Redamancy: Love Is War

Redamancy: Love Is War
Alvaro


__ADS_3


Suara nyanyian lantang band cover ala Perona and the gengs membuat gemuruh ricuh di aula sekolah? Kenapa tidak? Pasalnya demo ekskul yang mereka bawakan sekarang membuat semua orang terhipnotis parah. Kagum dengan suara dan visual mereka.


Perona bernafas sengal, habis nyanyi gadis itu menatap seluruh penonton yang memberinya tepuk tangan heboh sambil berdiri. Gila! Vokalis utama dari band itu, Perona, seketika merasa habis konser dunia.


"Rona!" Suara teman perempuannya yang bermain keyboard memanggil. Dia tersenyum senang melihat sahabatnya itu. "Kita berhasil!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi Perona selalu sama, walau ketua humas OSIS ini selalu sibuk dia selalu punya waktu untuk bandnya.


"Tumben dateng pagi-pagi gini Ron, biasanya nangkring ke anak OSIS dulu."


Perona mengangkat sudut bibirnya kesal, dia melihat lurus Netta, sang sahabat dari kecil tengah makan pie susu. "Gue lagi males nangkring di sana, tiap pagi selalu liat kak Agnes sama kak Zidan cepika-cepiki, gue ga mau jadi jones beneran dah!"


Jawaban Perona dihadiahi tawa oleh dua personel bandnya. Ohh tentu saja, sudah biasa bagi mereka mendengar eluhan perempuan itu. Tiap pagi Perona selalu disambut kemesraan dari ketua dan wakil OSIS-nya, kalau bukan kakel mungkin sudah Perona terjang sampai nyemplung ke danau Toba.


"Btw Ron! Bentar lagi kita mau demo ekskul, kamu udah tahu mau nyanyi lagu apa?" Perempuan berhijab yang bermain keyboard itu akhirnya nimbrung di tengah-tengah mereka.


Perona menggeleng kepala. Jujur saja, mereka bertiga baru mulai nge-band lagi sejak terpisah kabupaten. Perona pindah rumah ke kabupaten yang lebih jauh dari dua teman kecilnya itu, Netta dan Annisa.


"Lahh kok belum tahu, lima bulan lagi kita demo ekskul lohh," peringat Annisa. "Lima bulan kalau dijalanin ga kerasa."


Perona mengerutkan mulutnya, dia juga bingung sih sebenarnya. Kenapa? Band mereka kekurangan orang, dia masih mencari gitaris dan drummer. Mana cukup kalau cuman dia sebagai vokalis dan dua personel lainnya. Netta cuman bisa main bass, sedangkan Annisa cuman bisa main keyboard.


"Nanti deh gue pikirin, gue lagi nyari gitaris sama drummer."


Brakk!


Perona menutup kasar pintu ruang eskulnya, meninggalkan Netta dan Annisa yang saling menghela nafas lelah. Bagaimana tidak semenjak kepindahan perempuan itu, Perona di rasa sudah berubah. Netta dan Annisa bahkan beranggapan sama. Padahal dulu Perona itu anak yang ceria dan baik, tidak seperti sekarang yang amarahnya tidak bisa dikontrol. Selalu lepas kendali.


Sudah hampir setahun Perona bersekolah di SMA selas ini. Semenjak dipaksa pindah rumah oleh kedua orang tuanya, gadis itu berubah menjadi pemberontak. Contohnya saja sekarang, dengan bermodal nekat dia tinggal sendirian di kota ini, pergi atau kabur dari rumah keluarganya.

__ADS_1


"Haa jadi kangen sama Kak Kenzo," gumamnya mengingat sang kakak yang kuliah di luar negeri.


Melewati gedung anak IPS, Perona berhenti ketika telinganya menangkap suara ricuh. Dia menoleh ke sumber suara dan menggeleng pusing setelahnya. Kenapa? Lagi-lagi suara teriakan histeris para siswi perempuan baik itu anak IPA dan IPS yang terkagum-kagum dengan visual sih anak kepala sekolah yang Playboy.


Arlan Abimana. Perona secara pribadi tidak suka laki-laki itu. Tidak tahu mengapa setiap kali melihat wajah songong dan sombongnya pria itu Perona selalu ingin menjitaknya. "Terserah lah males sama tuh orang!" Dengan tak peduli Perona melewati gerombolan gadis itu dan berjalan ke kelasnya.


Dari kejauhan Arlan menggerutu kesal melihat Perona berjalan melewatinya. Bukan suka atau apa, dia butuh Perona untuk membubarkan barisan para mantan-- ups sebagai playboy sekolah hampir semua siswi perempuan di sana yang sudah dia kencani lalu diputusi tanpa alasan.


"Oyyy Perona!!" Teriakan Arlan sukses membuat Perona mendecih kesal. Pria itu berjalan santai melewati mantan-mantannya dan langsung merangkul Perona. "Selamat kan aku dong~" Bisik Arlan dan merangkul tubuh kecil Perona.


"Lepas ah!" Gerutunya tak suka.


Perona yang kalah dengan badan kekar nan segede gaban milik Arlan lantas kalah. Dengan helaan nafas gusar Perona berteriak menyuruh para gadis itu untuk pergi dan kembali ke kelas. Mereka yang melihat Perona yang 'sepertinya' dalam mood buruk akhirnya lari pontang-panting, tak berani menghadapi macan sekolah itu.


"Udah lepas!" Seru Perona seraya menampik tangannya.


Arlan terkekeh, tersenyum tipis melihat punggung perempuan itu yang menjauh darinya. Dia berlari ke arah Perona dan merangkulnya lagi. "Barengan dong, kan kita sekelas."


"Udah ya Arlan, ntar gue dikira pacaran sama lu, sana ah!"


Perona mendecih lagi menatap teman seper-animeannya itu. "Dihh ogah! Gue nyari yang anak baik-baik ga kaya loe yang suka mainin perasaan cewek!"


"Dih jahat banget! Ga boleh gitu sama calon suami atuh."


"Your head calon suami!"


Seberapa kesalnya Perona dengan Arlan, gadis itu masih membiarkan tangan Arlan berada di bahunya. Yahh seperti itulah hubungan mereka berdua. Kalau bukan karena anime yang mempersatukan mereka, Perona tak kan pernah menggubris pria itu dari awal.


"Ron, kata bokap gue bakal ada anak baru, jurusan IPS tapi."


"Ohh kalau itu sih gue udah tahu dari kak Zidan, tapi lu tahu ga siapa nama anak itu? Katanya sih cowok."


"Namanya itu, bentar mikir dulu." Arlan mengerutkan keningnya lalu menatap Perona lagi. "Kalau ga salah denger namanya itu Alvaro Natanael deh."

__ADS_1


"Ohh jadi namany--"


"GYAAA!!"


Arlan dan Perona sontak menoleh serempak ketika mendengar suara ricuh plus teriakan. Dua orang itu terkejut dan heran saat mobil sport hitam memasuki pekarangan sekolah.


"Mobil siapa tuh Lan?" Tanya Perona berbisik tepat di telinga Arlan yang cukup tinggi darinya.


"Ga tahu dah, mobilnya mirip bat sama punya gue."


Perona memutar bola matanya malas, dia sudah tahu kalau sih Arlan Abimana ini anak holkay yang punya banyak uang dan suka koleksi mobil, baik mobil lama dan baru. Hahaha tentu saja gabutnya orang kaya memang beda.


"Gue serius ya Arlan Abimana!" Kesal Perona pada Arlan di sebelahnya.


Arlan menatap Perona dengan cengo, padahal dia juga serius barusan. Emang di kira main-main? "Gue juga serius Perona Adhitama!" Serunya ikut-ikutan mengucapkan nama lengkap.


Mobil itu berhenti tepat di depan kelas Perona dan Arlan. Pintu terbuka dan memampangkan laki-laki bertubuh kekar sama seperti Arlan keluar. Wahhh rahang Perona jatuh melihat ketampanan sosok pria itu. Tinggi, wajahnya kalem seperti cowok cool, dan kek bad boy kalau kata Perona mah.


"Itu anak barunya Lan?" Tanya Perona sweatdrop.


"Yep, ganteng kan kek gue."


Perona tak lepas pandang dari laki-laki itu. Pesonanya berhasil menyihir para siswi perempuan termasuk Perona yang terkenal dengan julukan macan sekolah yang anti dengan pacaran.


Laki-laki tadi berjalan ke ruang guru dan suara koar-koar siswi perempuan tak kunjung berhenti. Perona menoleh ke arah Arlan di sebelahnya dan menyenggol pria itu. "Ayok masuk, ntar lagi bel pelajaran Bu ulpah telat bisa disuruh lari lapangan."


"Keknya cuman lu doang yang bakal di hukum, gue sih nggak. Anak kepsek mana mungkin di hukum."


"Dih penyalahgunaan wewenang!" Perona menarik pipi pria di sebelahnya dengan keras, meninggalkan bercak merah di pipi kanannya.


"Jangan gitu dong yang, nanti wajah gue ga ganteng lagi."


"Apanya yang ayang hah? Jijik banget!"

__ADS_1


Dari kejauhan, dua insan itu tak sadar tengah diperhatikan sepasang mata dengan intens. Tangan orang itu mengepal, entah kenapa rasa kesal mendatanginya saat melihat dua insan itu yang saling rangkul mesra sekarang.



__ADS_2