku sedu dan merasa khawatri
" Setelah sendirian di kamar, aku baru sadar ternyata aku enggak baik baik aja. Sebelum kalian datang tadi, sebenarnya aku sudah pasrah." Ucapku dengan sedu dan nada takut
Aku menatap bulan yang sama yg kulihat di penjara tadi, hanya rasanya berbeda
" Kupikir aku engga akan selamat, sekarang pun rasanya masih sulit dipercaya aku ada di rumah. " Ucap ku dengan nada dengan nada membaik namun
" Aku berkali-kali menyakinkan diriku kalau kamu, Lee dan Ayah bukan mimpi " Lanjutku dengan nada sedu dan mulai muram
Claude mengenggam tanganku
" Frenessa, kamu sudah aman. Nggak ada lagi yang menyakitimu. Aku disini. " Ucap Claude dengan berusaha menyakinkan ku dgn lembut
__ADS_1
Claude terus berusaha membuatku melupakan penculikan itu. Dia berusaha tidak menyinggung nya lagi
Lampu tiba tiba mati dari luar terdengar seruan panik para pelayan.
" Claude! " Spontan karena kaget dan takut aku menyebut namanya
Kegelapan itu mengintimidasi ku aku terasa kembali di kurung penjara Dingin itu
Claude segera menarikku ke peluk kan nya
Mataku mulai membiasakan diri dengan cahaya bulan masuk dari jendela
Aku masih gemetar ketakutan rasa nya sulit menghapus penculikan itu
Claude memelukku erat sekali
" Claude, mereka masih mencariku. Mereka mau mengurungku lagi, Mereka akan menbunuhku. " Ucapku dengan nada sedu dan juga gemetar
" Frenessa, tenanglah. Nggak akan ada yang menangkapmu. " ucap Claude dengan nada tegas dan berusaha menenangkan ku.
" Aku disini. Tak akan kubiarkan mereka melukaimu. " Lanjut Claude dengan mengelus rambutku.
Claude mengusap kepalaku dengan lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa lebih tenang
Kilas kenangan soal penculikan seolah tergantikan oleh kenangan ku dengan Claude
Claude yang sejak awal membantu ku dan menjaga ku dan dapat di andalkan...
Entah kenapa aku merasa nyaman di pelukannya
Lamu kembali menyala stelah para pelayan memperbaiki sumber energi
" Terima kasih, Claude. ucapku dengan berterima kasih.
Aku meregangkan tubuhku.
" Udah merasa lebih baik? " Tanya Claude padaku dengan tenang
" Terima kasih.! " Ucapku lagi dengan lembut
" Aku cuma menemanimu, Kok! " Ucap Claude dengan agar tak di besarkan
Aku menggeleng kuat kuat
" Terima kasih karena sudah menyelamatkan ku. Selalu menjaga dan menghiburku. " dengan nada senang dan juga bahagia
" Aku bersyukur Sang Hyang masih menyayangi mu. Aku ngga bisa membayangkan kalau aku kehilangan kamu. " Jelas Claude dengan nada yang amat bersyukur.
GREB
Tiba-tiba Claude berlutut di depanku, meraih tangan kanan ku
" Claude! Apa yang kau lakukan? " Ucapku terperangah melihat hal ini
" Frenessa. Aku memang nggak selihai adikku kalau soal bertarung. " Ucap Claude dengan nada penuh keyakinan lalu
" Tapi izinkan aku berjanji, aku akan mengunakan semua kekuasaan yg kupunya untuk menjagamu. " Lanjut Claude dengan penuh tekad yang kuat
DEG
" Claude.... Aku... " Ucapku dengan bingung harus berkata apa
Claude berdiri dan menatapku dgn serius
" Aku sungguh-sungguh. Aku sudah memerintahkan pengawal pribadiku untuk sementara menjagamu. " Ucap Claude dgn serius namun ada senyum
DUARR bagaikan tersambar petir jika di komik aku terkejut dengan perkataanya
" Apa?! Nggak, nggak! Mana bisa aku Nerima itu " Ucapku menyangkal agar dia tak berlebihan
" Nggak usah dipikirkan " Ucap Claude dengan menyangkal dan
Claude mengelus pipiku dengan lembut
" Istirahatlah. " ucap Claude dengan menyuruhku istirahat
Setelah itu, aku pun memutuskan keluar menuju kamar namun aku melihat Lee masih di dekat taman dan tengah berbicara dengan para pengawal dan
' ternyata dia masih disana ' batinku merasa aga bingung dan
" Lebih baik aku susul dulu Lee di taman " Ucap ku dengan senyum dan lembut dan
Aku keluar menuju taman, lalu menunggu Lee selesai bicara dengan para pengawal
" Nggak bisa tidur? " Tanya Lee pada yang
" Begitulah... rasanya aneh sendirian. Aku terus inggat kejadian itu. " Ucapku dengan nada sedu dan bingung
" Kamu mau menemaniku jalan jalan sebentar? " tanyaku padanya minta di temani
" Baiklah. " Ucap Lee dengan nada tenang
Lee menawarkan untuk mengandeng Ku
" Ucap Lee dengan nada tenang dan senang
Aku meraih tangan nya, dan dia mengajakku menyusuri semak-semak bunga yang mulai mekar
" Malam ini aga Dinggin. "Ucap ku dengan nada aga gemetar dan
" Seumur hidup. Aku engga berpikir akan merasakan diculik.Entah apa aku bisa melupakannya atau enggga." Lanjutku lagi dgn menunduk dan menghelang Nafas berat
Lee mengeratkan genggaman nya padaku
" Sejak tadi, aku marah pada diriku sendiri. Ucap Lee dengan menatapku sedu dan bersalah
" Aku gagal Melindungimu. Dan kamu jadi harus mengalami semua ini. Aku engga akan bisa memaaf kan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu padamu tadi." kesal Lee tak bisa melindungiku
" Lee, kupikir kamu engga salah. Kamu sudah menyelamatkan ku aku ada disini sekarang, berkat mu juga." Ucapku dengan dengan nada menyangkal bahwa ini bukan salah dia
" Aku senang semuanya sudah berlalu. " Lanjut ku agar terlihat lebih kuat di hadapannya namun
" Aku harap aku bisa melupakannya
Suara Mentri chandana, teeriakanku meminta tolong.... " Aku kembali sedu dan tak bisa menahan rasa takutku
"...Rasanya aku masih bisa mendengar semuanya. aku jadi engga bisa tidur " Ucapku dgn gemetar mengingat kejadian itu
Lee menghentikan langkahnya lalu melepaskan genggaman kami.
GREB
Tiba-tiba saja, dia menunduk dan meletakan kedua tangannya menutup hidung ku
" Bisa mendengarku? " tanya Lee dengan tenang dan menatap ku lembut
Aku cuma bisa mengangguk lidah ku terasa kelu.
" Frenessa dengarkan aku. Tanya Lee dengan lebih ke pernyataan ku dan
" Aku berjanji, mulai sekarang Enggak ada lagi yang bisa menyakiti mu. aku akan Melindungimu " Ucap Lee membuat ku merasa lebih tenang
Saat itu aku tidak mendengar apapun selain suara Lee.
Suara selama ini Dinggin, ketus, malam ini justru mencairkan Dinggin di hatiku.
Lee tampak sungguh sungguh waktu dia mengucapkan janji nya
" Inggat ini setiap kali kamu teringat penculikan itu, mengerti? " Ucap Lee dengan penuh keyakinan pada ku
Lagi-lagi aku cuma bisa menyetujui permintaan nya
" Gimana kalau caramu engga berhasil? " Ucapku dengan nada aga menjahili dia makin
DUAKK
Lee menjitakku
" Kenapa sih, kamu suka banget menjitakku?! " Sedu ku kenapa aku kena pukulan
" Kalau caranya tadi nggak berhasil. Apa boleh buat. Aku akan menemanimu tidur supaya kamu merasa aman " Ucap Lee dengan nada senang dan juga jahil
DEG
Lee tersenyum nakal, dan itu membuat pipiku memanas
" Apa sih kau ini?! " Ucapku dengan nada mulai gugup
" He... kenapa mukamu jadi merah gitu.? " Tanya Lee jahil melihat mukaku
DEG
" Me-merah? Nggak! Siapa? " Ucapku dengan mulai gugup dan malu yang makin menimpa
Aku berusaha menutup wajah ku
" Aku kembali saja. Sudah yah! Terima kasih. " Ucapku dengan nada gugup dan lalu berlari
Lee tersenyum geli melihatku, aku yakin dalam hati, dia pasti menganggap konyol,
Part 4
Sudah beberapa hari sejak penculik kan ku berlaku dan aku berusaha melupakanya
Aku mengunakan waktu ku bersantai. Salah satunya menikmati teh di kafe bersama Noah
Aku bersyukur Noah dan ayah berusaha agar tidak menyingung soal malam penculikan itu lagi
" Akhirnya hari ini aku bisa damai " ucapku dengan nada lembut
" Bukanya mau merusak kebahagiaan mu kak. Tapi seleksi masih berlanjut loh. " ucap Noah dengan nada aga sedu
" Kadang aku rasanya lupa sama sekali seleksi. Setelah yang ku alami Salami ini... " Ucapku dengan nada aga sebal dan berpikiran
Aku siap hadapi apapun bawa sini tantangan apapun aku hadapi " ucap ku percaya diri
" Percaya diri banget sih! Ingat hrus waspada. " Ucap Noah dengan memperingatkan ku
Noah menuangkan secangkir teh susu untukku lalu menaburinya sedikit seisi bawang putih.
" Nikmati dulu kak. Kedepannya memang engga akan jauh lebih mudah " ucap Noah dengan nasehat
" Namun melihatmu mengikuti seleksi sejauh ini. Aku yaking kamu mampu. Bagiku kamu selalu nomor satu di dunia. " Lanjut ucapan noah dgn yakin .
' terima kasih Noah * batin ku merasa senang dan hangat
Kak ada odelia " bisik Noah dgn aga cemas
Noah berbisik padaku sambil memberi tanda ke arah pintu. Aku menoleh ke arah pintu masuk
Odelia Masuk didampingi pelayan. Ya. Pandangan kami aku mengangguk kan kepalaku padanya
' dia kelihatanya baik baik saja " gumang ku dengan syukur dia baik saja
' eh dia menuju kesini " pikirku kaget dengan terkaget dia kemari
Odelia menghampiriku " selamat siang Nona Frenessa . Tuan Noah ." Ucap odelia ramah
" Selamat siang odelia suatu kebetulan kita bisa bertemu disini " ucap Noah dengan cemas
" Bagaimana keadaanmu. Nona Frenessa " tanya odelia padaku dgn aga sedu.
' aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku " ucapku. dengan senyum ramah
Aku berusaha keras mempertahan kan ekpresiku.
" Sejujurnya aku segaja kesini karena kudengar kau ada di kafe ini " jelas odelia alsan dia datang ke kafe ini
" Ada urusan apa? Sebetulnya kuharap kau memberikan keluarga kami beberapa waktu. Kamu pasti tau belakang ini situasi menegangkan kan bukan " Ucap Noah dgn nada khawatir & sinis
Odelia tampak sedih mendengar pe katakan Noah. Tapi kelihatanya tidak tersinggung
" Aku inggin berbicara denganmu apa kau bersedia ? " Ucap odelia dengan memohon.
Aku dan Noah saling pandang an Noah menyerahkan keputusan ya padaku.
" Noah tolong pesankan kue untuk si bawa pulang " Ucap ku pada Noah
" Noah menangkap kode ku untuk meninggalkan aku dan Odelia berdua
" Kaka yakin " ucap Noah dengan menyakinkan ku
Dia masih ragu meninggalkanku aku tersenyum menenangkan nya
" Aku akan baik-baik saja " ujarku dengan lembut
Begitu Noah prgi. Aku mempersilah kan odelia duduk. Untuk beberapa saat. Tak ada bicara di antara kami
Kami sama sama terdiam dalam pikiran sendiri. Mencari cara buka percakapan
' apa yang mau dia bicarakan ' bingungku. Dengan hal ini
" Aku minta maaf atas perbuatan ayahku. " ucap odelia dgn memohon
' Minta maaf ' pikirku bingung
Aku mencermati omongan odelia tidak yakin apa tujuannya minta maaf
" Selama ini kamu mengetahui rencana nya " bisiku dengan pelan padanya
Stelah itu ia tampak ragu untuk menjawab
" Mungkin sulit dipercaya. Tapi aku pun engga menyangka ayahku akan berbuat sejauh itu " ucap odelia dengan sedu
Ingatan soal penculikan itu membuat tanganku gemetar. Ku kepalkan kedua tanganku supaya tetap tenang.
" Aku hampir mati malam itu. " Pikirku dengan nada aga ragu
" Maafkan ayahku, ini semua karena aku yg engga.bisa di andalkan * odelia semakin memohon
Kami sama-sama kehilangan kata kata aku menegug tehku. Kerena aku takut lagi harus berkata apa
" Tolong jangan perpanjang masalah ini
" Kejadian kemarin. Bisa memaafkan tapi aku tak bisa melupakan nya. Kurasa selama nya aku engga bisa melupakan nya " ucapku dengan kembali ketakutan
' aku mengerti aku tidak dalam posisi meminta banyak dariku. " Ucap odelia dengan nada sedu juga
Kami meneguk teh dalam diam waktu ku manfaatin Untuk mengamati perempuan di hadapan ku
" Aku masih ingat percakapan odelia dan ayahnya tempo hari
Siapa sangka orang yang ku anggap lawan tangguh ku justru begitu rapuh .
Andai kami engga bertemu sebagai lawan mungkin kami bisa bersahabat
' ayah mu bukan pria baik. Aku mendengar percakapan kalian di istana waktu itu " ucapku dan hal itu
Sukses membuat odelia terkaget
" Maaf karena sudah menguping " ucapku dengan meminta maaf
Odelia membuang muka nya
Gimana caranya aku Carita ke odelia bagaimana kalau aku pernah ada di posisinya?
" Odelia maaf kelancangan ku tapi ayah mu orangnya' mengerikan. Kamu engga bisa terus melindungi "nya ucapku dengan hati-hati
" Ayahku dia selalu seperti itu kalau aku bilang masa waktu dia memeluk ku dan menggendongku di atas bahunya apa kami bisa percaya? " Tanya odelia dengan mengungkit masa lalu nya
" Sejak kecil aku belajar giat buat dia tersenyum bangga. Lalu memelukku sekali lagi apa itu salah ? Tanya odelia dengan mata berkaca
" Tapi yang kamu lakukan bukan mencintai ayahmu Malah menghancurkannya " ucapku dengan nada menasehati
" Karena dia mau membunuhku besok. Dimasa depan. Apa yang akan dia lakukan untuk memenuhi ambisinya. Aku akan tetap melaporkan pada paduka raja. " ucapku dgn nada nahan amarah
" Kurasa tak ada lagi yg inggin ku katakan lagi " ucapku sambil bangkit dan pergi.
Odelia berdiri dan " tunggu! " Ucapnya mencegah ku.
Aku mengurungnya pergi odelia menatapku dgn serius.
" Aku inggin membuat kesepakatan dengan mu ." Ucap odelia mengajukan sesuatu
" Kesepakatan? Maksudmu ? " Ucap ku dengan bingung
" Kumohon jangan panjang kan hal ini
" Keras kepala sekali " pikirku melihat dia memohon gigih
" Sudah kubilang kan tadi- " ucapku Tegas namun kepotong ketika dia mengatakan
" Tolong berikan kesempatan untuk ayahku. Sebagai gantinya " ucap odelia aga ragu melanjutkan kalimatnya
__ADS_1
Aku akan mengeluarkan diri dari seleksi dari permaisuri
To be continued