
Arlan membeku mendengar Alvaro memanggilnya menggunakan "kak." Begitu pula dengan Perona di depannya.
"Kok panggil kak? Kalian berdua seumuran loh." Perona mengingatkan Alvaro kalau dia dan Arlan itu seumuran, Yeahh mungkin berbeda bulan saja.
"Ohh mungkin karena bulan lahir gue lebih tua jadi dia panggil kakak. Gue bulan Januari tanggal 1 sih, lu kapan?" Arlan dengan santai merangkul tubuh Alvaro yang sama besarnya.
"November, tanggal 25." Jawaban Alvaro barusan membuat Perona tersenyum tipis. Seketika dia merasa hatinya berbunga-bunga. Kenapa? Bisa dibilang kalau perempuan ini punya rasa terhadap Alvaro.
"Kan tua-an gue. Lu aja bulan April yeu kan Ron? Harusnya lu panggil gue kakak juga."
"Dih ogah." Perona mendecih sembarang arah, matanya tak luput menatap Arlan yang entah bagaimana bisa akrab dengan pria itu. "kalian kok bisa akrab sih?" Tanya Perona penasaran.
Rahang Arlan jatuh ketika Perona bertanya. Pria itu langsung keringat dingin. "Mmmm... kita berdua ini temen lama ya kan Ro?" Arlan menatap netra hitam Alvaro, beradu pandang dengan hazel miliknya.
"Hah lu berdua temen lama? Temen dari kecil kah? Childhood friends?"
Alvaro merasa bingung dengan pertanyaan Perona yang bertubi-tubi. Gadis itu menatapnya dengan binar mata yang tak biasa, bahkan antusiasmenya membuat Alvaro gugup sendiri. "Iya kami udah pernah temenan waktu kecil," Jawabnya.
"Pantes kalau lu tahu dia bisa main gitar Lan, ternyata udah temenan dari kecil!"
"Gitar?" Alvaro mendelik menatap yang lebih tua sembilan bulan darinya itu. "Apa maksudnya?" Tanya Alvaro, lagi.
"Oh itu gue pernah bilang sama Perona kalau lu bisa main gitar. Sana join band-nya biar ada gitaris mereka." Arlan menepuk punggung Alvaro kencang hingga dia termaju selangkah.
"Kenapa malah aku?" Alvaro kian kebingungan. Baru bertemu dengan Perona saja langsung disuruh main join band-nya.
"Pliss ya bantuin gue, band sekolah kita lagi butuh gitaris sama drummer. Kata Arlan Lu jago main gitar jadi pliss ya join band gue?" Ucap Perona memelas. Tatapannya yang berbinar masih tak luput, malah diselingi dengan tatapan memelas seperti anak anjing.
Alvaro menoleh ke belakang mencari si Surai hitam pekat. Arlan tak melihat ke arahnya melainkan sibuk bersenda gurau dengan para wanita di kelasnya. "Aku bakal join kalau Arlan juga join. Orang ini bisa main drum."
"Uhuk!" Arlan tersedak ludahnya sendiri. Kemudian dia melotot horror ke arah Alvaro, memberi pria itu death glare yang mengerikan. "Ogah!" Seru Arlan tak suka. Suaranya yang setengah berteriak itu membuat seluruh anak IPS 1 menoleh ke depan kelas.
__ADS_1
"Lu bisa main drum Lan?" Perona menarik pria itu mendekat ke arahnya. "Jujur lu sekarang, lu bisa main drum kan?"
"Dia bisa main drum, jadi suruh dia join juga kalau mau aku join."
Perona melihat ke arah Arlan kembali. Jujur Arlan memang bisa main drum, tapi sudah lama dia berhenti main drum sejak kejadian 'itu' terjadi. Setiap kali dia melihat atau menyentuh stik drum maka kepalanya akan terasa pusing dan mengingat kejadian 'itu' lagi. Hell no, dia tidak mau membuat hatinya kembali sakit.
"Nggak mau ah, gue udah ga bisa main drum lagi. Bye!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perona melompat ke atas kasurnya sambil bermain ponsel. Gadis itu menghembuskan nafas kesal menatap pesan teksnya yang hanya Arlan baca sejak tadi. Usai jam istirahat tadi, Perona tak berhasil mencegat pria itu di jalan. Niatnya untuk membuat pria itu gabung malah berujung Arlan kabur.
Arghhh, Perona menggusar rambutnya kasar. "Arlan kenapa sih, tumben dia ga gangguin gue? Biasanya tiap menit selalu nge-chat ga jelas." Bukan, Perona bukan merasa rindu dengan ketikan tak jelas Arlan yang selalu mengganggunya ketika nonton anime. Dia hanya merasa-- ermm bagaimana ya menjelaskannya. Hanya sedikit merasa aneh.
Perona membuka pintu kamar kosannya kasar ketika mendengar ketukan dari luar. Di luar sana, Perona melihat kedua sahabatnya berada. Netta dan Annisa membawa tentengan kue dan kantong kaefci.
"Lah gak bilang kalau mau mampir?" Ucap Perona mempersilahkan dua sahabatnya itu masuk.
"Assalamualaikum," Ucap Annisa lalu duduk bersila di lantai. Beda dengan Annisa, Netta langsung goleran di tempat tidur Perona. Gadis itu tak sopan lagi kalau berhadapan dengan Perona, ahahaha anggap saja rumah sendiri kalau dikata Netta sih.
"Mangsud dek?" Tanyanya heran.
"Hahaha jadi gini Ron, aku sama sih Netta masih gagal di remedial tadi. Jadi, oy Net!!" Panggil Annisa. Dua gadis itu lantas berlutut sambil menyatukan kedua tangannya. "Tolong ajarin kami berdua fisika!!" Mereka berdua berseru bersamaan.
"Sumpah Ron, udah belajar mati-matian masih tetep gagal pliss bantuin kite!" Netta mengangkat wajahnya. Perona melotot kaget melihat Netta yang tahu-tahu sudah menangis saja.
"Gue capek Ron, gue ga ngerti lagi kenapa harus ngitung kecepatan motor, capek Ron, plis bantuin gue!" Netta frustasi, dia berlinang air mata menatap Perona.
"I-iya gue ajarin! Udah jangan nangis dong serem tahu ga!"
Dengan sesenggukan Netta mengeluarkan buku cetak fisikanya ke meja. Annisa mengusap punggung gadis itu menenangkannya. Kalau dari curahan hati sang anak Sholehah, Annisa, nilai Netta lah yang tak punya kemajuan sama sekali.
"Nanti yang ini dikali sama energi kinetik, terus cari usahanya, jangan lupa tulis satuannya Joule."
__ADS_1
"Cara cari usaha gimana dah? Tadi pagi dah dijelasin Bu Selvia tapi we lupa."
"Gaya dikali sama perpindahan, itu rumusnya."
Netta memainkan penanya kemudian menggigitinya. "Lu udah punya rencana buat tuh dua orang join?" Netra Netta menatap wajah Perona datar, gadis itu kemudian mulai mengambil kalkulator.
"Tuh dua orang? Maksudnya Arlan sama Alvaro? Kok lu tahu gue mau mereka join?"
Netta tak menatap balik Perona melainkan berpaling. "Ada lah yang kasih tahu gue."
"Hah siapa?" Perona penasaran.
"Lo ga perlu tahu, soalnya ini rahasia."
"Dih rahasiaan, emang lu bisa jaga rahasia? Perasaan gue dari kecil lu selalu bocor deh karena mulut lu bebek."
"Jahat banget, kok gue disamain kayak bebek. Nisa ceramahi ini orang!"
"Berisik ah kalian berdua! Kerjain yang bener Net! Aku ga mau remed lagi, masa remed tiga kali yang bener aja. Malu banget tahu ga." Dengan jitakan keras kepala Netta benjol sebelah, perempuan berhijab itu kian kesal mendengar celotehan kedua sahabatnya itu.
"Kok cuman gue yang dijitak, kok Perona nggak? Gak adil kamu mah." Rintihan kecil keluar bebas dari mulutnya.
Perona terkekeh kecil. "Karena gue spesial di hati Annisa makanya gue ga dijitak." Pakk!! Wajah Perona kena bogem mentah dari bantal. Perempuan itu dengan hidung mendengus melempar Perona dengan bantal yang sudah dialiri kekuatan devil fruit.
"Selagi kita ngerjain ini soal, kau pikirin gimana biar mereka berdua gabung. Katanya sih Alvaro bakalan gabung kalau Arlan juga ikutan gabung."
"Iya bener, tapi Arlannya ga mau, makanya aku bingung sekarang."
"Bujuk aja dia terus, panggil ayang sekalian. Dia kan pengen banget dipanggil sayang sama kamu Ron." Netta memberi saran.
"Bener juga yak, kok ga kepikiran, nanti besok gue panggil dia pakek sayang deh!"
"Haa~ Perona jadi stress. Gws Ron!"
__ADS_1