
Perona berdiri di depan pintu kelas IPS 1. Dengan iming-iming membawa buku kimia mereka dari Bu Ulpah, perona menjadikan itu sebagai kesempatan untuk bertemu dengan pria itu, Alvaro.
Alvaro duduk di barisan depan sekali dekat meja guru, selagi dia lewat depan pria itu Perona berbalik melihat wajah Alvaro. Ternyata Alvaro sedang tertidur lelap, terdengar dengkuran halus keluar dari pria itu.
"Ron! Buku dari Bu Ulpah ya? Makasih!" Suara teriakan perempuan yang duduk di belakang Alvaro menggelegar dan membuat Alvaro terbangun. Pria itu mengerjap ringan, membuat Perona gemas.
"O-oh i-iya, ini buku dari Bu Ulpah, nih!" Perona meletakkan setumpuk buku kecil di atas meja guru.
"Makasih Bu humas!"
"Dih!" Perona mendecih tak suka. Dia paling anti di panggil pakai Bu, memangnya dia sudah punya anak apa sampai-sampai dipanggil ibu? Dia masih anak SMA masih bau kencur.
Sebelum pergi Perona menoleh ke Alvaro sebentar, sekarang dia sudah bangun sepenuhnya. Wajah bangun tidur pria itu sangat imut kalau Perona mendeskripsikannya, matanya merah khas bangun tidur, rambutnya sedikit berantakan.
Laki-laki itu menatap mata Perona dengan matanya yang masih sendu, belum terlihat segar. Dengan senyuman manis Perona tersenyum. "Hay, sudah bangun? Sebentar lagi istirahat selesai." Perona menyapa Alvaro yang hanya menatapnya datar.
"Tahu makanya aku bangun," jawabnya.
Perona tak menyangka kalau Alvaro akan menjawab sapaannya. Yahh walaupun terdengar kasar dan tak ikhlas, namun Perona bahagia kalau pria itu tak mengabaikan dirinya. Hahaha setidaknya dia sudah maju satu langkah untuk menarik pria itu jadi gitaris di band-nya.
"Kok kamu malah tidur sih?" Perona mengganti tutur bahasanya menjadi lebih sopan, biasanya dia selalu gunakan gue dan Lo untuk bicara, namun pria ini adalah calon teman barunya. Yeah first impression itu kan penting, ya kan?
"Ya karena aku ngantuk lah. Pake acara nanya segala?!" Dia merengut menatap Perona dengan sinis. Jawaban Alvaro barusan membuat Perona terdiam. Baru kali ini ada yang bicara kasar seperti itu padanya. Walaupun Arlan dan dia saling melontarkan kata-kata kasar, entah kenapa perkataan kasar pria itu barusan lebih menyakitkan.
Kalau dia perempuan yang baperan mungkin sekarang dia akan menangis dan langsung punya penyakit hati, anggap saja seperti ditolak sebelum menyatakan. Untung saja Perona ini anak yang baik dan tidak sombong, cuman kepengen lempar kursi ke wajah pria itu. Songongnya sama kayak Arlan tapi lebih nyebelin.
"Iya yah, masa lagi laper. Hahaha bego banget gua nanya itu ke elu." Tawa renyah Perona terdengar oleh Alvaro. Otot wajah Perona menegang menunjukkan beberapa urat keras. Ingin sekali dia damprat perempuan itu dengan api naga.
"Oy Bu humas!" Panggil laki-laki bertubuh pendek di depan kelas. Perona menoleh, moodnya lagi buruk karena jawaban si Alvaro tadi sekarang malah di panggil pakai Bu.
"Ngapa?!" Jawabnya galak.
"Dicariin pak Sutris tuh! Si botak Waka kesiswaan!"
Dengan rengutan malas akhirnya dia pergi meninggalkan Alvaro yang masih diam duduk di kursinya. Perona berlari dengan kencang menemui si Waka kesiswaan, pak Sutris.
"Iya pak?" Dengan nafas terengah-engah dia menghadap sang guru.
Pak Sutris memberikan gadis itu selebaran berwarna-warni. Di atas selebaran tersebut tertulis "musical artists school". Perona melihat sang guru dengan tatapan bingung.
"Apa ini pak?" Tanyanya, jujur saja kalau dia sudah tahu maksud dari selebaran itu. Yang dia tanya itu kenapa pak Sutris menyerahkan selebaran tersebut padanya.
"Kamu pernah kan tanya sama saya tentang lomba musik? Ya itu saya dapatkan dari kerabat saya. Jadi ya saya berikan pada mu." Sebelum melanjutkan perkataannya, pak Sutris kembali menyerahkan secarik kertas kecil pada Perona. "Ini admin yang ngurusin lomba itu, bilang saja kalau kamu anak murid saya."
Dengan mata berbinar Perona menerima kertas kecil itu atau yang kita sebut name card. "Se-serius pak?" Tanya Perona sweatdrop.
__ADS_1
Pak Sutris mengangguk. "Karena lomba itu tingkat sekolah jadi jangan lupa masukan nama sekolah, sekalian kalau menang pialanya buat sekolah."
"Kalau pialanya buat sekolah sih gak apa pak, yang penting cuannya buat kami."
Pak Sutris lantas menjitak Perona dengan senyuman sarkas. "Bagus ya, masih kecil udah mikirin duit."
"Oh iya dong pak, investasi itu penting. Kan bapak sendiri yang ngomong waktu jadi pembina upacara kemarin."
"Ada-ada saja kamu, sana pergi, lama-lama saya darah tinggi ngadepin kamu."
Perona pun bersorak senang setelah keluar dari guru. Perempuan itu tak bisa menahan kegembiraannya. Sudah lama Perona ingin ikut lomba musik seperti itu, hitung-hitung konser lah ya.
Dengan berteriak seperti orang gila dia berlari menemui Netta dan Annisa yang berada di lab fisika. Iyapss mereka berdua masih terjebak dengan Bu Selvia. Remedi fisikanya kemarin malah membuat nilainya tambah anjlok, akhirnya remedial lagi.
Dengan mengendap bak pencuri, Perona menunjukkan selebaran yang dia dapat dari pak Sutris tadi pada dua sahabatnya itu.
"Beneran?" Tanya Annisa berbisik.
"Jadi kita ikut lomba itu?" Giliran Netta yang berbisik.
Perona pun mengangguk. "Setelah demo ekskul kita bakal ikut lomba ini! Gimana mau ga?" Perona bertanya dengan gembira.
Dua sahabatnya mengangguk dengan semangat. "Kami mau!"
"Yoshh fisika harus selesai hari ini!! Oraa!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arlan menguap sambil menyandarkan dagunya di pucuk gagang sapu. Hari ini jadwalnya piket kebersihan. Semenjak dia turun kasta dari pangeran sekolah menjadi rakyat jelata, pria itu jadi rajin piket kelas.
"Oy Lan! Temenin gue buang sampah dong!"
"Dih ogah nemenin lu, gue masih lurus!"
"Bukan itu yang gue maksud bangsul!"
Arlan terkekeh menanggapi, "oy gantiin gue nyapu dong. Mau buang sampah bareng Dika, dia penakut soalnya!" Teriak Arlan.
"Sini, kasih gue biar tak gantiin!"
"Okey!"
Dua tong sampah berukuran sedang namun penuh dibawa oleh Arlan bersama teman kelasnya, Dika. Di perjalanan menuju bak sampah utama yang mana harus melewati gedung anak IPS, Arlan sempat melirik ke arah kelas Alvaro. Dilihatnya pria itu tengah menghapus papan tulis, apa hari ini jadwal piket bocah itu juga? Arlan berpikir. Tak mau ambil pusing Arlan melewati kelas tersebut.
"Pulang sekolah ke warnet yok?" Dika menepuk punggung Arlan.
Laki-laki itu pun menggeleng, "ga bisa kalau hari ini, gue ada acara keluarga."
__ADS_1
"Kalau gitu lu kapan ada waktu? Udah lama kita ga kumpul bareng anak-anak yang lain."
Arlan berdeham, benar juga kata Dika. Dia baru sadar kalau dia dan teman tongkrongannya itu sudah lama tak berkumpul. Sejak kapan ya? Mungkin semenjak si pangeran sekolah yang baru datang.
"Nanti gue kasih tahu deh kapan gue free, gue pengen Mabar juga."
Usai membuang sampah yang mereka bawa tadi, Arlan dan Dika kembali lagi ke kelas. Selama berjalan ke kelas, mereka berdua membahas game yang akhir-akhir ini mereka mainkan. Apa yah, itu loh yang bisa main bareng orang lain, yang lagi booming pokoknya!
"Sumpah, lu sama Perona jago banget main itu, sesekali kasih lah kita kesempatan buat menang atuh."
"Dih ogah, kalian aja yang noob, sini les privat sama gue, 200 ribu per jam."
"Your head 200 ribu perjam, lu meres orang apa gimana? Holkay kok minta duit, gratis lah!"
"Holkay juga butuh duit oy! Lu pikir rakyat jelata kek lu doang yang butuh duit?"
"Kurang ajar lu Lan!"
Tawa Arlan dan Dika memudar saat melihat Alvaro berdiri di tengah-tengah mereka, otomatis menghalangi jalan mereka. Pria itu menatap Dika sebentar lalu ke Arlan.
"Can we talk?"
Arlan mendesah gusar, "Stop it, I don't wanna use English with a donkey like you." Arlan menarik lengan baju Dika lalu berjalan melewati Alvaro.
"Sebentar saja, please?"
Suara Alvaro yang terdengar memohon itu didengar oleh Dika. Pria itu menaruh rasa iba walau tak mengerti mengapa Arlan tak mau bicara dengan Alvaro. "Udah sesama pangeran sekolah ngobrol dulu aja. Sini gue bawain tong sampah lu!" Dika pun berlari meninggalkan Arlan bersama Alvaro sendirian.
Suasana canggung dan awkward ini membuat Arlan merasa tak nyaman. Pria itu beberapa kali menggaruk tengkuk lehernya. "Jadi mau ngomong apa? Cepetan gue sibuk, belum selesai nyapu."
Alvaro menatapnya datar. "Tentang pertemuan hari in-"
"Arlan!!"
Belum sempat Alvaro menyelesaikan perkataannya, suara Perona meneriaki Arlan pun berkoar. Mereka berdua menoleh ke arah Perona yang sekarang berlari ke arah Arlan.
"Lihat, gue bakal ikut kontes nyanyi. Lu harus nonton!" Selebaran itu pun diserahkan ke Arlan.
"Azekk nanti gue nonton paling depan!"
Alvaro yang berada di Tengah-tengah mereka cosplay menjadi obat nyamuk. Arlan tengah mengelus pucuk rambut sang perempuan. Dia ingin bicara bersama Arlan namun terinterupsi.
"Kak Arlan!"
Suaranya barusan membuat Arlan membeku.
__ADS_1